Header Ads

LightBlog

RRS: Berbagi Untuk Melawan Kanker Payudara

Kehilangan payudara karena penyakit kanker payudara ternyata belum cukup bagi Ny. Hartono. Perempuan dokter gigi ini bahkan divonis dokter saraf bahwa dirinya tak mungkin lagi menjalankan profesi sebagai dokter gigi, terutama untuk mencabut gigi pasien. Alasan rekan sejawatnya itu, ketika menjalani operasi pengangkatan payudara, ada saraf Ny. Hartono (59) yang putus. Vonis dari dokter saraf itu sempat membuat pengajar pada Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya ini kehilangan rasa percaya diri.

"Saya sempat kebingungan karena setelah operasi pengangkatan payudara, saya memang cepat lemas," katanya. Di tengah kebimbangannya, Ny. Hartono terus menjalani terapi untuk pengobatan kanker payudara, termasuk melakukan berbagai upaya medis lainnya untuk memulihkan kondisi tubuh. Berbagai macam terapi pun dijalaninya, termasuk fisioterapi, agar bisa segera praktik kembali.

Usahanya tak sia-sia dan empat bulan setelah operasi ia bisa menjalani profesi sebagai dokter gigi. "Dokter saraf itu hanya geleng-geleng kepala ketika saya melakukan sendiri cabut gigi anaknya," kata Ny. Hartono, yang sampai sekarang masih aktif sebagai dokter gigi maupun pengajar pada FKG Unair. Ny. Hartono yang tinggal di kawasan Manyar Sabrangan, Surabaya, ini menjalani operasi tahun 1993 karena menderita kanker payudara stadium dua. Setelah operasi, dia menjalani 30 kali penyinaran radioterapi dan satu kali kemoterapi. "Setelah dioperasi, empat bulan saya tidak ada kegiatan. Badan cepat lemas dan rambut rontok. Jadi, saya memang tidak bisa berbuat apa-apa," katanya mengenang penderitaan itu.

Pengalaman serupa juga diungkap Ny. Eko Handayani Suryana (59), yang menjalani operasi pengangkatan payudara tahun 1993 pula. "Kanker yang saya derita stadium tiga, jadi harus dioperasi," begitu kata ibu dari enam anak yang kini mengembangkan usaha katering di Surabaya itu. Setelah operasi, Ny. Eko wajib kemoterapi sebanyak empat kali ditambah penyinaran 30 kali. "Rambutku rontok, kuku dan seluruh badanku jadi gosong (hangus) begini." Kata perempuan yang di tengah kesibukan mengelola bisnis masih menjadi sukarelawan untuk Reach To Recovery Surabaya (RRS), wadah bagi penderita kanker payudara.

Menjadi panik
Kaum perempuan yang digerogoti keganasan penyakit kanker payudara umumnya tidak mengetahui penyakit tersebut sejak dini. Akibatnya, diagnosa dokter yang menyebutkan kanker yang diderita sudah stadium tinggi, membuat penderita spontan menjadi panik. Tak jarang penderita shock karena dengan kondisi penyakitnya sudah stadium tinggi, kehilangan salah satu payudara sulit dihindari.

"Saya menangis tiada henti ketika dokter menyatakan paling lambat tiga hari setelah pemeriksaan payudara, saya harus dioperasi," kata Ny. Devy (43) yang dioperasi pada Oktober 2005. Bagaimana tidak sedih, salah satu anggota tubuh seseorang harus hilang. "Sulit bagi saya menerima kenyataan. Apalagi setelah operasi, saya harus kemoterapi selama 18 kali. Ini berarti rambut rontok. Pokoknya penderitaan sepertinya semakin panjang dan tidak akan berkesudahan," ujar pemilik depot makanan di Jalan Wiguna Timur, Surabaya, ini.

