Up-Date/Artikel Terbaru

Showing posts with label Tindakan Medis. Show all posts
Showing posts with label Tindakan Medis. Show all posts

Kemoterapi, Dari Perspektif Medis

Risalah Simposium KONAS VI Perhimpinan Onkologi Indonesia (POI), Malang, 30 September - 2 Oktober 2010
Bertempat di Hotel Kusuma Agrowisata, Batu, Malang, Kongres Nasional VI Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI) diadakan. Acara ilmiah berupa workshop pada tanggal 29 September 2010 kemudian dilanjutkan dengan acara simposium selama 2 hari berikutnya. Tema yang diangkat yaitu “fight against cancer, hand in hand we can make it” memang tercermin dari berbagai sesi ilmiah yang diadakan dan melibatkan berbagai disiplin ilmu kedokteran yang terkait dengan penanganan pasien kanker, seperti hematologis-onkologis, radioterapis, bedah onkologi, ginekologi-onkologis, paru onkologis, hingga gizi klinis.

Acara simposium dibuka dengan upacara pembukaan dan dilanjutkan dengan sesi ilmiah pertama dengan topik “Past, present, and future in the treatment of cancer” yang disampaikan secara inspiratif oleh Prof. DR. dr. Soehartati G, SpRad(K). Onk. Rad, sebelum sesi ilmiah berikutnya yang dibagi di 3 tempat secara bersamaan. Disampaikan bagaimana pesatnya perkembangan tatalaksana pasien kanker, mulai dari modalitas skrining, diagnosis, dan berbagai modalitas terapi. Konsep ke depannya dalam penatalaksanaan penyakit kanker adalah terapi personal yang didukung dengan semakin kompleksnya penilaian risiko/skrining dan diagnosis yang bertujuan dengan penentuan terapi individual sejalan dengan pengetahuan yang semakin maju mengenai penyakit kanker.

Beberapa topik penting dalam acara satelite simposium di antaranya:

Individualized Treatment on NSCLC – Prof. Sumitra Thongprasert (Thailand)
Empat regimen kemoterapi kombinasi berbasis platinum untuk pasien NSCLC stadium lanjut menghasilkan harapan hidup sebanding. Regimen yang diuji dalam ECOG 1594 Trial ini yaitu : cisplatin/paclitaxel; cisplatin/gemcitabine; cisplatin/docetaxel; dan carboplatin/paclitaxel.

Diagnosis NSCLC saja tidak cukup untuk menentukan pilihan terapi. Perlu diketahui lebih lanjut mengenai jenis histologi untuk menentukan respon terapi. Misalnya, histologi non-skuamosa prediktif efektifitas pemetrexed, status EGFR untuk pertimbangan pemberian tyrosine kinase inhibitor.

Kemoterapi lini kedua bermanfaat meningkatkan harapan hidup dan kualitas hidup pasien. Uji klinis perbandingan pemetrexed dengan docetaxel menghasilkan response rate dan harapan hidup sebanding namun berbeda dalam hal toksisitas. Terdapat perbedaan hasil terapi antar jenis histologi, di mana untuk histologi adenokarsinoma/large cell pemtrexed menghasilkan harapan hidup lebih baik (9,2 vs 8,2 bulan; hazard ratio 0,78; 95% CI 0,60 – 1,02) namun untuk jenis sel skuamosa, docetaxel menghasilkan harapan hidup lebih baik (7,4 vs 6,2 bulan; hazard ratio 1,56; 95% CI, 1,08 – 2,26).

Targeted therapy, seperti bevacizumab, gefitinib, dan erlotinib juga turut meningkatkan hasil terapi pasien NSCLC namun dengan kriteria seleksi pasien tertentu agar menghasilkan rasio risiko – manfaat optimal.

NSCLC Guideline and Management Implications in Indonesia – Dr.Elisna Syahruddin,PhD, Sp.P(K)
Paduan tatalaksana kanker paru jenis bukan sel kecil versi ke-3 menurut rencana akan dipublikasikan pada Oktober 2010. Paduan tersebut meliputi skrining, pencegahan, diagnosis, pengobatan, dan evaluasi. Sistem TNM yang digunakan saat ini menggunakan versi 7, 2009, di mana perubahan pada staging T3, T4, dan M1a.

Karena hingga kini tidak ada metoda untuk menemukan lesi pra-kanker untuk kanker paru, maka jenis kanker ini tidak ada pemeriksaan skrining. Hal yang dapat dilakukan adalah deteksi dini, di mana terbaik menggunakan CT-Scan. Pemeriksaan petanda tumor (tumor marker) tidak direkomendasikan untuk skrining/deteksi dini, melainkan untuk pemantauan terapi.

Pemeriksaan biomarker dilakukan untuk menentukan terapi dan tidak dianjurkan untuk diperiksa pada awal penilaian.

Nimotuzumab: Novel Targeted Therapy for Glioma and Brain Metastasis – Dr. Nyoto Astoro, SpPD-KHOM
Glioblastoma multiforme hingga kini masih menyebabkan morbiditas yang tinggi dan prognosis yang kurang baik. Aktivasi Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR) terpantau pada lebih dari 40% dan overekspresi terjadi pada lebih dari 60% pasien glioblastoma. Aktivasi EGFR ini turut memperburuk prognosis karena meningkatkan metastasis, angiogenesis, proliferasi dan anti-apoptosis. Oleh sebab itu hambatan EGFR berpotensi meningkatkan prognosis.

Nimotuzumab merupakan suatu antibodi monoklonal humanized yang bekerja sebagai anti-EGFR. Keunggulannya dibandingkan anti-EGFR lain adalah afinitasnya yang lebih rendah sehingga lebih selektif menghambat overekspresi EGFR di jaringan tumor tanpa banyak mempengaruhi jaringan sehat.

Suatu uji klinis fase III nimotuzumab plus radioterapi dibandingkan plasebo + radioterapi (n=80) pada pasien glioma derajat tinggi menunjukkan superioritas dalam hal disease control rate untuk nimotuzumab + radioterapi (66,6% vs 50%) dan angka harapan hidup 1,2, dan 3 tahun. Tidak ditemukan adanya efek samping derajat 3-4.

Adjuvant in Colorectal Cancer – Dr.Kartika Widayati, Sp.PD-KHOM
Penelitian yang melibatkan 20.898 pasien mengungkapkan manfaat pemberian kemoterapi adjuvan pada stadium II dan III kanker kolorektal dengan regimen berbasis 5-FU. Indikasi kemoterapi adjuvan yaitu untuk pasien dengan stadium III atau II berisiko tinggi. Pada stadium III, pembedahan saja (tanpa diikuti terapi ajuvan) menghasilkan harapan hidup yang rendah. Penambahan kemoterapi adjuvan akan meningkatkan harapan hidup dan paling efektif pada pasien dengan stadium III.

Penelitian MOSAIC mengungkapkan manfaat tambahan oxaliplatin terhadap 5-FU/leucovorin (regimen FOLFOX) sebagai kemoterapi adjuvan terutama pada stadium III. Saat ini, NCCN guideline merekomendasikan regimen capecitabine atau 5-FU/LV ± oxaliplatin selama 6 bulan.
Pemberian capecitabine tunggal sebagai kemoterapi ajuvan sebanding dengan regimen 5-FU/LV pada pasien stadium III. Hal yang masih belum terjawab dengan pasti adalah apakah ada perbedaan hasil terapi antara kombinasi capecitabine-oxaliplatin dengan regimen FOLFOX. Namun analisa secara tidak langsung yang disampaikan mengindikasikan kesetaraan dalam hal disease-free survival 3,4 , dan 5 tahun namun dengan profil toksisitas yang berbeda.

Sedangkan obat/regimen yang tidak/belum direkomendasikan sebagai kemoterapi ajuvan yaitu 5-FU-irinotecan, FOLFIRI (hasil terapi sebanding dengan 5-FU/LV), bevacizumab, cetuximab, panitumumab, dan irinotecan.

Innovative Opportunities with New TKI’s – Prof.DR.Dr. Arry Harryanto R, Sp.PD-KOHM
Sejak tahun 1983 – 2008 terdapat perkembangan yang cukup pesat terapi leukemia mielositik kronik. Diawali dengan ditemukannya busulfan yang menghasilkan angka harapan hidup 5 tahun sebesar 38%. Kemudian ditemukan hydroxyurea, terapi interferon dan transplantasi sel punca, kemudian era imatinib yang dapat menghasilkan angka ketahanan hidup 5 tahun sebesar 93%.

Namun terapi imatinib pun dapat terjadi resistensi dengan mekanisme primer tidak memadainya hambatan terhadap BCR-ABL. Nilotinib merupakan Tyrosine Kinase Inhibitor (TKI) terbaru yang dirancang berikatan lebih efektif terhadap domain ABL kinase dan dapat mengatasi mutasi – mutasi yang menyebabkan resistensi imatinib. Uji klinis nilotinib pasca kegagalan terapi imatinib berhasil mempertahankan harapan hidup.

Perkembangan berikutnya meliputi penghambat BCR-ABL baru yang lebih poten, target mediator BCR-ABL, obat yang dapat meningkatkan kadar TKI intraselular, kombinasi terapi vs monoterapi 2 TKIs, terapi dengan target sel punca leukemia Ph+ CML.

Use of ESAs in Oncology Setting – Dr.Budi D Machoos Sp.PD-KHOM
Anemia merupakan komorboditas yang sering terjadi pada pasien kanker dan secara bermakna berpengaruh negatif terhadap kualitas hidup. Insiden anemia tersering ditemukan pada pasien dengan jenis kanker paru, payudara, ovarium, kepala dan leher, serta kolon.

