Up-Date/Artikel Terbaru

Showing posts with label Berita. Show all posts
Showing posts with label Berita. Show all posts

Cisplatin Dan Dampaknya Pada Kesuburan Wanita

Para peneliti dari Itali mengatakan mereka telah mengenali mekanisme akan kemoterapi yang mana yang dapat membuat seorang wanita kehilangan kesempatannya untuk memperoleh anak.

Yang menggugah rasa ingin tahu, para ilmuwan juga mendapati bahwa obat-obat anti kanker yang lain dapat meniadakan gejala-gejala negatif dari obat kemoterapi, cisplatin.

Penemuan ini, yang didemonstrasikan pada tikus-tikus dan dilaporkan secara online di Nature Medicine, meningkatkan harapan akan adanya jalan untuk melindungi kesuburan seorang wanita saat ia menjalankan pengobatan untuk kanker tetapi, penulis peneliti menekankan, ini masih mungkin sepenuhnya salah.

"Perpanjangan dari penemuan-penemuan ini untuk para pasien dan merancang percobaan-percobaan klinis adalah mungkin untuk membutuhkan perkembangan strategi-strategi pengiriman dari obat-obat yang ditargetkan untuk mencegah setiap potensi campur tangan dengan sistim terapi anti kanker," jelas penulis peneliti Stefania Gonfloni, dari departemen biologi di University of Rome.

"Saya rasa ini gagasan yang hebat. Mereka menemukan sebuah jalan kecil yang dapat digunakan sebagai penanda untuk mendeteksi obat mana yang akan menghasilkan sel-sel mati sebagai akibat dari kemoterapi, dan mereka menemukan sebuah obat yang memberikan efek perbaikan," kata Dr. George Attia, seorang associate professor of reproductive endocrinology and infertility di University of Miami Miller School of Medicine. "Tetapi, ini adalah penelitian ilmiah yang sangat mendasar. Penelitian ini masih awal."

Karena kemoterapi mempengaruhi sel-sel telur dalam indung telur, para wanita biasanya berakhir dengan kegagalan indung telur dan ketidaksuburan sebagai akibat dari pengobatan kanker.

"Kami seringkali menangani para wanita yang berada dalam usia reproduktif, dan terdapat banyak kekhawatiran mengenai pemeliharaan kesuburan sekalipun pada para wanita yang lebih tua, kemo menyebabkan menupause." kata Dr. Igor Astsaturov, seorang assitant professor of medical oncology di Fox Chase Cancer Center di Philadelphia. "Pendekatan standar saat ini adalah mengambil sel-sel telur untuk disimpan dan digunakan di kemudian hari."

Kemoterapi juga dapat menyebabkan cacat genetik pada keturunan. Khususnya, cisplatin, yang diteliti dalam penelitian ini, menyebabkan kerusakan pada jenis-jenis kromosom tertentu. Cisplatin biasanya digunakan dalam mengobati kanker rahim, catat Attia.

Dalam penelitian ini, Gonfloni dan para rekan kerjanya menunjukkan bahwa cisplatin menyebabkan kematian oocytes atau sel-sel kuman pada wanita, yang berasal dari enzim c-Abl, sebuah protein, yang saat bermutasi, juga dapat menyebabkan chronic myeloid leukemia (CML).

Tetapi menargetkan enzim dengan imatinib (Gleevec), sebuah obat yang digunakan untuk mengobati CML, melindungi oocytes dari pengaruh-pengaruh buruk dari cisplatin.

"Hasil-hasil ini meningkatkan kemungkinan dalam melindungi fungsi indung telur selama pengobatan kanker, dengan demikian menjaga kesuburan para wanita yang selamat dari kanker," kata Gonfloni.

Tetapi bagaimana menggunakan satu obat tanpa membahayakan yang lain?

"Pertama, kita harus menunjukkan bahwa imatinib dapat digunakan untuk mencegah keracunan ovarium/indung telur yang disebabkan oleh kemoterapi tanpa campur tangan dengan pengobatan anti-kanker." kata Gonfloni. "Dengan kata lain, kita harus membuktikan bahwa hewan-hewan di laboratorium yang menderita tumor dapat disembuhkan dengan kombinasi pengobatan cisplating dan imatinib, sementara di waktu yang bersamaan, juga menjaga kesuburan," jelasnya.

"Kemudian, untuk setiap implikasi klinik, akan menjadi sangat penting untuk membuktikan efek perlindungan yang sama dari sebuah dosis imtinib tertentu pada oocytes manusia yang dipelihara dan ditantang dengan obat-obat kemoterapi in vitro," tambahnya.

Dan pemeliharaan kesuburan tidak selalu hal yang benar, kata Astsaturov. "Kemoterapi menyebabkan menupause bagi beberapa penderita kanker yang tergantung pada beberapa hormon. Ini merupakan efek yang menguntungkan karena ini menghilangkan stimulan-stimulan untuk sel-sel kanker. Menupause adalah kontribusi untuk sembuh," katanya. "Hal ini masih diperdebatkan apakah kita seharusnya memelihara fungsi menstruasi bagaimanapun juga."


Dari MedicalEra

Bagaimana Sel Kanker 'Melawan' Kemoterapi Cisplatin


Para peneliti telah menunjukkan bahwa peningkatan ekspresi gen yang disebut SIRT1 dalam sel kanker memainkan peran penting dalam pengembangan perlawanan terhadap obat kemoterapi cisplatin. Gen SIRT1, yang mengatur proses seluler penting beberapa termasuk penggunaan nutrisi dan metabolisme, tampaknya memberikan kontribusi pada perkembangan resistensi cisplatin dengan mengurangi uptake dan penggunaan glukosa oleh sel dan dengan mengubah fungsi mitokondria mereka, yaitu seluler struktur yang menghasilkan sebagian besar energi dalam sel. Temuan ini, oleh para peneliti di National Cancer Institute (NCI), bagian dari Institut Kesehatan Nasional (NIH) , dan rekan, diterbitkan dalam 15, 2008, edisi September Molekuler Cancer Research.

Cisplatin, obat kemoterapi yang mengandung unsur logam platinum, banyak digunakan dalam pengobatan berbagai jenis kanker, termasuk kandung kemih, paru-paru, ovarium, dan kanker testis. Ini memperlambat atau menghentikan pertumbuhan sel kanker dengan mengikat DNA. Tumor yang muncul kembali setelah respon positif pada awalnya untuk pengobatan dengan cisplatin sering tahan untuk itu, artinya obat ini tidak efektif lagi. Mengetahui lebih lanjut tentang bagaimana sel menjadi resisten terhadap cisplatin akan memungkinkan para peneliti untuk merancang strategi untuk menghindari resistensi dan meningkatkan efektivitas obat ini antikanker penting.

