Up-Date/Artikel Terbaru

Showing posts with label Deteksi. Show all posts
Showing posts with label Deteksi. Show all posts

WASPADA! Tujuh Tanda Bahaya Kanker

Secara umum kanker ada dua macam, yaitu kanker yang berbentuk benjolan yang padat atau solid dan tipe yang tidak membentuk benjolan. Kanker tipe solid misalnya pada kanker payudara, kanker usus, kanker rahim dan lainnya. Yang bukan tipe solid misalnya pada kanker darah atau leukemia.

Kanker dapat menyerang siapa saja, baik lelaki maupun perempuan; bayi baru lahir sampai pada usia senja; golongan ekonomi lemah maupun kaya; tidak memandang ras maupun suku bangsa. Semua bisa kena.
Pada tubuh, kanker dapat menyerang semua organ tubuh, mulai dari kulit hingga ujung kaki; mulai dari kulit hingga tulang. Prinsipnya semua organ tubuh manusia bisa terserang kanker, seperti kanker otak, kanker mata, kanker hidung, kanker mulut, kanker leher, kanker paru, kanker usus, kanker rahim, kanker tulang, kanker kulit, kanker ginjal, kanker kelenjar getah bening dan lainnya. Sedangkan Masing-masing kanker mempunyai sifat yang khusus, sehingga gejala maupun pengobatannya juga ada kekhususan masing-masing.
Setiap jenis kanker mempunya gejala atau tanda bahaya yang biasa kita kenal dengan singkatan kata "WASPADA"

Apa yang dimaksud dengan WASPADA?
WASPADA adalah singkatan kata dari tujuh tanda bahaya kanker pada umumnya, yang berupa singkatan dari huruf depan ke tujuh gejala tersebut dan digabung menjadi kata WASPADA.

Diberi singkatan menjadi kata WASPADA, supaya memudahkan mengingatnya.

WASPADA terdiri dari:

W : Waktu buang air besar atau kecil ada perubahan kebiasaan atau gangguan.
A : Alat pencernaan terganggu dan susah menelan
S : Suara serak dan batuk yang tidak sembuh-sembuh
P : Payudara. atau tempat lain ada benjolan atau tumor.
A : Andeng-andeng yang berubah sifatnya, menjadi makin besar dan gatal.
D : Darah atau lendir yang abnormal keluar dari tubuh.
A : Adanya koreng atau borok yang tidak mau sembuh-sembuh.
  • Waktu buang air besar atau kecil ada perubahan kebiasaan atau gangguan
Organ tubuh yang paling berhubungan dengan buang air besar adalah saluran pencernaan khususnya usus halus, usus besar dan dubur.

Seperti kita ketahui, usus adalah organ yang berongga seperti pipa yang mempunyai dinding usus dengan lubang didalamnya untuk lewatnya makanan. Tumor atau kanker usus umumnya berasal dari dinding usus bagian dalam, dimana waktu tumor masih berguguran kecil, tidak akan memberikan gejala. Makin lama tumor tersebut makin tumbuh ke arah dalam dan menyebabkan sumbatan lubang usus, sehingga menyebabkan penderita tidak dapat buang air besar, perut kembung, bahkan muntah.

Bila letaknya didekat dubur atau bagian usus yang disebut Rectum, maka tumor akan tumbuh dan menutup lubang rectum, sehingga diameter lubangnya menyempit, akibatnya tinja yang dikeluarkan ukurannya menjadi kecil-kecil seperti kotoran kambing, atau bisa juga berak keluarnya hanya darah bercampur lendir seperti gejala dysentri. Bisa juga buang air besar keluar darah seperti wasir.

Buang air kecil normal berwarna bening atau kekuningan. Bila air seni berwarna kemerahan atau merah seperti darah, harus diwaspadai adanya kanker pada ginjal, kanker kandung kencing atau kanker prostat.
  • Alat pencernaan terganggu dan susah menelan
Kanker didaerah leher dan kerongkongan dapat nenyebabkan gangguan menelan, karena kanker menyebabkan penyempitan lubang kerongkongan seperti pada kanker kelenjar gondok. Bisa juga kanker memang tumbuh pada dinding kerongkongan sehingga lubangnya nenyempit. Akibatnya makanan susah lewat, susah menelan dan terasa sakit saat menelan.

Alat pencernaan terganggu seperti mual, muntah, nafsu makan berkurang yang lebih dari dua minggu disertai penurunan perat badan, haruslah dicurigai kemungkinan adanya kanker di lambung, asas halus maupun liver.
  • Suara serak dan bentuk yang tidak sembuh-sembuh
Hal ini merupakan salah satu tanda bahaya tentang kemungkinan adanya kanker pada saluran nafas atau kanker paru-paru, khususnya bagi Para perokok yang tergolong perokok aktif dan perokok berat diatas usia 40 tahun. Bisa juga kanker pada trachea (tenggorokan atau kanker thyroid (kelenjar gondok) yang menyerang saraf suara sehingga menyebabkan suara serak.
  • Payudara atau tempat lain ada benjolan atau tumor
Benjolan atau tumor adalah bagian terbesar dari gejala kanker umumnya. Pada organ yang terletak di permukaan seperti kulit, payudara, thyroid, jaringan lunak seperti otot tungkai, rongga mulut dan lainnya, bila didapatkan benjolan yang relatif cepat membesar, harus diwaspadai adanya kanker.
  • Andeng-andeng yang berubah sifatnya menjadi makin besar dan gatal
Andeng-andeng atau tahi lalat bila tidak membesar tidak apa-apa. Tetapi bila ada pembesaran yang relatif cepat, disertai rasa gatal, mudah berdarah, warna berubah, tepinya menjadi tidak teratur, sekitarnya berwarna kemerahan, terasa sakit bila di tekan, maka haruslah curiga adanya kanker.
  • Darah dan lendir yang abnormal keluar dari tubuh
Bila ada darah di luar haid pada wanita seperti:
  • Menyimpang dari waktu haid
  • Setelah memasuki masa mati haid (menopause)
  • Setelah persetubuhan
  • Darah yang keluar dari puting susu
Merupakan tanda bahaya dan harus diperiksakan apakah kanker atau bukan.
  • Adanya koreng atau borok yang tidak mau sembuh-sembuh
Terutama pada kanker kulit, harus dicurigai bila ditemukan sebagai berikut:
  • Luka lama atau borok yang sukar sembuh, gampang berdarah, dan permu­kaannya menonjol atau dasarnya berbenjol-benjol
  • Luka.-luka lama; yang terdapat di bibir, selaput lendir mulut dan alat kelamin laki maupun perempuan.
  • Benjolan atau pertumbuhan pada permukaan kulit atau pertumbuhan kulit terutama pada orang-orang tua.
  • Adanya borok atau luka yang tidak sembuh-sembuh pada daerah tubuh yang sering terkena trauma/gesekan atau banyak terkena sinar matahari.
Tidak semua kanker mempunyai gejala seperti pada "WASPADA", ada juga yang gejalanya lain, seperti pada kanker otak dimana gejalanya berupa tekanan tinggi di dalam otak berupa muntah dan sakit kepala. Kanker darah seperti leukimia memberikan gejala lemah badan, mudah berdarah, mudah infeksi (demam), perdarahan gusi.