Keuntungan pemberian Erythropoiesis Stimulating Agents (ESAs) yaitu: Dapat digunakan untuk terapi anemia ringan-sedang, menghasilkan peningkatan Hb bermakna dan bertahap (smooth), meningkatkan kualitas hidup dengan mempertahankan kadar Hb tinggi, ditoleransi dengan baik, lebih nyaman dibandingkan pemberian transfusi, dan menginduksi sel darah merah yang berfungsi dengan normal.

Sebelum terapi ESAs dimulai, maka harus diperiksa kadar feritin (>100 µg/L), saturasi transferin (>20%), tidak ada hipertensi berat, kadar hb awal sebaiknya = 8g/dL.

Jika terjadi kegagalan terapi ESAs, maka beberapa etiologi berikut ini harus dipertimbangkan: defisiensi fe (seluruh pasien umumnya akan membutuhkan suplementasi fe), infeksi/proses inflamasi, perdarahan samar, penyakit hematologi, defisiensi asam folat/B12, hemolisis, dan intoksikasi alumunium.

[Sumber: Kalbe Farmasi]

Kanker Payudara Dan Opsi Pembedahan

Kebanyakan wanita dengan kanker payudara menjalani beberapa jenis pembedahan untuk mengobati tumor primer-nya. Tujuan pembedahan adalah untuk mengangkat sebanyak mungkin sel-sel kankernya. Pembedahan juga dapat dilakukan untuk:
  1. Mengetahui apakah sel-sel kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening di bawah lengan, 
  2. Untuk mengembalikan bentuk payudara setelah mastektomi, 
  3. Atau untuk meringankan gejala pada kanker stadium lanjut. 
Di bawah ini adalah Jenis-Jenis Operasi Pembedahan kanker payudara yang paling umum.

Operasi Konservasi Payudara 
Pada tipe pembedahan ini, hanya sebagian dari payudara yang akan diangkat. Besarnya bagian yang akan diangkat amat tergantung pada ukuran dan tempat tumor serta faktor lainnya.

Lumpektomi: operasi ini hanya menghilangkan benjolan payudara dan beberapa jaringan normal di sekitarnya. Pengobatan radiasi biasanya diberikan setelah operasi jenis ini. Jika kemoterapi juga akan digunakan, radiasi dapat dinunda sampai kemoterapi selesai. Jika ada kanker di batas tepi dari potongan jaringan yang telah diangkat, ahli bedah mungkin perlu kembali dan mengambil lebih banyak jaringan.

Mastektomi Parsial (segmental) atau quadrantectomy: operasi/pembedahan ini menghapus lebih dari jaringan payudara yang dilakukan pada lumpektomi. Hal ini biasanya diikuti dengan terapi radiasi. Tapi radiasi mungkin tertunda jika kemoterapi juga akan diberikan.

Efek samping dari operasi ini dapat berupa rasa sakit, pembengkakan dalam jangka pendek, tekstur payudara lembek dan keras karena jaringan parut yang terbentuk akibat pembedahan.

Semakin banyak bagian payudara yang diangkat, maka semakin besar kemungkinan adanya perubahan bentuk payudara setelah itu. Jika payudara terlihat sangat berbeda setelah operasi, Anda mungkin dapat menjalani beberapa jenis operasi rekonstruksi payudara diatas atau membuat payudara pada sisi lainnya lebih kecil agar kedua payudara terlihat sama. Hal ini bahkan mungkin dilakukan selama operasi pertama. Jadi sebaiknya diskusikan dengan dokter bedah Anda untuk mendapatkan gambaran tentang bentuk payudara Anda setelah operasi dan opsi/ pilihan yang ada bagi Anda.

Mastektomi 
Mastektomi melibatkan mengangkat semua jaringan payudara, kadang-kadang jaringan terdekat lainnya juga ikut diangkat.

Mastektomi Total atau Sederhana: Dalam operasi ini seluruh payudara diangkat, tetapi tidak termasuk kelenjar getah bening di bawah lengan atau jaringan otot di bawah payudara. Kadang-kadang kedua buah payudara diangkat, terutama bila dilakukan mastektomi untuk mencegah terjadinya kanker. Jika diperlukan, pasien dapat tinggal di RS dan pulang keesokan harinya.

Bagi wanita yang berencana melakukan rekonstruksi, skin-sparing mastektomi dapat dilakukan. Untuk itu, sebagian besar kulit payudara (selain dari puting dan areola) tersisa utuh. Ini juga dapat dilakukan untuk mastektomi sederhana. Jumlah jaringan payudara diangkat adalah sama dengan mastektomi sederhana. Meskipun pendekatan ini tidak digunakan melebihi standar mastektomi, metode ini lebih disukai karena hanya ada sedikit jaringan parut bekas luka dan payudara yang direkonstruksi akan tampak lebih alami.

Mastektomi radikal termodifikasi: Operasi ini melibatkan pengangkatan seluruh payudara serta beberapa kelenjar getah bening di bawah lengan. Ini adalah operasi yang paling umum untuk wanita dengan kanker payudara yang seluruh payudaranya diangkat.

Mastektomi radikal: Ini adalah operasi besar di mana ahli bedah menghapus seluruh payudara, kelenjar getah bening di bawah ketiak (aksila) , dan otot dinding dada di bawah payudara. operasi ini dulu sangat umum, tetapi jarang dilakukan sekarang karena mastektomi radikal termodifikasi telah terbukti bekerja sama baiknya. Namun operasi ini masih dapat dilakukan untuk tumor besar yang tumbuh ke dalam otot di bawah payudara.

Kemungkinan Efek Samping 
Selain rasa sakit setelah operasi dan perubahan bentuk payudara (s), efek samping yang mungkin dari mastektomi dan operasi konservasi payudara, adalah termasuk diantaranya: luka karena infeksi, terbentuknya darah pada luka, terbentuknya cairan bening dalam luka. Jika kelenjar getah bening aksila juga dihapus, efek samping lain yang mungkin terjadi adalah pembengkakan pada lengan dan dada (lymphedema).

Memilih antara Lumpektomi dan Mastektomi
Banyak wanita dengan kanker stadium awal dapat memilih antara Operasi Konservasi Payudara dan Mastektomi. Satu keuntungan dari lumpektomi adalah bahwa ia akan menyelamatkan cara payudara terlihat. Kelemahannya adalah dibutuhkan waktu berminggu-minggu untuk radiasi setelah operasi pembedahan dilakukan. Di sisi lain, beberapa wanita yang menjalani mastektomi masih memerlukan radiasi.

Ketika memilih antara lumpektomi dan mastektomi, pastikan Anda mendapatkan semua faktanya. Tetapi kenyataannya adalah bahwa untuk sebagian besar wanita dengan stadium I atau II kanker payudara, lumpektomi (plus radiasi) dapat menjadi sebaik mastektomi. Tidak ada perbedaan dalam tingkat kelangsungan hidup wanita yang diperlakukan dengan 2 metode tersebut. Lumpektomi tidak menjadi pilihan untuk semua wanita dengan kanker payudara. Dokter Anda akan memberitahu Anda jika ada alasan-alasan mengapa lumpektomi tidak disarankan untuk Anda.

Operasi Kanker Payudara Lainnya 
Pemotongan kelenjar getah bening di daerah aksila: Operasi ini dilakukan untuk mengetahui apakah kanker payudara telah menyebar ke kelenjar getah bening di bawah lengan. Beberapa node dihapus dan diperiksa di bawah mikroskop. Tes ini dilakukan untuk menentukan jenis pengobatan kanker selanjutnya yang diperlukan Anda.

Sebuah efek samping yang mungkin timbul dari pemindahan ini adalah pembengkakan kelenjar getah bening pada lengan, disebut lymphedema. Hal ini terjadi pada sekitar 3 dari 10 perempuan yang menjalani prosedur tersebut. Kadang-kadang pembengkakan hanya berlangsung selama beberapa minggu dan kemudian mereda. Kali lain, pembengkakan berlangsung lama. Cara untuk membantu mencegah atau mengurangi efek lymphedema dibahas dalam bagian, "Apa yang terjadi setelah perawatan untuk kanker payudara?" Jika tangan Anda bengkak, tegang, atau sakit setelah prosedur ini, pastikan Anda segera menginform paramedis Anda.

Biopsi Nodul Getah Bening Sentinel: sebuah biopsi kelenjar getah bening sentinel adalah cara untuk melihat kelenjar getah bening tanpa harus mengangkat semuanya. Untuk tes ini, suatu zat radioaktif dan/atau pewarna disuntikkan di dekat tumor. Ini akan dibawa oleh sistem getah bening ke nodul (sentinel) pertama yang mendapatkan getah bening dari tumor. Nodul inilah yang paling mungkin berisi sel-sel kanker jika kanker telah menyebar. Nodul ini (seringkali 2 atau 3 nodul) kemudian diperiksa oleh ahli patologi. Jika nodul sentinel mengandung kanker, maka kelenjar getah bening selanjutnya akan dihapus. Jenis biopsy ini memerlukan keahlian sangat tinggi, karena itu pastikan dilakukan oleh tim yang sudah berpengalaman.

