Up-Date/Artikel Terbaru

Showing posts sorted by relevance for query tamoxifen. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query tamoxifen. Sort by date Show all posts

Kombinasi Tamoxifen dan Seroxat sebabkan kematian

PEREMPUAN yang menggunakan obat antidepresi Seroxat pada saat yang bersamaan dengan obat yang digunakan untuk menghentikan kambuhnya kanker payudara berisiko lebih besar meninggal akibat kanker tersebut. Peneliti telah menemukan bahwa Seroxat bisa berinteraksi dengan tamoxifen, yang diresepkan terhadap pasien yang selamat dari kanker payudara (breast cancer survivor) selama lima tahun berkelanjutan.

Temuan ini mempunyai implikasi besar karena banyak dari perempuan ini juga menderita depresi. Sekitar satu dari empat pasien menderita depresi. Akan tetapi, jenis antidepresi lainnya tidak mempunyai efek yang sama.

Ganggu efektifitas tamoxifen
Dalam studi ini, peneliti dari Sunnybrook Health Sciences Centre dan University of Toronto di Canada mempelajari 2.430 perempuan berusia 66 atau lebih. Semua partisipan menjalani pengobatan antara 1993 dan 2005. Semua partisipan menggunakan tamoxifen dan satu dari lima partisipan menggunakan antidepresi, termasuk Seroxat, yang paling umum diresepkan.

Selama dua tahun ke depan, 374 pasien meninggal akibat kanker payudara. Analisis menunjukkan bahwa mereka yang menggunakan Seroxat berisiko lebih besar meninggal akibat kanker payudara dan berisiko sedikit lebih besar meninggal akibat penyebab lain, dibandingkan perempuan yang tidak menggunakan obat tersebut.

Peneliti menemukan, jika pasien menggunakan Seroxat selama 25 persen dari total waktu mereka menggunakan tamoxifen, risiko mereka meninggal akibat kanker payudara meningkat sebesar 24 persen.

Saat Seroxat dikonsumsi selama 50 persen dari total waktu penggunakan tamoxifen, risiko kematian meningkat sebebasr 54 persen dan saat dikonsumsi selama 75 persen dari waktu total penggunaan tamoxifen risiko kematian meningkat sebesar 91 persen.

"Kesimpulannya, temuan kami mengindikasikan bahwa pilihan antidepresi sangat mempengaruhi kemampuan bertahan perempuan yang menggunakan tamoxifen untuk kanker payudara," terang peneliti, seperti dikutip situs dailymail.com.

Akan tetapi, peneliti menekankan bahwa perempuan sebaiknya tidak berhenti menggunakan tamoxifen. Selain itu, peneliti juga menyatakan bahwa studi mereka tidak mengindikasikan bahwa Seroxat menyebabkan atau mempengaruhi kanker payudara. "Studi ini hanya menunjukkan bahwa Seroxat mengganggu efektifitas tamoxifen."

"Saat diperlukan resep tamoxifen dan antidepresi, ada baiknya memilih antidepresi yang tidak mempengaruhi metabolisme tamoxifen," terang salah satu peneliti Dr David Juurlink. Juru bicara GlaxoSmithKline (GSK), yang memproduksi Seroxat, menyatakan bahwa perusahaan tersebut sudah menyadari hubungan tersebut dan telah memperbarui peringatan di label Seroxat pada 2008. "Mengikuti publikasi penelitian baru ini, GSK akan meriview tambahan data ini dan akan bekerja sama dengan pembuat kebijakan untuk menentukan langkah selanjutnya." (OL-08)


Sumber: MEDIA INDONESIA

Baca juga laporan msnbc.com tentang issue yang hampir sama di sini.


Setelah Mastektomi, Herceptin, Tamoxifen, Xeloda dan Tykerb

Fransisca berasal dari Jakarta, berumur tiga puluh dua tahun waktu ia menemukan ada benjolan sebesar 1,6 cm pada payudara kirinya yang akhirnya didiagnosa sebagai kanker. 