Untuk mengetahui mekanisme yang berkontribusi terhadap cisplatin hambatan dalam sel-sel kanker, para peneliti yang dihasilkan sel-sel yang resisten terhadap obat dengan mengekspos mereka untuk cisplatin di laboratorium. Mereka menemukan bahwa ekspresi gen SIRT1 meningkat 3-5 kali lipat sebagai tingkat cisplatin meningkat, menghasilkan peningkatan tingkat perlawanan dalam sel. Di sisi lain, para peneliti menemukan bahwa tahan-sel kanker cisplatin menjadi lebih sensitif terhadap obat ketika tingkat SIRT1 ekspresi berkurang. Dengan penurunan tingkat SIRT1 ekspresi 04:57 lipat, sel-sel kanker menjadi sekitar dua kali lipat lebih sensitif terhadap cisplatin. "Tampaknya yang SIRT1 menyumbang 50 persen dari resistensi seluler untuk cisplatin, tetapi tidak memperhitungkan semua perlawanan , "kata Michael Gottesman, MD, dari NCI Center for Cancer Research, dan seorang penulis dari studi tersebut.

Banyak faktor yang berkontribusi terhadap cisplatin resistensi dan mungkin termasuk mekanisme yang membatasi pengambilan seluler dari obat, mekanisme diubah yang memungkinkan sel untuk memperbaiki kerusakan pada DNA mereka, dan mekanisme yang sel-sel membantu bertahan. "Penelitian ini adalah bagian dari upaya yang lebih besar oleh para ilmuwan untuk menentukan perubahan seluler penting yang menyebabkan sel kanker menjadi resisten terhadap obat kemoterapi," kata Gottesman. "Berbagai jenis mutasi genetik dapat terjadi selama perkembangan resistensi seluler terhadap obat antikanker,. Oleh karena itu langkah pertama adalah untuk menjelaskan gen yang berkontribusi terhadap perlawanan pada tumor ini."

Penelitian sebelumnya oleh tim dan lain-lain telah menunjukkan bahwa sel-tahan cisplatin tumbuh lebih lambat dan menunjukkan berkurangnya penyerapan zat tertentu, termasuk nutrisi seperti glukosa, dari sel-sel yang sensitif terhadap obat itu. Ini juga diketahui bahwa, sebagai strategi bertahan hidup , tumor mengubah metabolisme mereka ketika nutrisi yang langka. Dalam studi ini, para peneliti menemukan bahwa sel-sel kanker meningkatkan ekspresi mereka SIRT1 dan menjadi lebih tahan terhadap cisplatin perawatan sebagai tingkat glukosa di lingkungan mereka berkurang. Mereka juga menemukan bahwa penyerapan glukosa dalam sel tahan 4-5 kali lipat kurang dari dalam sel yang sensitif terhadap cisplatin. Konsumsi oksigen, indikator penggunaan glukosa dan produksi energi, turun sebesar 30 persen menjadi 60 persen dibandingkan dengan-sensitif sel cisplatin.

Karena menggunakan glukosa mitokondria dan oksigen untuk menghasilkan energi, tim menyelidiki fungsi mitokondria dalam sel tahan cisplatin. Mereka menemukan bahwa, sebagai perlawanan selular untuk cisplatin meningkat, potensi mitokondria untuk menghasilkan energi menurun, menunjukkan bahwa peran metabolisme mitokondria dalam sel tahan berbeda dari yang di dalam sel yang sensitif terhadap obat. Para peneliti juga menemukan bahwa mitokondria sel resisten yang lebih kecil dan struktur internal yang tidak teratur dibandingkan dengan mitokondria sel yang sensitif terhadap obat.

Gottesman dan rekan sedang mengembangkan alat molekuler untuk menentukan gen resistensi obat yang disajikan dalam kanker individu, dan, di masa depan, harapan untuk menggunakan informasi ini untuk memprediksi respons pasien terhadap terapi dan untuk merancang cara-cara baru untuk menghindari resistensi.

Selain NCI, peneliti dari Jantung, Paru, dan Darah Institut Nasional, bagian dari NIH, US Food and Drug Administration, dan Pusat Nasional nanosains dan Teknologi, Beijing, Republik Rakyat Cina, berpartisipasi dalam studi.


Dari NanoTechnology

Kemoterapi, Dari Perspektif Medis

Risalah Simposium KONAS VI Perhimpinan Onkologi Indonesia (POI), Malang, 30 September - 2 Oktober 2010
Bertempat di Hotel Kusuma Agrowisata, Batu, Malang, Kongres Nasional VI Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI) diadakan. Acara ilmiah berupa workshop pada tanggal 29 September 2010 kemudian dilanjutkan dengan acara simposium selama 2 hari berikutnya. Tema yang diangkat yaitu “fight against cancer, hand in hand we can make it” memang tercermin dari berbagai sesi ilmiah yang diadakan dan melibatkan berbagai disiplin ilmu kedokteran yang terkait dengan penanganan pasien kanker, seperti hematologis-onkologis, radioterapis, bedah onkologi, ginekologi-onkologis, paru onkologis, hingga gizi klinis.

Acara simposium dibuka dengan upacara pembukaan dan dilanjutkan dengan sesi ilmiah pertama dengan topik “Past, present, and future in the treatment of cancer” yang disampaikan secara inspiratif oleh Prof. DR. dr. Soehartati G, SpRad(K). Onk. Rad, sebelum sesi ilmiah berikutnya yang dibagi di 3 tempat secara bersamaan. Disampaikan bagaimana pesatnya perkembangan tatalaksana pasien kanker, mulai dari modalitas skrining, diagnosis, dan berbagai modalitas terapi. Konsep ke depannya dalam penatalaksanaan penyakit kanker adalah terapi personal yang didukung dengan semakin kompleksnya penilaian risiko/skrining dan diagnosis yang bertujuan dengan penentuan terapi individual sejalan dengan pengetahuan yang semakin maju mengenai penyakit kanker.

