Up-Date/Artikel Terbaru

Showing posts with label Kemoterapi. Show all posts
Showing posts with label Kemoterapi. Show all posts

Kemoterapi, manfaat dan resikonya

Para wanita yang menjalani kemoterapi untuk mengobati kanker payudara mengeluhkan berbagai efek samping yang mereka alami, mulai dari rasa pusing hingga kerontokan rambut.

Penelitian terkini yang diterbitkan oleh Journal of the National Cancer Institute telah mengidentifikasi delapan efek samping serius yang berhubungan dengan kemoterapi.

Demam dan infeksi merupakan penyebab utama seseorang mengunjungi rumah sakit. Efek samping serius yang lain adalah rendahnya jumlah sel darah putih dan keping-keping darah (platelet) serta gangguan elektrolit yang mengakibatkan dehidrasi.

"Para wanita harus waspada akan efek samping negatif yang ditimbulkan oleh kemoterapi, namun di sisi lain juga jangan sampai mereka memutuskan untuk tidak melakukan kemoterapi hanya semata berlandaskan kesimpulan penelitian kami ini", kata Dr. Michael Hassett, ketua tim peneliti yang juga seorang pembina medis di Harvard Medical School.

Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Hassett ini memang bukanlah suatu randomized controlled trial, yaitu suatu jenis investigasi teliti yang diperlukan untuk mengubah pedoman praktek klinik. Akan tetapi beberapa penelitian sejenis yang sedang dilakukan, ditujukan untuk mencari berbagai efek samping yang berhubungan dengan kemoterapi. Sementara itu, upaya perbaikan berkesinambungan telah dilakukan pada penanganan pasien kemoterapi.

"Para dokter telah berusaha keras untuk mencegah beberapa efek samping umum yang ditimbulkan oleh kemoterapi, yaitu rasa mual", kata Dr. Jennifer J. Grigg, seorang guru besar pada jurusan ilmu penyakit dalam yang juga merangkap sebagai ketua Breast Cancer Survivorship Program pada University of Michigan Health System di Ann Arbor.

"Lagi pula dokter juga secara rutin memberikan colony stimulating factors", tambah Dr. Grigg. "Suntikan ini meningkatkan pasokan sel darah putih yang berguna untuk memerangi infeksi, dan metode ini nampaknya dapat menurunkan risiko demam dan infeksi yang lain".

Kemoterapi adalah suatu pengobatan sistemik, yang berarti bahwa kemoterapi bekerja di seluruh bagian tubuh untuk membunuh sel-sel kanker. Kemoterapi dapat dilakukan sebelum dilakukan pembedahan atau radiasi untuk mengecilkan ukuran tumor, dan dapat pula dilakukan setelahnya guna membunuh sisa sel kanker.

Disamping manfaatnya yang sangat efektif melawan cepatnya pertumbuhan sel kanker, kemoterapi juga berpengaruh terhadap sel normal, hal inilah yang menyebabkan terjadinya efek samping. Selain rasa mual dan kerontokan rambut, efek samping lainnya yang umum ditemui adalah rasa penat (lelah), muntah, menurunnya jumlah sel-sel darah, sakit pada mulut dan nyeri. Hal ini dikatakan oleh US National Cancer Institute.

Dr. Hassett dan rekan-rekannya mengadakan penelitian untuk mengetahui jumlah, penyebab, dan biaya yang disebabkan oleh efek samping serius kemoterapi. Mereka mengevaluasi data lebih dari 12.000 wanita berusia 63 tahun ke bawah yang baru didiagnosis menderita kanker payudara. Sejumlah 4.075 orang diantaranya mendapatkan kemoterapi.

Mereka menemukan bahwa pasien kemoterapi berpeluang sebesar 61% untuk menderita sakit yang mengharuskan mereka dirawat inap atau jalan, sedangkan yang tidak mendapat kemoterapi hanya berpeluang sebesar 42%. Pasien kemoterapi juga menambah biaya rata-rata sebesar $1.271 per tahun untuk mengobati efek samping kemoterapi.

Dr. Hassett menyarankan agar mempertimbangkan antara manfaat dan efek samping dari kemoterapi sebelum memutuskan untuk menjalaninya. Diskusi dengan spesialis kanker juga perlu dilakukan.

Bagaimana Sel Kanker 'Melawan' Kemoterapi Cisplatin


Para peneliti telah menunjukkan bahwa peningkatan ekspresi gen yang disebut SIRT1 dalam sel kanker memainkan peran penting dalam pengembangan perlawanan terhadap obat kemoterapi cisplatin. Gen SIRT1, yang mengatur proses seluler penting beberapa termasuk penggunaan nutrisi dan metabolisme, tampaknya memberikan kontribusi pada perkembangan resistensi cisplatin dengan mengurangi uptake dan penggunaan glukosa oleh sel dan dengan mengubah fungsi mitokondria mereka, yaitu seluler struktur yang menghasilkan sebagian besar energi dalam sel. Temuan ini, oleh para peneliti di National Cancer Institute (NCI), bagian dari Institut Kesehatan Nasional (NIH) , dan rekan, diterbitkan dalam 15, 2008, edisi September Molekuler Cancer Research.

Cisplatin, obat kemoterapi yang mengandung unsur logam platinum, banyak digunakan dalam pengobatan berbagai jenis kanker, termasuk kandung kemih, paru-paru, ovarium, dan kanker testis. Ini memperlambat atau menghentikan pertumbuhan sel kanker dengan mengikat DNA. Tumor yang muncul kembali setelah respon positif pada awalnya untuk pengobatan dengan cisplatin sering tahan untuk itu, artinya obat ini tidak efektif lagi. Mengetahui lebih lanjut tentang bagaimana sel menjadi resisten terhadap cisplatin akan memungkinkan para peneliti untuk merancang strategi untuk menghindari resistensi dan meningkatkan efektivitas obat ini antikanker penting.

Untuk mengetahui mekanisme yang berkontribusi terhadap cisplatin hambatan dalam sel-sel kanker, para peneliti yang dihasilkan sel-sel yang resisten terhadap obat dengan mengekspos mereka untuk cisplatin di laboratorium. Mereka menemukan bahwa ekspresi gen SIRT1 meningkat 3-5 kali lipat sebagai tingkat cisplatin meningkat, menghasilkan peningkatan tingkat perlawanan dalam sel. Di sisi lain, para peneliti menemukan bahwa tahan-sel kanker cisplatin menjadi lebih sensitif terhadap obat ketika tingkat SIRT1 ekspresi berkurang. Dengan penurunan tingkat SIRT1 ekspresi 04:57 lipat, sel-sel kanker menjadi sekitar dua kali lipat lebih sensitif terhadap cisplatin. "Tampaknya yang SIRT1 menyumbang 50 persen dari resistensi seluler untuk cisplatin, tetapi tidak memperhitungkan semua perlawanan , "kata Michael Gottesman, MD, dari NCI Center for Cancer Research, dan seorang penulis dari studi tersebut.

Banyak faktor yang berkontribusi terhadap cisplatin resistensi dan mungkin termasuk mekanisme yang membatasi pengambilan seluler dari obat, mekanisme diubah yang memungkinkan sel untuk memperbaiki kerusakan pada DNA mereka, dan mekanisme yang sel-sel membantu bertahan. "Penelitian ini adalah bagian dari upaya yang lebih besar oleh para ilmuwan untuk menentukan perubahan seluler penting yang menyebabkan sel kanker menjadi resisten terhadap obat kemoterapi," kata Gottesman. "Berbagai jenis mutasi genetik dapat terjadi selama perkembangan resistensi seluler terhadap obat antikanker,. Oleh karena itu langkah pertama adalah untuk menjelaskan gen yang berkontribusi terhadap perlawanan pada tumor ini."

Penelitian sebelumnya oleh tim dan lain-lain telah menunjukkan bahwa sel-tahan cisplatin tumbuh lebih lambat dan menunjukkan berkurangnya penyerapan zat tertentu, termasuk nutrisi seperti glukosa, dari sel-sel yang sensitif terhadap obat itu. Ini juga diketahui bahwa, sebagai strategi bertahan hidup , tumor mengubah metabolisme mereka ketika nutrisi yang langka. Dalam studi ini, para peneliti menemukan bahwa sel-sel kanker meningkatkan ekspresi mereka SIRT1 dan menjadi lebih tahan terhadap cisplatin perawatan sebagai tingkat glukosa di lingkungan mereka berkurang. Mereka juga menemukan bahwa penyerapan glukosa dalam sel tahan 4-5 kali lipat kurang dari dalam sel yang sensitif terhadap cisplatin. Konsumsi oksigen, indikator penggunaan glukosa dan produksi energi, turun sebesar 30 persen menjadi 60 persen dibandingkan dengan-sensitif sel cisplatin.

Karena menggunakan glukosa mitokondria dan oksigen untuk menghasilkan energi, tim menyelidiki fungsi mitokondria dalam sel tahan cisplatin. Mereka menemukan bahwa, sebagai perlawanan selular untuk cisplatin meningkat, potensi mitokondria untuk menghasilkan energi menurun, menunjukkan bahwa peran metabolisme mitokondria dalam sel tahan berbeda dari yang di dalam sel yang sensitif terhadap obat. Para peneliti juga menemukan bahwa mitokondria sel resisten yang lebih kecil dan struktur internal yang tidak teratur dibandingkan dengan mitokondria sel yang sensitif terhadap obat.

Gottesman dan rekan sedang mengembangkan alat molekuler untuk menentukan gen resistensi obat yang disajikan dalam kanker individu, dan, di masa depan, harapan untuk menggunakan informasi ini untuk memprediksi respons pasien terhadap terapi dan untuk merancang cara-cara baru untuk menghindari resistensi.

Selain NCI, peneliti dari Jantung, Paru, dan Darah Institut Nasional, bagian dari NIH, US Food and Drug Administration, dan Pusat Nasional nanosains dan Teknologi, Beijing, Republik Rakyat Cina, berpartisipasi dalam studi.


Dari NanoTechnology

Kemoterapi, Dari Perspektif Medis

Risalah Simposium KONAS VI Perhimpinan Onkologi Indonesia (POI), Malang, 30 September - 2 Oktober 2010
Bertempat di Hotel Kusuma Agrowisata, Batu, Malang, Kongres Nasional VI Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI) diadakan. Acara ilmiah berupa workshop pada tanggal 29 September 2010 kemudian dilanjutkan dengan acara simposium selama 2 hari berikutnya. Tema yang diangkat yaitu “fight against cancer, hand in hand we can make it” memang tercermin dari berbagai sesi ilmiah yang diadakan dan melibatkan berbagai disiplin ilmu kedokteran yang terkait dengan penanganan pasien kanker, seperti hematologis-onkologis, radioterapis, bedah onkologi, ginekologi-onkologis, paru onkologis, hingga gizi klinis.