Ini memang kisah yang tragis namun telah terjadi berulang-ulang – kanker payudara berkembang menjadi stadium IV dan tidak dapat disembuhkan. Apakah yang salah? Pada kenyataannya tidak ada yang salah. Fransiska mengikuti apa yang dokternya ingin dia lakukan.

Fransiska Meninggal Setelah Operasi, Radioterapi, Kemoterapi, Herceptin, Tamoxifen, Xeloda dan Tykerb

(Hidup di bumi adalah suatu pengalaman. Biarlah kematian Fransiska menjadi pelajaran berharga bagi mereka yang sepertinya)

Fransiska, berasal dari Jakarta, berumur tiga puluh dua tahun waktu ia menemukan ada benjolan sebesar 1,6 cm pada payudara kirinya yang akhirnya didiagnosa sebagai kanker. Pada waktu yang bersamaan ayahnya meninggal karena kanker. Pada November 2004, ia melakukan operasi pengangkatan benjolan di salah satu Rumah Sakit di Singapura. Sayangnya beberapa kelenjar getah bening di ketiaknya juga terinfeksi. Setelah operasi, Fransiska mendapat tiga puluh lima kali terapi radiasi. Ia merasa lebih baik setelah itu.

Pada Januari 2007, yaitu, dua tahun setelah terapi radiasi, Fransiska diberitahu bahwa kankernya telah menyebar ke paru-parunya. Ia melakukan kemoterapi dan mendapat enam siklus Taxol dan injeksi Herceptin. Satu kali injeksi Herceptin seharga 2,500 S$ dan Fransiska telah delapan kali diinjeksi. Dokter ahli kankernya ia harus melanjutkan Herceptin, tetapi Fransiska memutuskan untuk berhenti setelah delapan kali injeksi karena ia tidak mampu lagi membiayai pengobatannya lagi.

Pada July 2007, Fransiska mendapat terapi Tamoxifen. Sebulan kemudian, hasil Scan pada tulangnya menunjukkan kanker telah menyebar ke tulang punggungnya pada T12.

Pada Januari 2008, hasil Scan otaknya menunjukkan terdapat massa 8 x 7 mm pada otaknya. Dan juga terlihat massa sebesar 1,4 x 9,0 cm pada hatinya. Fransiska diminta oleh dokternya untuk menghntikan terapi dengan Tamoxifen. Ia diberi resep obat minum untuk kanker – Xeloda dan Tykerb (lapatinib). Biaya tiga minggu pengobatan dengan Tykerb seharga S$2.500.

Fransiska memberitahu kami bahwa ia sadar dengan “efek samping yang buruk” dari terapi medisnya, tetapi ia tidak ada pilihan lain. Ia tidak tahu apalagi yang harus dilakukan kecuali menuruti saran dokter.

Pada November 2004, Fransiska mulai membuat jadwal meminum jus dengan Apel, Beet Root (akar-akaran buah bit), dan wortel (carrot) (ABC). Ia juga menggunakan biji aprikot (sumber vitamin B17), cengkeh, cairan obat dari racikan walnut hitam (black walnut) dan akar-akaran. Sebagai tambahan ia juga memakai IP6, spirulina, Perfect Food, dan Vitamin C dosis tinggi. Ia menghentikan mengkonsumsi semuanya pada tahun 2007 ketika kanker menyebar ke paru-parunya.

Pada Februari 2005, ia melakukan detoksifikasi (penetralisiran racun) dan program peremajaan dengan program jus ABC dan kopi enema. Ia meneruskan semua ini sampai ia melihat darah pada urinnya. Ia menghentikan program ini.Fransiska juga mengkonsumsi nanas dan pepaya.

Fransiska sadar akan keharusan mengkonsumsi makanan sehat. Ia mengkonsumsi jus buah dan sayuran, ia juga menghindari gla putih, minyak, telur, semua daging dan makanan siap saji. Ia mengkonsumsi sirip hiu namun lama-kelamaan ia hentikan karena itu tidak efektif.

