Header Ads

LightBlog

Kemoterapi, Dari Perspektif Medis

Risalah Simposium KONAS VI Perhimpinan Onkologi Indonesia (POI), Malang, 30 September - 2 Oktober 2010

Bertempat di Hotel Kusuma Agrowisata, Batu, Malang, Kongres Nasional VI Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI) diadakan. Acara ilmiah berupa workshop pada tanggal 29 September 2010 kemudian dilanjutkan dengan acara simposium selama 2 hari berikutnya. Tema yang diangkat yaitu “fight against cancer, hand in hand we can make it” memang tercermin dari berbagai sesi ilmiah yang diadakan dan melibatkan berbagai disiplin ilmu kedokteran yang terkait dengan penanganan pasien kanker, seperti hematologis-onkologis, radioterapis, bedah onkologi, ginekologi-onkologis, paru onkologis, hingga gizi klinis.

Acara simposium dibuka dengan upacara pembukaan dan dilanjutkan dengan sesi ilmiah pertama dengan topik “Past, present, and future in the treatment of cancer” yang disampaikan secara inspiratif oleh Prof. DR. dr. Soehartati G, SpRad(K). Onk. Rad, sebelum sesi ilmiah berikutnya yang dibagi di 3 tempat secara bersamaan. Disampaikan bagaimana pesatnya perkembangan tatalaksana pasien kanker, mulai dari modalitas skrining, diagnosis, dan berbagai modalitas terapi. Konsep ke depannya dalam penatalaksanaan penyakit kanker adalah terapi personal yang didukung dengan semakin kompleksnya penilaian risiko/skrining dan diagnosis yang bertujuan dengan penentuan terapi individual sejalan dengan pengetahuan yang semakin maju mengenai penyakit kanker.

Beberapa topik penting dalam acara satelite simposium di antaranya:

Individualized Treatment on NSCLC – Prof. Sumitra Thongprasert (Thailand)
Empat regimen kemoterapi kombinasi berbasis platinum untuk pasien NSCLC stadium lanjut menghasilkan harapan hidup sebanding. Regimen yang diuji dalam ECOG 1594 Trial ini yaitu : cisplatin/paclitaxel; cisplatin/gemcitabine; cisplatin/docetaxel; dan carboplatin/paclitaxel.

Diagnosis NSCLC saja tidak cukup untuk menentukan pilihan terapi. Perlu diketahui lebih lanjut mengenai jenis histologi untuk menentukan respon terapi. Misalnya, histologi non-skuamosa prediktif efektifitas pemetrexed, status EGFR untuk pertimbangan pemberian tyrosine kinase inhibitor.

Kemoterapi lini kedua bermanfaat meningkatkan harapan hidup dan kualitas hidup pasien. Uji klinis perbandingan pemetrexed dengan docetaxel menghasilkan response rate dan harapan hidup sebanding namun berbeda dalam hal toksisitas. Terdapat perbedaan hasil terapi antar jenis histologi, di mana untuk histologi adenokarsinoma/large cell pemtrexed menghasilkan harapan hidup lebih baik (9,2 vs 8,2 bulan; hazard ratio 0,78; 95% CI 0,60 – 1,02) namun untuk jenis sel skuamosa, docetaxel menghasilkan harapan hidup lebih baik (7,4 vs 6,2 bulan; hazard ratio 1,56; 95% CI, 1,08 – 2,26).

Targeted therapy, seperti bevacizumab, gefitinib, dan erlotinib juga turut meningkatkan hasil terapi pasien NSCLC namun dengan kriteria seleksi pasien tertentu agar menghasilkan rasio risiko – manfaat optimal.

NSCLC Guideline and Management Implications in Indonesia – Dr.Elisna Syahruddin,PhD, Sp.P(K)
Paduan tatalaksana kanker paru jenis bukan sel kecil versi ke-3 menurut rencana akan dipublikasikan pada Oktober 2010. Paduan tersebut meliputi skrining, pencegahan, diagnosis, pengobatan, dan evaluasi. Sistem TNM yang digunakan saat ini menggunakan versi 7, 2009, di mana perubahan pada staging T3, T4, dan M1a.

Karena hingga kini tidak ada metoda untuk menemukan lesi pra-kanker untuk kanker paru, maka jenis kanker ini tidak ada pemeriksaan skrining. Hal yang dapat dilakukan adalah deteksi dini, di mana terbaik menggunakan CT-Scan. Pemeriksaan petanda tumor (tumor marker) tidak direkomendasikan untuk skrining/deteksi dini, melainkan untuk pemantauan terapi.

Pemeriksaan biomarker dilakukan untuk menentukan terapi dan tidak dianjurkan untuk diperiksa pada awal penilaian.

Nimotuzumab: Novel Targeted Therapy for Glioma and Brain Metastasis – Dr. Nyoto Astoro, SpPD-KHOM
Glioblastoma multiforme hingga kini masih menyebabkan morbiditas yang tinggi dan prognosis yang kurang baik. Aktivasi Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR) terpantau pada lebih dari 40% dan overekspresi terjadi pada lebih dari 60% pasien glioblastoma. Aktivasi EGFR ini turut memperburuk prognosis karena meningkatkan metastasis, angiogenesis, proliferasi dan anti-apoptosis. Oleh sebab itu hambatan EGFR berpotensi meningkatkan prognosis.