Acara simposium dibuka dengan upacara pembukaan dan dilanjutkan dengan sesi ilmiah pertama dengan topik “Past, present, and future in the treatment of cancer” yang disampaikan secara inspiratif oleh Prof. DR. dr. Soehartati G, SpRad(K). Onk. Rad, sebelum sesi ilmiah berikutnya yang dibagi di 3 tempat secara bersamaan. Disampaikan bagaimana pesatnya perkembangan tatalaksana pasien kanker, mulai dari modalitas skrining, diagnosis, dan berbagai modalitas terapi. Konsep ke depannya dalam penatalaksanaan penyakit kanker adalah terapi personal yang didukung dengan semakin kompleksnya penilaian risiko/skrining dan diagnosis yang bertujuan dengan penentuan terapi individual sejalan dengan pengetahuan yang semakin maju mengenai penyakit kanker.

Beberapa topik penting dalam acara satelite simposium di antaranya:

Individualized Treatment on NSCLC – Prof. Sumitra Thongprasert (Thailand)
Empat regimen kemoterapi kombinasi berbasis platinum untuk pasien NSCLC stadium lanjut menghasilkan harapan hidup sebanding. Regimen yang diuji dalam ECOG 1594 Trial ini yaitu : cisplatin/paclitaxel; cisplatin/gemcitabine; cisplatin/docetaxel; dan carboplatin/paclitaxel.

Diagnosis NSCLC saja tidak cukup untuk menentukan pilihan terapi. Perlu diketahui lebih lanjut mengenai jenis histologi untuk menentukan respon terapi. Misalnya, histologi non-skuamosa prediktif efektifitas pemetrexed, status EGFR untuk pertimbangan pemberian tyrosine kinase inhibitor.

Kemoterapi lini kedua bermanfaat meningkatkan harapan hidup dan kualitas hidup pasien. Uji klinis perbandingan pemetrexed dengan docetaxel menghasilkan response rate dan harapan hidup sebanding namun berbeda dalam hal toksisitas. Terdapat perbedaan hasil terapi antar jenis histologi, di mana untuk histologi adenokarsinoma/large cell pemtrexed menghasilkan harapan hidup lebih baik (9,2 vs 8,2 bulan; hazard ratio 0,78; 95% CI 0,60 – 1,02) namun untuk jenis sel skuamosa, docetaxel menghasilkan harapan hidup lebih baik (7,4 vs 6,2 bulan; hazard ratio 1,56; 95% CI, 1,08 – 2,26).

Targeted therapy, seperti bevacizumab, gefitinib, dan erlotinib juga turut meningkatkan hasil terapi pasien NSCLC namun dengan kriteria seleksi pasien tertentu agar menghasilkan rasio risiko – manfaat optimal.

NSCLC Guideline and Management Implications in Indonesia – Dr.Elisna Syahruddin,PhD, Sp.P(K)
Paduan tatalaksana kanker paru jenis bukan sel kecil versi ke-3 menurut rencana akan dipublikasikan pada Oktober 2010. Paduan tersebut meliputi skrining, pencegahan, diagnosis, pengobatan, dan evaluasi. Sistem TNM yang digunakan saat ini menggunakan versi 7, 2009, di mana perubahan pada staging T3, T4, dan M1a.

Karena hingga kini tidak ada metoda untuk menemukan lesi pra-kanker untuk kanker paru, maka jenis kanker ini tidak ada pemeriksaan skrining. Hal yang dapat dilakukan adalah deteksi dini, di mana terbaik menggunakan CT-Scan. Pemeriksaan petanda tumor (tumor marker) tidak direkomendasikan untuk skrining/deteksi dini, melainkan untuk pemantauan terapi.

Pemeriksaan biomarker dilakukan untuk menentukan terapi dan tidak dianjurkan untuk diperiksa pada awal penilaian.

Nimotuzumab: Novel Targeted Therapy for Glioma and Brain Metastasis – Dr. Nyoto Astoro, SpPD-KHOM
Glioblastoma multiforme hingga kini masih menyebabkan morbiditas yang tinggi dan prognosis yang kurang baik. Aktivasi Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR) terpantau pada lebih dari 40% dan overekspresi terjadi pada lebih dari 60% pasien glioblastoma. Aktivasi EGFR ini turut memperburuk prognosis karena meningkatkan metastasis, angiogenesis, proliferasi dan anti-apoptosis. Oleh sebab itu hambatan EGFR berpotensi meningkatkan prognosis.

Nimotuzumab merupakan suatu antibodi monoklonal humanized yang bekerja sebagai anti-EGFR. Keunggulannya dibandingkan anti-EGFR lain adalah afinitasnya yang lebih rendah sehingga lebih selektif menghambat overekspresi EGFR di jaringan tumor tanpa banyak mempengaruhi jaringan sehat.

Suatu uji klinis fase III nimotuzumab plus radioterapi dibandingkan plasebo + radioterapi (n=80) pada pasien glioma derajat tinggi menunjukkan superioritas dalam hal disease control rate untuk nimotuzumab + radioterapi (66,6% vs 50%) dan angka harapan hidup 1,2, dan 3 tahun. Tidak ditemukan adanya efek samping derajat 3-4.

Adjuvant in Colorectal Cancer – Dr.Kartika Widayati, Sp.PD-KHOM
Penelitian yang melibatkan 20.898 pasien mengungkapkan manfaat pemberian kemoterapi adjuvan pada stadium II dan III kanker kolorektal dengan regimen berbasis 5-FU. Indikasi kemoterapi adjuvan yaitu untuk pasien dengan stadium III atau II berisiko tinggi. Pada stadium III, pembedahan saja (tanpa diikuti terapi ajuvan) menghasilkan harapan hidup yang rendah. Penambahan kemoterapi adjuvan akan meningkatkan harapan hidup dan paling efektif pada pasien dengan stadium III.

Penelitian MOSAIC mengungkapkan manfaat tambahan oxaliplatin terhadap 5-FU/leucovorin (regimen FOLFOX) sebagai kemoterapi adjuvan terutama pada stadium III. Saat ini, NCCN guideline merekomendasikan regimen capecitabine atau 5-FU/LV ± oxaliplatin selama 6 bulan.
Pemberian capecitabine tunggal sebagai kemoterapi ajuvan sebanding dengan regimen 5-FU/LV pada pasien stadium III. Hal yang masih belum terjawab dengan pasti adalah apakah ada perbedaan hasil terapi antara kombinasi capecitabine-oxaliplatin dengan regimen FOLFOX. Namun analisa secara tidak langsung yang disampaikan mengindikasikan kesetaraan dalam hal disease-free survival 3,4 , dan 5 tahun namun dengan profil toksisitas yang berbeda.

Sedangkan obat/regimen yang tidak/belum direkomendasikan sebagai kemoterapi ajuvan yaitu 5-FU-irinotecan, FOLFIRI (hasil terapi sebanding dengan 5-FU/LV), bevacizumab, cetuximab, panitumumab, dan irinotecan.

Innovative Opportunities with New TKI’s – Prof.DR.Dr. Arry Harryanto R, Sp.PD-KOHM
Sejak tahun 1983 – 2008 terdapat perkembangan yang cukup pesat terapi leukemia mielositik kronik. Diawali dengan ditemukannya busulfan yang menghasilkan angka harapan hidup 5 tahun sebesar 38%. Kemudian ditemukan hydroxyurea, terapi interferon dan transplantasi sel punca, kemudian era imatinib yang dapat menghasilkan angka ketahanan hidup 5 tahun sebesar 93%.

Namun terapi imatinib pun dapat terjadi resistensi dengan mekanisme primer tidak memadainya hambatan terhadap BCR-ABL. Nilotinib merupakan Tyrosine Kinase Inhibitor (TKI) terbaru yang dirancang berikatan lebih efektif terhadap domain ABL kinase dan dapat mengatasi mutasi – mutasi yang menyebabkan resistensi imatinib. Uji klinis nilotinib pasca kegagalan terapi imatinib berhasil mempertahankan harapan hidup.

Perkembangan berikutnya meliputi penghambat BCR-ABL baru yang lebih poten, target mediator BCR-ABL, obat yang dapat meningkatkan kadar TKI intraselular, kombinasi terapi vs monoterapi 2 TKIs, terapi dengan target sel punca leukemia Ph+ CML.

Use of ESAs in Oncology Setting – Dr.Budi D Machoos Sp.PD-KHOM
Anemia merupakan komorboditas yang sering terjadi pada pasien kanker dan secara bermakna berpengaruh negatif terhadap kualitas hidup. Insiden anemia tersering ditemukan pada pasien dengan jenis kanker paru, payudara, ovarium, kepala dan leher, serta kolon.

Keuntungan pemberian Erythropoiesis Stimulating Agents (ESAs) yaitu: Dapat digunakan untuk terapi anemia ringan-sedang, menghasilkan peningkatan Hb bermakna dan bertahap (smooth), meningkatkan kualitas hidup dengan mempertahankan kadar Hb tinggi, ditoleransi dengan baik, lebih nyaman dibandingkan pemberian transfusi, dan menginduksi sel darah merah yang berfungsi dengan normal.

Sebelum terapi ESAs dimulai, maka harus diperiksa kadar feritin (>100 µg/L), saturasi transferin (>20%), tidak ada hipertensi berat, kadar hb awal sebaiknya = 8g/dL.

Jika terjadi kegagalan terapi ESAs, maka beberapa etiologi berikut ini harus dipertimbangkan: defisiensi fe (seluruh pasien umumnya akan membutuhkan suplementasi fe), infeksi/proses inflamasi, perdarahan samar, penyakit hematologi, defisiensi asam folat/B12, hemolisis, dan intoksikasi alumunium.

[Sumber: Kalbe Farmasi]

Setelah Mastektomi, Herceptin, Tamoxifen, Xeloda dan Tykerb

Fransisca berasal dari Jakarta, berumur tiga puluh dua tahun waktu ia menemukan ada benjolan sebesar 1,6 cm pada payudara kirinya yang akhirnya didiagnosa sebagai kanker. 

Ini memang kisah yang tragis namun telah terjadi berulang-ulang – kanker payudara berkembang menjadi stadium IV dan tidak dapat disembuhkan. Apakah yang salah? Pada kenyataannya tidak ada yang salah. Fransiska mengikuti apa yang dokternya ingin dia lakukan.

Fransiska Meninggal Setelah Operasi, Radioterapi, Kemoterapi, Herceptin, Tamoxifen, Xeloda dan Tykerb

(Hidup di bumi adalah suatu pengalaman. Biarlah kematian Fransiska menjadi pelajaran berharga bagi mereka yang sepertinya)

Fransiska, berasal dari Jakarta, berumur tiga puluh dua tahun waktu ia menemukan ada benjolan sebesar 1,6 cm pada payudara kirinya yang akhirnya didiagnosa sebagai kanker. Pada waktu yang bersamaan ayahnya meninggal karena kanker. Pada November 2004, ia melakukan operasi pengangkatan benjolan di salah satu Rumah Sakit di Singapura. Sayangnya beberapa kelenjar getah bening di ketiaknya juga terinfeksi. Setelah operasi, Fransiska mendapat tiga puluh lima kali terapi radiasi. Ia merasa lebih baik setelah itu.