Rekonstruktif atau operasi implantasi payudara: Setelah mastektomi (atau beberapa breast-conserving surgery), seorang wanita mungkin ingin berpikir tentang memiliki bentuk payudaranya kembali. Operasi ini tidak dimaksudkan untuk mengobati kanker. Mereka dilakukan untuk mengembalikan cara payudara terlihat. Jika Anda mengalami operasi payudara dan berpikir tentang memiliki rekonstruksi payudara, Anda harus berbicara dengan seorang ahli bedah plastik sebelum operasi Anda. .

Anda dapat memperoleh informasi lebih rinci tentang berbagai jenis operasi dan efek samping yang mungkin mereka dalam dokumen kami, Rekonstruksi Payudara Setelah Mastektomi. Anda juga mungkin akan membantu untuk berbicara dengan seorang wanita yang memiliki jenis rekonstruksi yang Anda pikirkan. Reach kami untuk relawan Pemulihan dapat membantu Anda dengan ini. Hubungi kami jika Anda ingin berbicara dengan salah satu relawan.

Apa yang diharapkan dengan Pembedahan? 
Bagi banyak orang, berpikir tentang operasi pembedahan dapat menakutkan. Tetapi mengetahui apa yang akan terjadi sebelum, selama, dan setelah itu dapat membantu mengurangi rasa takut Anda.

Sebelum pembedahan: Beberapa hari setelah biopsi, Anda akan tahu apakah Anda memiliki kanker, namun sejauh mana perkembangannya tidak akan diketahui sampai setelah operasi. Kemungkinan besar Anda akan bertemu dengan dokter bedah Anda beberapa hari sebelum operasi untuk berbicara tentang apa yang akan terjadi. Anda akan diminta untuk mengisi sebuah formulir persetujuan yang memberikan izin dokter untuk melakukan operasi. Ini adalah saat yang tepat untuk menanyakan pertanyaan apapun yang mungkin Anda miliki.

Anda mungkin diminta untuk menyumbangkan darah menjelang waktu, jika anda memerlukannya selama operasi. Dokter Anda juga akan bertanya kepadamu tentang obat-obatan, vitamin, atau suplemen yang kita pakai. Anda mungkin harus berhenti memakai beberapa jenis vitamin/supplemen seminggu atau 2 minggu sebelum operasi.

Anda juga akan bertemu dengan paramedis profesional yang akan memberikan Anda anestesi (obat untuk membuat Anda tidur dan tidak merasakan sakit) selama operasi Anda. Jenis anestesi yang digunakan tergantung pada jenis operasi yang dilakukan dan riwayat kesehatan Anda.

Pembedahan: Untuk operasi Anda, Anda mungkin memiliki opsi untuk rawat jalan atau dirawat di rumah sakit. Anestesi umum, biasanya diberikan untuk mastektomi atau pengangkatan kelenjar getah bening, dan yang paling sering digunakan juga untuk operasi konservasi payudara. Anda juga harus diinfus untuk memberikan obat-obatan yang mungkin diperlukan selama operasi. Anda akan terhubung ke sebuah elektrokardiogram (EKG) dan mesin memiliki tekanan darah pada manset lengan Anda, sehingga Anda irama jantung dan tekanan darah dapat diperiksa selama operasi.

Berapa lama operasi akan tergantung pada jenis operasi yang dilakukan. Sebagai contoh, mastektomi dengan pemindahan kelenjar getah bening akan mengambil waktu sekitar 2-3 jam. Setelah operasi, Anda akan dibawa ke ruang pemulihan, di mana Anda akan tinggal sampai Anda terjaga dan tanda-tanda vital anda (tekanan darah, denyut nadi, dan pernapasan) yang stabil.

Sesudah Pembedahan: Berapa lama Anda tinggal di rumah sakit tergantung pada jenis operasi Anda jalani, keadaan kesehatan Anda secara keseluruhan, apakah Anda mempunyai masalah medis lainnya, seberapa baik Anda lakukan selama operasi, dan bagaimana Anda rasakan setelah operasi. Anda dan dokter Anda harus memutuskan berapa lama Anda harus tinggal di rumah sakit - bukan perusahaan asuransi Anda. Namun, penting untuk memeriksa pertanggungan asuransi Anda sebelum operasi.

Sebagai panduan, perempuan yang menjalani mastektomi biasanya tinggal di rumah sakit selama 1 atau 2 malam dan kemudian pulang. Tetapi beberapa perempuan mungkin ditempatkan dalam unit tinggal cepat (23 jam) sebelum pulang.

Operasi seperti lumpektomi dan biopsi kelenjar getah bening sentinel biasanya dilakukan secara rawat jalan tidak perlu menginap.

Setelah operasi, anda mungkin memiliki sebuah perban di atas lokasi operasi yang ketat membungkus sekitar dada Anda. Anda mungkin memiliki satu atau lebih tabung (mengalir) dari payudara atau daerah ketiak untuk mengangkat cairan yang terkumpul selama proses pemulihan. Prosesnya sekitar 1 atau 2 minggu. Setelah aliran tersebut menyusut hingga tinggal 1 ons perhari, tabung akan diangkat.

Kebanyakan dokter ingin Anda mulai menggerakkan tangan Anda segera setelah operasi sehingga tidak kaku. Banyak wanita yang menjalani lumpektomi atau mastektomi terkejut dengan minimnya rasa sakit yang mereka rasakan mdi daerah payudara. Tapi mereka kurang senang dengan rasa aneh (mati rasa, tertarik/tercubit) di daerah ketiak mereka.

Bicarakan dengan dokter Anda tentang apa yang harus Anda lakukan setelah pembedahan untuk merawat diri sendiri. Anda harus mendapatkan instruksi tertulis yang akan memberitahu Anda hal-hal berikut:
  1. Cara merawat dan menutup luka 
  2. Cara merawat saluran/tabung 
  3. Bagaimana mengetahui jika Anda memiliki infeksi 
  4. Kapan harus memanggil dokter atau perawat 
  5. Kapan saat mulai menggunakan lengan dan bagaimana latihan menggerakkan lengan untuk mencegah kekakuan 
  6. Kapan mulai memakai bra lagi 
  7. Kapan dan bagaimana memakai busa/penyangga payudara (disebut prosthesis) 
  8. Apa yang harus makan dan makanan yang tidak boleh 
  9. Obat-obatan yang diperlukan (termasuk obat nyeri dan mungkin antibiotik) 
  10. Apa kegiatan yang boleh dan tidak boleh dilakukan 
  11. Perasaan Anda tentang bagaimana Anda melihatnya (payudara Anda) 
  12. Kapan harus menghubungi dokter Anda untuk pertemuan tindak lanjut 
Kebanyakan pasien menemui dokter mereka sekitar 7 hingga 14 hari setelah operasi. Dokter Anda harus menjelaskan hasil laporan patologi Anda dan berbicara kepada Anda tentang apakah Anda akan memerlukan perawatan lebih.

Nyeri Pasca Mastektomi 
Nyeri saraf setelah mastektomi atau lumpektomi disebut sindrom nyeri pasca mastektomi atau PMPs. Tanda-tanda PMPs adalah dinding dada nyeri dan kesemutan bawah lengan. Nyeri juga bisa dirasakan di bahu, bekas luka, lengan, atau ketiak. Keluhan umum lainnya termasuk mati rasa, nyeri tertusuk/tajam, atau rasa gatal tak tertahankan.

Adalah penting untuk berbicara dengan dokter tentang sakit yang Anda alami. PMPs dapat menyebabkan Anda tidak menggunakan lengan Anda seharusnya dan dari waktu ke waktu Anda mungkin tidak dapat menggunakannya secara normal.

PMPs dapat diobati. Obat yang biasanya digunakan untuk mengobati nyeri mungkin tidak bekerja dengan baik untuk nyeri saraf. Tapi ada obat-obatan dan perawatan lain yang bekerja untuk jenis nyeri ini. Bicarakan dengan dokter Anda untuk mendapatkan penanganan nyeri yang Anda butuhkan.

Tentang Kemoterapi

Bila pada suatu tempat di badan kita terdapat pertumbuhan sel-sel yang berlebihan, maka akan terjadi suatu benjolan atau Tumor. Tumor ini dapat bersifat jinak maupun ganas. Tumor yang ganas inilah yang disebut dengan Kanker. Tumor Ganas mempunyai sifat yang khas, yaitu dapat menyebar luas ke bagian lain di seluruh tubuh untuk berkembang menjadi Tumor yang baru. Penyebaran ini disebut Metastase. Kanker mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. Ada yang tumbuh secara cepat, ada yang tumbuh tidak terlalu cepat.

Terdapat kurang lebih 130 jenis penyakit Kanker, yang mempengaruhi kondisi tubuh kita dengan berbagai macam cara dan membutuhkan penanganan yang berbeda-beda. Tetapi semua jenis Kanker itu memiliki kesamaan: terdiri atas sel-sel yang membelah dengan cepat dan tumbuh tak terkontrol. Fungsi utama obat-obat Kemoterapi (Ing. Chemotherapy) adalah mengenali dan menghancurkan sel-sel seperti ini.