Beberapa topik penting dalam acara satelite simposium di antaranya:

Individualized Treatment on NSCLC – Prof. Sumitra Thongprasert (Thailand)
Empat regimen kemoterapi kombinasi berbasis platinum untuk pasien NSCLC stadium lanjut menghasilkan harapan hidup sebanding. Regimen yang diuji dalam ECOG 1594 Trial ini yaitu : cisplatin/paclitaxel; cisplatin/gemcitabine; cisplatin/docetaxel; dan carboplatin/paclitaxel.

Diagnosis NSCLC saja tidak cukup untuk menentukan pilihan terapi. Perlu diketahui lebih lanjut mengenai jenis histologi untuk menentukan respon terapi. Misalnya, histologi non-skuamosa prediktif efektifitas pemetrexed, status EGFR untuk pertimbangan pemberian tyrosine kinase inhibitor.

Kemoterapi lini kedua bermanfaat meningkatkan harapan hidup dan kualitas hidup pasien. Uji klinis perbandingan pemetrexed dengan docetaxel menghasilkan response rate dan harapan hidup sebanding namun berbeda dalam hal toksisitas. Terdapat perbedaan hasil terapi antar jenis histologi, di mana untuk histologi adenokarsinoma/large cell pemtrexed menghasilkan harapan hidup lebih baik (9,2 vs 8,2 bulan; hazard ratio 0,78; 95% CI 0,60 – 1,02) namun untuk jenis sel skuamosa, docetaxel menghasilkan harapan hidup lebih baik (7,4 vs 6,2 bulan; hazard ratio 1,56; 95% CI, 1,08 – 2,26).

Targeted therapy, seperti bevacizumab, gefitinib, dan erlotinib juga turut meningkatkan hasil terapi pasien NSCLC namun dengan kriteria seleksi pasien tertentu agar menghasilkan rasio risiko – manfaat optimal.

NSCLC Guideline and Management Implications in Indonesia – Dr.Elisna Syahruddin,PhD, Sp.P(K)
Paduan tatalaksana kanker paru jenis bukan sel kecil versi ke-3 menurut rencana akan dipublikasikan pada Oktober 2010. Paduan tersebut meliputi skrining, pencegahan, diagnosis, pengobatan, dan evaluasi. Sistem TNM yang digunakan saat ini menggunakan versi 7, 2009, di mana perubahan pada staging T3, T4, dan M1a.

Karena hingga kini tidak ada metoda untuk menemukan lesi pra-kanker untuk kanker paru, maka jenis kanker ini tidak ada pemeriksaan skrining. Hal yang dapat dilakukan adalah deteksi dini, di mana terbaik menggunakan CT-Scan. Pemeriksaan petanda tumor (tumor marker) tidak direkomendasikan untuk skrining/deteksi dini, melainkan untuk pemantauan terapi.

Pemeriksaan biomarker dilakukan untuk menentukan terapi dan tidak dianjurkan untuk diperiksa pada awal penilaian.

Nimotuzumab: Novel Targeted Therapy for Glioma and Brain Metastasis – Dr. Nyoto Astoro, SpPD-KHOM
Glioblastoma multiforme hingga kini masih menyebabkan morbiditas yang tinggi dan prognosis yang kurang baik. Aktivasi Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR) terpantau pada lebih dari 40% dan overekspresi terjadi pada lebih dari 60% pasien glioblastoma. Aktivasi EGFR ini turut memperburuk prognosis karena meningkatkan metastasis, angiogenesis, proliferasi dan anti-apoptosis. Oleh sebab itu hambatan EGFR berpotensi meningkatkan prognosis.

Nimotuzumab merupakan suatu antibodi monoklonal humanized yang bekerja sebagai anti-EGFR. Keunggulannya dibandingkan anti-EGFR lain adalah afinitasnya yang lebih rendah sehingga lebih selektif menghambat overekspresi EGFR di jaringan tumor tanpa banyak mempengaruhi jaringan sehat.

Suatu uji klinis fase III nimotuzumab plus radioterapi dibandingkan plasebo + radioterapi (n=80) pada pasien glioma derajat tinggi menunjukkan superioritas dalam hal disease control rate untuk nimotuzumab + radioterapi (66,6% vs 50%) dan angka harapan hidup 1,2, dan 3 tahun. Tidak ditemukan adanya efek samping derajat 3-4.

Adjuvant in Colorectal Cancer – Dr.Kartika Widayati, Sp.PD-KHOM
Penelitian yang melibatkan 20.898 pasien mengungkapkan manfaat pemberian kemoterapi adjuvan pada stadium II dan III kanker kolorektal dengan regimen berbasis 5-FU. Indikasi kemoterapi adjuvan yaitu untuk pasien dengan stadium III atau II berisiko tinggi. Pada stadium III, pembedahan saja (tanpa diikuti terapi ajuvan) menghasilkan harapan hidup yang rendah. Penambahan kemoterapi adjuvan akan meningkatkan harapan hidup dan paling efektif pada pasien dengan stadium III.

Penelitian MOSAIC mengungkapkan manfaat tambahan oxaliplatin terhadap 5-FU/leucovorin (regimen FOLFOX) sebagai kemoterapi adjuvan terutama pada stadium III. Saat ini, NCCN guideline merekomendasikan regimen capecitabine atau 5-FU/LV ± oxaliplatin selama 6 bulan.
Pemberian capecitabine tunggal sebagai kemoterapi ajuvan sebanding dengan regimen 5-FU/LV pada pasien stadium III. Hal yang masih belum terjawab dengan pasti adalah apakah ada perbedaan hasil terapi antara kombinasi capecitabine-oxaliplatin dengan regimen FOLFOX. Namun analisa secara tidak langsung yang disampaikan mengindikasikan kesetaraan dalam hal disease-free survival 3,4 , dan 5 tahun namun dengan profil toksisitas yang berbeda.

Sedangkan obat/regimen yang tidak/belum direkomendasikan sebagai kemoterapi ajuvan yaitu 5-FU-irinotecan, FOLFIRI (hasil terapi sebanding dengan 5-FU/LV), bevacizumab, cetuximab, panitumumab, dan irinotecan.

Innovative Opportunities with New TKI’s – Prof.DR.Dr. Arry Harryanto R, Sp.PD-KOHM
Sejak tahun 1983 – 2008 terdapat perkembangan yang cukup pesat terapi leukemia mielositik kronik. Diawali dengan ditemukannya busulfan yang menghasilkan angka harapan hidup 5 tahun sebesar 38%. Kemudian ditemukan hydroxyurea, terapi interferon dan transplantasi sel punca, kemudian era imatinib yang dapat menghasilkan angka ketahanan hidup 5 tahun sebesar 93%.