Pada Januari 2007, yaitu, dua tahun setelah terapi radiasi, Fransiska diberitahu bahwa kankernya telah menyebar ke paru-parunya. Ia melakukan kemoterapi dan mendapat enam siklus Taxol dan injeksi Herceptin. Satu kali injeksi Herceptin seharga 2,500 S$ dan Fransiska telah delapan kali diinjeksi. Dokter ahli kankernya ia harus melanjutkan Herceptin, tetapi Fransiska memutuskan untuk berhenti setelah delapan kali injeksi karena ia tidak mampu lagi membiayai pengobatannya lagi.

Pada July 2007, Fransiska mendapat terapi Tamoxifen. Sebulan kemudian, hasil Scan pada tulangnya menunjukkan kanker telah menyebar ke tulang punggungnya pada T12.

Pada Januari 2008, hasil Scan otaknya menunjukkan terdapat massa 8 x 7 mm pada otaknya. Dan juga terlihat massa sebesar 1,4 x 9,0 cm pada hatinya. Fransiska diminta oleh dokternya untuk menghntikan terapi dengan Tamoxifen. Ia diberi resep obat minum untuk kanker – Xeloda dan Tykerb (lapatinib). Biaya tiga minggu pengobatan dengan Tykerb seharga S$2.500.

Fransiska memberitahu kami bahwa ia sadar dengan “efek samping yang buruk” dari terapi medisnya, tetapi ia tidak ada pilihan lain. Ia tidak tahu apalagi yang harus dilakukan kecuali menuruti saran dokter.

Pada November 2004, Fransiska mulai membuat jadwal meminum jus dengan Apel, Beet Root (akar-akaran buah bit), dan wortel (carrot) (ABC). Ia juga menggunakan biji aprikot (sumber vitamin B17), cengkeh, cairan obat dari racikan walnut hitam (black walnut) dan akar-akaran. Sebagai tambahan ia juga memakai IP6, spirulina, Perfect Food, dan Vitamin C dosis tinggi. Ia menghentikan mengkonsumsi semuanya pada tahun 2007 ketika kanker menyebar ke paru-parunya.

Pada Februari 2005, ia melakukan detoksifikasi (penetralisiran racun) dan program peremajaan dengan program jus ABC dan kopi enema. Ia meneruskan semua ini sampai ia melihat darah pada urinnya. Ia menghentikan program ini.Fransiska juga mengkonsumsi nanas dan pepaya.

Fransiska sadar akan keharusan mengkonsumsi makanan sehat. Ia mengkonsumsi jus buah dan sayuran, ia juga menghindari gla putih, minyak, telur, semua daging dan makanan siap saji. Ia mengkonsumsi sirip hiu namun lama-kelamaan ia hentikan karena itu tidak efektif.

Ia menderita sakit kepala, mual, dan tekanan darahnya sangat rendah. Fransiska datang kembali ke dokter ahli kankernya pada Agustus 2008. Hasil scan menunjukkan kanker telah menyebar ke otaknya. Hasil CT-Scan bagian abdomen (perut) menunjukkan:
  • Metastasis pada kedua lobus hepar. Lesi terbesar pada lobus kiri berukuran 2,0 x 1,8 cm dan yang terbesar pada lobus kanan berukuran 1,5 x 1,4 cm.
  • Sklerosis stabil pada korpus vertebra T12.




Para ahli kanker menyimpulkan kanker ini telah berkembang dan menyarankan dua pilihan:
  • Fransiska menjalani kemoterapi lagi ditambah dengan Lapatinib, atau,
  • Ia meneruskan menggunakan Lapatinib; menerima injeksi secara reguler untuk menguatkan tulangnya dan terapi untuk meredakan gejala-gejala menopausenya. Sebelumnya Fransiska diterapi dengan Zoladex untuk menghentikan menstruasinya.
  • Fransiska sering menulis kepada kami memohon bantuan. Email terakhir yang saya terima darinya pada tanggal 30 Oktober 2008 ketika ia mengeluhkan masalah pencernaan. Dengan sedih saya beritahukan bahwa Fransiska jatuh kedalam keadaan koma dan meninggal 2 tahun kemudian, pada pertengahan December 2008. Kematiannya datang empat tahun setelah didiagnosa kanker payudara. Bahkan obat termahal dan terbaru untuk kanker tidak dapat menolong dirinya.

Komentar: Ini memang kisah yang tragis namun telah terjadi berulang-ulang – kanker payudara berkembang menjadi stadium IV dan tidak dapat disembuhkan. Apakah yang salah? Pada kenyataannya tidak ada yang salah. Fransiska mengikuti apa yang dokternya ingin dia lakukan. Ia menjalankan Seni terapi medis di Singapura. Yee, seorang wanita berusia 40 tahun dari Penang juga meninggal dengan cara yang sama. Ia menderita kanker payudara stadium awal. Melakukan operasi, kemoterapi, radioterapi, mengkonsumsi Tamoxifen dan Tykerb selain Herceptin. Ia berakhir dengan metastase pada paru-paru, tulang, hati dan terakhir pada otaknya. Ia meninggal setelah menghabiskan lebih dari 100.000 RM untuk terapinya.

Di CA Care, dengan pengalaman kami yang lebih dari tigabelas tahun, kami melihat tiga fenomena yang sering trjadi pada penderita kanker payudara.
  1. Pertama, data kami menunjukkan bahwa pasien kanker payudara (di Malaysia) yang melakukan operasi, kemoterapi, radioterapi dan mengkonsumsi Tamoxifen mengalami penyebaran ke tulang, paru-paru, dll. setelah beberapa tahun. Pasien (di Indonesia) yang beralih ke pengobatan tradisional atau ang tidak mengikuti terapi standard medis tidak menderita metastase yang luas atau menderita metatase yang luas pada akhirnya.

  2. Pasien usia muda yang menjalani seluruh paket terapi medis untuk kanker payudara, cenderung unruk menderita metastase yang lebih parah.

  3. Sekarang dengan tersedianya Herceptin, kami mulai melihat pasien menderita metastase pada otak. Apakah ada koreksi mengenai pengobatan ini dan hubungannya dengan metastase pada otak?

Kami menyadari bahwa penelitian kami hanya gurauan dan untuk itu dapat disanggah. Sebuah penelitian di internet memberikan beberapa kesimpulan yang cukup berharga untuk dijadikan sebagai catatan.

Boston Globe (A new peril for breast cancer survivors oleh Liz Kowalczk, 7 February 2006) mengangkat cerita tentang Amy Socia yang didiagnosa menderita kanker payudara ketika berusia 43 tahun. Ia menjalani operasi mastektomi, operasi rekonstruksi payudara, radioterapi, dan kemoterapi. Disamping terapi medisnya kanker menyebar ke hati dan tulang belakangnya. Amy diberikan resep apa yang kita sebut obat yang menjanjikan – Herceptin – dan “secara ajaib” kankernya mulai menyusut! Tapi itu tidak lama. Tidak lama setelah itu (lima tahun setelah pertama kali didiagnosa) dua tumor tampak pada otaknya. Ini membuat Amy menyimpulkan :Tidak ada obat untuk kanker payudara yang bermetastase. Itu tidak akan pergi. Kamu hanya berpindah dari satu terapi ke terapi lainnya”. Cerita Amy tidak jauh berbeda dengan Fransiska.

Fransiska diterapi dengan lapatinib (Tykerb) dan capecitabine (Xeloda). Terapi modern ini telah diperlihatan dalam satu penelitian “to shrink brain metastasis significantly in six percent of 241 patients.” (mengecilkan persentase metastase otak secara signifikan pada enam persen dari 241 pasien). Pada situs resmi www.tykerb.com, kita dapat membaca informasi sebagai berikut:
  • Tidak ada obat untuk kanker payudara yang bermetastase, tapi itu dapat diterapi.
  • Beberapa wanita mungkin dapat berkembang dan terjadi kerusakan hati selama mengkonsumsi Tykerb. Pada beberapa kasus, kerusakan hati mungkin dapat fatal dan menyebabkan kematian.
  • Efek samping dari Tykerb adalah : mual, muntah, rasa terbakar pada uluhati, kehilangan nafsu makan, kemerahan, nyeri pada tangan dan kaki, ruam pada kulit, kulit kering, nyeri pada bibir, mulut, atau tenggorokan, sakit pada tangan, kaki, atau punggung, kesulitan untuk tidur atau tetap tertidur, rasa sesak nafas, batuk, batuk dengan dahak yang berdarah atau berwarna pink, denyut jantung yang cepat dan irreguler, kelelahan atau kelemahan dan bengkak pada tangan, kaki, pergelangan, atau betis.
Pasien harus ingat bahwa menterapi kanker bukan berarti kanker dapat disembuhkan! Untuk mengobati berarti menghabiskan banyak sekali uang tetapi terapinya tidak dapat mengobati. Pengecilan tumor juga bukan berarti sembuh! Lapatinib menyebabkan kerusakan hati. Bukankah ini yang terjadi pada kasus Fransiska?

Efek samping dari Herceptin antara lain: Demam dan rasa dingin (biasa terjadi saat pengobatan pertama kali), gagal nafas dan gagal jantung, diare, sakit kepala, mual, dan muntah, nyeri, ruam pada kulit, dan kelemahan. Bagaimanapun juga, yang paling tidak mengenakan dari laporan tentang Herceptin adalah metastase otak.

Laporan tanggal 13 Desember 2001 oleh Robert Carlson menyatakan:
  • Diketahui pasien kanker payudara dengan metastase lebih sering berkembang menjadi metastase tulang, tetapi pada pasien yang menggunakan Herceptin terlihat peningkatan resiko dari metastase otak dibandingkan dengan metastase tulang.
Jurnal, Kanker (15 Juni 2003, Vol: 97:2972-2977), menyatakan:
  • Metastase karsinoma payudara ke otak adalah umum pada pasien yang menerima pengobatan dengan obat Herceptin.
  • Sekitar 6 sampai 16% wanita dengan metastase kanker payudara mengalami penyebaran ke otak tetapi pasien yang menerima pengobatan Herceptin sebagai terapi pertolongan pertama mempunyai resiko yang besar untuk berkembang menjadi penyakit CNS (otak) (42%)
Pertanyaan yang mungkin anda tanyakan: Apa bubungannya observasi di atas dengan penyebaran pada otak Fransiska? Apa yang mungkin terjadi dengan keacuhan Fransiska – Akankah dia meninggal karena kanker pake payudara dalam 4 tahun? Apa yang mungkin menjadi penyebab sebenarnya dari kematian Fransisca?