Banyak cara untuk deteksi dini kanker. Pada kanker leher rahim pap smear, kanker payudara dengan mammografi, kanker usus dengan colonoscopy atau pemeriksaan tinja.

Bila ada tanda-tanda yang sudah saya sebutkan itu, segeralah ke dokter, supaya cepat didiagnosis dan diketahui penyakitnya, sehingga pengobatannya dapat lebih baik.

Dari Dr. Yusuf Heriyadi SpB(K)Onk

Efektifkah mammografi cegah kanker payudara?

Pemeriksaan rutin payudara dengan mamografi ternyata kurang efektif dalam mencegah terjadinya kematian akibat kanker payudara. Hal itu terungkap dari hasil penelitian oleh tim ahli dari Norwegia.

Para ilmuwan Norwegia itu mengatakan Rabu (22/9) bahwa dalam studinya mereka mengundang sejumlah wanita berusia 50 hingga 69 tahun untuk menjalani pemeriksaan rutin dengan mamografi dan menawarkan mereka perawatan lebih baik oleh tim ahli yang membantu menurunkan angka kematian akibat kanker payudara sebesar 10 persen.

Namun, angka kematian di kalangan wanita berusia 70 tahun ke atas -- kelompok yang juga mendapatkan perawatan lebih baik tapi tidak diminta untuk menjalani pemeriksaan dengan mamografi -- turun sebesar 8 persen, yang mengindikasikan bahwa mamografi hanya memberikan sedikit manfaat.

"Terjadi penurunan angka kematian, tapi angka penurunannya lebih kecil dari yang diperkirakan," ujar Dr. Mette Kalager dari Oslo University Hospital, dalam studinya yang diterbitkan di jurnal New England Journal of Medicine.

Padahal tim peneliti memperkirakan terjadi penurunan angka kematian sebesar 30 persen melalui pemeriksaan dengan mamografi.

Berdasarkan studi tersebut, pemeriksaan dengan mamografi hanya menambah manfaat sebesar 2 persen dalam hal memangkas angka kematian akibat kanker payudara, papar Dr. Gilbert Welch dari New Hampshire's Dartmouth Medical School dalam komentarnya di jurnal tersebut.

Welch mengatakan hasil temuan terbaru ini menunjukkan bahwa untuk setiap 2.500 wanita berusia 50 yang menjalani pemeriksaan dengan mamografi, hanya satu yang akan terhindar dari kematian akibat kanker payudara dan sebanyak 1.000 orang akan diberitahu bahwa dokter melihat sesuatu yang mencurigakan.

Sekitar 500 dari wanita itu akan diminta untuk menjalani biopsi, dan sekitar 5 hingga 15 wanita akan dirawat seadanya yang tidak akan merepotkan mereka, tulis Welch.

Hasil studi terbaru itu jelas semakin menambah seru perdebatan mengenai efektivitas pemeriksaan rutin dengan mamografi, yang disarankan sebagai satu cara untuk mendeteksi kanker yang membunuh 519.000 orang setiap tahun di seluruh dunia.

Pada November lalu, panduan baru dari U.S. Preventive Services Task Force -- yang menyarankan tes mamografi dilakukan setiap dua tahun sekali ketimbang setiap tahun untuk wanita berusia 50 hingga 74 -- telah memicu kritik dari banyak ahli kanker payudara, kelompok advokasi dan pemangku kebijakan AS.

Hasil penelitian tim dari Norwegia itu mengundang pertanyaan dari Dr. Daniel Kopans dari Massachusetts General Hospital.

"Artikel ini menyebutkan bahwa sebagian besar dari penurunan angka kematian kanker payudara itu karena perbaikan dalam hal terapi dengan sedikit kontribusi dari pemeriksaan," ujarnya.

"Padahal, ada sejumlah studi yang sudah diterbitkan dari Swedia dan Belanda yang menunjukkan bahwa sebagian besar penurunan angka kematian itu benar-benar karena pemeriksaan dan bukan karena terapi," tutur Kopans.

Kalager dan Welch berkilah bahwa sejumlah studi itu dilakukan sebelum 1990 dan pemeriksaan mungkin kurang efektif sekarang sebab terapi sudah semakin bagus.

Kalager bersama timnya mengkaji data dari 40.075 wanita, dengan mengamati angka penurunan kematian akibat kanker payudara seiring dengan pelaksanaan program pemeriksaan mamografi digalakkan di seluruh Norwegia mulai 1996. Langkah itu juga seiring dengan mulai meningkatnya terapi atau perawatan terhadap pasien kanker payudara.

Salah satu penulis studi, Marvin Zelen dari Harvard, mengatakan bahwa para wanita yang menjalani studi itu memiliki akses terhadap tim multidisiplin yang dapat mengendalikan penyakit mereka. Hal itu membuat lebih sulit untuk mengetahui elemen mana -- mamografi atau terapi -- yang berperan lebih besar dalam mengikis angka kematian kanker payudara sebesar 10 persen.

Kopans mengatakan rata-rata studi lanjutan yang hanya 2,2 tahun itu terlalu singkat sehingga dipertimbangkan untuk melakukan studi lanjutan di masa mendatang.

Kopans juga menyebutkan bahwa para wanita yang terdaftar dalam studi Kalager itu menjalani pemeriksaan mamografi setiap dua tahun sekali, sementara para wanita di AS didorong untuk memeriksakan payudara mereka setiap tahun, sehingga tak memberikan kesempatan bagi kanker untuk tumbuh di sela-sela pelaksanaan pemeriksaan.

Menurut Kopans, perdebatan seputar mamografi itu membingungkan para wanita maupun dokter. Untuk itu, ia menyarankan wanita untuk tetap memeriksakan payudara mereka mulai usia 40 tahun, karena langkah ini akan dapat menyelamatkan puluhan ribu nyawa setiap tahun.

[Sumber: HealthyLife.Com]

Kanker payudara juga dapat menyerang saat kehamilan!

Kehamilan dan laktasi merupakan dua hal yang tidak terpisahkan dari diri seorang perempuan. Kehamilan sendiri seringkali dipandang sebagai masa di mana seorang perempuan menganggap dirinya sebagai calon ibu dan akan sangat menjaga kesehatannya sehingga kemungkinan bahwa ia terkena kanker sangatlah jauh dari pemikirannya.

Meskipun jarang, diagnosis kanker payudara merupakan penyebab kematian akibat kanker nomor dua setelah kanker serviks sebagai kanker yang paling sering didapatkan semasa kehamilan dan juga pada masa persalinan.

Dalam beberapa studi, perempuan yang terpapar dengan kadar estrogen yang tinggi dalam kurun waktu yang lama diperkirakan mempunyai risiko lebih tinggi untuk terkena kanker payudara. Ini termasuk untuk perempuan yang mempunyai masa menstruasi lebih lama, permulaan menstruasi sebelum usia 12 atau pada mereka yang baru mengalami menopause setelah usia 55 tahun.