Kemoterapi telah digunakan sejak tahun 1950-an. Biasa diberikan sebelum atau sesudah pembedahan. Tujuannya adalah membasmi seluruh sel-sel Kanker sampai ke akar-akarnya, sampai ke lokasi yang tidak terjangkau pisau bedah. Paling tidak untuk mengontrol sel-sel Kanker agar tidak menyebar lebih luas. Pengobatan Kanker tergantung pada jenis atau tipe Kanker yang diderita dan dari mana asal Kanker tersebut. Umur, kondisi kesehatan umum pasien serta system pengobatan juga mempengaruhi proses pengobatan kanker. Pada kasus Kanker Pengobatan utama adalah melalui:

1. Pembedahan atau Operasi
2. Kemoterapi atau dengan cara pemberian Obat-obatan
3. Radioterapi atau Penggunaan Sinar Radiasi

Pada kenyataannya Secara umum biasanya digunakan lebih dari satu macam cara pengobatan di atas, misalnya Pembedahan yang diikuti oleh Kemoterapi atau Radioterapi, bahkan kadang pengobatan digunakan dengan 3 kombinasi (Pembedahan, Kemotarapi dan Radioterapi). Pada dasarnya Tujuan utama dari Pembedahan adalah mengangkat Kanker secara keseluruhan karena Kanker hanya dapat sembuh apabila belum menjalar ketempat lain. Sedangkan Kemoterapi dan Riadiasi tidak bukan dan tidak lain bertujuan untuk membunuh sel-sel Kanker atau menghentikan pertumbuhan sel-sel Kanker yang masih tertinggal.

Kemoterapi adalah proses pengobatan dengan menggunakan obat-obatan yang bertujuan untuk membunuh atau memperlambat pertumbuhan sel-sel Kanker. Banyak obat yang digunakan dalam Kemoterapi.

Manfaat Kemoterapi antara lain adalah sebagai berikut:

1. PENGOBATAN
Beberapa jenis kanker dapat disembuhkan secara tuntas dengan satu jenis Kemoterapi atau beberapa jenis Kemoterapi.

2. KONTROL
Kemoterapi ada yang bertujuan untuk menghambat perkembangan Kanker agar tidak bertambah besar atau menyebar ke jaringan lain.

3. MENGURANGI GEJALA
Bila kemotarapi tidak dapat menghilangkan Kanker, maka Kemoterapi yang diberikan bertujuan untuk mengurangi gejala yang timbul pada penderita, seperti meringankan rasa sakit dan memberi perasaan lebih baik serta memperkecil ukuran Kanker pada daerah yang diserang.

Kemoterapi dapat diberikan dengan cara Infus, Suntikan langsung (pada otot, bawah kulit, rongga tubuh) dan cara Diminum (tablet/kapsul).
  • Dalam bentuk tablet atau kapsul yang harus diminum beberapa kali sehari. keuntungankemoterapi oral semacam ini adalah: dapat dilakukan di rumah.
  • Dalam bentuk suntikan atau injeksi. Bisa dilakukan di ruang praktek dokter, rumah sakit, klinik, bahkan di rumah.
  • Dalam bentuk infus. Dilakukan di rumah sakit, klinik, atau di rumah (oleh paramedis yang terlatih).
Tergantung jenisnya, Kemoterapi ada yang diberikan setiap hari, seminggu sekali, tiga minggu sekali, bahkan sebulan sekali. Berapa seri penderita harus menjalani Kemoterapi, juga tergantung pada jenis kanker penderita. Yang paling ditakuti dari kemoterapi adalah efek sampingnya. Ada orang yang sama sekali tidak merasakan adanya efek samping Kemoterapi. Ada yang mengalami efek samping ringan. Tetapi ada juga yang sangat menderita karenanya. Ada-tidak atau berat-ringannya efek samping kemoterapi tergantung pada banyak hal, antara lain jenis obat kemoterapi, kondisi tubuh Anda, kondisi psikis Anda, dan sebagainya. Efek samping Kemoterapi timbul karena obat-obat kemoterapi sangat kuat, dan tidak hanya membunuh sel-sel kanker, tetapi juga menyerang sel-sel sehat, terutama sel-sel yang membelah dengan cepat. Karena itu efek samping kemoterapi muncul pada bagian-bagian tubuh yang sel-selnya membelah dengan cepat. Efek samping dapat muncul ketika sedang dilakukan pengobatan atau beberapa waktu setelah pengobatan. Efek samping yang bisa timbul adalah antara lain:

1. Lemas
Efek samping yang umum timbul. Timbulnya dapat mendadak atau perlahan. Tidak langsung menghilang dengan istirahat, kadang berlangsung terus hingga akhir pengobatan.

2. Mual dan Muntah
Ada beberapa obat Kemoterapi yang lebih membuat mual dan muntah. Selain itu ada beberapa orang yang sangat rentan terhadap mual dan muntah. Hal ini dapat dicegah dengan obat anti mual yang diberikan sebelum,selama, atau sesudah pengobatan Kemoterapi. Mual muntah dapat berlangsung singkat ataupun lama.

3. Gangguan Pencernaan
Beberapa jenis obat Kemoterapi berefek diare. Bahkan ada yang menjadi diare disertai dehidrasi berat yang harus dirawat. Sembelit kadang bisa terjadi. Bila diare: kurangi makanan berserat, sereal, buah dan sayur. Minum banyak untuk mengganti cairan yang hilang. Bila susah BAB: perbanyak makanan berserat, olahraga ringan bila memungkinkan.

4. Sariawan
Beberapa obat kemoterapi menimbulkan penyakit mulut seperti terasa tebal atau infeksi. Kondisi mulut yang sehat sangat penting dalam kemoterapi.

5. Rambut Rontok
Kerontokan rambut bersifat sementara, biasanya terjadi dua atau tiga minggu setelah kemoterapi dimulai. Dapat juga menyebabkan rambut patah di dekat kulit kepala. Dapat terjadi setelah beberapa minggu terapi. Rambut dapat tumbuh lagi setelah kemoterapi selesai.

6. Otot dan Saraf
Beberapa obat kemoterapi menyebabkan kesemutan dan mati rasa pada jari tangan atau kaki serta kelemahan pada otot kaki. Sebagian bisa terjadi sakit pada otot.

7. Efek Pada Darah
Beberapa jenis obat kemoterapi dapat mempengaruhi kerja sumsum tulang yang merupakan pabrik pembuat sel darah, sehingga jumlah sel darah menurun. Yang paling sering adalah penurunan sel darah putih (leokosit). Penurunan sel darah terjadi pada setiap kemoterapi dan tes darah akan dilaksanakan sebelum kemoterapi berikutnya untuk memastikan jumlah sel darah telah kembali normal. Penurunan jumlah sel darah dapat mengakibatkan:

a Mudah terkena infeksi
Hal ini disebabkan oleh Karena jumlah leokosit turun, karena leokosit adalah sel darah yang berfungsi untuk perlindungan terhadap infeksi. Ada beberapa obat yang bisa meningkatkan jumlah leokosit.

b. Perdarahan

Keping darah (trombosit) berperan pada proses pembekuan darah. Penurunan jumlah trombosit mengakibatkan perdarahan sulit berhenti, lebam, bercak merah di kulit.

c. Anemia

Anemia adalah penurunan jumlah sel darah merah yang ditandai oleh penurunan Hb (hemoglobin). Karena Hb letaknya di dalam sel darah merah. Akibat anemia adalah seorang menjadi merasa lemah, mudah lelah dan tampak pucat.

8. Kulit dapat menjadi kering dan berubah warna
Lebih sensitive terhadap matahari. Kuku tumbuh lebih lambat dan terdapat garis putih melintang.

9. Produksi Hormon
Menurunkan nafsu seks dan kesuburan

Setiap obat memiliki efek samping yang berbeda! Reaksi tiap orang pada tiap siklus juga berbeda!
Tetapi Anda tidak perlu takut. Bersamaan dengan kemoterapi, biasanya dokter memberikan juga obat-obat untuk menekan efek sampingnya seminimal mungkin. Lagi pula semua efek samping itu bersifat sementara. Begitu kemoterapi dihentikan, kondisi Anda akan pulih seperti semula.

Beberapa produk suplemen makanan mengklaim bisa mengurangi efek samping kemoterapi sekaligus membangun kembali kondisi tubuh Anda. Anda bisa menggunakannya, tetapi konsultasikanlah dengan ahlinya, dan sudah tentu dengan dokter Anda juga.

Saat ini, dengan semakin maraknya penggunaan obat-obatan herbal (yang semakin diterima kalangan kedokteran), banyak klinik yang mengaku bisa memberikan kemoterapi herbal yang bebas efek samping. Kalau Anda bermaksud menggunakannya, pastikan yang menangani Anda di klinik tersebut adalah seorang dokter medis. Paling tidak Anda harus berkonsultasi dengan dokter yang merawat Anda, dan lakukan pemeriksaan laboratorium secara teratur untuk memantau hasilnya.



Dari Unordinary World - Sumber: DR. dr. Noorwati S,SpPD.KHOM (Dharmais Cancer Hospital Website) dan Rumah KankerBaca juga: Dapatkah Kemoterapi Menyembuhkan Semua Kanker?


Mengintip SOP kemoterapi bagi paramedis

Berikut ini adalah SOP (Standard Operation Procedures) atau prosedur standar yang berlaku bagi paramedis dalam pelaksanaan Kemoterapi.