Mengatasi Stress Pasca Kemoterapi

Kemoterapi dapat menjadi pengalaman yang melelahkan bagi sebagian besar mesothelioma pasien, sebagian besar obat anti kanker mempunyai efek samping yang mengerikan Anda akan mengalami selama terapi. Langkah-langkah berikut ini akan membantu Anda mengatasi stres kemoterapi:
  1. Fokus pada tujuan perawatan Anda dalam pikiran Anda. Ini akan membantu Anda menjaga sikap positif pada hari-hari ketika keadaan menjadi kasar.
  2. Cobalah dan makanlah makanan yang baik, meskipun dalam jumlah kecil dan moderat, tubuh Anda membutuhkan semua nutrisi makanan yang diperlukan untuk membangun kembali jaringan dan tetap kuat.
  3. Pelajari sebanyak yang Anda ingin tahu tentang mesothelioma kanker dan pengobatannya. Ini akan membantu Anda untuk mengatasi lebih baik dengan rasa takut yang tidak diketahui dan meningkatkan perasaan kontrol.
  4. Buatlah jurnal atau buku harian saat Anda sedang dirawat. Sebuah catatan tentang kegiatan dan pikiran Anda dapat membantu Anda memahami perasaan yang Anda miliki sebagai Anda pergi melalui pengobatan. Ini dapat juga membantu Anda sorot pertanyaan anda perlu meminta dokter atau perawat. Anda juga dapat menggunakan jurnal untuk merekam efek samping. Ini akan membantu Anda ketika Anda berbicara tentang mereka dengan dokter dan perawat. Anda dapat menuliskan langkah-langkah yang Anda ambil untuk mengatasi efek samping dan bagaimana langkah-langkah bekerja dengan baik juga. Dengan cara itu, kamu akan tahu cara bekerja yang terbaik untuk Anda jika Anda memiliki efek samping yang sama lagi.
  5. Jangan terlalu memaksakan diri Anda secara fisik, Anda harus melakukan hal-hal yang mudah karena kekuatan Anda akan habis oleh efek dari obat kuat yang kita pakai, jadi coba untuk mendapatkan istirahat sebanyak mungkin. Biarkan hal-hal kecil slide dan hanya melakukan hal-hal yang paling penting bagi Anda.
  6. Cobalah hobi baru dan mempelajari keterampilan baru.
  7. Latihan jika Anda dapat dan jika dokter Anda mengatakan bahwa Anda bisa. Latihan membantu untuk membuat Anda merasa lebih baik tentang diri Anda, membantu Anda menyingkirkan ketegangan atau kemarahan, dan membangun selera Anda.
  8. Rancangan cara mengatasi stres dan santai. Ada teknik sederhana yang dapat Anda praktek yang dapat membantu Anda mengatasi stres dan membantu Anda rileks. Anda harus membicarakan dengan dokter Anda sebelum Anda mulai menggunakan teknik-teknik ini, terutama jika Anda memiliki masalah paru-paru.
Ini adalah beberapa teknik yang dapat membantu Anda mengatasi stres dan bersantai:
  • Berbaring di ruangan yang tenang.
  • Ambil yang lambat, napas dalam-dalam.
  • Ketika Anda bernapas dalam, tegang otot atau kelompok otot. Misalnya, kepalkan gigi atau kaku lengan atau kaki.
  • Jaga otot anda tegang untuk kedua atau 2 sambil menahan napas.
  • Lalu bernapas keluar, melepaskan ketegangan, dan biarkan tubuh Anda rileks sepenuhnya.

Ulangi proses dengan otot lain atau kelompok otot.
Cara lain untuk melakukan hal ini disebut relaksasi progresif. Anda bekerja dengan cara Anda tubuh Anda mulai dengan jari-jari kaki dari satu kaki. Kontrak kemudian relaks semua otot satu kaki. Melakukan hal yang sama dengan kaki yang lain. Kerja cara Anda tubuh Anda, kontraktor kemudian bersantai masing-masing kelompok otot dalam tubuh Anda, termasuk di leher dan wajah Anda. Ingatlah untuk menahan napas sementara sebentar berkontraksi otot dan untuk bernapas ketika melepaskan ketegangan.

Irama pernapasan:
  • Dapatkan posisi yang nyaman dan rileks seluruh otot-otot Anda.
  • Tutup mata Anda atau fokus pada objek yang jauh jika Anda lebih memilih untuk tetap mereka terbuka.
  • Tarik napas masuk dan keluar perlahan-lahan dan nyaman melalui hidung. Jika Anda suka, menjaga ritme stabil dengan mengatakan kepada diri sendiri, "Di, satu, dua. Out, satu, dua."
  • Merasa diri Anda rileks dan lemas setiap kali Anda bernapas keluar.
Anda dapat melanjutkan ini hanya untuk beberapa detik atau hingga 10 menit.

Bentuk lain dari teknik relaksasi yang dapat Anda gunakan termasuk biofeedback, gangguan, gambaran mental, visualisasi dan hipnosis.

Oleh Bello Kamorudeen | articlesnatch | Dari Artikel Kesehatan

Tentang Kemoterapi

Bila pada suatu tempat di badan kita terdapat pertumbuhan sel-sel yang berlebihan, maka akan terjadi suatu benjolan atau Tumor. Tumor ini dapat bersifat jinak maupun ganas. Tumor yang ganas inilah yang disebut dengan Kanker. Tumor Ganas mempunyai sifat yang khas, yaitu dapat menyebar luas ke bagian lain di seluruh tubuh untuk berkembang menjadi Tumor yang baru. Penyebaran ini disebut Metastase. Kanker mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. Ada yang tumbuh secara cepat, ada yang tumbuh tidak terlalu cepat.

Terdapat kurang lebih 130 jenis penyakit Kanker, yang mempengaruhi kondisi tubuh kita dengan berbagai macam cara dan membutuhkan penanganan yang berbeda-beda. Tetapi semua jenis Kanker itu memiliki kesamaan: terdiri atas sel-sel yang membelah dengan cepat dan tumbuh tak terkontrol. Fungsi utama obat-obat Kemoterapi (Ing. Chemotherapy) adalah mengenali dan menghancurkan sel-sel seperti ini.

Kemoterapi telah digunakan sejak tahun 1950-an. Biasa diberikan sebelum atau sesudah pembedahan. Tujuannya adalah membasmi seluruh sel-sel Kanker sampai ke akar-akarnya, sampai ke lokasi yang tidak terjangkau pisau bedah. Paling tidak untuk mengontrol sel-sel Kanker agar tidak menyebar lebih luas. Pengobatan Kanker tergantung pada jenis atau tipe Kanker yang diderita dan dari mana asal Kanker tersebut. Umur, kondisi kesehatan umum pasien serta system pengobatan juga mempengaruhi proses pengobatan kanker. Pada kasus Kanker Pengobatan utama adalah melalui:

1. Pembedahan atau Operasi
2. Kemoterapi atau dengan cara pemberian Obat-obatan
3. Radioterapi atau Penggunaan Sinar Radiasi

Pada kenyataannya Secara umum biasanya digunakan lebih dari satu macam cara pengobatan di atas, misalnya Pembedahan yang diikuti oleh Kemoterapi atau Radioterapi, bahkan kadang pengobatan digunakan dengan 3 kombinasi (Pembedahan, Kemotarapi dan Radioterapi). Pada dasarnya Tujuan utama dari Pembedahan adalah mengangkat Kanker secara keseluruhan karena Kanker hanya dapat sembuh apabila belum menjalar ketempat lain. Sedangkan Kemoterapi dan Riadiasi tidak bukan dan tidak lain bertujuan untuk membunuh sel-sel Kanker atau menghentikan pertumbuhan sel-sel Kanker yang masih tertinggal.

Kemoterapi adalah proses pengobatan dengan menggunakan obat-obatan yang bertujuan untuk membunuh atau memperlambat pertumbuhan sel-sel Kanker. Banyak obat yang digunakan dalam Kemoterapi.

Manfaat Kemoterapi antara lain adalah sebagai berikut:

1. PENGOBATAN
Beberapa jenis kanker dapat disembuhkan secara tuntas dengan satu jenis Kemoterapi atau beberapa jenis Kemoterapi.

2. KONTROL
Kemoterapi ada yang bertujuan untuk menghambat perkembangan Kanker agar tidak bertambah besar atau menyebar ke jaringan lain.

3. MENGURANGI GEJALA
Bila kemotarapi tidak dapat menghilangkan Kanker, maka Kemoterapi yang diberikan bertujuan untuk mengurangi gejala yang timbul pada penderita, seperti meringankan rasa sakit dan memberi perasaan lebih baik serta memperkecil ukuran Kanker pada daerah yang diserang.

Kemoterapi dapat diberikan dengan cara Infus, Suntikan langsung (pada otot, bawah kulit, rongga tubuh) dan cara Diminum (tablet/kapsul).
  • Dalam bentuk tablet atau kapsul yang harus diminum beberapa kali sehari. keuntungankemoterapi oral semacam ini adalah: dapat dilakukan di rumah.
  • Dalam bentuk suntikan atau injeksi. Bisa dilakukan di ruang praktek dokter, rumah sakit, klinik, bahkan di rumah.
  • Dalam bentuk infus. Dilakukan di rumah sakit, klinik, atau di rumah (oleh paramedis yang terlatih).
Tergantung jenisnya, Kemoterapi ada yang diberikan setiap hari, seminggu sekali, tiga minggu sekali, bahkan sebulan sekali. Berapa seri penderita harus menjalani Kemoterapi, juga tergantung pada jenis kanker penderita. Yang paling ditakuti dari kemoterapi adalah efek sampingnya. Ada orang yang sama sekali tidak merasakan adanya efek samping Kemoterapi. Ada yang mengalami efek samping ringan. Tetapi ada juga yang sangat menderita karenanya. Ada-tidak atau berat-ringannya efek samping kemoterapi tergantung pada banyak hal, antara lain jenis obat kemoterapi, kondisi tubuh Anda, kondisi psikis Anda, dan sebagainya. Efek samping Kemoterapi timbul karena obat-obat kemoterapi sangat kuat, dan tidak hanya membunuh sel-sel kanker, tetapi juga menyerang sel-sel sehat, terutama sel-sel yang membelah dengan cepat. Karena itu efek samping kemoterapi muncul pada bagian-bagian tubuh yang sel-selnya membelah dengan cepat. Efek samping dapat muncul ketika sedang dilakukan pengobatan atau beberapa waktu setelah pengobatan. Efek samping yang bisa timbul adalah antara lain:

1. Lemas
Efek samping yang umum timbul. Timbulnya dapat mendadak atau perlahan. Tidak langsung menghilang dengan istirahat, kadang berlangsung terus hingga akhir pengobatan.