Namun terapi imatinib pun dapat terjadi resistensi dengan mekanisme primer tidak memadainya hambatan terhadap BCR-ABL. Nilotinib merupakan Tyrosine Kinase Inhibitor (TKI) terbaru yang dirancang berikatan lebih efektif terhadap domain ABL kinase dan dapat mengatasi mutasi – mutasi yang menyebabkan resistensi imatinib. Uji klinis nilotinib pasca kegagalan terapi imatinib berhasil mempertahankan harapan hidup.

Perkembangan berikutnya meliputi penghambat BCR-ABL baru yang lebih poten, target mediator BCR-ABL, obat yang dapat meningkatkan kadar TKI intraselular, kombinasi terapi vs monoterapi 2 TKIs, terapi dengan target sel punca leukemia Ph+ CML.

Use of ESAs in Oncology Setting – Dr.Budi D Machoos Sp.PD-KHOM
Anemia merupakan komorboditas yang sering terjadi pada pasien kanker dan secara bermakna berpengaruh negatif terhadap kualitas hidup. Insiden anemia tersering ditemukan pada pasien dengan jenis kanker paru, payudara, ovarium, kepala dan leher, serta kolon.

Keuntungan pemberian Erythropoiesis Stimulating Agents (ESAs) yaitu: Dapat digunakan untuk terapi anemia ringan-sedang, menghasilkan peningkatan Hb bermakna dan bertahap (smooth), meningkatkan kualitas hidup dengan mempertahankan kadar Hb tinggi, ditoleransi dengan baik, lebih nyaman dibandingkan pemberian transfusi, dan menginduksi sel darah merah yang berfungsi dengan normal.

Sebelum terapi ESAs dimulai, maka harus diperiksa kadar feritin (>100 µg/L), saturasi transferin (>20%), tidak ada hipertensi berat, kadar hb awal sebaiknya = 8g/dL.

Jika terjadi kegagalan terapi ESAs, maka beberapa etiologi berikut ini harus dipertimbangkan: defisiensi fe (seluruh pasien umumnya akan membutuhkan suplementasi fe), infeksi/proses inflamasi, perdarahan samar, penyakit hematologi, defisiensi asam folat/B12, hemolisis, dan intoksikasi alumunium.

[Sumber: Kalbe Farmasi]

Kanker Payudara Dapat Dicegah

BERDASARKAN data, kanker payudara merupakan keganasan terbanyak kedua pada wanita setelah kanker mulut rahim. Di Indonesia, kekerapan (prevalensi) kanker payudara meningkat, jumlahnya mencapai 11,6% dari seluruh keganasan. Kekerapan ini cenderung meningkat disebabkan perubahan pola hidup di antaranya perubahan pola makanan dengan mengkonsumsi lemak tinggi dan peningkatan kesadaran masyarakat tentang kesehatan serta kemajuan teknologi kedokteran di bidang diagnosis dini.

SEBAGAIMANA diketahui, tubuh kita terdiri dari sel-sel yang selalu tumbuh. Kadang-kadang pertumbuhan tersebut tidak terkontrol dan membentuk suatu gumpalan. Kebanyakan gumpalan tersebut tidak berbahaya. Akan tetapi, bila gumpalan yang tidak normal terus bertumbuh dan menjadi ganas maka hal inilah yang disebut tumor ganas. Tumor yang ganas inilah yang disebut dengan kanker.

Tumor ganas memiliki sifat yang khas, yaitu dapat menyebar luas ke bagian lain di seluruh tubuh untuk berkembang menjadi tumor yang baru. Penyebaran ini disebut metastase. Kanker memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Ada yang tumbuh secara cepat, ada yang tumbuh tidak terlalu cepat, seperti kanker payudara. Khusus untuk kasus kanker payudara, sel kanker yang pertama dapat tumbuh menjadi tumor sebesar 1 cm pada waktu 8-12 tahun. Sel kanker tersebut diam pada kelenjar payudara.

Sel-sel kanker payudara ini dapat menyebar melalui aliran darah ke seluruh tubuh. Sel kanker payudara dapat bersembunyi di dalam tubuh kita selama bertahun-tahun tanpa kita ketahui dan tiba-tiba aktif menjadi tumor ganas atau kanker. Adapun tanda-tanda kanker payudara dini yakni benjolan tunggal, konsistensi keras dan padat, batas tegas, ukuran kurang 5 cm, bebas dari dasar dan permukaan kulit, serta tidak ada metastasis.

Sedangkan kelompok risiko tinggi terkena kanker payudara adalah:
  • Wanita di atas usia 30 tahun.
  • Pernah memiliki riwayat kanker payudara.
  • Wanita usia di atas 25 tahun yang keluarganya (ibu, saudara perempuan ibu, saudara perempuan satu ibu) pernah menderita kanker payudara.
  • Wanita yang tidak menikah atau yang menikah tetapi tidak pernah melahirkan anak.
  • Perempuan yang melahirkan anak pertama setelah berusia 35 tahun.
  • Wanita yang tidak menyusui.
  • Pernah mengalami trauma berkali-kali pada payudara.
  • Menarche (haid pertama kali) pada usia yang sangat muda.
  • Mengalami radiasi sebelumnya pada payudara (pengobatan keloid).
  • Wanita yang obesitas.
  • Pernah dioperasi payudara atau alat reproduksinya.
  • Pernah mendapat obat hormonal yang lama karena mandul.
  • Mengalami berbagai macam guncangan jiwa yang hebat dalam kehidupannya.

Pencegahan dan pengobatan
Prof. Marc Van Eijkeren, pakar onkologi dari University Hospital Belgia yang baru-baru ini datang ke Bandung mengatakan, satu dari sem¬bilan wanita di dunia adalah pengidap kanker. Oleh karena itu, penting bagi setiap wanita melakukan deteksi secara dini terhadap kanker payudara.

Caranya sangat simpel, yaitu dengan melakukan pemeriksaan payudara sendiri ("sadari") sejak usia 20 tahun. "Sadari" sangat dianjurkan dilakukan tiap bulan, yaitu saat minggu menstruasi bagi wanita yang berusia 20 tahun ke atas.

Untuk wanita berusia 20 sampai 39 tahun, dianjurkan pula memeriksakan ke dokter tiap 3 tahun. Sedang¬kan untuk wanita berusia 40 tahun ke atas, pemeriksaan ke dokter dilakukan tiap tahun. Selain itu, perlu juga dilakukan mamografi 1-2 kali pada usia 40-49 tahun, momografi setiap tahun setelah berusia 50 tahun.