Pada pasien kanker ada empat terapi modalitas yang digunakan yaitu:
  1. Pembedahan,
  2. Radiasi,
  3. Bioterapi dan
  4. kemoterapi.
Pengertian Kemoterapi adalah penggunaan obat-obatan sitotoksik dalam terapi kanker. Kemoterapi bersifat sistemik. Ada empat cara penggunaan kemoterapi:
  1. Terapi adjuvant: suatu sesi kemoterapi yang digunakan sebagai tambahan dengan terapi modalitas lainnya. Dan ditujukan untuk mengobati mikrometastasis
  2. Kemoterapi neo-adjuvant: pemberian kemoterapi untuk mengecilkan tumor sebelum dilakukannya pembedahan pengangkatan tumor
  3. Terapi primer: terapi pasien dengan kanker local alternative yang ada tidak terlalu efektif
  4. Kemoterapi kombinasi: pemberian dua atau lebih zat kemoterapi dalam terapi kanker yang menyebabkan setiap pengobatan memperkuat aksi obat lainnya (sinergis)
Prinsip pengobatan kemoterapi
Obat-obat kemoterapi sangat aktif dalam melawan sel yang membelah. Sel-sel normal yang pertumbuhannya cepat sangat dipengaruhi oleh agen kemoterapi. Kemoterapi diberikan dalam jadwal yang paling efektif untuk membunuh tumor.
 
Klasifikasi Obat
Obat-obat kemoterapi diklasifikasikan berdasarkan aktivitas farmakologi dan pengaruhnya terhadap reproduksi sel. Jenis obat-obat kemoterapi sbb:
  1. Obat-obat spesifik fase siklus sel berpengaruh terhadap sel-sel yang sedang mengalami pembelahan contohnya antimetabolit, alkaloid tanaman vinca dan zat lainnya seperti asparaginase dan dacarbazine
  2. Obat-obat fase siklus sel nonspesifik berpengaruh pada sel yang membelah atau istirahat misalnya agens alkilasi, antibiotic antitumor, nitrourea agen lainnya seperti prokarbazin
  3. Agens alkilasi bersifat nonspesifik pada fase siklus sel. Mereka bekerja dengan membentuk ikatan molekul dengan asam nukleat, yang mempengaruhi duplikasi asam nukleat sehingga mencegah mitosis
  4. Antibiotik (agens antitumor) bersifat nonspesifik yang mengganggu transkripsi DNA
  5. Antimetabolit bersifat spesifik dengan menghambat enzim essensial yang diperlukan dalam sintesis DNA
  6. Hormon-hormon yang bersifat nonspesifik. Zat-zat kimia yang kimia yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin ini mengubah lingkungan sel dengan mempengaruhi permeabilitas sel
  7. Nitrourea yang bersifat spesifik dengan kemampuan untuk melewati sawar darah otak
  8. Kortikosteroid memberikan efek antiinflamasi pada jaringan tubuh
  9. Alkaloid tanaman vinca bersifat spesifik .Zat ini memberikan efek sitotoksik dengan mengikat protein mikrotubular selama fase metaphase yang menyebabkan terhentinya mitosis
  10. Agen lainnya dengan kerja yang beragammisalnya produksi enzim yang bekerja secara primer dengan cara menghambat sintesis protein.
Prosedur pemberian kemoterapi
  1. Memastikan identifikasi klien, obat, dosis, rute dan waktu pemberian sesuai dengan order
  2. Cek riwayat alergi obat bersama klien
  3. Mengantisipasi dan merencanakan kemungkinan terjadinya efek samping atau toksisitas sistemik
  4. Membahas data lab dan pemeriksaaan lainnya
  5. Memastikan inform consent
  6. Memilih peralatan yang sesuai
  7. Menghitung dosis dan menyediakan obat dengan teknik aseptic
  8. Menjelaskan prosedur yang akan dilakukan kepada pasien dan keluarga
  9. Memberikan obat antiemetic atau obat lain yang disarankan
  10. Mempersiapkan lokasi pemasangan infuse atau jalur vena sentral
  11. Memberikan agens kemoterapi dengan cara obat dimasukkan kedalam botol cairan infuse yang diberikan
  12. Memantau pasien pada masa interval sesi pemberian obat
  13. Membuang seluruh peralatan yang telah digunakan atau tidak digunakan dalam suatu tempat yang aman dari kebocoran.
Persiapan obat
Untuk memastikan penyiapan yang aman semua obat kemoterapi harus dipersiapkan dari kemasannya yang dimasukkan kedalam sebuah lemari khusus yang aman.
  1. Cuci tangan sebelum dan setelah mempersiapkan obat
  2. Batasi akses ke daerah penyiapan obat
  3. Letakkan penampung berlabel untuk tumpahan obat dekat dengan area penyiapan
  4. Gunakan sarung tangan sebelum memegang obat
  5. Persiapan obat menggunakan teknik aseptic
  6. Hindari makan, minum, merokok mengunyah permen karet, menggunakan kosmetik dan menyimpan makanan dekat area penyiapan obat
  7. Letakkan bantalan absorben pada daerah kerja
  8. Gunakan peralatan luer lok
  9. Buka botol atau ampul obat jauh dari badan
  10. Buka obat menggunakan jarum filter hidrofobik atau pin untuk menghindari semburan obat
  11. Gosok daerah sekeliling leher botol dengan alcohol sebelum membukanya
  12. Susun obat-obatan dalam lemari yang sesuai standar
  13. Tutup ujung jarum dengan kasa steril atau dengan apus alcohol pada saat mengeluarkan udara dari spuit
  14. Beri label setiap obat kemoterapi
  15. Bersihkan setiap tumpahan obar secepatnya
  16. Bawa obat ke tempatnya dalam tempat yang anti bocor.
Pemberian obat
  1. Gunakan peralatan pelindung (sarung tangan, baju penutup dan kacamata)
  2. Beritahu pasien bahwa obat-obat kemoterapi ini berbahaya terhadap sel normal dan tindakan perlindungan dilakukan untuk mengurangi pajanan obat
  3. Letakkan bantalan absorben beralas plastic di bawah slang selama pemberian obat untuk menyerap setiap tumpahan atau kebocoran
  4. Jangan membuang alat-alat atau obat yang tidak digunakan dekat dengan area perawatan obat.
Pembuangan peralatan dan obat-obat yang tidak digunakan
  1. Jangan mengaitkan atau menutup kembali jarum atau spuit yang patah
  2. Letakkan setiap peralatan yang telah digunakan secara lengkap dan utuh pada tempat penampungan antibocor dan tidak tembus yang diberi label yang sesuai
  3. Letakkan setiap obat yang digunakan pada tempat antibocor dan tidak tembus yang diberi label yang sesuai
  4. Buang penampung yang berisi peralatan dan obat-obat an yang tidak digunakan sesuai dengan peaturan pembuangan zat berbahaya.
Peralatan
1. Perangkat dan peralatan untuk mengatasi tumpahan kemoterapi:
  • Masker respirator
  • Kacamata plastic yang aman
  • Sarungtangan karet yang tebal
  • Bantalan absorben untuk menyerap tumpahan cairan
  • Handuk absorben untuk membersihkan bekas tumpahan
  • Sekop kecil untuk mengumpulkan pecahan kaca
  • Dua kantong pembuangan berukuran besar
2. Baju pelindung sekali pakai 
3. Tempat untuk larutan detergen dan air keran yang bersih untuk membersihkan bekas tumpahan 
4. Tempat penampungan yang tahan bocor 
5. Pengirigasi mata simpan di dekat area kerja 


Bedah Penyelamatan Payudara

Dalam prasyarat lumpectomy, sebagian besar payudara bisa diselamatkan, pada dasarnya bentuk keseluruhan payudara bisa dipertahankan, dan tindakan pengobatan dilengkapi dengan radioterapi setelah pembedahan. Bedah penyelamatan payudara termasuk pengangkatan lokal, pengangkatan extensive lokal, dan pengangkatan satu kuadran payudara.

Syarat melakukan bedah penyelamatan payudara selain pasien yang masih berada pada stadium awal, dokter bedah harus cermat dan mahir dalam mengendalikan teknik pembedahan, dilengkapi dengan peralatan radioterapi, dan sistematis formal untuk jaminan pengobatan keseluruhan.

Untuk pasien bedah penyelamatan payudara, harus melakukan pemeriksaan formal seperti mamografi, USG, scan sinar inframerah. Bila dicurigai sebagai tumor ganas maka harus dilakukan pemeriksaan biopsy. Jika hasil biopsy negatif, tetapi dalam klinikal sangat dicurigai sebagai tumor ganas, maka harus dilakukan diagnosis frozen section.

Keunggulan bedah penyelamatan payudara
  1. Menyelamatkan sebagian besar payudara dapat meningkatkan kualitas hidup, memperbaiki fungsi lengan pasien, mengurangi komplikasi akibat pembedahan.
  2. Bisa memperbaiki dan memperoleh masa hidup yang sama seperti dalam terapi konvensional radical mastectomy.
  3. Bila terjadi kambuh di kelenjar payudara pasien setelah bedah penyelamatan payudara, masih bisa dilakukan mastectomy sebagai alternatif penyelamatan, sehingga masih bisa memperoleh masa hidup yang sama seperti dalam terapi radical mastectomy.
Syarat-syarat untuk melakukan bedah penyelamatan payudara
  1. Ukuran tumor tidak lebih dari 3 cm.
  2. Letak tumor dari puting payudara lebih dari 2 cm.
  3. Hasil pemeriksaan X-ray dan MRI menunjukkan tidak ada fokus kanker lain.
  4. Saat pembedahan dapat segera dilakukan frozen section untuk mendapatkan patologi, yang memastikan di sekitar lokasi pembedahan tidak terdapat sel kanker.
Apakah semua pasien kanker payudara sebaiknya melakukan bedah ini?