Beberapa studi menyatakan laktasi yang dilakukan hingga kurun waktu 1½ hingga 2 tahun bisa mengurangi risiko kanker payudara atau pada mereka yang mempunyai anak banyak sehingga sering menyusui anaknya.

Perubahan hormonal dan imunologi yang terjadi pada saat kehamilan sering diasumsikan sebagai salah satu penyebab pertumbuhan sel kanker payudara, akan tetapi hal ini masih menjadi kontroversi karena masih banyak studi yang belum berhasil membuktikannya. Hal ini disebabkan tidak adanya perbedaan insiden dari kanker payudara pada perempuan hamil dan tidak hamil pada populasi umum.

Alasan mengapa kehamilan dan laktasi berpengaruh terhadap risiko kanker payudara? Mungkin disebabkan karena kurangnya siklus menstruasi selama hidupnya, tetapi ada sebuah informasi baru yang menyatakan bahwa hal ini juga berkaitan dengan adanya kadar hormon lain yaitu prolaktin.

Sebuah studi pada 2008 menunjukkan bahwa perempuan yang menyusui bayinya hingga satu tahun bahkan lebih mempunyai kadar prolaktin yang rendah hingga seumur hidupnya meskipun mereka tak lagi menyusui. Hal ini juga diperkirakan berpengaruh terhadap risiko kanker payudara, akan tetapi hal ini masih harus ditelusuri lebih lanjut.


KOMPAS | Selasa, 23 Maret 2010 | 07:26 WIB | Oleh dr. Intan Airlina Febiliawanti

Sekali lagi, SADARI (Periksa Payudara Sendiri)

Demi kesehatan (payudara) anda, biasakanlah untuk melakukan SADARI (Periksa Payudara Sendiri) atau biasa juga disebut dengan "Sarari". Hal ini sangat dianjurkan mengingat penyakit kanker payudara yang banyak menyerang kaum wanita ini sesungguhnya dapat diobati dengan sempurna bila terdeteksi lebih dini. Cara SADARI itu sendiri sangat mudah dan dapat dilakukan sendiri di rumah. Bagi yang belum terbiasa, berikut adalah panduan bagaimana cara melakukannya:

  1. Berdiri di depan cermin, perhatikan payudara. Dalam keadaan normal, ukuran payudara kiri dan kanan sedikit berbeda. Perhatikan perubahan perbedaan ukuran antara payudara kiri dan kanan dan perubahan pada puting susu (misalnya tertarik ke dalam) atau keluarnya cairan dari puting susu. Perhatikan apakah kulit pada puting susu berkerut.
  2. Masih berdiri di depan cermin, kedua telapak tangan diletakkan di belakang kepala dan kedua tangan ditarik ke belakang. Dengan posisi seperti ini maka akan lebih mudah untuk menemukan perubahan kecil akibat kanker. Perhatikan perubahan bentuk dan kontur payudara, terutama pada payudara bagian bawah.
  3. Kedua tangan di letakkan di pinggang dan badan agak condong ke arah cermin, tekan bahu dan sikut ke arah depan. Perhatikan perubahan ukuran dan kontur payudara.
  4. Angkat lengan kiri. Dengan menggunakan 3 atau 4 jari tangan kanan, telusuri payudara kiri. Gerakkan jari-jari tangan secara memutar (membentuk lingkaran kecil) di sekeliling payudara, mulai dari tepi luar payudara lalu bergerak ke arah dalam sampai ke puting susu. Tekan secara perlahan, rasakan setiap benjolan atau massa di bawah kulit.
    Lakukan hal yang sama terhadap payudara kanan dengan cara mengangkat lengan kanan dan memeriksanya dengan tangan kiri.
    Perhatikan juga daerah antara kedua payudara dan ketiak.
  5. Tekan puting susu secara perlahan dan perhatikan apakah keluar cairan dari puting susu.
    Lakukan hal ini secara bergantian pad
    a payudara kiri dan kanan.
  6. Berbaring terlentang dengan bantal yang diletakkan di bawah bahu kiri dan lengan kiri ditarik ke atas. Telusuri payudara kiri dengan menggunakan jari-jari tangan kanan. Dengan posisi seperti ini, payudara akan mendatar dan memudahkan pemeriksaan.
    Lakukan hal yang sama terhadap payudara kanan dengan meletakkan bantal di bawah bahu kanan dan mengangkat lengan kanan, dan penelusuran payudara dilakukan oleh jari-jari tangan kiri.
Pemeriksaan no. 4 dan 5 akan lebih mudah dilakukan ketika mandi karena dalam keadaan basah tangan lebih mudah digerakkan dan kulit lebih licin.



Sumber: Penunjang Medis

Kekeliruan Negatif

"Kekeliruan Negatif" adalah istilah yang dipakai dalam bidang mamografi jika hasil mamogram seorang wanita menampakkan bahwa benjolan di payudaranya bukan kanker walau pada kenyataannya itu memang kanker. Statistik menunjukkan bahwa sepuluh sampai tigapuluh dari seratus wanita yang menjalani mamografi mengalami kekeliruan negatif. 

Wanita-wanita yang tidak beruntung ini dengan perasaan lega pulang ke rumah bersama kabar bahwa mereka tidak perlu kuatir apa-apa. Namun kemudian, saat kanker tadi memiliki kesempatan untuk bertumbuh, akan menjadi nyata besarnya kekuatiran yang seharusnya mereka alami.

Lima bulan sebelum nyeri di punggung itu saya perhatikan, saya menjumpai, selama pemeriksaan sendiri, sebuah benjolan kecil di payudara kiri saya. Riwayat keluarga saya terhadap kanker payudara mengatakan bahwa ini jangan diabaikan. Nenek saya meninggal karena kanker payudara. Ibu saya, meskipun tidak pernah menderita kanker, telah mengalami banyak kista yang hilang timbul di payudaranya. Takut akan nasib yang menimpa ibunya, dia menjalani mastektomi ganda saat usianya tigapuluhan. Tak perlu diberitahu, saya segera memanggil dokter keluarga kami!

Mamogram yang saya dapat di klinik setempat menunjukkan bahwa sebenarnya ada dua benjolan kecil dan mereka berlabel nonkanker, jinak. Sebuah tes tambahan, ultrasonografi, juga menunjukkan bahwa mereka negatif.

"Tidak, tidak ada kanker di sini," keputusan dokter setelah pemeriksaan ultrasonografi itu."Bagaimana anda bisa begitu yakin?" saya berkeras. "Jika suatu benjolan adalah kanker, itu akan terlihat di layar sebagai massa yang solid. Benjolan-benjolan ini, mereka penuh cairan. Ini hanyalah kista-kista yang tidak perlu anda kuatirkan."