Ia menderita sakit kepala, mual, dan tekanan darahnya sangat rendah. Fransiska datang kembali ke dokter ahli kankernya pada Agustus 2008. Hasil scan menunjukkan kanker telah menyebar ke otaknya. Hasil CT-Scan bagian abdomen (perut) menunjukkan:
  • Metastasis pada kedua lobus hepar. Lesi terbesar pada lobus kiri berukuran 2,0 x 1,8 cm dan yang terbesar pada lobus kanan berukuran 1,5 x 1,4 cm.
  • Sklerosis stabil pada korpus vertebra T12.




Para ahli kanker menyimpulkan kanker ini telah berkembang dan menyarankan dua pilihan:
  • Fransiska menjalani kemoterapi lagi ditambah dengan Lapatinib, atau,
  • Ia meneruskan menggunakan Lapatinib; menerima injeksi secara reguler untuk menguatkan tulangnya dan terapi untuk meredakan gejala-gejala menopausenya. Sebelumnya Fransiska diterapi dengan Zoladex untuk menghentikan menstruasinya.
  • Fransiska sering menulis kepada kami memohon bantuan. Email terakhir yang saya terima darinya pada tanggal 30 Oktober 2008 ketika ia mengeluhkan masalah pencernaan. Dengan sedih saya beritahukan bahwa Fransiska jatuh kedalam keadaan koma dan meninggal 2 tahun kemudian, pada pertengahan December 2008. Kematiannya datang empat tahun setelah didiagnosa kanker payudara. Bahkan obat termahal dan terbaru untuk kanker tidak dapat menolong dirinya.

Komentar: Ini memang kisah yang tragis namun telah terjadi berulang-ulang – kanker payudara berkembang menjadi stadium IV dan tidak dapat disembuhkan. Apakah yang salah? Pada kenyataannya tidak ada yang salah. Fransiska mengikuti apa yang dokternya ingin dia lakukan. Ia menjalankan Seni terapi medis di Singapura. Yee, seorang wanita berusia 40 tahun dari Penang juga meninggal dengan cara yang sama. Ia menderita kanker payudara stadium awal. Melakukan operasi, kemoterapi, radioterapi, mengkonsumsi Tamoxifen dan Tykerb selain Herceptin. Ia berakhir dengan metastase pada paru-paru, tulang, hati dan terakhir pada otaknya. Ia meninggal setelah menghabiskan lebih dari 100.000 RM untuk terapinya.

Di CA Care, dengan pengalaman kami yang lebih dari tigabelas tahun, kami melihat tiga fenomena yang sering trjadi pada penderita kanker payudara.
  1. Pertama, data kami menunjukkan bahwa pasien kanker payudara (di Malaysia) yang melakukan operasi, kemoterapi, radioterapi dan mengkonsumsi Tamoxifen mengalami penyebaran ke tulang, paru-paru, dll. setelah beberapa tahun. Pasien (di Indonesia) yang beralih ke pengobatan tradisional atau ang tidak mengikuti terapi standard medis tidak menderita metastase yang luas atau menderita metatase yang luas pada akhirnya.

  2. Pasien usia muda yang menjalani seluruh paket terapi medis untuk kanker payudara, cenderung unruk menderita metastase yang lebih parah.

  3. Sekarang dengan tersedianya Herceptin, kami mulai melihat pasien menderita metastase pada otak. Apakah ada koreksi mengenai pengobatan ini dan hubungannya dengan metastase pada otak?

Kami menyadari bahwa penelitian kami hanya gurauan dan untuk itu dapat disanggah. Sebuah penelitian di internet memberikan beberapa kesimpulan yang cukup berharga untuk dijadikan sebagai catatan.