Penyelamatan payudara ada unsur adaptasinya, ada sebagian pasien layak dilakukan, tapi ada juga sebagian yang tidak layak dilakukan. Kalau ukuran tumor primer sebesar 5 cm atau kurang. selain itu jika lebih dari 5 cm, kita lakukan kemoterapi sebelum pembedahan agar tumor mengecil. Biasanya ukuran tumor kita kendalikan di bawah 3 cm dan di bawah ketiak tidak ada terlihat adanya pembesaran yang nyata, setelah itu baru dilakukan pembedahan. Dengan demikian bukan hanya hasil pembedahan bisa lebih bagus tapi juga sangat menguntungkan untuk pemulihan setelah pembedahan bagi pasien.

Larangan dalam melakukan bedah penyelamatan payudara
  1. Tumor terletak pada 2 kuadran berbeda atau lebih
  2. Hasil mamografi diffuse malignant micro calcification
  3. Tepi pembedahan tumor beberapa kali menunjukkan hasil positif.
  4. Pernah dilakukan radioterapi di daerah payudara
  5. Kanker payudara pada masa hamil
Jika kondisinya seperti di atas, maka tidak layak dilakukan bedah penyelamatan payudara, harus pada kondisi yang tidak seperti di atas, baru bisa dilakukan pembedahan.



Tentang Modified Radical Mastectomy

Definisi
MRM atau Modified Radical Mastectomy adalah suatu tindakan pembedahan onkologis pada keganasan payudara yaitu dengan mengangkat seluruh jaringan payudara yang terdiri dari seluruh stroma dan parenkhim payudara, areola dan puting susu serta kulit diatas tumornya disertai diseksi kelenjar getah bening aksila ipsilateral level I, II/III secara en bloc TANPA mengangkat m.pektoralis major dan minor.

Ruang lingkup
Payudara adalah masa stroma dan parenkhim payudara yang terletak di dinding torak anterior antara ICS II dan VI dan parasternal sampai dengan garis axilaris medius. Payudara mendapat vaskularisasi utama dari cabang a. mammaria interna, a. Torakoakromialis dan cabang a. Interkostalis 3, 4, 5. KGB regional pada payudara adalah KGB aksila, supra dan infraklavikula serta mammaria interna. KGB aksila dibagi atas 3 zona yaitu Level I, II dan III. Level I adalah KGB yang terletak lateral dari muskulus pektoralis minor, level II adalah KGB yang terletak dibelakang m.pektoralis minor dan Level III adalah KGB yang terletak medial dari m.pektoralis minor. Disamping itu juga ada KGB interpektoral atau disebut Rotter.

Tumor pada payudara dibagi atas:
  • Tumor jinak: fibroadenoma, kista.
  • Tumor ganas: invasif duktal, invasif lobular dan varian lainnya (mukoid, papiler, meduler, kribriform dll).
  • Keganasan insitu: insitu lobular, insitu duktal dan mikroinvasif Sampai saat ini penyebab pasti kanker payudara, belum diketahui karena bersifat multifaktorial.
Faktor resiko kanker payudara:
  • Usia di atas 35 tahun
  • Menarche <>
  • Menopause di atas 55 tahun
  • Nullipara
  • Riwayat keluarga (orang tua, saudara kandung) dengan kanker payudara
Diagnosa kanker payudara ditegakkan dengan:
  • Diagnosa konfirmasi keganasan: pemeriksaan klinis, FNA & pencitraan (mamografi dan/atau USG payudara (tripple diagnostic).
  • Diagnosa stadium kanker payudara: pemeriksaan klinis-laboratorium dan pencitraan (foto toraks/paru- USG liver/abdomen- k/p bone scanning). Pada keadaan dimana salah satu komponen dari triple diagnostic mengalami ketidak sesuaian interpretasi maka dikerjakan biopsi dengan pemeriksaan potong beku (bila ada fasilitas) atau biopsi saja dulu untuk mengetahui jenis histopatologinya. Terapi berikutnya tergantung dari hasil histopatologinya C.
Indikasi operasi
  • Kanker payudara stadium dini (I, II),
  • Kanker payudara stadium lanjut lokal dengan persyaratan tertentu,
  • Keganasan jaringan lunak pada payudara.
Kontra indikasi operasi
  • Tumor melekat dinding dada,
  • Edema lengan,
  • Nodul satelit yang luas,
  • Mastitis inflamatoar e. Diagnosa banding,
  • Keganasan lainnya dari payudara (sarkoma-limfoma dll),
  • Tumor phylodes (ganas dan jinak),
  • Mastitis yang luas (terutama mastitis tuberkulosa).
Pemeriksaan penunjang
  • Mandatory-Mamografi dan/atau USG payudara-Foto toraks-FNAB tumor payudara-USG liver/abdomen-pemeriksaan kimia darah lengkap untuk persiapan operasi.
  • Oprional - bone scanning - pemeriksaan kimia darah/tumor marker: CEA, Ca 15-3, CA 125
Tekhnik operasi Secara singkat tekhnik operasi dari mastektomi radikal modifikasi dapat dijelaskan sebagai berikut:
  1. Penderita dalam general anaesthesia, lengan ipsilateral dengan yang dioperasi diposisikan abduksi 900, pundak ipsilateral dengan yang dioperasi diganjal bantal tipis.
  2. Desinfeksi lapangan operasi, bagian atas sampai dengan pertengahan leher, bagian bawah sampai dengan umbilikus, bagian medial sampai pertengahan mammma kontralateral, bagian lateral sampai dengan tepi lateral skapula. Lengan atas didesinfeksi melingkar sampai dengan siku kemudian dibungkus dengan doek steril dilanjutkan dengan mempersempit lapangan operasi dengan doek steril
  3. Bila didapatkan ulkus pada tumor payudara, maka ulkus harus ditutup dengan kasa steril tebal (buick gaas) dan dijahit melingkar.
  4. Dilakukan insisi (macam–macam insisi adalah Stewart, Orr, Willy Meyer, Halsted, insisi S) di mana garis insisi paling tidak berjarak 2 cm dari tepi tumor, kemudian dibuat flap.
  5. Flap atas sampai dibawah klavikula, flap medial sampai parasternal ipsilateral, flap bawah sampai inframammary fold, flap lateral sampai tepi anterior m. Latissimus dorsi dan mengidentifikasi vasa dan. N. Thoracalis dorsalis
  6. Mastektomi dimulai dari bagian medial menuju lateral sambil merawat perdarahan, terutama cabang pembuluh darah interkostal di daerah parasternal. Pada saat sampai pada tepi lateral m.pektoralis mayor dengan bantuan haak jaringan maamma dilepaskan dari m. Pektoralis minor dan serratus anterior (mastektomi simpel). Pada mastektomi radikal otot pektoralis sudah mulai
  7. Diseksi aksila dimulai dengan mencari adanya pembesaran KGB aksila Level I (lateral m. pektoralis minor), Level II (di belakang m. Pektoralis minor) dan level III (medial m. pektoralis minor). Diseksi jangan lebih tinggi pada daerah vasa aksilaris, karena dapat mengakibatkan edema lengan. Vena-vena yang menuju ke jaringan mamma diligasi. Selanjutnya mengidentifikasi vasa dan n. Thoracalis longus, dan thoracalis dorsalis, interkostobrachialis. KGB internerural selanjutnya didiseksi dan akhirnya jaringan mamma dan KGB aksila terlepas sebagai satu kesatuan (en bloc)
  8. Lapangan operasi dicuci dengan larutan sublimat dan Nacl 0,9%.
  9. Semua alat-alat yang dipakai saat operasi diganti dengan set baru, begitu juga dengan handschoen operator, asisten dan instrumen serta doek sterilnya.
  10. Evaluasi ulang sumber perdarahan
  11. Dipasang 2 buah drain, drain yang besar (redon no. 14) diletakkan dibawah vasa aksilaris, sedang drain yang lebih kecil (no.12) diarahkan ke medial.
  12. Luka operasi ditutup lapais demi lapis Komplikasi operasi Dini: - pendarahan, - lesi n. Thoracalis longus à wing scapula - Lesi n. Thoracalis dorsalis. Lambat: - infeksi - nekrosis flap - wound dehiscence - seroma -edema lengan - kekakuan sendi bahu à kontraktur Mortalitas hampir tidak ada
Perawatan pasca bedah
Pasca bedah penderita dirawat di ruangan dengan mengobservasi produksi drain, memeriksa Hb pasca bedah. Rehabilitasi dilakukan sesegera mungkin dengan melatih pergerakan sendi bahu. Drain dilepas bila produksi masing-masing drain <>

Follow up
  • Tahun 1 dan 2 à kontrol tiap 2 bulan
  • Tahun 3 s/d 5 à kontrol tiap 3 bulan
  • Setelah tahun 5 à kontrol tiap 6 bulan
Pemeriksaan fisik: tiap kali kontrol
  • Thorax foto: tiap 6 bulan
  • Lab. Marker: tiap 2-3 bulan
  • Mammografi kontralateral: tiap tahun atau ada indikasi
  • USG abdomen: tiap 6 bulan atau bila ada indikasi
  • Bone scanning: tiap 2 tahun atau bila ada indikasi

Baca juga penjelasan dokter tentang Pertanda ganas pada kanker

Seberapa besarkah harapan penderita kanker payudara?

Wallahualalam!
Menurut peneliti, harapan hidup penderita kanker payudara di Indonesia saat ini terbilang rendah, yakni hanya sekitar 24%. Tapi tentu saja ini bagi mereka yang sudah masuk ke dalam kategori yang dalam istilah medis disebut III-B.