Tapi hanya lima bulan berikutnya kanker payudara yang agresif itu telah memperkenalkan dirinya seiring dengan bertambahnya rasa nyeri di punggung saya. Pada akhirnya ketika saya dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan di rumah sakit, kanker yang awalnya berupa dua benjolan kecil di payudara kiri telah menyebar ke seluruh tubuh saya. Beberapa tumor ditemukan menutupi tengkorak, bahu, iga, tulang panggul, serta ke atas dan ke bawah sepanjang tulang belakang saya -- selain tumor besar yang telah berkembang dari kedua benjolan kecil yang disebut "nonkanker" pada payudara saya. Begitu agresifnya tumor ini menyerang tubuh saya, sehingga menyebabkan patah tulang akibat stres (fraktur stres) di dalam tulang punggung saya. Punggung saya benar-benar patah!

Pada hari setelah Dr. Schubert yang secara dramatis telah masuk dalam kehidupan saya dengan berita yang menghancurkan tentang kanker payudara dan perlunya saya dioperasi, Dave dan saya mendesak bahwa kami punya waktu untuk bicara dengannya sebelum membuat keputusan ini. Dia meminta maaf karena telah begitu mengagetkan, memastikan kami bahwa dia hanya tertarik pada apa yang terbaik bagi saya. Di dalam benaknya saya memerlukan pembedahan, segera! Jadwalnya sangat padat. Dia benar-benar tidak ingin membuang waktu yang berharga.

Ketika kami bercakap-cakap dengannya sehubungan dengan pendapat saya, dia mengatakan sesuatu yang setiap wanita perlu ketahui. Saya harap ada seseorang yang seharusnya mengatakannya setahun sebelumnya ketika saya menemukan benjolan-benjolan itu pertama kalinya. "Jangan percayai hasil mamogram atau ultrasonografi," katanya. "Kalau anda memiliki benjolan, selalu mintalah dibiopsi!"

Pembedahan, Radiasi, Kemoterapi
Saya menjalani mastektomi. Persisnya 17:30 sore itu, payudara kiri saya diangkat, bersama dengan sebuah tumor di bawahnya yang ukurannya sebesar payudara saya secara keseluruhan. Di saat yang sama sebuah kateter hickman, sebatang pipa limabelas inci diarahkan langsung ke jantung saya, diimplantasikan dalam dada saya, yang akan dipakai untuk memberikan pengobatan kemoterapi.

Keesokan harinya, masih terasa pusing dan sakit akibat pembedahan, saya diberi kantong-kantong obat pertama saya yang disediakan untuk membunuh sel-sel kanker yang telah bercokol di sisa tubuh saya.

Gambarannya tidaklah begitu cerah. Kami bukan warga perkemahan yang berbahagia seperti kaum Hippies umumnya. Hidup telah runtuh di bawah lutut kami, meninggalkan kami terlantar dan terluka. Kami merasa tidak tertolong, putus asa dan hampa. Kanker telah menimpa kami seperti kabut, membuat kami berjalan tertatih-tatih menggapai masa depan. Apa yang kami lakukan sekarang? Berapa lama yang kami miliki? Bagaimana kami menceritakannya kepada anak-anak? Bagaimana seharusnya kami hidup?

Waktu pertama kali menerima kabar bahwa saya menderita kanker, sebuah pertanyaan yang membara adalah apakah ada orang lain di luar sana dengan penyakit seprogresif penyakit saya yang telah bertahan hidup. Jika tak ada seorangpun, saya bahkan tidak yakin ingin mencobanya.

Sebaliknya, saya bukanlah seorang yang dapat begitu saja melemparkan handuk dan bermain dengan korban yang tidak berdaya. Hal demikian bertentangan dengan sifat saya. Saya adalah seorang pejuang. Jika ada jalan apapun bagi saya untuk mengalahkan kanker, saya berkeputusan untuk menemukannya.

Setelah dipulangkan dari rumah sakit saya pergi ke perpustakaan umum dan menenggelamkan diri saya dalam buku-buku tentang kanker. Karena ada 497 buku saya membatasi penelitian pada penyakit saya sendiri -- kanker payudara. Banyak buku dengan berbagai komentar yang dipenuhi statistik sehingga hanya seorang dokter yang dapat atau ingin memahaminya -- buku-buku yang dengan dingin menyanyikan lagu penguburan saya. Saya mengembalikan mereka ke rak agar lebih berdebu lagi. Namun pada beberapa buku saya jumpai kisah-kisah dari berbagai individu yang telah mengalahkan setiap bentuk kanker yang ada. Beberapa orang telah menemukan jalannya kembali menuju kehidupan dari ranjang kematian mereka. Dengan semangat mereka dan ketetapan hati saya untuk menjadi seorang pemenang, saya memutuskan untuk memerangi musuh saya dengan setiap bagian diri saya.

Selama satu setengah tahun berikutnya saya secara agresif mengarahkan diri pada semua yang dunia medis tawarkan dalam peperangan melawan kanker. Sepasang tumor yang lebih besar dekat tulang punggung saya diberi radiasi selama dua minggu. Ini bersama-sama dengan kemoterapi, lebih dari yang dapat ditanggung tubuh saya dan membawa saya masuk rumah sakit dengan pnemonia (rang paru-paru) yang berat. Tubuh saya secara ajaib dapat mengatasi rintangan itu, dan akhirnya saya kembali ke jalur kemoterapi. Sebenarnya, saya mentoleransi kemo dengan sangat baik. Seperti yang telah diperingatkan, rambut saya rontok. Saya mengalami kebotakan selama delapanbelas bulan. Dan kemo membuat saya sangat letih. Tapi efek positifnya terhadap kanker melebihi semua efek yang negatif.

Untuk saat itu hitungan kanker saya terus menurun menuju remisi. Semuanya terlihat memberi harapan. Saya sangat bersyukur atas obat-obatan yang saya masukkan ke dalam sistem tubuh saya untuk meracuni kanker itu, memandang mereka sebagai teman yang dapat dipercaya. Tetapi kira-kira sepuluh bulan pengobatan, tepat seperti yang diprediksikan onkologis saya, kemo mulai berkurang efektivitasnya. Kanker saya bertumbuh menjadi kebal (resisten). Suatu campuran obat-obatan baru dicobakan. Untuk ini kami menambahkan terapi hormonal. Tetapi setiap kali dilakukan penghitungan, tampak jelas bahwa penyakit itu tetap bercokol dan saya mulai kalah dalam perang.

"Ada pertolongan terakhir yang mungkin ingin anda pertimbangkan," ujar onkologis saya. "Transplantasi sumsum tulang. Jika anda mau, saya akan menghubungi kedua rumah sakit yang melakukannya dan melihat apakah anda adalah calon yang baik."