Boston Globe (A new peril for breast cancer survivors oleh Liz Kowalczk, 7 February 2006) mengangkat cerita tentang Amy Socia yang didiagnosa menderita kanker payudara ketika berusia 43 tahun. Ia menjalani operasi mastektomi, operasi rekonstruksi payudara, radioterapi, dan kemoterapi. Disamping terapi medisnya kanker menyebar ke hati dan tulang belakangnya. Amy diberikan resep apa yang kita sebut obat yang menjanjikan – Herceptin – dan “secara ajaib” kankernya mulai menyusut! Tapi itu tidak lama. Tidak lama setelah itu (lima tahun setelah pertama kali didiagnosa) dua tumor tampak pada otaknya. Ini membuat Amy menyimpulkan :Tidak ada obat untuk kanker payudara yang bermetastase. Itu tidak akan pergi. Kamu hanya berpindah dari satu terapi ke terapi lainnya”. Cerita Amy tidak jauh berbeda dengan Fransiska.

Fransiska diterapi dengan lapatinib (Tykerb) dan capecitabine (Xeloda). Terapi modern ini telah diperlihatan dalam satu penelitian “to shrink brain metastasis significantly in six percent of 241 patients.” (mengecilkan persentase metastase otak secara signifikan pada enam persen dari 241 pasien). Pada situs resmi www.tykerb.com, kita dapat membaca informasi sebagai berikut:
  • Tidak ada obat untuk kanker payudara yang bermetastase, tapi itu dapat diterapi.
  • Beberapa wanita mungkin dapat berkembang dan terjadi kerusakan hati selama mengkonsumsi Tykerb. Pada beberapa kasus, kerusakan hati mungkin dapat fatal dan menyebabkan kematian.
  • Efek samping dari Tykerb adalah : mual, muntah, rasa terbakar pada uluhati, kehilangan nafsu makan, kemerahan, nyeri pada tangan dan kaki, ruam pada kulit, kulit kering, nyeri pada bibir, mulut, atau tenggorokan, sakit pada tangan, kaki, atau punggung, kesulitan untuk tidur atau tetap tertidur, rasa sesak nafas, batuk, batuk dengan dahak yang berdarah atau berwarna pink, denyut jantung yang cepat dan irreguler, kelelahan atau kelemahan dan bengkak pada tangan, kaki, pergelangan, atau betis.
Pasien harus ingat bahwa menterapi kanker bukan berarti kanker dapat disembuhkan! Untuk mengobati berarti menghabiskan banyak sekali uang tetapi terapinya tidak dapat mengobati. Pengecilan tumor juga bukan berarti sembuh! Lapatinib menyebabkan kerusakan hati. Bukankah ini yang terjadi pada kasus Fransiska?

Efek samping dari Herceptin antara lain: Demam dan rasa dingin (biasa terjadi saat pengobatan pertama kali), gagal nafas dan gagal jantung, diare, sakit kepala, mual, dan muntah, nyeri, ruam pada kulit, dan kelemahan. Bagaimanapun juga, yang paling tidak mengenakan dari laporan tentang Herceptin adalah metastase otak.

Laporan tanggal 13 Desember 2001 oleh Robert Carlson menyatakan:
  • Diketahui pasien kanker payudara dengan metastase lebih sering berkembang menjadi metastase tulang, tetapi pada pasien yang menggunakan Herceptin terlihat peningkatan resiko dari metastase otak dibandingkan dengan metastase tulang.
Jurnal, Kanker (15 Juni 2003, Vol: 97:2972-2977), menyatakan:
  • Metastase karsinoma payudara ke otak adalah umum pada pasien yang menerima pengobatan dengan obat Herceptin.
  • Sekitar 6 sampai 16% wanita dengan metastase kanker payudara mengalami penyebaran ke otak tetapi pasien yang menerima pengobatan Herceptin sebagai terapi pertolongan pertama mempunyai resiko yang besar untuk berkembang menjadi penyakit CNS (otak) (42%)
Pertanyaan yang mungkin anda tanyakan: Apa bubungannya observasi di atas dengan penyebaran pada otak Fransiska? Apa yang mungkin terjadi dengan keacuhan Fransiska – Akankah dia meninggal karena kanker pake payudara dalam 4 tahun? Apa yang mungkin menjadi penyebab sebenarnya dari kematian Fransisca?

