Header Ads

LightBlog

Kanker Payudara Dapat Dicegah


BERDASARKAN data, kanker payudara merupakan keganasan terbanyak kedua pada wanita setelah kanker mulut rahim. Di Indonesia, kekerapan (prevalensi) kanker payudara meningkat, jumlahnya mencapai 11,6% dari seluruh keganasan. Kekerapan ini cenderung meningkat disebabkan perubahan pola hidup di antaranya perubahan pola makanan dengan mengkonsumsi lemak tinggi dan peningkatan kesadaran masyarakat tentang kesehatan serta kemajuan teknologi kedokteran di bidang diagnosis dini.

SEBAGAIMANA diketahui, tubuh kita terdiri dari sel-sel yang selalu tumbuh. Kadang-kadang pertumbuhan tersebut tidak terkontrol dan membentuk suatu gumpalan. Kebanyakan gumpalan tersebut tidak berbahaya. Akan tetapi, bila gumpalan yang tidak normal terus bertumbuh dan menjadi ganas maka hal inilah yang disebut tumor ganas. Tumor yang ganas inilah yang disebut dengan kanker.

Tumor ganas memiliki sifat yang khas, yaitu dapat menyebar luas ke bagian lain di seluruh tubuh untuk berkembang menjadi tumor yang baru. Penyebaran ini disebut metastase. Kanker memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Ada yang tumbuh secara cepat, ada yang tumbuh tidak terlalu cepat, seperti kanker payudara. Khusus untuk kasus kanker payudara, sel kanker yang pertama dapat tumbuh menjadi tumor sebesar 1 cm pada waktu 8-12 tahun. Sel kanker tersebut diam pada kelenjar payudara.

Sel-sel kanker payudara ini dapat menyebar melalui aliran darah ke seluruh tubuh. Sel kanker payudara dapat bersembunyi di dalam tubuh kita selama bertahun-tahun tanpa kita ketahui dan tiba-tiba aktif menjadi tumor ganas atau kanker. Adapun tanda-tanda kanker payudara dini yakni benjolan tunggal, konsistensi keras dan padat, batas tegas, ukuran kurang 5 cm, bebas dari dasar dan permukaan kulit, serta tidak ada metastasis.

Sedangkan kelompok risiko tinggi terkena kanker payudara adalah:
  • Wanita di atas usia 30 tahun.
  • Pernah memiliki riwayat kanker payudara.
  • Wanita usia di atas 25 tahun yang keluarganya (ibu, saudara perempuan ibu, saudara perempuan satu ibu) pernah menderita kanker payudara.
  • Wanita yang tidak menikah atau yang menikah tetapi tidak pernah melahirkan anak.
  • Perempuan yang melahirkan anak pertama setelah berusia 35 tahun.
  • Wanita yang tidak menyusui.
  • Pernah mengalami trauma berkali-kali pada payudara.
  • Menarche (haid pertama kali) pada usia yang sangat muda.
  • Mengalami radiasi sebelumnya pada payudara (pengobatan keloid).
  • Wanita yang obesitas.
  • Pernah dioperasi payudara atau alat reproduksinya.
  • Pernah mendapat obat hormonal yang lama karena mandul.
  • Mengalami berbagai macam guncangan jiwa yang hebat dalam kehidupannya.

Pencegahan dan pengobatan
Prof. Marc Van Eijkeren, pakar onkologi dari University Hospital Belgia yang baru-baru ini datang ke Bandung mengatakan, satu dari sem¬bilan wanita di dunia adalah pengidap kanker. Oleh karena itu, penting bagi setiap wanita melakukan deteksi secara dini terhadap kanker payudara.

Caranya sangat simpel, yaitu dengan melakukan pemeriksaan payudara sendiri ("sadari") sejak usia 20 tahun. "Sadari" sangat dianjurkan dilakukan tiap bulan, yaitu saat minggu menstruasi bagi wanita yang berusia 20 tahun ke atas.

Untuk wanita berusia 20 sampai 39 tahun, dianjurkan pula memeriksakan ke dokter tiap 3 tahun. Sedang¬kan untuk wanita berusia 40 tahun ke atas, pemeriksaan ke dokter dilakukan tiap tahun. Selain itu, perlu juga dilakukan mamografi 1-2 kali pada usia 40-49 tahun, momografi setiap tahun setelah berusia 50 tahun.

Sementara itu, ada dua cara yang digunakan oleh dokter untuk memeriksa keberadaan kanker pada payudara. Pertama adalah metode ultrasonik. Dengan metode ini dapat diketahui apakah sebuah gumpalan berupa benda pejal atau cairan.

Metode kedua yang paling akurat adalah mamografi. Mamografi atau mammography menggunakan sinar X yang diradiasikan pada payudara. Hasil radiasi sinar X adalah film yang dapat menunjukkan daerah-daerah yang dicurigai sebagai tumor. Umumnya, tumor memiliki densitas atau rapat massa yang lebih besar dari jaringan otot normal sehingga intensitas sinar X setelah menembus tumor lebih kecil dari intensitas sinar X setelah menembus jaringan otot normal. Perbedaan ini yang menghasilkan film yang dapat menunjukkan adanya tumor.

Sedangkan metode deteksi lainnya adalah breast thermography yang dilakukan dengan menggunakan kamera infra merah dengan sensitivitas suhu yang kecil (sekira 0,01 derajat celcius) dengan jangkauan pengukuran suhu yang sempit (sekira 0-70 derajat celcius).

Adapun perbedaan utama thermography dengan mammography terletak pada proses mendapatkan data. Pada thermography, kamera infra merah hanya menerima infra merah yang diradiasikan oleh payudara untuk mengukur suhunya. Jadi, sifat thermography adalah noninvasive sehingga tidak ada bahaya radiasi sama sekali.