2. Mual dan Muntah
Ada beberapa obat Kemoterapi yang lebih membuat mual dan muntah. Selain itu ada beberapa orang yang sangat rentan terhadap mual dan muntah. Hal ini dapat dicegah dengan obat anti mual yang diberikan sebelum,selama, atau sesudah pengobatan Kemoterapi. Mual muntah dapat berlangsung singkat ataupun lama.

3. Gangguan Pencernaan
Beberapa jenis obat Kemoterapi berefek diare. Bahkan ada yang menjadi diare disertai dehidrasi berat yang harus dirawat. Sembelit kadang bisa terjadi. Bila diare: kurangi makanan berserat, sereal, buah dan sayur. Minum banyak untuk mengganti cairan yang hilang. Bila susah BAB: perbanyak makanan berserat, olahraga ringan bila memungkinkan.

4. Sariawan
Beberapa obat kemoterapi menimbulkan penyakit mulut seperti terasa tebal atau infeksi. Kondisi mulut yang sehat sangat penting dalam kemoterapi.

5. Rambut Rontok
Kerontokan rambut bersifat sementara, biasanya terjadi dua atau tiga minggu setelah kemoterapi dimulai. Dapat juga menyebabkan rambut patah di dekat kulit kepala. Dapat terjadi setelah beberapa minggu terapi. Rambut dapat tumbuh lagi setelah kemoterapi selesai.

6. Otot dan Saraf
Beberapa obat kemoterapi menyebabkan kesemutan dan mati rasa pada jari tangan atau kaki serta kelemahan pada otot kaki. Sebagian bisa terjadi sakit pada otot.

7. Efek Pada Darah
Beberapa jenis obat kemoterapi dapat mempengaruhi kerja sumsum tulang yang merupakan pabrik pembuat sel darah, sehingga jumlah sel darah menurun. Yang paling sering adalah penurunan sel darah putih (leokosit). Penurunan sel darah terjadi pada setiap kemoterapi dan tes darah akan dilaksanakan sebelum kemoterapi berikutnya untuk memastikan jumlah sel darah telah kembali normal. Penurunan jumlah sel darah dapat mengakibatkan:

a Mudah terkena infeksi
Hal ini disebabkan oleh Karena jumlah leokosit turun, karena leokosit adalah sel darah yang berfungsi untuk perlindungan terhadap infeksi. Ada beberapa obat yang bisa meningkatkan jumlah leokosit.

b. Perdarahan

Keping darah (trombosit) berperan pada proses pembekuan darah. Penurunan jumlah trombosit mengakibatkan perdarahan sulit berhenti, lebam, bercak merah di kulit.

c. Anemia

Anemia adalah penurunan jumlah sel darah merah yang ditandai oleh penurunan Hb (hemoglobin). Karena Hb letaknya di dalam sel darah merah. Akibat anemia adalah seorang menjadi merasa lemah, mudah lelah dan tampak pucat.

8. Kulit dapat menjadi kering dan berubah warna
Lebih sensitive terhadap matahari. Kuku tumbuh lebih lambat dan terdapat garis putih melintang.

9. Produksi Hormon
Menurunkan nafsu seks dan kesuburan

Setiap obat memiliki efek samping yang berbeda! Reaksi tiap orang pada tiap siklus juga berbeda!
Tetapi Anda tidak perlu takut. Bersamaan dengan kemoterapi, biasanya dokter memberikan juga obat-obat untuk menekan efek sampingnya seminimal mungkin. Lagi pula semua efek samping itu bersifat sementara. Begitu kemoterapi dihentikan, kondisi Anda akan pulih seperti semula.

Beberapa produk suplemen makanan mengklaim bisa mengurangi efek samping kemoterapi sekaligus membangun kembali kondisi tubuh Anda. Anda bisa menggunakannya, tetapi konsultasikanlah dengan ahlinya, dan sudah tentu dengan dokter Anda juga.

Saat ini, dengan semakin maraknya penggunaan obat-obatan herbal (yang semakin diterima kalangan kedokteran), banyak klinik yang mengaku bisa memberikan kemoterapi herbal yang bebas efek samping. Kalau Anda bermaksud menggunakannya, pastikan yang menangani Anda di klinik tersebut adalah seorang dokter medis. Paling tidak Anda harus berkonsultasi dengan dokter yang merawat Anda, dan lakukan pemeriksaan laboratorium secara teratur untuk memantau hasilnya.



Dari Unordinary World - Sumber: DR. dr. Noorwati S,SpPD.KHOM (Dharmais Cancer Hospital Website) dan Rumah KankerBaca juga: Dapatkah Kemoterapi Menyembuhkan Semua Kanker?


Resiko kemoterapi

Setelah bertahun-tahun mengatakan kepada khalayak bahwa kemoterapi adalah cara satu-satunya untuk menghilangkan penyakit kanker, Rumah Sakit John Hopkins akhirnya mulai mengatakan ada cara lain. Pada akhir tahun 2008 Rumah Sakit John Hopkins memasukkan berita ini di newsletters-nya. Informasi ini juga diedarkan di Walter Reed Army Medical Center.

Tiap orang mempunyai sel kanker. Sel kanker ini tidak tampak dalam pemeriksaan standar sampai sel-sel ini berkembang biak hingga berjuta jumlahnya.

Pada saat dokter memberitahu pasien bahwa 'tidak ada sel kanker lagi' setelah menjalani pengobatan, itu artinya pemeriksaan yang dilakukan sudah tidak dapat mendeteksi sel-sel kanker karena sel-sel tersebut sudah berada di bawah ukuran/jumlah yang dapat terdeteksi

Sel kanker tumbuh antara 6 sampai lebih dari 10 kali dalam jangka waktu hidup manusia.

Pada saat kekebalan tubuh seseorang tinggi, sel-sel kanker akan dihancurkan dan dicegah sehingga tidak dapat bertambah banyak dan membentuk tumor.

Pada saat seseorang menderita kanker ini menunjukkan bahwa orang tersebut mengalami beberapa kekurangan nutrisi. Ini dapat terjadi karena faktor genetika, lingkungan, makanan dan cara hidup.

Untuk menanggulangi kekurangan nutrisi dan memperkuat sistem kekebalan tubuh dapat ditempuh dengan merubah diet (cara makan) dan menambahkan asupan suplemen.

Kemoterapi, meracuni sel kanker yang bertumbuh cepat, tapi pada saat yang sama juga menghancurkan pertumbuhan sel sehat dalam tulang sumsum, gastrointestinal tracts (saluran pencernaan) dan lain-lain, dan dapat menyebabkan kerusakan pada organ-organ lain, seperti hati, ginjal, jantung, paru-paru dan lain-lain.

Sedangkan radiasi, bersamaan dengan fungsinya yang menghancurkan sel kanker, juga menyebabkan luka bakar, meninggalkan bekas luka, dan merusak sel, tisu, dan organ yang sehat.

Perawatan dini dengan kemoterapi dan radiasi dapat mengurangi ukuran tumor. Namun penerapan kemoterapi dan radiasi yang berkepanjangan tidak akan menghasilkan pengurangan tumor lebih lanjut.

Pada saat tubuh menanggung beban racun yang berlebihan dari kemoterapi dan radiasi, sistem kekebalan tubuh akan terancam atau hancur, karena itulah seseorang akan mengalami berbagai macam infeksi dan komplikasi.

Kemoterapi dan radiasi dapat menyebabkan sel kanker bermutasi dan menjadi tahan dan sulit untuk dihancurkan. Operasi juga dapat menyebabkan sel kanker menyebar ke tempat-tempat lainnya.

Cara efektif untuk melawan kanker adalah dengan membuatnya kelaparan, yaitu dengan cara tidak memberikan makanan yang dibutuhkan dalam sel untuk dapat berkembang biak.

Sel kanker antara lain memakan gula. Dengan meniadakan gula dalam asupan makanan itu berarti menghilangkan makanan utama sel kanker. Pengganti gula seperti NutraSweet, Equal, Spoonful, dan lain lain dibuat dari aspartame, dan ini berbahaya.

Pengganti yang lebih natural yaitu madu Manuka atau molasses, tapi dalam jumlah yang sedikit. Garam meja mengandung bahan kimia tambahan untuk menjadikannya putih. Alternatif yang lebih baik yaitu bragg's aminos atau garam laut.

Juga susu menyebabkan tubuh menghasilkan mucus, terutama di dalam gastro-intestinal tract (saluran pencernaan). Mucus juga makanan sel kanker. Dengan meniadakan susu dan menggantikannya dengan susu kedelai (tanpa gula) sel-sel kanker akan kelaparan.

Dari inilah.com
Baca juga: Percaya Atau Tidak?

Mengintip SOP kemoterapi bagi paramedis

Berikut ini adalah SOP (Standard Operation Procedures) atau prosedur standar yang berlaku bagi paramedis dalam pelaksanaan Kemoterapi.

Pada pasien kanker ada empat terapi modalitas yang digunakan yaitu:
  1. Pembedahan,
  2. Radiasi,
  3. Bioterapi dan
  4. kemoterapi.
Pengertian Kemoterapi adalah penggunaan obat-obatan sitotoksik dalam terapi kanker. Kemoterapi bersifat sistemik. Ada empat cara penggunaan kemoterapi:
  1. Terapi adjuvant: suatu sesi kemoterapi yang digunakan sebagai tambahan dengan terapi modalitas lainnya. Dan ditujukan untuk mengobati mikrometastasis
  2. Kemoterapi neo-adjuvant: pemberian kemoterapi untuk mengecilkan tumor sebelum dilakukannya pembedahan pengangkatan tumor
  3. Terapi primer: terapi pasien dengan kanker local alternative yang ada tidak terlalu efektif
  4. Kemoterapi kombinasi: pemberian dua atau lebih zat kemoterapi dalam terapi kanker yang menyebabkan setiap pengobatan memperkuat aksi obat lainnya (sinergis)
Prinsip pengobatan kemoterapi
Obat-obat kemoterapi sangat aktif dalam melawan sel yang membelah. Sel-sel normal yang pertumbuhannya cepat sangat dipengaruhi oleh agen kemoterapi. Kemoterapi diberikan dalam jadwal yang paling efektif untuk membunuh tumor.
 