Kegetiran akibat menderita penyakit kanker payudara sudah dialami kaum perempuan yang kini menjadi anggota RRS. Untuk saling menguatkan satu sama lain sekaligus berbagi pengalaman, mereka pun saling kontak baik lewat telepon maupun bertemu langsung. Tak jarang mereka pun saling berbagai "ilmu" untuk mengatasi kerontokan rambut atau kondisi badan yang cepat lemas, hal yang tak terhindarkan selama mereka menjalani pengobatan dan saat kemoterapi di rumah sakit atau klinik.

Lewat berbagi pengalaman semacam itu, kepercayaan diri para penderita kanker payudara di Surabaya pun agaknya mulai pulih. Sikap saling berbagi, baik menyangkut soal minuman, obat, makanan, olahraga, hingga bagaimana cara menyuburkan rambut serta menutupi bagian tubuh yang hilang, pun terus berkembang, tak ada putusnya.

Seperti diutarakan Ny. Lena (55), yang paling utama ketika orang akan menjalani operasi dan pasca-operasi adalah kehadiran teman sesama penderita. "Pendampingan agar kita kuat sangat diperlukan. Ini supaya penderita kanker payudara tidak merasa begitu payudaranya diangkat maka dunia sudah kiamat," kata pedagang mi pangsit ini. Bagaimana penderita tidak merasa "terasing" karena setelah operasi untuk ke luar rumah pun mereka umumnya cenderung merasa malu. "Saya sempat malu berjualan karena payudara cuma satu, ditambah rambut rontok. Tetapi, berkat dorongan teman-teman sesama penderita, saya beranikan diri untuk hidup normal," ujar Ny. Lena, yang sampai sekarang masih memakai rambut palsu setiap keluar dari rumah.

Bagi Ny. Nurahman (37), warga Gunungsari, Surabaya, operasi pengangkatan payudara adalah hal yang terasa sangat menakutkan. Dengan demikian, meski benjolan kecil pada payudara sudah lama diketahui, dia baru mau menjalani operasi empat bulan lalu. "Habis melahirkan, saya langsung dioperasi. Sekarang tengah menjalani kemoterapi sebanyak enam kali karena sudah stadium tiga dengan panjang benjolan sekitar delapan sentimeter," kata ibu dari tiga anak ini.

Menggelar pertemuan
Cerita pilu para penderita kanker payudara ini terungkap setiap kali mereka bertemu, baik di rumah sakit atau pada pertemuan rutin RRS. Setiap tiga bulan, bekas penderita kanker payudara di Surabaya menggelar pertemuan, dan mereka diberi waktu selama sekitar satu jam untuk saling mengungkapkan pengalaman sebagai penderita kanker payudara sampai bisa hidup normal. Umumnya anggota komunitas ini menjalani proses pembedahan payudara (kebanyakan kehilangan satu payudara), dilanjutkan dengan radioterapi atau kemoterapi.

Sebagian besar dari mereka menggunakan kerudung atau rambut palsu untuk menutupi kepala yang rambutnya sudah rontok. Mengungkapkan pengalaman yang getir ketika tahu dirinya menderita kanker payudara. Ini termasuk setelah operasi satu atau bahkan kedua payudara mereka diangkat, sampai menjalani penyinaran radioterapi atau kemoterapi, menjadi perbincangan hangat setiap kali RRS menggelar pertemuan baik formal maupun informal. Mereka tak hanya berbagi pengalaman mengenai penyakit ganas itu, tetapi juga mendapatkan tambahan pengetahuan. Misalnya, pada suatu pertemuan ada sesi soal ilmu tentang nutrisi yang wajib dikonsumsi penderita kanker payudara. Sementara pada pertemuan lainnya ada sesi tentang cara memijat tangan pasca-operasi sampai tata cara beraktivitas secara normal.

Adanya wadah untuk berkumpul ini membuat rasa percaya diri mereka pun tumbuh. "Penyakit ini tidak hanya menggerogoti tubuh, tetapi juga ’kantung’ karena butuh biaya besar. Jadi, dalam kondisi serba tertekan, penderita kanker payudara butuh teman untuk berbagi," kata Ny. Theresia Pangemanan. Menurut Ketua RRS tersebut, sekarang ini penderita maupun bekas penderita mau lebih membuka diri. Artinya, mereka tidak malu lagi tampil di muka umum, dan hidup secara normal tanpa bantuan orang lain. Kendatipun diakuinya masih banyak penderita yang menutup diri dan hanya berkomunikasi dengan relawan melalui telepon. "Bekas penderita yang tertutup justru tantangan bagi relawan agar mereka mau membuka diri.