Saya dan Tamoxifen

Nama obat ini tentu tidak asing lagi bagi penderita kanker, terutama kanker payudara. Sebab sebagian besar dokter menganjurkan agar pasien kankernya mengkonsumsi obat ini mengingat konon katanya, dianggap manjur untuk membantu mengatasi resiko berkembangnya kembali sel-sel kanker - terutama setelah sang pasien menjalani berbagai proses terapi termasuk di dalamnya setelah bedah mastektomi.

Tentang seberapa jauh rata-rata pasien kanker mengenali seluk beluk obat ini, di Indonesia barangkali belum sebaik di negara-negara maju di mana komunikasi antara dokter-pasien mengenai penyakit yang diderita pasien jauh lebih terbuka ketimbang di sini.

Belum lama ini, dokter yang "meneruskan" proses perawatan sakit saya dari RSCM Jakarta ke RSHS Bandung mengatakan bahwa hasil lab-test (
general medical check-up) terbaru saya mengindikasikan adanya kemungkinan berkembangnya sel-sel kanker dari uterus ke mamae saya yang masih sehat sebagai bagian dari konsekuensi terapi tamoxifen oral
yang saya jalani. Selanjutnya saya diminta untuk mempertimbangkan tindakan medis susulan yang sebaiknya saya tempuh setelah sebelumnya dengan segala berat hati harus merelakan bagian tubuh kewanitaan saya dimastektomi radikal. Dokter menganjurkan agar saya segera menjalani operasi pengangkatan rahim!
Jika ada pepatah yang mengatakan bahwa seorang wanita belum menjadi wanita sesungguhnya sampai ia melahirkan anak-anak dan merasakan bagaimana menjadi seorang ibu; maka mastektomi dan pengangkatan rahim - atau lebih tepatnya membuang seluruh organ reproduksi seorang wanita - ini akan menjadikan wanita itu sebagai apa?
Coba simak lagi tulisan mengenai tamoxifen ini, terutama komentar pembaca yang seperti sudah saya sebutkan tadi; lebih faham tentang obat ini daripada kita.

Semoga sahabat-sahabat yang belum terlanjur sampai di phase seperti saya bisa memetik manfaat darinya.
Semoga!


Tes sederhana untuk kanker payudara

Sekarang ini, mamografi merupakan cara yang lazim digunakan untuk memeriksa kanker payudara. Namun, ilmuwan telah mengembangkan tes jarum sederhana untuk digunakan dalam pemeriksaan kanker payudara ini. Tes ini dapat membantu wanita yang sangat berisiko mengalami penyakit ini untuk memastikan apakah dia harus menggunakan obat pencegahan atau menjalani operasi pencegahan.

Tim dari University of Kansas Medical Center melakukan pemeriksaan terhadap 480 wanita yang dianggap berisiko mempunyai kanker payudara, karena faktor riwayat keluarga maupun karena biopsi telah memperlihatkan adanya sel-sel kanker atau prakanker. Masing-masing wanita telah menjalani antara delapan hingga sepuluh kali prosedur yang disebut aspirasi jarum halus. Jarum ini mengambil sedikit sel dari sekitar puting susu.


Prosedur ini hampir tidak menimbulkan rasa sakit. Ahli patologi mempelajari sel-sel ini dan mengelompokkannya sebagai sel normal atau mulai menggumpal dan terlibat sebagai prakanker. Peneliti Profesor Bruce Kimler mengatakan, tes ini sangat ampuh memprediksi siapa yang mempunyai kanker payudara dalam empat tahun lagi. Secara keseluruhan, 102 wanita mempunyai sel yang kelihatannya prakanker. Di antaranya, 17 mempunyai kanker payudara. Hanya tiga wanita lain yang sel-selnya kelihatannya relatif normal akhirnya menderita kanker.

Mirip dengan pap smear serviks
Profesor Kimler mengatakan, tes ini mirip dengan Pap smear, yang digunakan untuk mendeteksi tanda-tanda awal kanker serviks (mulut rahim). Dia mengatakan, “Kami tidak menjual alat ini sebagai Pap smear berikutnya. Tetapi kami menganggapnya sebagai alat yang sangat berguna dalam dunia uji coba riset.”