Para ahli bedah kanker pada pertemuan di Hotel Holiday Inn, Bandung, beberapa waktu lalu mencanangkan tekad untuk mendongkraknya menjadi 50%. Target yang lumayan muluk dilandasi optimisme munculnya obat antibodi bernama: trastuzumab.

Dari beberapa studi, obat ini dianggap lebih efektif ketimbang operasi dan kemoterapi. Meski belum ada data resmi, namun disebutkan bahwa di negeri ini kanker payudara menempati urutan kedua setelah kanker leher rahim. Rata-rata menyerang 10 dari 100.000 wanita. Tapi dalam soal membunuh, kata Drajat Ryanto Suardi - ahli bedah kanker di RS Hasan Sadikin, Bandung - kanker payudara ini menjadi ''setan'' nomor satu bagi wanita.

Sedangkan di tingkat dunia, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 8%-9% wanita di seluruh dunia akan terserang penyakit mematikan ini setiap tahunnya. Persisnya, jumlah penderita kanker payudara akan bertambah sekitar 7 juta kasus. Survei terakhir menunjukkan, tiap tiga menit ditemukan satu kasus baru kanker payudara dan setiap 11 menit ditemukan seorang wanita meninggal akibat kanker payudara.

Total jenderal, menurut WHO setiap tahun ada 700.000 wanita di seluruh dunia yang meninggal karena penyakit ini. Di Amerika Serikat sekitar 175.000 kasus baru muncul setiap tahun. Sedangkan di daratan Eropa rata-rata muncul 25.000 pasien baru per-tahun. Belum jelas berapa laki-laki dan berapa wanita di antaranya. Ronald Hukom, ahli kanker payudara dari RS Kanker Dharmais, Slipi, Jakarta Barat, menyebutkan banyak laki-laki yang tak luput dari serangan kanker payudara. Menurutnya, satu dari seratus pasien adalah pria. Bahkan serangannya lebih ganas dan sulit disembuhkan. Sepanjang pengetahuannya, tidak ada pasien laki-laki yang mampu bertahan hidup!

Yang mengenaskan, banyak penderita kanker ini terlambat berobat ke dokter, ''Mereka datang ketika kankernya sudah parah, atau sudah mencapai stadium III dan IV,'' ujarnya pada jumpa pers Herceptin yang bergenerik trastuzumab di Hotel Holiday Inn, Dago, Bandung. Itu berarti sel-sel kankernya sudah ganas dan menyebar ke organ-organ tubuh lain. Bila sudah parah, biasanya dokter cuma memberi pengobatan kemoterapi. Harapan hidupnyapun makin pendek.

Sekedar contoh, Ronald memaparkan tentang pasien yang masuk ke RS. Dharmais pada 1993-1996 - sayang ia tak mengantongi data terkini - disebutkan sebanyak 26 pasien atau 19,1% pasien kanker payudara yang datang sudah berada pada stadium III-B di mana sel kankernya sudah menyebar ke organ-organ lain tubuhnya. Dalam kondisi tersebut, ia memperkirakan peluang hidup sampai lima tahun pasien hanya 20%. Mereka cuma bisa bertahan selama tiga tahun tiga bulan. Adapun 24 pasien lainya datang ketika masih dalam taraf stadium II sehingga memiliki peluang bertahan hidup sampai lima tahun sebanyak 82%.

Kondisi ini bertolak belakang dengan pasien-pasien di negara maju. Tingkat kesadarannya tinggi. Begitu mengetahui ada kelainan di payudaranya, mereka langsung memeriksakan diri. Sebanyak 80% kasus pasien kanker yang dibawa ke dokter masih dalam taraf stadium dini. Tidak mengherankan jika harapan hidup merekapun lebih tinggi. Banyak sebab mengapa para wanita Indonesia yang mengidap kanker payudara terlambat berobat. Pada stadium awal, biasanya kanker ini tidak tampak jelas di mata. Apalagi jika benjolannya masih sekitar 2 cm. Tidak akan terlihat jelas. Biasanya mereka baru berobat setelah benjolannya sudah membesar seukuran bola tennis. Itu artinya sudah memasuki stadium III. Penyebab lainnya adalah karena faktor ekonomi. Para pasien ngeri membayangkan biaya pengobatannya yang terbilang tidak sedikit.

Untuk tahap pertama saja pasien harus dijejali biaya operasi pengangkatan tumor yang bisa menghabiskan sampai belasan jutaan rupiah. Setelah itu mereka harus menjalani penyinaran di lokasi sekitar organ yang diangkat. Penyinaran ini biasanya lebih dari 15 kali yang juga tidak kalah deras menguras isi dompet. Bila beum OK, pasien masih harus menjalani kemoterapi. Harga obat kemoterapi ini saja sekali suntik bisa mencapai Rp 2 juta lebih, belum biaya pelayanan dan penanganan medis yang menyertainya. Sedangkan kemoterapi ini harus dilakukan sampai belasan kali. Alasan lain bisa juga karena takut, seperti yang menimpa sebut saja Ibu Ratih - bukan nama sebenarnya.

Ketika didiagnosis bahwa payudara kanannya kena kanker pada tahun 1983, warga Depok, Jawa Barat, ini cuma berani melakukan mastektomi (angkat payudara) saja. Tapi ia takut menjalani proses penyinaran dan kemoterapi. ''Ibu saya lebih suka melakukan tusuk jarum di sebuah klinik di Rawamangun,'' kata putrinya Ajeng - juga bukan nama asli.

Selama belasan tahun kankernya memang berjhasil ''ditidurkan'' oleh perawatan akupunktur yang rutin dijalaninya. Namun, setelah sang ahli akupunktur meninggal dunia dan tak bisa dilanjutkan oleh penggantinya, Ibu Ratih mulai panik. Ia mencoba berbagai macam pengobatan alternatif, termasuk reiki. Iapun rajin mengonsumsi kunir yang konon bisa membasmi sel-sel tumor dan tetap bertahan menolak pengobatan modern.

Kemudian datang peristiwa tak menguntungkan: rumahnya kemalingan. Puluhan gram emas simpanannya ikut ludes diboyong maling. Apesnya, hal itu terjadi justru tak lama setelah ia pensiun dari jabatannya sebagai kepala sekolah di salahsatu SMP di Jakarta Selatan. ''Sejak itu, benjolan mulai tumbuh di payudara kirinya,'' kata Ajeng. “Tubuhnya kini kurus dan nafsu makannya hilang. Jalan pun musti dipapah. Jiwanya mulai goyah dan sangat mudah tersinggung. Jika saya tak berkunjung setiap akhir pekan, ia akan marah besar!'' kata Ajeng sedih.

Ketakutan menjalani terapi modern memang beralasan. Penyinaran radiasi mempunyai efek samping merusak sel-sel normal di daerah yang disinari. Penderitapun akan merasakan mual hebat selama pengobatan. Begitu pula dengan kemoterapi. Akibat negatifnya bisa membuat lemas, pusing berkepanjangan, muntah-muntah, sariawan, rambut rontok dan masih banyak lagi.

Karena kemoterapi bekerja dengan lebih dulu menekan sistem kekebalan tubuh penderita, maka banyak pasien yang justru menjadi rentan terhadap berbagai penyakit lain. Oleh karenanya pengawasan ketat dari dokter menjadi sangat penting. Maka wajarlah apabila banyak pasien yang berusaha menghindari terapi menyakitkan ini.

Mereka mulai melirik terapi yang lebih aman dan berefek samping ringan, seperti terapi antibodi atau terapi gen. Pabrik farmasipun mulai ramai-ramai memburu obat baru, baik membeli hak paten penelitian yang sudah jadi ataupun mengembangkan riset sendiri. Perburuan itu makin kencang menyusul habisnya hak paten sejumlah obat.

Sebut saja Nolvadex, obat kanker payudara tamoxifen produksi Astra Zeneca Plc, London, Inggris, sudah berakhir sejak Februari tahun lalu. Begitu pula obat kanker payudara dan ovarium carboplatin buatan Bristol Myers-Squibb, Amerika Serikat. Juga akan habis masa hak patennya tahun ini.

Pabrik obat Indonesia tak ketinggalan ikut berburu. Dexa Medica, misalnya, malah sudah menjalin kerja sama dengan Reddy's Laboratories, Hyderabad India. Kerja sama tadi ditandatangani 1 Juli tahun lalu di Jakarta. Ferry Sutikno, Managing Director Dexa Medica Group, mengatakan bahwa pihaknya akan membuat tujuh macam obat kanker, di antaranya kanker payudara, kolon, paru-paru, dan prostat.

''Mudah-mudahan tahun ini sudah bisa diproduksi, tentunya setelah izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan, keluar!'' katanya kepada beberapa orang wartawan. Bila sudah berproduksi, Ferry memperkirakan ongkos pengobatan yang semula Rp 40 juta bisa ditekan sampai menjadi sekitar jadi Rp 5 juta. Bila benar demikian, tentu tidak hanya lebih murah, tetapi harus lebih manjur.

Sumber: Aries Kelana, Amalia K. Mala, Nurul Fitriyah (Surabaya) dan Gatra Online


Aplikasi Dendrimer utuk pengobatan kanker

Nanoteknologi yang namanya begitu bergaung, aplikasinya telah mendapat tempat dalam berbagai bidang. Dalam bidang kesehatan, khususnya dalam pengobatan, nanodevice (piranti nano) telah mulai menunjukkan harapan yang besar dalam penggunaannya. Berbagai pilihan teknologi nano kini tersedia seperti dendrimer, quantum-dot, cantilever, nano pore, nano tube, dan nano shell.