Nimotuzumab merupakan suatu antibodi monoklonal humanized yang bekerja sebagai anti-EGFR. Keunggulannya dibandingkan anti-EGFR lain adalah afinitasnya yang lebih rendah sehingga lebih selektif menghambat overekspresi EGFR di jaringan tumor tanpa banyak mempengaruhi jaringan sehat.

Suatu uji klinis fase III nimotuzumab plus radioterapi dibandingkan plasebo + radioterapi (n=80) pada pasien glioma derajat tinggi menunjukkan superioritas dalam hal disease control rate untuk nimotuzumab + radioterapi (66,6% vs 50%) dan angka harapan hidup 1,2, dan 3 tahun. Tidak ditemukan adanya efek samping derajat 3-4.

Adjuvant in Colorectal Cancer – Dr.Kartika Widayati, Sp.PD-KHOM
Penelitian yang melibatkan 20.898 pasien mengungkapkan manfaat pemberian kemoterapi adjuvan pada stadium II dan III kanker kolorektal dengan regimen berbasis 5-FU. Indikasi kemoterapi adjuvan yaitu untuk pasien dengan stadium III atau II berisiko tinggi. Pada stadium III, pembedahan saja (tanpa diikuti terapi ajuvan) menghasilkan harapan hidup yang rendah. Penambahan kemoterapi adjuvan akan meningkatkan harapan hidup dan paling efektif pada pasien dengan stadium III.

Penelitian MOSAIC mengungkapkan manfaat tambahan oxaliplatin terhadap 5-FU/leucovorin (regimen FOLFOX) sebagai kemoterapi adjuvan terutama pada stadium III. Saat ini, NCCN guideline merekomendasikan regimen capecitabine atau 5-FU/LV ± oxaliplatin selama 6 bulan.
Pemberian capecitabine tunggal sebagai kemoterapi ajuvan sebanding dengan regimen 5-FU/LV pada pasien stadium III. Hal yang masih belum terjawab dengan pasti adalah apakah ada perbedaan hasil terapi antara kombinasi capecitabine-oxaliplatin dengan regimen FOLFOX. Namun analisa secara tidak langsung yang disampaikan mengindikasikan kesetaraan dalam hal disease-free survival 3,4 , dan 5 tahun namun dengan profil toksisitas yang berbeda.

Sedangkan obat/regimen yang tidak/belum direkomendasikan sebagai kemoterapi ajuvan yaitu 5-FU-irinotecan, FOLFIRI (hasil terapi sebanding dengan 5-FU/LV), bevacizumab, cetuximab, panitumumab, dan irinotecan.

Innovative Opportunities with New TKI’s – Prof.DR.Dr. Arry Harryanto R, Sp.PD-KOHM
Sejak tahun 1983 – 2008 terdapat perkembangan yang cukup pesat terapi leukemia mielositik kronik. Diawali dengan ditemukannya busulfan yang menghasilkan angka harapan hidup 5 tahun sebesar 38%. Kemudian ditemukan hydroxyurea, terapi interferon dan transplantasi sel punca, kemudian era imatinib yang dapat menghasilkan angka ketahanan hidup 5 tahun sebesar 93%.

Namun terapi imatinib pun dapat terjadi resistensi dengan mekanisme primer tidak memadainya hambatan terhadap BCR-ABL. Nilotinib merupakan Tyrosine Kinase Inhibitor (TKI) terbaru yang dirancang berikatan lebih efektif terhadap domain ABL kinase dan dapat mengatasi mutasi – mutasi yang menyebabkan resistensi imatinib. Uji klinis nilotinib pasca kegagalan terapi imatinib berhasil mempertahankan harapan hidup.

Perkembangan berikutnya meliputi penghambat BCR-ABL baru yang lebih poten, target mediator BCR-ABL, obat yang dapat meningkatkan kadar TKI intraselular, kombinasi terapi vs monoterapi 2 TKIs, terapi dengan target sel punca leukemia Ph+ CML.

Use of ESAs in Oncology Setting – Dr.Budi D Machoos Sp.PD-KHOM
Anemia merupakan komorboditas yang sering terjadi pada pasien kanker dan secara bermakna berpengaruh negatif terhadap kualitas hidup. Insiden anemia tersering ditemukan pada pasien dengan jenis kanker paru, payudara, ovarium, kepala dan leher, serta kolon.

Keuntungan pemberian Erythropoiesis Stimulating Agents (ESAs) yaitu: Dapat digunakan untuk terapi anemia ringan-sedang, menghasilkan peningkatan Hb bermakna dan bertahap (smooth), meningkatkan kualitas hidup dengan mempertahankan kadar Hb tinggi, ditoleransi dengan baik, lebih nyaman dibandingkan pemberian transfusi, dan menginduksi sel darah merah yang berfungsi dengan normal.

Sebelum terapi ESAs dimulai, maka harus diperiksa kadar feritin (>100 µg/L), saturasi transferin (>20%), tidak ada hipertensi berat, kadar hb awal sebaiknya = 8g/dL.

Jika terjadi kegagalan terapi ESAs, maka beberapa etiologi berikut ini harus dipertimbangkan: defisiensi fe (seluruh pasien umumnya akan membutuhkan suplementasi fe), infeksi/proses inflamasi, perdarahan samar, penyakit hematologi, defisiensi asam folat/B12, hemolisis, dan intoksikasi alumunium.

[Sumber: Kalbe Farmasi]

No comments