Delyth Morgan, direktur lembaga sosial Breakthrough Breast Cancer, mengatakan bahwa riset ini menarik – tetapi diperlukan lebih banyak upaya untuk mempelajari kegunaannya. “Hanya antara 5% dan 10% kanker payudara terjadi akibat faktor keturunan. Keputusan yang dihadapi wanita yang mempunyai risiko tinggi kanker payudara ini sangat sulit dan bersifat pribadi. Kita harus memastikan bahwa mereka mendapatkan sebanyak mungkin informasi sehingga keputusan ini didasarkan pada informasi yang memadai.”

Morgan mengatakan, setelah diidentifikasi dua gen utama dalam dasawarsa lalu (BRCA1 dan BRCA2), pemeriksaan genetika sekarang dapat merupakan petunjuk apakah seorang wanita berisiko tinggi mengalami kanker payudara. Hasil positif untuk kedua gen BRCA ini berarti 80% berisiko menderita kanker payudara dalam hidupnya. Kebanyakan risiko ini akan muncul kemudian hari dalam hidupnya. Para ilmuwan tidak sanggup menyebutkan dengan pasti kapan seorang wanita akan mendapatkan kanker payudara ini. Oleh karena itu, seorang wanita yang memperoleh hasil tes positif pada usia 40-an karena kedua mutasi ini dengan mudah akan melewatkan dua puluh tahun lagi tanpa mengalami masalah.

Ini dapat mempengaruhi apakah seorang wanita yang usianya lebih muda memilih salah satu atau kedua payudaranya diangkat untuk mencegah penyakit ini, atau menggunakan obat seperti Tamoxifen yang mungkin saja mempunyai efek samping yang sangat besar. Tim Profesor Kimler menggunakan metodenya ini untuk memilih wanita yang dilibatkan dalam uji coba klinis terhadap obat kanker payudara yang disebut DFMO. Obat ini dirancang untuk menghentikan perkembangbiakan sel-sel yang tidak terkendalikan yang menjadi awal munculnya kanker.

Sekarang ini, Tamoxifen adalah satu-satunya obat yang terbukti dapat mencegah kanker payudara. Seorang juru bicara Cancer Research Campaign mengatakan, studi lebih lanjut diperlukan. “Kami khawatir, tes ini dapat berarti bahwa beberapa wanita terlanjur harus menjalani mastektomi (operasi pengangkatan payudara), padahal sebenarnya tidak perlu!”

Sumber: kesrepro.info


Kanker Endometrium

Laporan kasus Ginekologi Onkologi
Oleh dr. H.K. Suheimi.
DIVISI GINEKOLOGI ONKOLOGI
DEPARTEMEN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI RSUPNCM-FKUI


Pendahuluan
Kanker endometrium merupakan salah satu kanker ginekologi dengan angka kejadian tertinggi, terutama di negara-negara maju. Selama tahun 2005, diperkirakan di Amerika terdapat sekitar 40.880 kasus baru dengan sekitar 7.100 kematian terjadi karena kanker endometrium1.

Kanker endometrium paling sering terdiagnosis pada usia pasca menopause, dimana 75% kasus terjadi pada wanita usia pasca menopause2.

Meskipun demikian sekitar 20% kasus terdiagnosis pada saat premenopause3. Secara epidemiologi terdapat beberapa faktor risiko yang berkaitan dengan kanker endometrium yaitu hormon replacement theraphy, terapi Tamoxifen, obesitas, wanita pasca menopause, nulipara atau dengan paritas rendah, dan keadaan anovulasi. Hal-hal tersebut berkaitan dengan keadaan upopposed estrogen yang meningkatkan risiko terjadinya kanker endometrium. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemaparan terhadap estrogen atau meningkatkan kadar progesteron, seperti penggunaann kontrasepsi oral dan merokok, merupakan faktor yang bersifat protektif.3

Kanker endometrium stadium awal memiliki prognosis yang cukup baik. Kanker endometrium terdiagnosis saat masih terlokalisir memiliki survival rate 5 tahunnya mencapai 96%, dan menurun sampai ke 44% pada stadium lanjut4.