Transplantasi Sumsum Tulang
Satu tahun lebih satu bulan sesudah saya didignosis pasti menderita kanker, dan sesudah tiga penundaan yang membuat frustrasi, saya diterima dalam program transplantasi sumsum tulang di sebuah rumah sakit besar Midwestern. Direncanakan untuk prosedur "otolog." Dengan kata lain, saya akan menjadi donor bagi diri saya sendiri. Pengobatan ini meliputi empat langkah. Yang pertama adalah mengumpulkan sel-sel cikal-bakal (stem) dari darah saya untuk disimpan dan nantinya akan disuntikkan kembali ke dalam tubuh saya. Langkah kedua ialah menampatkan saya di suatu kamar isolasi dan memborbardir kanker saya dengan dosis kemoterapi yang sangat besar, beberapa kali lebih kuat daripada yang tubuh saya dapat toleransi dengan baik dibanding pada keadaan lainnya. Tujuannya untuk membunuh semua kanker dengan satu sapuan yang dahsyat. Langkah ketiga ialah penyuntikan kembali sel-sel stem cadangan tadi, dengan harapan mereka akan menjadi akar dan membangun kembali sumsum tulang saya yang telah dihancurkan bersama kanker dalam langkah kedua. Menjaga saya tetap hidup sementara sel-sel stem saya dikembang-biakkan di laboratorium adalah tujuan terpenting dari langkah keempat.

Maka, beberapa jam sehari semala dua minggu, saya dihubungkan ke sebuah mesin yang mengumpulkan sel-sel stem dari darah saya. Setelah proses itu selesai saya dikirim ke kamar isolasi untuk memulai langkah kedua sampai keempat. Selama tujuh hari pertama sistem tubuh saya dibuat jenuh dengan kemoterapi. Saya sedang dibunuh di bagian dalam. Obat-obat sel darah saya yang baik dan sistem kekebalan saya. Segala macam kuman atau infeksi yang masuk ke kamar merupakan ancaman yang mematikan.

Selama musim panas, suami, anak-anak, dan ibu saya telah pindah ke kota tempat rumah sakit itu berada dan diperbolehkan untuk berkunjung ke dalam kamar, tetapi mereka harus memakai pembungkus sepatu, jubah, sarung tangan karet, dan masker wajah. Bahkan saya tidak dapat menerima bunga segar di dalam kamar, takut bahwa mereka mungkin membawa beberapa macam bakteri.

Pada awal minggu kedua saya di kamar isolasi, kumpulan sel stem yang telah diambil sebelumnya dimasukkan kembali ke tubuh saya. Proses menunggu agar mereka membangun lagi sumsum tulang yang kini hancur dimulai. Sepanjang limapuluh dua hari di kamar itu, sebagian besarnya saya tidak ingat. Hampir di sepanjang bulan Juli suami saya harus mengurusi saya. Aliran obat yang terus-menerus untuk membantu tubuh saya mengatasi efek rasa mual akibat penjenuhan dengan obat kemo dan untuk menjaga terhadap infeksi menyebabkan otak saya beku. Saya bahkan tidak ingat pembedahan darurat di pertengahan bulan ketika radang paru pnemonia menutup paru kanan saya dan ginjal saya mulai gagal bekerja. Tidak terekam sedikitpun di kepala saya, saat mereka mendorong saya kembali ke kamar operasi, bahwa saya sedang di tepi antara hidup dan mati.

Suami saya dan saya memperhatikan suasana emosi pada malam itu. Anak-anak perlu diberitahu bahwa saya sedang dalam kondisi yang sangat serius dan mungkin tak lama lagi mati. Dia berbicaram dengan lembut kepada mereka, menggenggam tangan mereka, lalu melingkarkan lengannya sekeliling mereka dalam isakan tangis dan air mata yang berderai. Itu adalah saat yang sangat sukar bagi mereka semua. Dia mengumpulkan teman-temannya kembali di rumah, meminta mereka untuk berdoa. Ayah saya diberitahu dan mulai melakukan persiapan untuk datang. Bersama-sama, Dave dan anak kami duduk dengan ibu saya di ruang tunggu kamar bedah, menyiapkan diri mereka untuk hal yang terburuk. Air mata berderai, doa-doa dinaikkan, bahu-bahu tersandar. Sebuah catatan yang Dave buat di buku harian sakunya malam itu adalah "kematian dapat diramalkan."

Jam-jam berlalu sementara mereka menunggu untuk melihat apa yang akan terjadi dengan saya malam itu. Akhirnya, pada pagi hari, ahli bedah memasuki ruang tunggu dan berbicara kepada Dave. "Paru-parunya sendiri kelihatan baik," katanya. "Kami mengambil sebagian kecil darinya agar kami dapat melihat apa yang sedang terjadi di sana. Lebih baik pulang dan tidurlah sekarang."

Seorang penjudi sebaiknya tidak memasang taruhan uang terhadap kesembuhan saya. Sebagian besar pasien yang meninggal selama trnasplantasi sumsum tulang yang demikian disebabkan oleh komplikasi akibat pnemonia. Sepertinya saya akan bergabung dengan mereka.

Saya diperhatikan dengan teliti. Setiap pagi seorang teknisi medis akan mendorong sebuah mesin sinar-X portabel untuk mengambil gambar baru dari paru-paru saya. Antara hal itu dan kenyataan bahwa ahli bedah tadi telah memisahkan iga saya agar dapat melihat dengan baik, nyeri terasa walaupun hanya sekedar berpikir untuk menggerakkan tangan saya, jauh berkurang bila berbaring pada sisi saya.

Biopsi mengungkapkan tidak ada yang aneh, paling tidak sejauh membuat perubahan atas obat-obat yang diberikan kepada saya. Tidak pernah jelas kenapa campuran antibiotik yang telah saya minum sejak awal prosedur trnasplantasi tidak melindungi saya dari pneumonia. Tidak ada yang dilakukan kecuali terus memompa saya sampai penuh dengan obat yang sama dan mengharapkan yang terbaik.

Sejujurnya oleh kasih karunia Tuhan saya mulai membaik. Saya beranggapan itu berasal dari doa teman-teman dan keluarga yang membela kasus saya di hadapan Sang Pencipta. Staf rumah sakit sungguh tidak berani menduga saya bisa sembuh. Dalam buku ini nanti akan saya ceritakan lebih lagi tentang dahsyatnya kuasa doa. Untuk sekarang ini saya ingin anda tahu bahwa di bawah semua yang tertulis di halaman-halaman ini ada keyakinan yang sangat kuat bahwa Tuhan mempunyai otoritas menyeluruh atas kehidupan setiap orang.

Pada akhir Juli sampai awal Agustus, saya mulai mengumpulkan kembali sebagian kekuatan saya. Semua hal mulai kelihatan menunjukkan harapan. Bagaimana pun kemungkinan saya akan bertahan hidup dari pengobatan ini. Saya berharap semua kanker di tubuh saya mati. Saya belum makan apapun selama berminggu-minggu, saya mendapat makanan melalui selang intervena. Setiap harinya makanan diberikan kepada saya. Lambat laun saya mulai mampu menelannya.