Sementara itu, ada dua cara yang digunakan oleh dokter untuk memeriksa keberadaan kanker pada payudara. Pertama adalah metode ultrasonik. Dengan metode ini dapat diketahui apakah sebuah gumpalan berupa benda pejal atau cairan.

Metode kedua yang paling akurat adalah mamografi. Mamografi atau mammography menggunakan sinar X yang diradiasikan pada payudara. Hasil radiasi sinar X adalah film yang dapat menunjukkan daerah-daerah yang dicurigai sebagai tumor. Umumnya, tumor memiliki densitas atau rapat massa yang lebih besar dari jaringan otot normal sehingga intensitas sinar X setelah menembus tumor lebih kecil dari intensitas sinar X setelah menembus jaringan otot normal. Perbedaan ini yang menghasilkan film yang dapat menunjukkan adanya tumor.

Sedangkan metode deteksi lainnya adalah breast thermography yang dilakukan dengan menggunakan kamera infra merah dengan sensitivitas suhu yang kecil (sekira 0,01 derajat celcius) dengan jangkauan pengukuran suhu yang sempit (sekira 0-70 derajat celcius).

Adapun perbedaan utama thermography dengan mammography terletak pada proses mendapatkan data. Pada thermography, kamera infra merah hanya menerima infra merah yang diradiasikan oleh payudara untuk mengukur suhunya. Jadi, sifat thermography adalah noninvasive sehingga tidak ada bahaya radiasi sama sekali.

Cara lainnya adalah dengan operasi kecil untuk mengambil contoh jaringan (biopsi) dari benjolan itu, kemudian diperiksa di bawah mikroskop laboratorium patologi anatomi. Bila diketahui dan dipastikan bahwa benjolan itu adalah kanker, payudara harus diangkat seluruhnya untuk menghindari penyebaran ke bagian tubuh yang lain.

Metode yang sering dipakai dalam menangani kanker adalah mastektomi yang kerap kali memberikan efek kosmetik merugikan bagi para pengidapnya. Pasalnya, pengobatan cara ini sangat radikal karena dengan mastektomi ini, jaringan payudara harus diangkat.

Meski mastektomi dianggap sebagai terapi yang terbaik untuk kanker payudara, kehilangan payudara memberi dampak yang kurang baik terhadap kosmetik, psikologik, dan seksual penderita. Untungnya, saat ini para peneliti telah mengembangkan cara pengobatan yang dikenal sebagai breast conserving treatment (BCT).

Dengan menjalani terapi BCT, perempuan pengidap kanker tidak akan khawatir kehilangan payudaranya. BCT adalah suatu pengobatan keganasan payudara stadium dini (stadium I dan II) yang terdiri dari bedah konversi berupa lumpektomi, segment atau kwadranektomi diikuti radiasi dengan atau tanpa kemotrapi agar mengeradikasi tumor dengan mempertahankan efek kosmetik payudara.

Sejumlah penelitian secara random dan nonrandom menunjukkan bahwa pengobatan BCT memiliki angka kontrol lokal dan angka ketahanan hidup yang sebanding dengan mastektomi yang selama ini kerap dijadikan pilihan utama untuk mengeradikasi kanker namun menyisakan efek kosmetik dan psikologis yang merugikan penderita.

Perkembangan kanker
Pada stadium I, besarnya tumor tidak lebih dari 2 - 2,25 cm dan tidak terdapat penyebaran (metastase) pada kelenjar getah bening ketiak. Pada stadium ini, kemungkinan penyembuhan secara sempurna adalah 70%. Untuk memeriksa ada atau tidak metastase ke bagian tubuh yang lain, harus diperiksa di laboratorium.

Pada stadium II, tumor sudah lebih besar dari 2,25 cm dan sudah terjadi metastase pada kelenjar getah bening di ketiak. Pada stadium ini, kemungkinan untuk sembuh hanya 30-40% tergantung dari luasnya penyebaran sel kanker.

Pada stadium III, tumor sudah cukup besar, sel kanker telah menyebar ke seluruh tubuh, dan kemungkinan untuk sembuh tinggal sedikit. Pengobatan payudara sudah tidak ada artinya lagi. Biasanya pengobatan hanya berupa penyinaran dan chemotherapie/kemoterapi (pemberian obat yang dapat membunuh sel kanker). Kadang-kadang juga dilakukan operasi untuk mengangkat bagian payudara yang sudah parah. Usaha ini hanya untuk menghambat proses perkembangan sel kanker dalam tubuh serta meringankan penderita semaksimal mungkin.

Namun demikian, untuk pengobatan yang optimal, terapi kanker harus melibatkan tiga hal penting, yaitu operasi, radiasi, dan kemoterapi. Cara pengobatan ini diberikan sesuai dengan stadium penyakitnya.

Lebih baik mencegah
Karena pengobatan kanker payudara sangat rumit dan butuh biaya besar, sudah sebaiknya kita lebih mengutamakan upaya preventif daripada kuratif. Sekarang, para peneliti sudah banyak mengetahui cara untuk mencegahnya, paling tidak mengurangi resiko terkena kanker payudara.

Upaya yang dapat dilakukan adalah melakukan "sadari" dan pemeriksaan berkala kepada dokter yang ahli. Selain itu, kita juga penting untuk selalu hidup sehat, antara lain dengan berolah raga secara teratur. Penelitian menunjukkan, sejalan dengan meningkatnya aktivitas, risiko kanker payudara akan berkurang.

Berolah raga akan menurunkan kadar estrogen yang diproduksi tubuh sehingga mengurangi risiko kanker payudara. Selanjutnya hindari makanan berlemak tinggi, banyak makan buah-buahan dan sayuran atau makanan berserat lainnya, makan lebih banyak tahu dan makanan yang mengandung kedelai, hindari alkohol, serta perhatikan berat badan karena kenaikan berat badan setiap pon setelah usia 18 tahun akan menambah risiko kanker payudara. Hal ini sejalan sejalan dengan bertambahnya lemak tubuh, kadar estrogen sebagai hormon pemicu kanker payudara dalam darah pun akan meningkat.

Di samping itu, hindari xeno-estrogens (estrogen yang berasal dari luar tubuh). Umumnya, estrogen dari luar tubuh dikonsumsi lewat residu hormon estrogenik yang terdapat dalam daging dan residu pesitisida estrogenik. Diduga, xeno-estrogen bisa meningkatkan kadar estrogen darah sehingga menambah risiko kanker payudara, jangan merokok, menyusui/memberikan ASI, dan terakhir hindari stres. Literatur medis menyebutkan bahwa stres dapat menigkatkan risiko kanker payudara.