Pengobatan kanker secara kemoterapi yang bersifat tidak spesifik, tidak hanya mengakibatkan kematian pada sel kanker tetapi juga kerusakan pada sel-sel yang sehat.

Pengiriman senyawa toksik langsung ke target sel yang diinginkan yaitu sel kanker merupakan model pengobatan kanker yang ideal. Dengan tersedianya teknologi penghantaran obat yang baik (targetted drug delivery), maka obat secara cerdas dapat menemukan targetnya, yaitu sel kanker sehingga meningkatkan efek anti kankernya serta menurunkan efek toksiknya terhadap sel yang sehat. Teknologi dendrimer yang saat ini tengah dikembangkan oleh berbagai grup riset, diharapkan menjadi wahana pengangkut obat sampai ke sasarannya.

Dendrimer muncul sebagai biomaterial polimer yang relatif masih baru dengan aplikasi pada penghantaran obat dan pencitraan sel. Material dendrimer sendiri merupakan polimer berbentuk globuler (tidak linier) dan bercabang banyak dan bersifat biokompatibel.

Dendrimer, yang digunakan untuk mengangkut muatan obat atau senyawa diagnostik penanda kanker bahkan juga DNA, yang pernah diteliti adalah PAMAM (poliamidoamin), polipropilenimin, poliaril eter, dan lainnya. Muatan obat pada dendrimer bisa diatur dengan mengubah-ubah jumlah pembentuk dendrimer itu sendiri atau dengan kata lain mengatur banyaknya cabang pada dendrimer.

Duncan dkk, telah berhasil membuat suatu konjugat PAMAM dengan cisplatin, suatu obat antikanker yang kuat dengan toksisitas nonspesifik dan kelarutan rendah dalam air. Dengan terbentuknya konjugat maka sifat kelarutannya dalam air menjadi lebih baik dan menurunkan toksisitas sistemiknya serta akumulasinya selektif pada tumor solid.

Keberhasilan membuat konjugat asam folat multivalen pada dendrimer juga telah membawa implikasi penting pada pentargetan obat untuk sel tumor. Sebelumnya telah diketahui bahwa pada sel kanker diproduksi banyak sekali reseptor atau pengenal asam folat, suatu keadaan yang tidak seperti pada sel normal. Karakteristik seperti inilah yang menjadikan pintu masuk bagi sistem penghantaran obat bertarget.

Dendrimer akan membawa muatan berupa obat, pengenal, dan pengait (linker). Sebagai pengenal, asam folat yang diikatkan pada dendrimer, akan berjabat tangan dengan reseptor pada sel kanker. Hasil dari jabat tangan ini maka dendrimer beserta muatannya akan diijinkan masuk ke dalam sel yang sulit ditembus dengan cara biasa. Suasana cairan diluar dan didalam sel berbeda tingkat keasamannya, maka pengait akan mudah terlepas sehingga obat berada dalam posisi bebas dan siap melakukan tugasnya untuk menghantam seluruh isi sel.

Secara umum inilah skrenario untuk mengelabui sel kanker dalam penghantaran obat, sehingga kemungkinan sel sehat terkena obat dapat dihindari. Berbagai obat atau senyawa kimia yang berhasil dibuat konjugatnya dengan dendrimer antara lain, antitumor metotreksat dengan poliaril eter, metotreksat dengan PAMAM, 5-florourasil dengan PAMAM.

Penggunaan dendrimer pada sistem biologi berkembang pesat selama dekade terakhir ini. Hal ini memberi harapan dalam pengantaran obat yang spesisfik dan sistem diagnosa yang lebih baik.

Untuk dapat diterapkan pada pengobatan yang sesungguhnya pada manusia masih memerlukan jalan yang cukup panjang. Berbagai karakteristik konjugat dendrimer masih perlu diuji, tidak hanya agar masa kerjanya lebih lama dalam aliran darah tetapi juga kemudahan untuk dibuang dari tubuh dengan laju tertentu. Lebih dari jauh lagi, masih perlu diuji biokompatibilasnya, karena lokalisasi dendrimer di jaringan tertentu masih sulit diprediksi efek yang diakibatkannya.

[Artikel Iptek - Bidang Biologi, Pangan, dan Kesehatan]
Arry Yanuar, Staf Pengajar Departemen Farmasi FMIPA-UI,
Mahasiswa program Doktor di Nara Institute of Science and Technology (NAIST), Jepang,
Emai: yanuar@farmasi.ui.ac.id


Patologi, vital pada penanganan kanker

Perkembangan penyakit telah menuntut para ahli kedokteran bekerja sama untuk mengatasinya. Salah satu yang memiliki peran penting adalah ilmu patalogi, terutama dalam penanganan penyakit kanker.

Untuk mengatasi suatu penyakit, terapi yang tepat harus didukung diagnosis tepat pula. Dalam penyakit kanker misalnya, masalah pertama yang harus diperhatikan adalah membedakan keadaan kanker dengan bukan kanker. Kedua, menentukan jenis dan penyebaran kanker. Ketiga, memutuskan cara pengobatan yang paling tepat. Di sinilah dokter tidak bisa berjalan sendiri.

Pandangan seorang ahli patologi diperlukan untuk mendapatkan keterangan-keterangan yang diperlukan untuk menentukan tindakan pengobatan yang tepat. Yang khas dalam hal inilah bahwa ahli bedah mengarahkan keterampilannya untuk ”mengambil” jaringan kanker sebersih-bersihnya dari tubuh.

Sementara, ahli radiologi memfokuskan sinarnya setepat-tepatnya pada jaringan kanker dengan menjaga agar kerusakan pada jaringan sehat sedikit-sedikitnya. Begitu pula ahli kemoterapi mencari dan meneliti respons sebaik-baiknya terhadap obat-obatnya. Lalu di manakah peran ahli patologi terhadap kanker? Ahli patologi menentukan apakah benar penyakit yang diderita pasien kanker atau bukan.

Apabila benar, sudah sejauh mana penyebaran dan bagaimana kira-kira perangainya kemudian. Jika ahli patologi telah dapat menjawab ketiga pertanyaan tersebut kiranya dia telah melaksanakan tugasnya terhadap pasien. ”Pekerjaan seorang ahli patologi adalah pemeriksaan jaringan, sel, molekuler, dan komponen yang terkait dari pasien. Ahli patologi bekerja di belakang layar, tapi kini sudah ada pasien yang bertemu langsung dengan ahli patologi untuk mendiskusikan penyakitnya,” ujar Koordinator Pelayanan Masyarakat FKUI/RSCM dr Sutjahjo MS SpPA (K).

Tidak hanya pemeriksaan diagnosa, hasil kerja seorang ahli patologi juga menjadi tuntunan untuk ahli penyakit lainnya. Selain itu ahli patologi selalu mendiskusikan kasusnya dan bertukar informasi dengan dokter ahli lain, mulai dari ahli bedah hingga ahli kanker. ”Semua jaringan yang dikeluarkan dari tubuh pasien harus diperiksa oleh ahli patologi, hal ini untuk melindungi pasien. Di situlah pentingnya ahli patologi. Setelah jaringan dikeluarkan satu sampai dua jam sudah bisa didiagnosis karena prosesnya cepat dan sederhana,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Departemen Patologi Anatomik FKUI/RSCM dr Endang SR Hardjolukito MS SpPA (K) mengatakan, ahli patologi mendiagnosis penyakit secara lengkap/ komprehensif. Peran ekspertisi patologi anatomi bagi klinisi adalah merencanakan penatalaksanaan, mengarahkan pemilihan obat, dan meramal perjalanan penyakit. ”Patologi anatomi adalah sebagai bagian dari fakultas kedokteran. Dari patologi anatomi, maka para ahli penyakit lainnya dapat mengenal penyakit dan proses terjadinya penyakit,” ujar Endang.

Menurut dia, konsumen patologi anatomi adalah kedokteran nonbedah, yaitu mulai dari penyakit dalam, penyakit anak, radioterapi, penyakit kulit dan kelamin, kedokteran forensik. Salah satu penyakit dalam yang dapat terdeteksi dengan patologi secara jelas adalah kanker payudara. Dengan penelitian patologi, pasien bisa dinyatakan menderita kanker atau tidak. Atau kanker tersebut bisa dipastikan ganas atau tidak. Cara kerjanya yaitu dengan mendiagnosis patologi anatomik, yaitu diagnosa banding, diagnosa kerja, diagnosa penunjang, dan diagnosa pasti.

Salah satu contoh adalah biopsi payudara dengan biopsi jarum halus atau besar, cara ini murah dan cepat dengan hanya menusukkan jarum pada payudara tanpa operasi. ”Cara ini untuk penyembuhan kanker payudara yang belum terlalu parah,” ujar dr Sutjahjo. Biopsi insisi, yaitu pengambilan sel-sel kanker tersebut melalui operasi.

Pada umumnya dokter melakukan operasi pengambilan sebagian payudara pasien. Biopsi eksisi yaitu pengangkatan keseluruhan payudara yang bersangkutan. Sangat penting untuk mengetahui apakah terjadi penyebaran ke kelenjar getah bening. ”Seorang ahli patologi selalu mendiskusikan kasusnya dengan ahli lainnya mulai dari ahli bedah atau ahli kanker, atau dengan ahli patologi yang lain. Dengan patologi, seorang pasien bisa langsung terdeteksi penyakit dan perkembangannya,” ujar Endang.

[Seperti dilaporkan oleh lenny handayani - SINDO]

Info Farmasi/Obat Kanker