Batuk-batuk dan muntah-muntah, yang telah mengisi sebagian besar jam-jam keberadaan saya dalam minggu-minggu dan bulan-bulan ini, menyebabkan mata saya bercak hitam. Mata kiri saya merah semuanya sehingga tidak ada bagian putih yang terlihat. Itu benar-benar fiksi ilmiah! Memang tidak begitu sakit, tetapi pengunjung akan ngeri saat pertama mereka melihat saya. Saya juga menderita ruam yang melingkupi saya dari kepala ke jari kaki berwarna dan ungu cerah. Kulit saya terbakar dari dalam ke luar, akhirnya berubah menjadi warna coklat. Lapisan luar mulut dan saluran pencernaan saya melepuh dan rontok. Benar-benar pemandangan seram yang harus saya alami! Pipa-pipa dimasukkan dan dikeluarkan dari "kepala saya yang botak, mata berdarah, tertutup tubuh yang membusuk dan bercoreng. Yah, di samping semua manifestasi luar ini sejumlah besar kemoterapi yang diberikan telah mengambil korban yang amat besar di bagian dalam. Kerusakan terjadi pada semua organ vital saya.

Suatu hari, tibalah waktunya untuk melakukan biopsi sumsum tulang yang lain, prosedur pemasukkan jarum panjang jauh ke dalam tulang punggung saya untuk menyedot sumsum tulang terasa nyeri. Prosedur ini telah dilakukan terhadap saya sebelum saya meninggalkan rumah untuk menjalani transplantasi. Pada waktu itu sel-sel kanker ditemukan dalam sumsum saya. Pemeriksaan yang dilakukan sekarang akan mengatakan apakah transplantasi tersebut sukses -- apakah perjalanan melalui neraka ini telah berhasil.

Hari-hari yang berlalu di antara biopsi dan penerimaan hasil berjalan begitu lambat. Tidakkah bagian laboratorium tahu betapa pentingnya berita ini bagi kami? Akhirnya kata itu ke luar. Mereka bukannya lambat, melainkan berhati-hati. Ada beberapa hal dalam biopsi yang perlu mereka perhatikan lebih teliti.

"Saya minta maaf," kata dokter itu, sambil memegang tangan saya, matanya dipenuhi airmata. "Masih ada banyak kanker di dalam sumsum tulang anda." (Belakangan seorang teman diberitahu oleh dokter-dokter saya, "Anne Frahm adalah satu dari orang-orang yang tidak beruntung yang prosedurnya tidak berhasil. Ini tidak ada harapan, sungguh.")

Itu adalah pil paling keras yang harus ditelan! Kanker itu masih ada di sana. Prosedur transplantasi tidak seefektif yang diharapkan. Memang telah membunuh banyak sekali sel kanker, tapi tidak semua. Apa yang tertinggal akan berkembang biak. Kemoterapi yang lebih banyak tidak ditanyakan lagi. Menurut para dokter itu, ini hanya masalah waktu sebelum kanker tadi akhirnya memenangkan perang.

Sulit rasanya tinggal di ruangan itu beberapa minggu lagi, tidak melakukan apa-apa hanya menunggu sel-sel stem saya cukup berkembang untuk menaikkan kapasitas produksi darah pada sumsum tulang saya. Hitungan jenis sel darah putih saya naik turun antara nol dan 100 selama berhari-hari. Normalnya antara 4.000 dan 10.000. Jumlah darah saya harus sudah naik sebelum saya pergi ke "dunia nyata" yang penuh dengan kuman dan hanya dapat terlindungi oleh sel-sel darah putih.

Ibu saya mendengar bahwa ada obat eksperimentalyang sedang diuji cobakan pada beberapa pasien di bagian bangsal yang berpotensi merangsang pertumbuhan sel-sel darah putih. Ketika saya menanyakan dokter tentang ini, jawabannya membuat saya tertegun. "Pada saat penelitian ini obat itu hanya tersedia dalam jumlah terbatas," katanya. "Oleh sebab itu hanya dicadangkan bagi pasienpasien deng prognosa jangka panjang yang lebih baik dari anda. Saya mohon maaf."

Sepertinya dia telah menempatkan saya di sebuah peti mati dan mentup serta memakunya. Angin apa pun yang masih membuat saya berlayar mungkin telah meninggalkan saya saat itu jika tidak memiliki kepercayaan yang kuat bahwa saya berada di dalam tangan Tuhan dan bahwa, dalam situasi hidup apapun yang kita hadapi, selalu ada harapan. Sebuah ayat kesukaan dari Alkitab yang mengatkan keyakinan saya: "Jangan takut, sebab Aku besertamu; jangancemas, karena Akulah Tuhanmu. Aku akan menguatkan kamu dan menolongmu; Aku akan menopangmu dengan tangan kanan kebenaranKu."

Akhirnya tim dokter di ruang bangsal memutuskan agar saya dipulangkan. Tidak, jumlah darah putih saya belum mencapai tingkat yang aman untuk melindungi saya terhadap kuman-kuman dalam kehidupan, tetapi tidak ada yang mengatakan kapan itu akan dilakukan. Saya bisa layu di rumah sakit selama berminggu-minggu. Di samping itu, mereka membutuhkan kamar. Daftar panjang dari orang-orang yang ingin menjalani prosedur transplantasi; bagi yang lain mungkin ini akan lebih berhasil. Tibalah waktu saya untuk pergi.

Pagi hari sebelum saya meninggalkan rumah sakit, dokter-dokter masuk ke kamar dan berbicara sedikit. Isinya adalah sejumlah peringatan yang perlu saya ingat-ingat untuk melindungi diri saya dari kuman-kuman, dicampur dengan ide-ide menghibur tentang betapa baiknya nanti bagi saya untuk kembali ke rumah dan menghidupi kehidupan saya lagi. Pada dasarnya yang mereka sampaikan pada saya adalah pergi dan nikmati hidup sepenuhnya. Saya tahu bahwa dibalik kata-kata mereka ada prognosa yang tak terucap bahwa waktu saya singkat. "Makan, minum, dan bersukarialah," mereka katakan, "Engkau akan segera mati."

Tapi seperti yang tadi saya katakan, selalu ada harapan! Dokter-dokter mengatakan saya sebagai seorang yang "mati," tapi saya belum siap untuk meninggalkan kehidupan ini. Saya berada dalam perjuangan ini untuk mencapai akhir! Saya tidak akan percaya perjuangan ini selesai sampai saya bertemu Pencipta saya.

Sumber: Melawan Kanker

Tes sederhana untuk kanker payudara

Sekarang ini, mamografi merupakan cara yang lazim digunakan untuk memeriksa kanker payudara. Namun, ilmuwan telah mengembangkan tes jarum sederhana untuk digunakan dalam pemeriksaan kanker payudara ini. Tes ini dapat membantu wanita yang sangat berisiko mengalami penyakit ini untuk memastikan apakah dia harus menggunakan obat pencegahan atau menjalani operasi pencegahan.

Tim dari University of Kansas Medical Center melakukan pemeriksaan terhadap 480 wanita yang dianggap berisiko mempunyai kanker payudara, karena faktor riwayat keluarga maupun karena biopsi telah memperlihatkan adanya sel-sel kanker atau prakanker. Masing-masing wanita telah menjalani antara delapan hingga sepuluh kali prosedur yang disebut aspirasi jarum halus. Jarum ini mengambil sedikit sel dari sekitar puting susu.