Relawan harus bisa meyakinkan penderita kanker payudara agar tidak hanya meratapi nasib," kata Theresia. Bahkan menurut Ny. Eko (59), tugas sebagai relawan RRS bukan pekerjaan mudah. Pernah ada yang minta relawan RRS mengunjungi seorang pasien kanker payudara yang sudah parah, tetapi menolak untuk dioperasi. Alasannya, dia merasa hidup tanpa payudara sangatlah terhina. Beberapa kali dia menemui penderita tersebut, dan berusaha memengaruhinya agar mau dioperasi. Usaha ini tak mudah, si penderita tersebut tetap menolak dengan berbagai alasan, termasuk ketiadaan biaya. Supaya penderita percaya bahwa mengidap kanker payudara bukan berarti harus mati, Ny. Eko melakukan berbagai cara. "Maaf, saya buka baju saya sambil menunjukkan payudara yang tinggal satu, serta tubuh yang hitam karena disinar dan kemoterapi. Biar dia bisa melihat langsung, ini berarti hidup saya bisa normal saja. Meskipun penyakit ganas itu sempat menggerogoti tubuh saya," kata nenek dari 11 cucu itu. Intinya, mereka berusaha agar para penderita kanker payudara tidak menganggap bahwa menderita penyakit itu berarti akhir dari segalanya.

Hidup harus berlanjut, dan semua proses penyembuhan mesti dijalani dengan ikhlas, bukan menjadikannya sebagai beban. "Keep on moving", begitu semboyan RRS untuk memotivasi anggotanya agar mereka bisa secepatnya menjalani hidup tak ubahnya manusia normal. Dari dan untuk Sesama Penderita Bekas penderita kanker payudara, khususnya yang tinggal di Surabaya, bisa sedikit berlega hati. Setidaknya mereka bisa berbagi pengalaman pahit selama menderita kanker payudara hingga berhasil melampauinya dan menjalani hidup secara normal.

Menurut Ketua Reach To Recovery Surabaya (RRS) Theresia Pangemanan (47), wadah untuk berbagi pengalaman sesama bekas penderita kanker payudara mulai berdiri sejak Mei 2005. RRS lahir dari keinginan bekas penderita, baik yang masih menjalani pengobatan maupun sudah sembuh, untuk selalu bisa berbagi. Tujuannya agar komunikasi sesama bekas penderita kanker payudara tidak putus karena banyak di antara mereka yang begitu divonis mengidap kanker payudara merasa sudah kiamat. "Apalagi survivor (bekas penderita kanker payudara) umumnya kehilangan satu atau kedua payudaranya sehingga merasa dirinya sudah tak sempurna lagi, jadi cenderung putus asa," kata Theresia yang menjalani operasi kanker payudara lima tahun lalu.

Awalnya, cerita Theresia, setiap kali dia kontrol ke Klinik Onkologi Surabaya dan saat menunggu dokter, dia menyempatkan diri mengobrol dengan sesama penderita, terutama pasien baru. "Niat saya cuma berbagi pengalaman sekaligus memotivasi penderita agar tidak putus asa," ujarnya. Dari bincang-bincang itu, Theresia punya semakin banyak teman sesama penderita dan bekas penderita kanker payudara. Benang merah dari hasil perbincangan informal sesama survivor ini menunjukkan, mereka sangat membutuhkan pendampingan. Alasannya, penyakit kanker payudara berdampak pada psikososial, emosional, kosmetik, ekonomi, harga diri, dan citra tubuh seseorang.