Dengan demikian, kaum hawa harus terdorong untuk mengetahui bahwa kanker payudara tidak perlu menjadi kanker yang mematikan jika wanita memelihara kesehatan payudara dan melakukan pendeteksian sejak dini.


Sumber: Pikiran Rakyat

Resiko kemoterapi

Setelah bertahun-tahun mengatakan kepada khalayak bahwa kemoterapi adalah cara satu-satunya untuk menghilangkan penyakit kanker, Rumah Sakit John Hopkins akhirnya mulai mengatakan ada cara lain. Pada akhir tahun 2008 Rumah Sakit John Hopkins memasukkan berita ini di newsletters-nya. Informasi ini juga diedarkan di Walter Reed Army Medical Center.

Tiap orang mempunyai sel kanker. Sel kanker ini tidak tampak dalam pemeriksaan standar sampai sel-sel ini berkembang biak hingga berjuta jumlahnya.

Pada saat dokter memberitahu pasien bahwa 'tidak ada sel kanker lagi' setelah menjalani pengobatan, itu artinya pemeriksaan yang dilakukan sudah tidak dapat mendeteksi sel-sel kanker karena sel-sel tersebut sudah berada di bawah ukuran/jumlah yang dapat terdeteksi

Sel kanker tumbuh antara 6 sampai lebih dari 10 kali dalam jangka waktu hidup manusia.

Pada saat kekebalan tubuh seseorang tinggi, sel-sel kanker akan dihancurkan dan dicegah sehingga tidak dapat bertambah banyak dan membentuk tumor.

Pada saat seseorang menderita kanker ini menunjukkan bahwa orang tersebut mengalami beberapa kekurangan nutrisi. Ini dapat terjadi karena faktor genetika, lingkungan, makanan dan cara hidup.

Untuk menanggulangi kekurangan nutrisi dan memperkuat sistem kekebalan tubuh dapat ditempuh dengan merubah diet (cara makan) dan menambahkan asupan suplemen.

Kemoterapi, meracuni sel kanker yang bertumbuh cepat, tapi pada saat yang sama juga menghancurkan pertumbuhan sel sehat dalam tulang sumsum, gastrointestinal tracts (saluran pencernaan) dan lain-lain, dan dapat menyebabkan kerusakan pada organ-organ lain, seperti hati, ginjal, jantung, paru-paru dan lain-lain.

Sedangkan radiasi, bersamaan dengan fungsinya yang menghancurkan sel kanker, juga menyebabkan luka bakar, meninggalkan bekas luka, dan merusak sel, tisu, dan organ yang sehat.

Perawatan dini dengan kemoterapi dan radiasi dapat mengurangi ukuran tumor. Namun penerapan kemoterapi dan radiasi yang berkepanjangan tidak akan menghasilkan pengurangan tumor lebih lanjut.

Pada saat tubuh menanggung beban racun yang berlebihan dari kemoterapi dan radiasi, sistem kekebalan tubuh akan terancam atau hancur, karena itulah seseorang akan mengalami berbagai macam infeksi dan komplikasi.

Kemoterapi dan radiasi dapat menyebabkan sel kanker bermutasi dan menjadi tahan dan sulit untuk dihancurkan. Operasi juga dapat menyebabkan sel kanker menyebar ke tempat-tempat lainnya.

Cara efektif untuk melawan kanker adalah dengan membuatnya kelaparan, yaitu dengan cara tidak memberikan makanan yang dibutuhkan dalam sel untuk dapat berkembang biak.

Sel kanker antara lain memakan gula. Dengan meniadakan gula dalam asupan makanan itu berarti menghilangkan makanan utama sel kanker. Pengganti gula seperti NutraSweet, Equal, Spoonful, dan lain lain dibuat dari aspartame, dan ini berbahaya.

Pengganti yang lebih natural yaitu madu Manuka atau molasses, tapi dalam jumlah yang sedikit. Garam meja mengandung bahan kimia tambahan untuk menjadikannya putih. Alternatif yang lebih baik yaitu bragg's aminos atau garam laut.

Juga susu menyebabkan tubuh menghasilkan mucus, terutama di dalam gastro-intestinal tract (saluran pencernaan). Mucus juga makanan sel kanker. Dengan meniadakan susu dan menggantikannya dengan susu kedelai (tanpa gula) sel-sel kanker akan kelaparan.

Dari inilah.com
Baca juga: Percaya Atau Tidak?

Efek samping kemoterapi

KOMPAS.com — Pada usia paruh baya, Reni harus bergelut dengan penyakit kanker yang menggerogoti paru-paru. Meski memiliki keinginan kuat untuk sembuh, ia diliputi rasa takut menghadapi ancaman kematian dan rasa sakit saat menjalani kemoterapi.

"Begitu dinyatakan menderita kanker, ibaratnya satu kaki kita sudah berada di kuburan," kata Reni. Setelah mengalami kecelakaan pesawat, ketabahannya kembali diuji ketika ia dinyatakan menderita kanker paru-paru sehingga harus menjalani operasi pengangkatan tumor. Agar sel kanker tak menyebar, ia harus menjalani serangkaian kemoterapi. Pertama kali kemoterapi ia mengeluh meriang dan tubuh serasa dicacah-cacah. 