Prosedur ini hampir tidak menimbulkan rasa sakit. Ahli patologi mempelajari sel-sel ini dan mengelompokkannya sebagai sel normal atau mulai menggumpal dan terlibat sebagai prakanker. Peneliti Profesor Bruce Kimler mengatakan, tes ini sangat ampuh memprediksi siapa yang mempunyai kanker payudara dalam empat tahun lagi. Secara keseluruhan, 102 wanita mempunyai sel yang kelihatannya prakanker. Di antaranya, 17 mempunyai kanker payudara. Hanya tiga wanita lain yang sel-selnya kelihatannya relatif normal akhirnya menderita kanker.

Mirip dengan pap smear serviks
Profesor Kimler mengatakan, tes ini mirip dengan Pap smear, yang digunakan untuk mendeteksi tanda-tanda awal kanker serviks (mulut rahim). Dia mengatakan, “Kami tidak menjual alat ini sebagai Pap smear berikutnya. Tetapi kami menganggapnya sebagai alat yang sangat berguna dalam dunia uji coba riset.”

Delyth Morgan, direktur lembaga sosial Breakthrough Breast Cancer, mengatakan bahwa riset ini menarik – tetapi diperlukan lebih banyak upaya untuk mempelajari kegunaannya. “Hanya antara 5% dan 10% kanker payudara terjadi akibat faktor keturunan. Keputusan yang dihadapi wanita yang mempunyai risiko tinggi kanker payudara ini sangat sulit dan bersifat pribadi. Kita harus memastikan bahwa mereka mendapatkan sebanyak mungkin informasi sehingga keputusan ini didasarkan pada informasi yang memadai.”

Morgan mengatakan, setelah diidentifikasi dua gen utama dalam dasawarsa lalu (BRCA1 dan BRCA2), pemeriksaan genetika sekarang dapat merupakan petunjuk apakah seorang wanita berisiko tinggi mengalami kanker payudara. Hasil positif untuk kedua gen BRCA ini berarti 80% berisiko menderita kanker payudara dalam hidupnya. Kebanyakan risiko ini akan muncul kemudian hari dalam hidupnya. Para ilmuwan tidak sanggup menyebutkan dengan pasti kapan seorang wanita akan mendapatkan kanker payudara ini. Oleh karena itu, seorang wanita yang memperoleh hasil tes positif pada usia 40-an karena kedua mutasi ini dengan mudah akan melewatkan dua puluh tahun lagi tanpa mengalami masalah.

Ini dapat mempengaruhi apakah seorang wanita yang usianya lebih muda memilih salah satu atau kedua payudaranya diangkat untuk mencegah penyakit ini, atau menggunakan obat seperti Tamoxifen yang mungkin saja mempunyai efek samping yang sangat besar. Tim Profesor Kimler menggunakan metodenya ini untuk memilih wanita yang dilibatkan dalam uji coba klinis terhadap obat kanker payudara yang disebut DFMO. Obat ini dirancang untuk menghentikan perkembangbiakan sel-sel yang tidak terkendalikan yang menjadi awal munculnya kanker.

Sekarang ini, Tamoxifen adalah satu-satunya obat yang terbukti dapat mencegah kanker payudara. Seorang juru bicara Cancer Research Campaign mengatakan, studi lebih lanjut diperlukan. “Kami khawatir, tes ini dapat berarti bahwa beberapa wanita terlanjur harus menjalani mastektomi (operasi pengangkatan payudara), padahal sebenarnya tidak perlu!”

Sumber: kesrepro.info


Deteksi Dini Kanker Payudara

Payudara terdiri dari 3 unsur yaitu kelenjar pembuatan air susu. Saluran kelenjar dan jaringan penunjang payudara yang mengikat kelenjar-kelejar menjadi satu kesatuan. Keseluruhan payudara dibungkus oleh kulit payudara. Saluran kelenjar akan bermuara pada putting susu yang berada ditengah daerah kulit yang berwarna lebih gelap (areola). Kanker payudara adalah keganasan yang berasal dari kelenjar, saluran kelenjar dan jaringan penunjang payudara tidak termasuk kulit payudara.

Kanker payudara dapat menimbulkan gejala di antaranya seperti tersebut dibawah ini:
  • Adanya benjolan di payudara.
  • Keluar cairan yang tidak normal dari putting susu, cairan dapat berupa nanah, darah, cairan encer atau keluar air susu pada ibu yang tidak hamil atau tidak sedang menyusui.
  • Perubahan bentuk dan besarnya payudara.
  • Kulit, putting susu dan areola melekuk kedalam atau berkerut.
Faktor Resiko
Penyebab yang pasti dari kanker payudara belum diketahui, tapi ada beberapa faktor resiko untuk terjadinya kanker payudara yaitu:
  1. Mendapat haid pertama pada umur kurang dari 10 th.
  2. Mengalami mati haid setelah umur 50 th.
  3. Tidak menikah.
  4. Tidak pernah melahirkan anak.
  5. Mehirkan anak sesudah umur 35 tahun.
  6. Tidak pernah menyusui.
  7. Pernah mengalami operasi payudara yang disebabkan oleh kelainan jinak atau tumor ganas payudara.
  8. Diantara anggota keluarga ada yang menderita kanker.
Deteksi Dini Kanker Payudara
Kanker payudara pada tahap awal tidak menimbulkan gejala apapun, namun bersamaan dengan berkembangnya penyakit akan timbul gejala yang menyebabkan perubahan pada payudara. Untuk itu dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan secara berkala.

Pemeriksaan dapat berupa:
  • Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI): Setiap wanita dianjurkan untuk melakukan SADARI secara teratur sebulan sekali setelah selesai haid, dan bagi yang telah mati haid (menopause) hendaknya dilakukan pada tanggal tertentu yang mudah diingat dari setiap bulannya.
  • Pemeriksaan Payudara oleh Tenaga Medis (Dokter atau Bidan): Dengan pemeriksaan yang saksama sering dapat diduga suatu benjolan di payudara merupakan tumor jinak atau ganas.
  • Mammogram: Merupakan pemeriksaan radiology menggunakan sinar X untuk pemeriksaan payudara. Gambaran diambil dari arah samping dan atas untuk masing-masing payudara. Adanya gambaran mikro klasifikasi mungkin merupakan tanda dini.
Mengapa banyak wanita tidak melakukan pemeriksaan mamografi?
Banyak wanita yang belum mengetahui apa manfaat dari pemeriksaan mammografi untuk dirinya. Sedangkan bila sudah mengetahuinya, banyak wanita yag merasa segan untuk memeriksakan dirinya, karena mersa malu atau takut. Dan ada juga yang beralasan sibuk serta tidak punya waktu. Tetapi tahukah anda, sebagai seorang wanita, ibu bagi buah hati anda teman pendamping suami, kesehatan yang prima memegang peranan penting untuk kelangsungan hidup anda.