Klasifikasi Obat
Obat-obat kemoterapi diklasifikasikan berdasarkan aktivitas farmakologi dan pengaruhnya terhadap reproduksi sel. Jenis obat-obat kemoterapi sbb:
  1. Obat-obat spesifik fase siklus sel berpengaruh terhadap sel-sel yang sedang mengalami pembelahan contohnya antimetabolit, alkaloid tanaman vinca dan zat lainnya seperti asparaginase dan dacarbazine
  2. Obat-obat fase siklus sel nonspesifik berpengaruh pada sel yang membelah atau istirahat misalnya agens alkilasi, antibiotic antitumor, nitrourea agen lainnya seperti prokarbazin
  3. Agens alkilasi bersifat nonspesifik pada fase siklus sel. Mereka bekerja dengan membentuk ikatan molekul dengan asam nukleat, yang mempengaruhi duplikasi asam nukleat sehingga mencegah mitosis
  4. Antibiotik (agens antitumor) bersifat nonspesifik yang mengganggu transkripsi DNA
  5. Antimetabolit bersifat spesifik dengan menghambat enzim essensial yang diperlukan dalam sintesis DNA
  6. Hormon-hormon yang bersifat nonspesifik. Zat-zat kimia yang kimia yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin ini mengubah lingkungan sel dengan mempengaruhi permeabilitas sel
  7. Nitrourea yang bersifat spesifik dengan kemampuan untuk melewati sawar darah otak
  8. Kortikosteroid memberikan efek antiinflamasi pada jaringan tubuh
  9. Alkaloid tanaman vinca bersifat spesifik .Zat ini memberikan efek sitotoksik dengan mengikat protein mikrotubular selama fase metaphase yang menyebabkan terhentinya mitosis
  10. Agen lainnya dengan kerja yang beragammisalnya produksi enzim yang bekerja secara primer dengan cara menghambat sintesis protein.
Prosedur pemberian kemoterapi
  1. Memastikan identifikasi klien, obat, dosis, rute dan waktu pemberian sesuai dengan order
  2. Cek riwayat alergi obat bersama klien
  3. Mengantisipasi dan merencanakan kemungkinan terjadinya efek samping atau toksisitas sistemik
  4. Membahas data lab dan pemeriksaaan lainnya
  5. Memastikan inform consent
  6. Memilih peralatan yang sesuai
  7. Menghitung dosis dan menyediakan obat dengan teknik aseptic
  8. Menjelaskan prosedur yang akan dilakukan kepada pasien dan keluarga
  9. Memberikan obat antiemetic atau obat lain yang disarankan
  10. Mempersiapkan lokasi pemasangan infuse atau jalur vena sentral
  11. Memberikan agens kemoterapi dengan cara obat dimasukkan kedalam botol cairan infuse yang diberikan
  12. Memantau pasien pada masa interval sesi pemberian obat
  13. Membuang seluruh peralatan yang telah digunakan atau tidak digunakan dalam suatu tempat yang aman dari kebocoran.
Persiapan obat
Untuk memastikan penyiapan yang aman semua obat kemoterapi harus dipersiapkan dari kemasannya yang dimasukkan kedalam sebuah lemari khusus yang aman.
  1. Cuci tangan sebelum dan setelah mempersiapkan obat
  2. Batasi akses ke daerah penyiapan obat
  3. Letakkan penampung berlabel untuk tumpahan obat dekat dengan area penyiapan
  4. Gunakan sarung tangan sebelum memegang obat
  5. Persiapan obat menggunakan teknik aseptic
  6. Hindari makan, minum, merokok mengunyah permen karet, menggunakan kosmetik dan menyimpan makanan dekat area penyiapan obat
  7. Letakkan bantalan absorben pada daerah kerja
  8. Gunakan peralatan luer lok
  9. Buka botol atau ampul obat jauh dari badan
  10. Buka obat menggunakan jarum filter hidrofobik atau pin untuk menghindari semburan obat
  11. Gosok daerah sekeliling leher botol dengan alcohol sebelum membukanya
  12. Susun obat-obatan dalam lemari yang sesuai standar
  13. Tutup ujung jarum dengan kasa steril atau dengan apus alcohol pada saat mengeluarkan udara dari spuit
  14. Beri label setiap obat kemoterapi
  15. Bersihkan setiap tumpahan obar secepatnya
  16. Bawa obat ke tempatnya dalam tempat yang anti bocor.
Pemberian obat
  1. Gunakan peralatan pelindung (sarung tangan, baju penutup dan kacamata)
  2. Beritahu pasien bahwa obat-obat kemoterapi ini berbahaya terhadap sel normal dan tindakan perlindungan dilakukan untuk mengurangi pajanan obat
  3. Letakkan bantalan absorben beralas plastic di bawah slang selama pemberian obat untuk menyerap setiap tumpahan atau kebocoran
  4. Jangan membuang alat-alat atau obat yang tidak digunakan dekat dengan area perawatan obat.
Pembuangan peralatan dan obat-obat yang tidak digunakan
  1. Jangan mengaitkan atau menutup kembali jarum atau spuit yang patah
  2. Letakkan setiap peralatan yang telah digunakan secara lengkap dan utuh pada tempat penampungan antibocor dan tidak tembus yang diberi label yang sesuai
  3. Letakkan setiap obat yang digunakan pada tempat antibocor dan tidak tembus yang diberi label yang sesuai
  4. Buang penampung yang berisi peralatan dan obat-obat an yang tidak digunakan sesuai dengan peaturan pembuangan zat berbahaya.
Peralatan
1. Perangkat dan peralatan untuk mengatasi tumpahan kemoterapi:
  • Masker respirator
  • Kacamata plastic yang aman
  • Sarungtangan karet yang tebal
  • Bantalan absorben untuk menyerap tumpahan cairan
  • Handuk absorben untuk membersihkan bekas tumpahan
  • Sekop kecil untuk mengumpulkan pecahan kaca
  • Dua kantong pembuangan berukuran besar
2. Baju pelindung sekali pakai 
3. Tempat untuk larutan detergen dan air keran yang bersih untuk membersihkan bekas tumpahan 
4. Tempat penampungan yang tahan bocor 
5. Pengirigasi mata simpan di dekat area kerja 


Efek samping kemoterapi

KOMPAS.com — Pada usia paruh baya, Reni harus bergelut dengan penyakit kanker yang menggerogoti paru-paru. Meski memiliki keinginan kuat untuk sembuh, ia diliputi rasa takut menghadapi ancaman kematian dan rasa sakit saat menjalani kemoterapi.

"Begitu dinyatakan menderita kanker, ibaratnya satu kaki kita sudah berada di kuburan," kata Reni. Setelah mengalami kecelakaan pesawat, ketabahannya kembali diuji ketika ia dinyatakan menderita kanker paru-paru sehingga harus menjalani operasi pengangkatan tumor. Agar sel kanker tak menyebar, ia harus menjalani serangkaian kemoterapi. Pertama kali kemoterapi ia mengeluh meriang dan tubuh serasa dicacah-cacah. 

Berkat dukungan keluarga, ia bersemangat menjalani kemoterapi untuk kedua kali meski mengaku masih ngeri. Efek samping karena kemoterapi juga dialami ibu dari Dina. Menurut Dina, saat ini ibunya yang menderita kanker ovarium menjalani kemoterapi kedelapan kali. Saat dikemoterapi untuk keempat hingga keenam kali, ibunya perlu ditransfusi 10 kantong darah. Pada kemoterapi ketujuh, ibunya butuh 40 kantong darah. Sejumlah penderita kanker lain juga mengalami sejumlah efek samping kemoterapi, antara lain tangan dan kaki hitam, mengelupas, diare, dan mual-muntah.
  • Ancaman kematian
Ancaman kematian dan penurunan kualitas hidup membayangi jutaan penderita kanker. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan, tahun 2005 sekitar 7,6 juta orang meninggal akibat kanker. Ini berarti 13 persen dari total jumlah kematian di dunia. Diperkirakan, 9 juta orang akan meninggal karena kanker pada tahun 2015. Selama ini kematian akibat kanker lebih banyak dari jumlah kematian karena tuberkulosis, HIV, dan malaria. ”Lebih dari 70 persen kematian akibat kanker terjadi di negara berpenghasilan rendah atau menengah,” kata dr Noorwati Sutandyo dari Divisi Hematologi-Onkologi Medik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Kanker Dharmais. Semua orang bisa terserang kanker, lebih-lebih usia di atas 40 tahun. Data 10 kanker terbanyak di RS Kanker Dharmais tahun 2007 adalah dari 1.348 jumlah kasus, 32,4 persen di antaranya kanker payudara, dan 18,8 persen kanker serviks. Beberapa faktor penyebab kanker adalah genetik, diet, kegemukan, rokok, paparan bahan kimia, hormon, radiasi dan sinar ultraviolet, virus, serta sistem imunitas.
  • Bermacam kemoterapi
Ada beberapa cara pemberian kemoterapi. Jika berfungsi membunuh sel kanker secara sistemik, obat diberikan melalui injeksi dan oral. Kemoterapi yang regional berfokus pada organ yang terkena kanker diberikan bersama dengan obat. Terapi ini bisa berperan kuratif atau menyembuhkan. Kemoterapi dapat jadi pengendali kanker dengan mencegah penyebaran, memperlambat perkembangan, membunuh sel kanker yang menyebar, dan mengurangi ukuran tumor. Fungsi lain adalah paliatif atau mengurangi gejala kanker, terutama nyeri. Beberapa jenis kemoterapi, antara lain, kemoterapi primer, kemoterapi adjuvan atau tambahan—diberikan setelah operasi atau radiasi untuk membunuh sel kanker, dan kemoterapi neoadjuvan yang diberikan sebelum operasi atau radiasi untuk mengecilkan ukuran tumor. 

”Kemoterapi dapat diberikan sebagai terapi tunggal atau kombinasi dengan terapi lain, seperti pembedahan, radioterapi, dan terapi biologik,” kata Noorwati. Terapi ini bisa mengendalikan kanker cukup lama, seperti penderita kanker ovarium, limfoma non-Hodgkin, kanker darah kronis yang merusak tulang (multiple myeloma), dan kanker endometrium. Selain itu, kemoterapi bermanfaat untuk paliatif atau dapat mengurangi gejala pada kanker nasofaring, kanker prostat, kanker endometrium, kanker leher dan kepala, serta kanker paru stadium lanjut. ”Manfaat kemoterapi juga tergantung jenis kanker,” ujarnya. 

Dengan kemoterapi, obat tak hanya membunuh sel kanker, tetapi sel normal yang membelah cepat seperti sel kanker, yaitu sel saluran cerna, sel kulit, sel rambut, dan sel sperma. ”Efek samping bersifat sementara,” kata Noorwati. Beberapa efek samping lain adalah rambut rontok, sariawan, fibrosis paru, mual-muntah, diare, nyeri otot toksik ke jantung, reaksi lokal, bahkan bisa gagal ginjal, dan menekan produksi darah. Untuk itu, penderita dianjurkan makan dan minum sedikit tetapi sering; minum tiap muntah; serta hindari makanan berbau, berminyak, berlemak, pedas, terlalu manis, panas, dan beraroma sitrus. Penderita dianjurkan mengonsumsi makanan dingin dan kering, minum teh beraroma jahe, akupunktur, relaksasi otot, terapi musik, memakai pakaian longgar, dan tidak berbaring seusai makan. Menimbang besarnya manfaat kemoterapi, efek samping yang muncul karena terapi ini diharapkan tidak mematahkan semangat para pasien untuk berjuang melawan kanker. Apalagi, sebagian besar efek samping bersifat sementara dan bisa diatasi dengan berbagai cara. 