Cara lainnya adalah dengan operasi kecil untuk mengambil contoh jaringan (biopsi) dari benjolan itu, kemudian diperiksa di bawah mikroskop laboratorium patologi anatomi. Bila diketahui dan dipastikan bahwa benjolan itu adalah kanker, payudara harus diangkat seluruhnya untuk menghindari penyebaran ke bagian tubuh yang lain.

Metode yang sering dipakai dalam menangani kanker adalah mastektomi yang kerap kali memberikan efek kosmetik merugikan bagi para pengidapnya. Pasalnya, pengobatan cara ini sangat radikal karena dengan mastektomi ini, jaringan payudara harus diangkat.

Meski mastektomi dianggap sebagai terapi yang terbaik untuk kanker payudara, kehilangan payudara memberi dampak yang kurang baik terhadap kosmetik, psikologik, dan seksual penderita. Untungnya, saat ini para peneliti telah mengembangkan cara pengobatan yang dikenal sebagai breast conserving treatment (BCT).

Dengan menjalani terapi BCT, perempuan pengidap kanker tidak akan khawatir kehilangan payudaranya. BCT adalah suatu pengobatan keganasan payudara stadium dini (stadium I dan II) yang terdiri dari bedah konversi berupa lumpektomi, segment atau kwadranektomi diikuti radiasi dengan atau tanpa kemotrapi agar mengeradikasi tumor dengan mempertahankan efek kosmetik payudara.

Sejumlah penelitian secara random dan nonrandom menunjukkan bahwa pengobatan BCT memiliki angka kontrol lokal dan angka ketahanan hidup yang sebanding dengan mastektomi yang selama ini kerap dijadikan pilihan utama untuk mengeradikasi kanker namun menyisakan efek kosmetik dan psikologis yang merugikan penderita.

Perkembangan kanker
Pada stadium I, besarnya tumor tidak lebih dari 2 - 2,25 cm dan tidak terdapat penyebaran (metastase) pada kelenjar getah bening ketiak. Pada stadium ini, kemungkinan penyembuhan secara sempurna adalah 70%. Untuk memeriksa ada atau tidak metastase ke bagian tubuh yang lain, harus diperiksa di laboratorium.

Pada stadium II, tumor sudah lebih besar dari 2,25 cm dan sudah terjadi metastase pada kelenjar getah bening di ketiak. Pada stadium ini, kemungkinan untuk sembuh hanya 30-40% tergantung dari luasnya penyebaran sel kanker.

Pada stadium III, tumor sudah cukup besar, sel kanker telah menyebar ke seluruh tubuh, dan kemungkinan untuk sembuh tinggal sedikit. Pengobatan payudara sudah tidak ada artinya lagi. Biasanya pengobatan hanya berupa penyinaran dan chemotherapie/kemoterapi (pemberian obat yang dapat membunuh sel kanker). Kadang-kadang juga dilakukan operasi untuk mengangkat bagian payudara yang sudah parah. Usaha ini hanya untuk menghambat proses perkembangan sel kanker dalam tubuh serta meringankan penderita semaksimal mungkin.

Namun demikian, untuk pengobatan yang optimal, terapi kanker harus melibatkan tiga hal penting, yaitu operasi, radiasi, dan kemoterapi. Cara pengobatan ini diberikan sesuai dengan stadium penyakitnya.

Lebih baik mencegah
Karena pengobatan kanker payudara sangat rumit dan butuh biaya besar, sudah sebaiknya kita lebih mengutamakan upaya preventif daripada kuratif. Sekarang, para peneliti sudah banyak mengetahui cara untuk mencegahnya, paling tidak mengurangi resiko terkena kanker payudara.

Upaya yang dapat dilakukan adalah melakukan "sadari" dan pemeriksaan berkala kepada dokter yang ahli. Selain itu, kita juga penting untuk selalu hidup sehat, antara lain dengan berolah raga secara teratur. Penelitian menunjukkan, sejalan dengan meningkatnya aktivitas, risiko kanker payudara akan berkurang.

Berolah raga akan menurunkan kadar estrogen yang diproduksi tubuh sehingga mengurangi risiko kanker payudara. Selanjutnya hindari makanan berlemak tinggi, banyak makan buah-buahan dan sayuran atau makanan berserat lainnya, makan lebih banyak tahu dan makanan yang mengandung kedelai, hindari alkohol, serta perhatikan berat badan karena kenaikan berat badan setiap pon setelah usia 18 tahun akan menambah risiko kanker payudara. Hal ini sejalan sejalan dengan bertambahnya lemak tubuh, kadar estrogen sebagai hormon pemicu kanker payudara dalam darah pun akan meningkat.

Di samping itu, hindari xeno-estrogens (estrogen yang berasal dari luar tubuh). Umumnya, estrogen dari luar tubuh dikonsumsi lewat residu hormon estrogenik yang terdapat dalam daging dan residu pesitisida estrogenik. Diduga, xeno-estrogen bisa meningkatkan kadar estrogen darah sehingga menambah risiko kanker payudara, jangan merokok, menyusui/memberikan ASI, dan terakhir hindari stres. Literatur medis menyebutkan bahwa stres dapat menigkatkan risiko kanker payudara.

Dengan demikian, kaum hawa harus terdorong untuk mengetahui bahwa kanker payudara tidak perlu menjadi kanker yang mematikan jika wanita memelihara kesehatan payudara dan melakukan pendeteksian sejak dini.


Sumber: Pikiran Rakyat

2 comments:

  1. This article so informative about breast cancer
    and this blog so cool

    ReplyDelete
  2. bermanfaat sekali artikelnya mencegah lebih baik dari mengobati cara klaim asuransi prudential

    ReplyDelete