Berkat dukungan keluarga, ia bersemangat menjalani kemoterapi untuk kedua kali meski mengaku masih ngeri. Efek samping karena kemoterapi juga dialami ibu dari Dina. Menurut Dina, saat ini ibunya yang menderita kanker ovarium menjalani kemoterapi kedelapan kali. Saat dikemoterapi untuk keempat hingga keenam kali, ibunya perlu ditransfusi 10 kantong darah. Pada kemoterapi ketujuh, ibunya butuh 40 kantong darah. Sejumlah penderita kanker lain juga mengalami sejumlah efek samping kemoterapi, antara lain tangan dan kaki hitam, mengelupas, diare, dan mual-muntah.
  • Ancaman kematian
Ancaman kematian dan penurunan kualitas hidup membayangi jutaan penderita kanker. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan, tahun 2005 sekitar 7,6 juta orang meninggal akibat kanker. Ini berarti 13 persen dari total jumlah kematian di dunia. Diperkirakan, 9 juta orang akan meninggal karena kanker pada tahun 2015. Selama ini kematian akibat kanker lebih banyak dari jumlah kematian karena tuberkulosis, HIV, dan malaria. ”Lebih dari 70 persen kematian akibat kanker terjadi di negara berpenghasilan rendah atau menengah,” kata dr Noorwati Sutandyo dari Divisi Hematologi-Onkologi Medik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Kanker Dharmais. Semua orang bisa terserang kanker, lebih-lebih usia di atas 40 tahun. Data 10 kanker terbanyak di RS Kanker Dharmais tahun 2007 adalah dari 1.348 jumlah kasus, 32,4 persen di antaranya kanker payudara, dan 18,8 persen kanker serviks. Beberapa faktor penyebab kanker adalah genetik, diet, kegemukan, rokok, paparan bahan kimia, hormon, radiasi dan sinar ultraviolet, virus, serta sistem imunitas.
  • Bermacam kemoterapi
Ada beberapa cara pemberian kemoterapi. Jika berfungsi membunuh sel kanker secara sistemik, obat diberikan melalui injeksi dan oral. Kemoterapi yang regional berfokus pada organ yang terkena kanker diberikan bersama dengan obat. Terapi ini bisa berperan kuratif atau menyembuhkan. Kemoterapi dapat jadi pengendali kanker dengan mencegah penyebaran, memperlambat perkembangan, membunuh sel kanker yang menyebar, dan mengurangi ukuran tumor. Fungsi lain adalah paliatif atau mengurangi gejala kanker, terutama nyeri. Beberapa jenis kemoterapi, antara lain, kemoterapi primer, kemoterapi adjuvan atau tambahan—diberikan setelah operasi atau radiasi untuk membunuh sel kanker, dan kemoterapi neoadjuvan yang diberikan sebelum operasi atau radiasi untuk mengecilkan ukuran tumor. 

”Kemoterapi dapat diberikan sebagai terapi tunggal atau kombinasi dengan terapi lain, seperti pembedahan, radioterapi, dan terapi biologik,” kata Noorwati. Terapi ini bisa mengendalikan kanker cukup lama, seperti penderita kanker ovarium, limfoma non-Hodgkin, kanker darah kronis yang merusak tulang (multiple myeloma), dan kanker endometrium. Selain itu, kemoterapi bermanfaat untuk paliatif atau dapat mengurangi gejala pada kanker nasofaring, kanker prostat, kanker endometrium, kanker leher dan kepala, serta kanker paru stadium lanjut. ”Manfaat kemoterapi juga tergantung jenis kanker,” ujarnya. 

Dengan kemoterapi, obat tak hanya membunuh sel kanker, tetapi sel normal yang membelah cepat seperti sel kanker, yaitu sel saluran cerna, sel kulit, sel rambut, dan sel sperma. ”Efek samping bersifat sementara,” kata Noorwati. Beberapa efek samping lain adalah rambut rontok, sariawan, fibrosis paru, mual-muntah, diare, nyeri otot toksik ke jantung, reaksi lokal, bahkan bisa gagal ginjal, dan menekan produksi darah. Untuk itu, penderita dianjurkan makan dan minum sedikit tetapi sering; minum tiap muntah; serta hindari makanan berbau, berminyak, berlemak, pedas, terlalu manis, panas, dan beraroma sitrus. Penderita dianjurkan mengonsumsi makanan dingin dan kering, minum teh beraroma jahe, akupunktur, relaksasi otot, terapi musik, memakai pakaian longgar, dan tidak berbaring seusai makan. Menimbang besarnya manfaat kemoterapi, efek samping yang muncul karena terapi ini diharapkan tidak mematahkan semangat para pasien untuk berjuang melawan kanker. Apalagi, sebagian besar efek samping bersifat sementara dan bisa diatasi dengan berbagai cara. 

Sumber: KOMPAS | Evy Rachmawati | 23 Juli 2009  
Artikel Terkait:

Kanker payudara, haruskah operasi?

Jumlah penderita kanker payudara di Indonesia saat ini, menduduki urutan kedua setelah kanker mulut rahim (serviks). Mungkin sebagian orang belum banyak mengetahui penyebab kanker payudara itu.

Kanker payudara adalah sejenis tumor ganas yang tumbuh di dalam jaringan payudara. Kanker ini mulai tumbuh di dalam kelenjar susu, saluran susu, jaringan lemak maupun jaringan ikat pada payudara.

Sampai saat ini, penyebab kanker payudara belum dapat diketahui secara pasti. Tetapi ada beberapa faktor yang menyebabkan kanker payudara, diantaranya adalah; faktor keturunan, faktor menarke (menstruasi pertama) sebelum usia 12 tahun, menopause setelah usia 55 tahun, kehamilan pertama setelah usia 30 tahun atau belum pernah hamil turut memicu risiko terjadinya kanker payudara.

Selain itu juga, pernah menderita penyakit payudara non-kanker, pemakaian pil KB atau terapi sulih estrogen, obesitas pasca menopause, pemakaian alkohol terutama lebih dari 1 hingga 2 gelas perhari, dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker payudara.

Akibat bahan kimia, dimana beberapa penelitian telah menyebutkan pemaparan bahan kimia yang menyerupai estrogen (yang terdapat di dalam pestisida dan produk industri lainnya) mungkin meningkatkan resiko terjadinya kanker payudara. DES (dietilstilbestrol) yaitu wanita yang mengkonsumsi DES untuk mencegah keguguran memiliki risiko tinggi menderita kanker payudara. Yang terakhir adalah karena penyinaran.

Setiap wanita harus mewaspadai bila tumbuh benjolan di sekitar payudara. Karena awal gejala kanker payudara adalah, munculnya benjolan yang biasanya dirasakan berbeda dari jaringan payudara disekitarnya. Benjolan ini tidak menyebabkan sakit dan biasanya memiliki pinggiran yang tidak teratur.

Untuk mengobati kanker payudara saat ini selain dengan jalan operasi, juga dapat diobati dengan menerapkan terapi medis. Seperti halnya yang dilakukan oleh Rumah Sakit Modern Guangzhou yang mengobati penyakit kanker dengan menggunakan metode ‘Target Invasive Minimal’. Yaitu penggabungan pengobatan Timur dan Barat. Pengobatan ini mendatangkan teknologi dan perlengkapan kelas dunia dengan standar kombinasi Timur dan Barat. Penanganannya langsung menuju pusat tumor, efek samping kecil, rasa sakit ringan, dan hasilnya efektif, seperti yang diakui oleh beberapa pasien kanker yang telah berobat ke rumah sakit ini.