Sumber: KOMPAS | Evy Rachmawati | 23 Juli 2009  
Artikel Terkait:

Efek samping kemoterapi

Pada usia paruh baya, Reni harus bergelut dengan penyakit kanker yang menggerogoti paru-paru. Meski memiliki keinginan kuat untuk sembuh, ia diliputi rasa takut menghadapi ancaman kematian dan rasa sakit saat menjalani kemoterapi.

"Begitu dinyatakan menderita kanker, ibaratnya satu kaki kita sudah berada di kuburan," kata Reni. Setelah mengalami kecelakaan pesawat, ketabahannya kembali diuji ketika ia dinyatakan menderita kanker paru-paru sehingga harus menjalani operasi pengangkatan tumor.

Agar sel kanker tak menyebar, ia harus menjalani serangkaian kemoterapi. Pertama kali kemoterapi ia mengeluh meriang dan tubuh serasa dicacah-cacah. Berkat dukungan keluarga, ia bersemangat menjalani kemoterapi untuk kedua kali meski mengaku masih ngeri.

Efek samping karena kemoterapi juga dialami ibu dari Dina. Menurut Dina, saat ini ibunya yang menderita kanker ovarium menjalani kemoterapi kedelapan kali. Saat dikemoterapi untuk keempat hingga keenam kali, ibunya perlu ditransfusi 10 kantong darah. Pada kemoterapi ketujuh, ibunya butuh 40 kantong darah.

Sejumlah penderita kanker lain juga mengalami sejumlah efek samping kemoterapi, antara lain tangan dan kaki hitam, mengelupas, diare, dan mual-muntah.

Ancaman kematian
Ancaman kematian dan penurunan kualitas hidup membayangi jutaan penderita kanker. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan, tahun 2005 sekitar 7,6 juta orang meninggal akibat kanker. Ini berarti 13 persen dari total jumlah kematian di dunia. Diperkirakan, 9 juta orang akan meninggal karena kanker pada tahun 2015.

Selama ini kematian akibat kanker lebih banyak dari jumlah kematian karena tuberkulosis, HIV, dan malaria. ”Lebih dari 70 persen kematian akibat kanker terjadi di negara berpenghasilan rendah atau menengah,” kata dr Noorwati Sutandyo dari Divisi Hematologi-Onkologi Medik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Kanker Dharmais.

Semua orang bisa terserang kanker, lebih-lebih usia di atas 40 tahun. Data 10 kanker terbanyak di RS Kanker Dharmais tahun 2007 adalah dari 1.348 jumlah kasus, 32,4 persen di antaranya kanker payudara, dan 18,8 persen kanker serviks.

Beberapa faktor penyebab kanker adalah genetik, diet, kegemukan, rokok, paparan bahan kimia, hormon, radiasi dan sinar ultraviolet, virus, serta sistem imunitas.

Bermacam kemoterapi
Ada beberapa cara pemberian kemoterapi. Jika berfungsi membunuh sel kanker secara sistemik, obat diberikan melalui injeksi dan oral. Kemoterapi yang regional berfokus pada organ yang terkena kanker diberikan bersama dengan obat.

Terapi ini bisa berperan kuratif atau menyembuhkan. Kemoterapi dapat jadi pengendali kanker dengan mencegah penyebaran, memperlambat perkembangan, membunuh sel kanker yang menyebar, dan mengurangi ukuran tumor. Fungsi lain adalah paliatif atau mengurangi gejala kanker, terutama nyeri.

Beberapa jenis kemoterapi, antara lain, kemoterapi primer, kemoterapi adjuvan atau tambahan—diberikan setelah operasi atau radiasi untuk membunuh sel kanker, dan kemoterapi neoadjuvan yang diberikan sebelum operasi atau radiasi untuk mengecilkan ukuran tumor. ”Kemoterapi dapat diberikan sebagai terapi tunggal atau kombinasi dengan terapi lain, seperti pembedahan, radioterapi, dan terapi biologik,” kata Noorwati.

Terapi ini bisa mengendalikan kanker cukup lama, seperti penderita kanker ovarium, limfoma non-Hodgkin, kanker darah kronis yang merusak tulang (multiple myeloma), dan kanker endometrium.

Selain itu, kemoterapi bermanfaat untuk paliatif atau dapat mengurangi gejala pada kanker nasofaring, kanker prostat, kanker endometrium, kanker leher dan kepala, serta kanker paru stadium lanjut. ”Manfaat kemoterapi juga tergantung jenis kanker,” ujarnya.

Dengan kemoterapi, obat tak hanya membunuh sel kanker, tetapi sel normal yang membelah cepat seperti sel kanker, yaitu sel saluran cerna, sel kulit, sel rambut, dan sel sperma.

”Efek samping bersifat sementara,” kata Noorwati. Beberapa efek samping lain adalah rambut rontok, sariawan, fibrosis paru, mual-muntah, diare, nyeri otot toksik ke jantung, reaksi lokal, bahkan bisa gagal ginjal, dan menekan produksi darah.

Untuk itu, penderita dianjurkan makan dan minum sedikit tetapi sering; minum tiap muntah; serta hindari makanan berbau, berminyak, berlemak, pedas, terlalu manis, panas, dan beraroma sitrus. Penderita dianjurkan mengonsumsi makanan dingin dan kering, minum teh beraroma jahe, akupunktur, relaksasi otot, terapi musik, memakai pakaian longgar, dan tidak berbaring seusai makan.

Menimbang besarnya manfaat kemoterapi, efek samping yang muncul karena terapi ini diharapkan tidak mematahkan semangat para pasien untuk berjuang melawan kanker. Apalagi, sebagian besar efek samping bersifat sementara dan bisa diatasi dengan berbagai cara.

Sumber: KOMPAS Online

Kemoterapi Tak Perlu Ditakuti?

Perempuan berusia 40 tahunan dengan rambut sebahu lewat sedikit itu dengan bangga menyebutkan ia pernah menjalani tindakan pembedahan pada payudaranya. Karena baru stadium awal, kedua payudaranya tetap utuh dan nyaris tidak ada tanda nyata dari tindakan medis tersebut.

Tak mengherankan jika ia dengan sukacita memaparkan pengalamannya bersentuhan dengan kanker dalam sebuah acara Temu Pasien Kanker Payudara beberapa waktu lalu di Jakarta. Lantas ia pun tak keberatan payudara, yang tetap mulus berkat keahlian sang dokter yang ahli onkologi Samuel Haryono, ditunjukkan kepada dokter sejawatnya, dalam sebuah simposium misalnya.

Dalam kasus kanker, memang "lebih cepat lebih baik" menjadi slogan yang tepat. Sebab, pada stadium lanjut, kanker sudah menyebar atau metastesa ke organ lain. Samuel menggambarkan metastesa sebagai proses ketika sel kanker melepaskan diri dari tumor utama, lalu masuk ke pembuluh darah, ikut bersirkulasi dalam aliran darah, dan tumbuh di jaringan normal yang letaknya jauh dari asal tumor tersebut. "Pada kanker payudara, metastasis yang paling umum terjadi di organ-organ vital, seperti paru, hati, tulang, bahkan juga otak," ia menjelaskan.

Pada stadium awal, menurut Samuel, biasanya dilakukan operasi breast conserving treatment (BCT), sentinel node lymph procedure (SNLP), atau mastektomi, pilihannya tergantung pasien. Sebagian dilanjutkan dengan kemoterapi, baik sebelum ataupun sesudah operasi. Dalam BCT, operasi memang hanya mengangkat sel kankernya serta pembersihan kelenjar getah bening sehingga payudara tetap utuh dan biasanya diikuti radioterapi. Namun, tindakan ini hanya berlaku untuk stadium I dan II. Cara ini memang tidak mengubah bentuk payudara. Sedangkan tindakan masektomi radikal adalah pengambilan sel kanker berikut payudaranya.

Samuel menyatakan hasil BCT hampir sama dengan masektomi radikal jenis terbaru sekalipun, tentunya menyangkut kekambuhan, tingkat kebebasannya dari kanker, dan daya tahan si pasien. Ia juga menyebutkan kemo yang dilakukan setelah operasi dengan atau terapi hormonal bisa menaikkan lagi daya tahan hingga 10-15 persen.

Konsultan hematologi onkologi medik, dr Asrul Harsal, SpHD, K-HOM, menambahkan, pada stadium I, II, dan II-A, ketika keberadaan sel kanker masih lokal, tindakan operasi yang dilakukan masih merupakan standar pengobatan yang dilakukan oleh ahli bedah yang biasanya dilanjutkan dengan radioterapi. "Serta pemberian kemoterapi setelah operasi jika faktor risiko untuk terjadinya kekambuhan cukup besar," kata Asrul.

Masalah, sering kali kasus kanker payudara ditemukan dalam stadium lebih lanjut seperti III-B atau IV sehingga BCT pun tak bisa dilakukan. Lantas perlu juga dokter ahli dari berbagai bidang dalam penanganannya. Tapi kemoterapi dalam stadium ini mempunyai manfaat lebih besar. "Kemo menjadi cara yang efektif karena obat ini bekerja melalui darah dan langsung membunuh sel," Asrul menjelaskan. Sebab, kemoterapi merupakan pemberian obat antikanker yang bersifat sistematis atau menyeluruh pada tubuh.

Kebanyakan orang membayangkan kemoterapi sebagai hal yang menakutkan. Saat ini, menurut Asrul, pengobatan dengan terapi ini sudah beragam. Pemberian obatnya bisa berupa oral, injeksi, intravena, dan intramuskular intravekal. Bahkan jenisnya pun bermacam-macam. Sedikitnya ada empat, yakni induksi/neoadjuvant (praoperasi), kombinasi, adjuvant (pascaoperasi), dan paliatif.

Lantas, Asrul menyebutkan, kemo pun tak lagi diberikan hanya pada pasien dengan stadium lanjut. Pada kasus yang saat sel kanker belum menyebar ke organ lain pun kemo sudah diberikan. Selain itu, bagi pasien yang tak mungkin menjalani operasi, kemo pun menjadi pilihan tepat.

Namun, tak semua pasien kanker payudara otomatis bisa menjalani jenis terapi ini. Tetap ada syarat sebelumnya, setidaknya harus dilihat dari kondisi kesehatan umum dan kesehatan jantungnya. "Usia bukan patokan," ucap Asrul. Pilihan kemo juga didasari oleh beberapa pertimbangan. Mulai faktor risiko, seperti ukuran tumor, keterlibatan kelenjar, reseptor hormonal, agresivitas tumor, hingga menyusupnya sel-sel kanker ke pembuluh darah dan kelenjar getah bening. Karena itu, setiap pasien akan ditangani dengan kombinasi terapi yang berbeda-beda, bergantung pada beberapa hal tersebut.