Saat ini, kanker payudara merupakan jenis kanker yang banyak diderita oleh wanita di Indonesia. Karenanya kanker payudara sering disebut sebagai mimpi buruk bagi kaum wanita. Tetapi sebenarnya hal itu tidak perlu terjadinya, apabila kita memberikan perhatian yang cukup terhadap kesehatan diri kita. Dengan deteksi dan diagnosa dini serta penanganan segera, maka kanker payudara bukan lagi suatu vonis kematian. Kunci untuk deteksi dini adalah melakukan pemeriksaan mammografi secara teratur terutama bagi wanita berusia 35 tahun ke atas. Wanita yang lebih muda dianjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter mereka, apakah mereka membutuhkan pemeriksaan mammografi atau tidak.

Apa itu Mammografi?
Mammografi adalah pemeriksaan radiologik khusus menngunakan sinar X dosis rendah untuk mendeteksi kanker payudara sedini mungkin, bahkan sebelum adanya perubahan yang kelihatan pada payudara ataupun benjolan yang dapat dirasakan.

Mammografi dianggap sebagai senjata yang paling efektif untuk deteksi dini kanker payudara sebagai senjata yang paling efektif untuk deteksi dini kanker payudara sebab dapat mendeteksi hampir 80%-90% dari semua kasus kanker payudara.

Unit Uji Kesehatan dan Deteksi Dini kanker Dan Instalasi Radiodiagnostik RS. Kanker DHARMAIS,
Jl. Let.Jend. S. Parman Kav. 84-86 Slipi, Jakarta Barat
Telp. 021-5681570
ext. 1007,1188,1190,1199,1149


Baca juga Tes Sederhana Kanker Payudara

Kanker Payudara, Beware!

Jenis Baru Kanker – Teruskan ini kepada semua wanita dalam hidup Anda. Para ibu, anak perempuan, saudari, tante, bude, teman, sahabat, dan orang-orang terdekat Anda lainnya.

Pada bulan Nopember (2004?), satu jenis kanker baru ditemukan. Pada seorang wanita timbul sebuah bintik merah di payudaranya, hal ini sama seperti pada ibu-ibu muda yang sedang menyusui.

Karena mammogram (foto sinar-x payudara)-nya cerah, dokter mengobatinya dengan antibiotik untuk infeksi. Setelah 2 kali pengobatan, hal itu berlangsung menjadi lebih buruk, sewhingga dokter mengirimnyaa untuk difoto x-ray lagi. Kali ini mammogram-nya menunjukkan suatu gumpalan. Dari hasil biopsi didapati suatu penumbuhan yang bersifat ganas. Chemo (terapi kimia) dimulai untuk menciutkan perkembangan gumpalan itu; lalu dilakukan pembedahan (mastectomy); kemudian terapi kimia sepenuhnya; lalu radiasi. Kira-kira setelah 9 bulan pengobatan intensif, ia diberi surat keterangan sehat. Dia hidup sehat penuh setiap hari dalam kualitas hidup, bukan setelah efek Chemo. Ia memiliki waktu 5 bulan dan ia merencanakan setiap detail dari akhir hidupnya. Setelah beberapa lama hidup dengan mengkonsumsi morphine, akhirnya iapun meninggal. Dia meninggalkan berita ini untuk para wanita di manapun: Wanita, WASPADALAH pada segala sesuatu yang tidak normal pada tubuh anda, dan gigihlah untuk mendapatkan pertolongan sesegera mungkin.

Penyakit Paget
Ini adalah suatu bentuk yang jarang ditemui pada kasus kanker payudara. Adanya di bagian luar payudara, yakni pada puting susu dan aureole (lingkaran gelap di sekitar puting). Dimulai dengan munculnya bintik merah, kemudian menjadi luka dengan kerak di tepi luarnya.

Saya tidak pernah curiga itu kanker, tetapi demikianlah. Puting susu saya sepertinya tidak terlihat berbeda, tapi bintik merah itu mengganggu saya, dan karena itu saya ke dokter. Terkadang, terasa gatal dan nyeri, selebihnya tidak menyusahkan saya. Itu hanya terlihat jelek dan mengganggu, apalagi karena tidak bisa dihilangkan oleh semua krim (salep) yang dianjurkan oleh dokter saya dan para dokter radang kulit (dermatitis) pada mata saya tepat sebelum penjangkitan ini. Mereka rupanya prihatin tetapi sayangnya tidak memberi peringatan dini bahwa ini mungkin kanker.

Saya kira tidak banyak wanita yang mengetahui bahwa suatu luka atau bintik pada puting susu atau aureole mungkin merupakan kanker payudara. Pada saya dimulai sebagai sebuah jerawat merah pada aureole. Satu yang terbesar dari penyakit Paget dari puting susu adalah bahwa gejala-gejala yang timbul tidak berbahaya. Itu sering disangka suatu radang atau infeksi kulit, yang berakibat keterlambatan deteksi dan perawatan.

Apa gejalanya?
  1. Timbulnya kemerahan, keluarnya cairan, dan pengerasan kulit pada puting susu yang terus menerus menimbulkan rasa gatal dan terbakar.
  2. Nyeri pada puting atau di sekitar aureole dengan suatu daerah yang terlihat putih dan tebal di tengah-tengah puting susu.
  3. Biasanya berpengaruh hanya pada salahsatu puting.
Bagaimana diagnosanya?
Dokter yang melakukan pemeriksaan fisik biasanya akan menganjurkan untuk segera membuat foto mammogram dari kedua payudara. Timbulnya bintik kecil kemerahan, keluarnya cairan dan pengerasan kulit yang jelas-jelas menunjukkan dermatitis (radang kulit), patut membuat dokter mencurigai adanya kanker, terutama bila timbul rasa nyeri pada salahsatu payudara. Selanjutnya dokter akan meminta anda dibiopsi (pengambilan jaringan untuk diperiksa di bawah mikroskop) dari bagian yang terasa nyeri tersebut guna memastikan apa yang sedang terjadi.

Berita ini harus ditanggapi dengan serius dan diteruskan kepada sebanyak mungkin keluarga dan teman Anda; karena hal ini bisa menyelamatkan hidup seseorang.

Kanker payudara saya telah menyebar dan menjalar ke tulang-tulang setelah menerima mega dosis dari kemoterapi, 28 pengobatan radiasi dan makan Tamaxofin. Apabila sejak awal hal ini telah didiagnosa sebagai kanker payudara, sangat mungkin ia tidak akan menyebar ke mana-mana.

UNTUK SEMUA PEMBACA
Adalah sangat menyedihkan jika para wanita tidak menyadari tentang penyakit Paget. Apabila, dengan meneruskan berita ini ke sekeliling di e-mail, kita dapat membuat orang lain mengetahui hal ini dan bahaya potensialnya, maka kita sedang membantu para wanita di mana saja.

Mohon, bila Anda bisa, luangkanlah waktu untuk meneruskan berita ini kepada sebanyak mungkin pembaca, khususnya keluarga dan teman-teman wanita Anda. Ini hanya membutuhkan sedikit waktu, namun hasilnya dapat menyelamatkan hidup seseorang!

Sumber: Email Forward

Info Farmasi/Obat Kanker