Metode penggabungan pengobatan ini, disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien yang berobat. Konsep pengobatan ini mendapatkan sambutan yang hangat dari pasien dalam maupun luar negri. Sam yang merupakan salah satu pasien Rumah Sakit Modern Guangzhou, memilih metode pengobatan ini.

Pengobatan ini memberikan rangkaian penanganan medis dengan menanamkan Radioactive Particle disertai penyaluran obat antikanker menuju pusat tumor melalui arteri pemasok darah, Terapi Photodynamic, Terapi Sinar-X, dan Terapi Immunisasi Biologi Modern.

Selain itu juga, diterapkan terapi herbal dan pengaturan pola makan. Setelah menjalani berbagai rangkaian penanganan medis selama tiga minggu, tumor Sam mengecil dan tidak terlihat ada penyebaran. Dan kualitas hidupnya pun, meningkat. (Ana R)

[Jakarta City Directory]

Efektifkah mammografi cegah kanker payudara?

Pemeriksaan rutin payudara dengan mamografi ternyata kurang efektif dalam mencegah terjadinya kematian akibat kanker payudara. Hal itu terungkap dari hasil penelitian oleh tim ahli dari Norwegia.

Para ilmuwan Norwegia itu mengatakan Rabu (22/9) bahwa dalam studinya mereka mengundang sejumlah wanita berusia 50 hingga 69 tahun untuk menjalani pemeriksaan rutin dengan mamografi dan menawarkan mereka perawatan lebih baik oleh tim ahli yang membantu menurunkan angka kematian akibat kanker payudara sebesar 10 persen.

Namun, angka kematian di kalangan wanita berusia 70 tahun ke atas -- kelompok yang juga mendapatkan perawatan lebih baik tapi tidak diminta untuk menjalani pemeriksaan dengan mamografi -- turun sebesar 8 persen, yang mengindikasikan bahwa mamografi hanya memberikan sedikit manfaat.

"Terjadi penurunan angka kematian, tapi angka penurunannya lebih kecil dari yang diperkirakan," ujar Dr. Mette Kalager dari Oslo University Hospital, dalam studinya yang diterbitkan di jurnal New England Journal of Medicine.

Padahal tim peneliti memperkirakan terjadi penurunan angka kematian sebesar 30 persen melalui pemeriksaan dengan mamografi.

Berdasarkan studi tersebut, pemeriksaan dengan mamografi hanya menambah manfaat sebesar 2 persen dalam hal memangkas angka kematian akibat kanker payudara, papar Dr. Gilbert Welch dari New Hampshire's Dartmouth Medical School dalam komentarnya di jurnal tersebut.

Welch mengatakan hasil temuan terbaru ini menunjukkan bahwa untuk setiap 2.500 wanita berusia 50 yang menjalani pemeriksaan dengan mamografi, hanya satu yang akan terhindar dari kematian akibat kanker payudara dan sebanyak 1.000 orang akan diberitahu bahwa dokter melihat sesuatu yang mencurigakan.

Sekitar 500 dari wanita itu akan diminta untuk menjalani biopsi, dan sekitar 5 hingga 15 wanita akan dirawat seadanya yang tidak akan merepotkan mereka, tulis Welch.

Hasil studi terbaru itu jelas semakin menambah seru perdebatan mengenai efektivitas pemeriksaan rutin dengan mamografi, yang disarankan sebagai satu cara untuk mendeteksi kanker yang membunuh 519.000 orang setiap tahun di seluruh dunia.

Pada November lalu, panduan baru dari U.S. Preventive Services Task Force -- yang menyarankan tes mamografi dilakukan setiap dua tahun sekali ketimbang setiap tahun untuk wanita berusia 50 hingga 74 -- telah memicu kritik dari banyak ahli kanker payudara, kelompok advokasi dan pemangku kebijakan AS.

Hasil penelitian tim dari Norwegia itu mengundang pertanyaan dari Dr. Daniel Kopans dari Massachusetts General Hospital.

"Artikel ini menyebutkan bahwa sebagian besar dari penurunan angka kematian kanker payudara itu karena perbaikan dalam hal terapi dengan sedikit kontribusi dari pemeriksaan," ujarnya.

"Padahal, ada sejumlah studi yang sudah diterbitkan dari Swedia dan Belanda yang menunjukkan bahwa sebagian besar penurunan angka kematian itu benar-benar karena pemeriksaan dan bukan karena terapi," tutur Kopans.

Kalager dan Welch berkilah bahwa sejumlah studi itu dilakukan sebelum 1990 dan pemeriksaan mungkin kurang efektif sekarang sebab terapi sudah semakin bagus.

Kalager bersama timnya mengkaji data dari 40.075 wanita, dengan mengamati angka penurunan kematian akibat kanker payudara seiring dengan pelaksanaan program pemeriksaan mamografi digalakkan di seluruh Norwegia mulai 1996. Langkah itu juga seiring dengan mulai meningkatnya terapi atau perawatan terhadap pasien kanker payudara.

Salah satu penulis studi, Marvin Zelen dari Harvard, mengatakan bahwa para wanita yang menjalani studi itu memiliki akses terhadap tim multidisiplin yang dapat mengendalikan penyakit mereka. Hal itu membuat lebih sulit untuk mengetahui elemen mana -- mamografi atau terapi -- yang berperan lebih besar dalam mengikis angka kematian kanker payudara sebesar 10 persen.

Kopans mengatakan rata-rata studi lanjutan yang hanya 2,2 tahun itu terlalu singkat sehingga dipertimbangkan untuk melakukan studi lanjutan di masa mendatang.

Kopans juga menyebutkan bahwa para wanita yang terdaftar dalam studi Kalager itu menjalani pemeriksaan mamografi setiap dua tahun sekali, sementara para wanita di AS didorong untuk memeriksakan payudara mereka setiap tahun, sehingga tak memberikan kesempatan bagi kanker untuk tumbuh di sela-sela pelaksanaan pemeriksaan.

Menurut Kopans, perdebatan seputar mamografi itu membingungkan para wanita maupun dokter. Untuk itu, ia menyarankan wanita untuk tetap memeriksakan payudara mereka mulai usia 40 tahun, karena langkah ini akan dapat menyelamatkan puluhan ribu nyawa setiap tahun.

[Sumber: HealthyLife.Com]

Info Farmasi/Obat Kanker