Asrul menyebutkan, ada beberapa kondisi yang membuat pasien tak bisa melakoni terapi yang satu ini. Di antaranya adanya infeksi, kurangnya jumlah sel darah putih atau trombosit, buruknya kondisi pasien secara umum, serta adanya problem psikologis. Dengan pilihan kemo saat ini, bukan berarti kemoterapi versi baru membuat pasien terlepas dari segala efek samping. "Efek yang tidak diharapkan tetap ada. Terapi ini, selain menyerang sel kanker terutama yang sedang tumbuh, menyasar ke sel tubuh yang dalam kondisi normal. Inilah yang disebut dengan efek yang tidak diinginkan dan bisa berhubungan dengan gejala, kelainan laboratorium, atau penyakit yang berhubungan dengan pengobatan."

Efek kemo terbagi dua, yakni nonhematologik, seperti mual, muntah, sariawan, gangguan buang air besar, kebotakan pada rambut, nyeri otot dan sendi, serta pengaruh terhadap fungsi jantung dan hati. Karena itulah, ada syarat utama untuk memeriksakan jantung dan hati terlebih dulu. Efek lain, menyangkut hematologi atau darah, seperti penurunan trombosit. Kondisi ini harus ditangani dengan baik karena bisa mengundang infeksi dan berakibat fatal. Namun, untuk beragam eek tersebut, sudah tersedia obat guna meredamnya, seperti obat mual dan muntah, demikian juga untuk obat penurunan sel darah putih maupun hemoglobin. Sedangkan untuk kebotakan yang dimulai sejak kemo minggu ketiga, biasanya rambut tumbuh lagi setelah terapi selesai.

Keuntungan Kemoterapi
  1. Efektif untuk kanker yang telah menyebar ke organ lain karena obat ini bekerja melalui aliran darah untuk membunuh sel kanker.
  2. Bermanfaat untuk kanker yang tidak bisa dioperasi.
  3. Tidak merusak jaringan.

TEMPO Interaktif | Selasa, 06 Oktober 2009 | 08:05 WIB | Oleh RITA

Mengurangi Dampak Kemoterapi

Perawatan kemoterapi pada pasien kanker merupakan alternatif terakhir jika tidak ada yang bisa dilakukan lagi untuk mengobatinya. Namun, ada beberapa efek samping yang ditimbulkan oleh pengobatan ini. Bagaimana cara meminimalkan efek samping dari kemoterapi?

Kemoterapi merupakan teknik pengobatan kanker untuk memperlambat atau menghancurkan pertumbuhan dari sel-sel kanker tersebut. Tapi, pengobatan ini menimbulkan beberapa efek samping yang harus dirasakan oleh pasien setiap kali selesai menjalankan kemoterapi.

Penting untuk dipahami bahwa efek samping kemoterapi lebih mudah ditoleransi saat ini dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu. Mengalami efek samping bukan berarti perawatan menjadi lebih baik, demikian juga jika tidak ada efek samping berarti pengobatan tidak bekerja. Hal ini tidak bisa dipahami sesederhana itu.

Kemoterapi merupakan pengobatan yang efektif dalam mengatasi kanker dan menghilangkan gejala-gejala kanker. Potensi efek samping hendaknya tidak membatasi pasien untuk mendapatkan kemoterapi kembali.

Efek samping yang biasa terjadi akibat pengobatan kemoterapi, seperti dikutip dari Cancer.net, Rabu (26/8/2009) adalah rambut rontok, mual, muntah, diare, sembelit, mulut dan tenggorokan yang perih, perubahan cara berpikir dan memori, efek terhadap saraf dan otot serta menimbulkan rasa sakit di kepala, perut atau tulang.

Namun, efek samping dari kemoterapi tersebut bisa diminimalkan dengan beberapa tips berikut ini:
  1. Mengurangi rambut rontok. Menutup kepala dengan menggunakan gel yang dingin atau menggunakan es selama perawatan bisa mengurangi rambut yang rontok, ini karena mengurangi obat kemoterapi yang diserap oleh kantung-kantung rambut sehingga mencegah kerusakan kantung rambut dan rambut rontok.
  2. Mengurangi mual. Untuk menguranginya bisa dengan menggunakan teh jahe dan pepermint yang bisa menghangatkan perut secara alami, bisa juga dengan memakan permen keras yang mengandung mint atau citrus untuk mengurangi mual yang tidak terlalu parah dan yang terakhir bisa dengan mengkonsumsi vitamin B6.
  3. Mengurangi muntah. Makan dan minumlah dalam jumlah sedikit namun sering, hindari mengonsumsi minuman lain sejam sebelum dan sesudah makan serta biasakan mengonsumsi makanan pada suhu kamar dalam arti tidak terlalu dingin dan panas.
  4. Mengurangi diare. Bisa dikurangi dengan mengonsumsi pisang, roti putih, yogurt murni, telur atau dada ayam. Selain itu hindari kafein, kacang-kacangan, buah yang dikeringkan dan makanan yang terlalu dingin atau panas sehingga bisa menstimulasi pergerakan usus dengan cepat.
  5. Mengurangi cepat lelah. Mengonsumsi makanan yang kaya akan vitamin B12 seperti daging atau ikan serta melakukan sedikit olahraga sehingga bisa meningkatkan kadar energi dalam tubuh.
  6. Mengurangi rasa sakit pada tubuh. Bisa dengan melakukan akupuntur atau pemijatan yang bisa mengurangi rasa sakit dan gejala lainnya, serta bisa juga dengan meminum obat anti peradangan selama kemoterapi atau sesudah melakukan operasi.
  7. Mengurangi depresi atau stres. Bahagiakan diri sendiri bisa dengan pergi ke salon, melakukan hal yang disukai atau segala sesuatu yang bisa membuat diri sendiri bahagia dan tanamkan jiwa optimisme dalam diri bahwa segala sesuatunya pasti akan berakhir dan sehat kembali.
Pengobatan kemoterapi mungkin tidak bisa dihindari, tapi pasien tetap bisa mengurangi efek sampingnya sehingga tidak terlalu mengganggu aktivitas sehari-hari dari pasien tersebut. Hal yang paling penting adalah jangan pernah mudah menyerah atau putus asa.


Sumber: DETIK Health | Rabu, 26/08/2009 17:04 WIB | Oleh Vera Farah Bararah

Kemoterapi & Menopause

Menopause merupakan salah satu saat yang paling menentukan dalam kehidupan seorang wanita. Beberapa wanita merasa takut , sementara yang lain malah menunggu-nunggu akan datangnya menopause. Bagi sebagian wanita yang takut akan datangnya menopause karena akan membuat mereka merasa tidak menarik, kesepian, tak berguna dan tak berdaya. Mereka juga berduka karena tak subur dan muda lagi. Bagi sebagian lain, datangnya menopause malah membuat mereka memiliki kesempatan baru dalam hidup secara fisik, emosi, seksual dan spirit. Mereka malah antusias karena "terlepas" dari kewajiban melahirkan dan sindroma pra-haid. Pokoknya, menopause dapat memberikan berbagai macam perasaan kepada wanita. Dari yang tegang dan tidak nyaman sampai lega dan "lepas".

Apa arti menopause itu sendiri? Menopause adalah, "suatu waktu di usia pertengahan di mana seorang perempuan mendapat haidnya yang terakhir". Atau dengan kata lain, "di mana seorang perempuan tidak mendapat haid lagi". Menopause terjadi ketika ovarium berhenti "melepaskan" sel telur. Sering kali menopause ini terjadi secara gradual. Tetapi kadang kala juga terjadi sekaligus.

Perimenopause adalah periode gradual yang membuat perubahan menuju menopause. Periode-periode ini di mana seorang perempuan mengalami perubahan tubuh, perasaan dan hormon. Proses ini dapat terjadi perlahan-lahan selama bertahun-tahun. Climacteric adalah kata lain dari waktu di mana seorang perempuan melewati tahun-tahun reproduktif ke non-reproduktif. Pada masa perimenopause , estrogen yang dihasilkan dari indung telur cenderung melambat. Level hormon menjadi fluktuatif (naik turun) yang menyebabkan perubahan sperti halnya yang terjadi pada seseorang ketika memasuki masa remaja. Tetapi bagi banyak perempuan, perubahan-perubahan yang terjadi menuju menopause ini terjadi lebih intens daripada ketika memasuki masa pubertas. Waktu setelah menopause terjadi disebut postmenopause .

Jenis-jenis menopause yang perlu mendapat perhatian adalah, surgical menopause (menopause yang berhubungan dengan pengobatan). Surgical menopause terjadi jika indung telur dipindah atau rusak, misalnya karena kemoterapi. Dalam hal ini, menopause akan terjadi segera tanpa munculnya perimenopause. Lainnya adalah stress menopause. Terjadi apabila perempuan di akhir usia 30-an atau lebih tidak mendapat haid dalam jangka waktu yang lama. Ini dapat disebabkan karena stress, kemoterapi, sedih, bulimia, anemia atau gerak badan yang berlebihan.

Apa tanda-tandanya seorang perempuan akan menopause? Ketika menopause akan datang biasanya periode haid menjadi tidak teratur, terjadi secara berdekatan atau saling berjauhan. Misalnya bulan Mei jadwal haid tanggal 7. Lalu akhir bulan di bulan yang sama haid datang lagi (misalnya tanggal 26). Tetapi di bulan Juni haid datang malah di akhir bulan, misalnya tanggal 29 Juni. Ciri-ciri lainnya adalah:

  • Tulang sendi terasa sakit
  • Susah berkonsentrasi
  • Sakit kepala
  • Berkeringat pada malam hari
  • Mengalami kondisi umum yang biasanya timbul saat PMS
  • Perubahan dalam nafsu seksual
  • Berkeringat banyak
  • Insomnia, sering bangun terlalu pagi
  • Perubahan mood
  • Vagina terasa kering
  • Buang air kecil secara frekuentif

Antara perempuan yang satu dengan perempuan yang lain memiliki ciri-ciri yang berbeda. Ada yang hanya memiliki satu ciri. Tetapi ada juga yang memiliki semua ciri di atas.

Pengalaman perempuan selama menopause juga dapat dipengaruhi oleh perubahan-perubahan yang terjadi di dalam kehidupannya seperti: anak yang telah meninggalkan rumah; perubahan dalam urusan sosial, domestik dan hubungan personal; perubahan dalam identitas & imej tubuh; perceraian atau karena menjanda; pensiun; tegang menghadapi ketuaan dan kematian; kehilangan teman, orang yang tercinta dan masalah keuangan; tanggung jawab yang bertambah sehubungan dengan usia yang menua; ketegangan akibat kehilangan kemerdekaan, tidak mampu dan perasaan kesepian.

Sumber: keluarga.org
Dari pengasuh: Baca juga Menopause Dini


Info Farmasi/Obat Kanker