Dengan pengetahuan yang baik tentang perdarahan pervaginam pasca menopause di dunia Barat, sebagian besar kasus ini, sekitar 77% terdiagnosis pada stadium dini4. Teknik skrining yang dapat digunakan adalah skrining non-invasif, seperti USG dan teknik invasif seperti pemeriksaan D&C dan biopsi endometrium yang merupakan tehnik yang digunakan untuk mengevaluasi jaringan endometrium dan menjadi bakuan dalam menilai status endometrium. Biopsi endometrium mempunyai sensitifitas yang baik dengan negatif palsu yang rendah dan sebagian besar disebabkan karena kesalahan dalam pengambilan. Namun demikian penentuan stadium karsinoma endometrium yang akurat adalah melalui prosedur pembedahan.

Pada laporan kasus ini akan dibahas mengenai satu kasus kanker endometrium beserta penatalaksanaannya.

Ilustrasi
Kasus Ny. K, 56 tahun datang ke poliklinik RSCM pada tanggal 10 November 2006 dengan keluhan perdarahan pervaginam berupa flek-flek sejak 1 tahun yang lalu. Tidak ada keputihan, penurunan berat badan, benjolan di perut atau kemaluan maupun gangguan BAK atau BAB. Pasien punya 2 orang anak, yang terkecil usia 38 tahun dan telah menopause sejak 4 tahun yang lalu. Pasien menikah 1 kali dan suami pasien telah meninggal 1 tahun yang lalu. Tidak ada riwayat penggunaan obat hormon untuk menopause. Tidak ada riwayat menderita tekanan darah tinggi atau kencing manis.

Status generalis TD 100/60 TB 142 BB 49 kg BMI 24,2, lain-lain dalam batas normal. Status ginekologis porsio dan mukosa vagina licin, uterus sebesar telur angsa, mobile, tidak berbenjol, kedua adneksa dalam batas normal, TSA baik, mukosa rektum licin. Pemeriksaan laboratorium, BNO-IVP, Rontgen thoraks dan pap smear dalam batas normal.

Pada USG didapatkan uterus membesar ukuran 8,01x5,95x6,68 cm dengan lesi hiperekoik di dalam kavum uteri/endometrium inhomogen bertepi rata dan berbatas tegas 6,69x4,76x5,67cm dengan RI 0,3, kedua adneksa, hepar ginjal dalam batas normal.

Tanggal 12 Desember 2006 dilakukan D/C bertingkat dengan temuan uterus sebesar telur angsa tidak berbenjol dan kedua adneksa dalam batas normal, dengan sondase 9cm antefleksi, dari endoserviks didapatkan jaringan 0,5 cc dan endometrium 2 cc. Hasil PA memperlihatkan adanya adenokarsinoma berdiferensiasi sedang-buruk kemungkinan dari endometrium. Pasien direncanakan untuk dilakukan laparotomi surgical staging untuk menentukan stadium kanker endometriumnya, yang akhirnya akan menentukan terapi yang akan diberikan pada pasien.
Baca diskusi selengkapnya




Bisphosphonate dan pengeroposan tulang pada terapi endokrin

Menurut sebuah multicenter dengan percobaan acaknya “pada Para Pasien premenopausal dengan tahap awal penderita kanker payudara mengambil terapi endokrin, kepadatan mineral tulang yang slalu stabil dengan bisphosphonate dan memperbaikinya dari waktu ke waktu”.

Para pasien diberikan asam zoledronic (Zometa) selama kombinasi terapi endokrin tidak terjadi perubahan yang signifikan pada tulang belakang atau kepadatan tulang trochanter dalam tiga tahun, Michael Gnant, M.D., dari the University of Vienna bersama rekan-rekannya melaporkan berita ini pada Lancet Oncology. Dalam lima tahun baru kepadatan tulang pada kedua tempatnya telah diperbaiki secara signifikan.