"Dalam situasi seperti ini pendampingan sangat diperlukan, baik dari suami, anak, saudara, maupun teman, agar penderita tidak merasa sebagai penderita kanker payudara adalah akhir dari semuanya," ujar Theresia. Relawan RRS lebih mudah diterima penderita kanker karena dia juga bekas penderita kanker payudara. Dengan spontan Berangkat dari kepedulian bersama, bekas penderita kanker payudara dengan spontan membentuk RRS pada acara Breast Cancer Survivor Gathering, Mei 2005. Pendirian komunitas khusus penderita kanker payudara ini difasilitasi Klinik Onkologi Surabaya dan Yayasan Kanker Indonesia (YKI).

Kini, setiap pertemuan RRS digelar, paling tidak 100 orang bekas penderita kanker payudara hadir. Kendati informasi tentang keberadaan RRS hanya dari mulut ke mulut, anggotanya terus meningkat. Maka, agar sesama penderita bisa berbagi pengalaman, baik sebelum maupun sesudah operasi, termasuk langkah-langkah agar bebas dari kanker payudara, RRS menggelar pertemuan rutin setiap tiga bulan. Bahkan untuk lebih meningkatkan pelayanan, RRS memberikan pelatihan kepada relawan. Kini, ada sembilan relawan yang siap mengunjungi penderita dan bekas penderita kanker payudara. Syarat menjadi relawan adalah minimal sudah dua tahun sebagai bekas penderita kanker payudara. Sebelum terjun sebagai relawan, mereka menjalani berbagai pelatihan, termasuk tentang pencegahan kanker payudara, karena deteksi dini merupakan hal paling efektif untuk melawan penyakit ini. Mereka juga memberi ceramah tentang kanker payudara dan penanggulangannya kepada pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum.

Berdasarkan catatan Klinik Onkologi Surabaya, penderita kanker payudara terus mengalami peningkatan sekitar 15 persen per tahun. "Penderita kanker payudara tidak mengenal usia karena ada yang masih berumur 18 tahun," kata Theresia. Mereka yang ingin mendapat informasi atau pendampingan dari relawan RRS bisa datang ke Klinik Onkologi Surabaya, Jalan Bawean 40, setiap Jumat pukul 19.00, atau lewat hotline RRS dengan nomor telepon 031-71236711. (ETA/AGNES SWETTA PANDIA)

Sumber: TEMPO


3 comments:

  1. ada rekomendasi pengobatan di Modern Hospital Guangzhou. saya sempat hadir ke seminarnya, seminarnya gratis dan sudah ada beberapa suvivor kanker yang sekarang keadaannya sehat sekali. dan Modern Hospital Guangzhou ini rutin mengadakan seminar dan konsultasi gratis setiap bulannya. ada cabang di Jakarta, Surabaya dan Medan untuk layanan konsultasi gratis dengan dr. onkologi. lokasi di Jakarta dekat dengan Dharmais. coba hubungi 087771114643/pin BB: 7DADAC35 buat cari info dan pendaftaran konsultasi. untuk reservasi konsultasi mungkin bisa secepatnya karena cukup banyak antrian jika tidak dijadwalkan. semoga bermanfaat ya

    ReplyDelete
  2. Bapak ibu sekalian... Sebelumnya terima kasih sudah diijinkan posting di page ini. Saya Luhur Budi mohon ijin untuk share kuesioner penelitian istri saya mengenai pandangan wanita mengenai payudara. Tanpa mengurangi rasa hormat kami, kami mohon bantuan khususnya dari ibu atau saudari penderita kanker payudara untuk dapat mengisi kuesioner berikut. Partisipasi Anda sangat berarti untuk kami. Atas perhatiannya, kami ucapkan terima kasih.
    https://docs.google.com/forms/d/1Y-S8j6vpRluu3oPscu3sYchWXF12Pz-_-WSJhGPY-p0/viewform

    ReplyDelete
  3. Thanks for post!
    If you have an online store and want to make it more profitable,I highly recommend you to look at mobile app AmazingCart.
    It integrates with all popular eCommerce plugins and you don't have to be a programmer to use it!
    For more information check our web site: https://amazingcart.us/

    ReplyDelete