Secara kontrasnya, para pasien yang menerima terapi endokrin tanpa asam zoledronic kehilangan 11.3% pada tingkat kepadatan tulang belakang dan pinggang dan 7.3% pada kepadatan tulang trochanter setelah tiga tahun. Kepadatan tulang meningkat tetapi tidak memulihkan pada tingkat dasarnya selama dua tahun tambahan dalam tindak lanjutnya.

Meskipun mendapat hasil yang baik dengan asam zoledronic, para peneliti menerangkan bahwa efeknya pada tulang dalam jangka panjang dari terapi endokrin belum jelas.

Mereka mengatakan, “dalam lima tahun tindak lajut, hal ini tidaklah mungkin untuk menilai apakah para wanita ini pada akhirnya akan memperoleh kembali kepadatan mineral tulangnya, atau apakah setiap perbaikan kepadatan mineral tulangnya akan cukup mencegah retak-retak dimasa depannya”, “karena kekuatan tulang dan oleh karena itu keretakan sangat resisten, hal ini ditentukan oleh kedua kepadatan mineral tulang dan struktur mineral tulang, dengan efek jangka panjang yang tidak di kenal dari terapi endokrin pada tulang microarchitecture yang menjadi sangat penting”.

Penemuan ini datang dari sebuah penelitian tulang pada sekitar 1800 pasien dengan percobaan secara acak untuk mengevaluasi kombinasi dari terapi endokrin dengan adjuvant pada para pasien premenopausal dengan tahap awal kanker payudara. Para pasien diacak dalam tiga tahun dalam perawatannya dengan goserelin plus anastrozole (Aromasin) atau tamoxifen. Para pasien dalam kedua kelompoknya lebih lanjutnya diacak untuk asam zoledronic atau tidak ada terapi tambahan. Sekitar 404 pasien dalam studi ini telah di desain untuk menilai efek jangka panjang dari terapi endokrin pada kepadatan mineral tulang.

Para peneliti mencatat Bagaimana kepadatan tulang pasien itu akan berubah setelah menghentikan terapi adjuvant bukan menghilangkan sama sekali.

Tindak lanjut dalam percobaan dilanjutkan untuk penambahan selama dua tahun setelah terapi selesai. Dr. Gnant pada awalnya melaporkan hasil-hasil dari penelitian mengenai tulang pada akhir tahun lalu yaitu tentang asam Zoledronic dapat mencegah keretakan tulang selama terapi endokrin.
Penemuan meluas pada studi yang lain yang terbaru menunjukan asam zoledronic mencegah keretakan tulang pada wanita premenopausal yang menerima chemoterapi adjuvantuntuk tahap awal kanker payudara.

Baca juga Tanya Dokter: Terapi Hormon Pada Kanker Payudara

Seberapa besarkah harapan penderita kanker payudara?

Wallahualalam!
Menurut peneliti, harapan hidup penderita kanker payudara di Indonesia saat ini terbilang rendah, yakni hanya sekitar 24%. Tapi tentu saja ini bagi mereka yang sudah masuk ke dalam kategori yang dalam istilah medis disebut III-B.

Para ahli bedah kanker pada pertemuan di Hotel Holiday Inn, Bandung, beberapa waktu lalu mencanangkan tekad untuk mendongkraknya menjadi 50%. Target yang lumayan muluk dilandasi optimisme munculnya obat antibodi bernama: trastuzumab.

Dari beberapa studi, obat ini dianggap lebih efektif ketimbang operasi dan kemoterapi. Meski belum ada data resmi, namun disebutkan bahwa di negeri ini kanker payudara menempati urutan kedua setelah kanker leher rahim. Rata-rata menyerang 10 dari 100.000 wanita. Tapi dalam soal membunuh, kata Drajat Ryanto Suardi - ahli bedah kanker di RS Hasan Sadikin, Bandung - kanker payudara ini menjadi ''setan'' nomor satu bagi wanita.

Sedangkan di tingkat dunia, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 8%-9% wanita di seluruh dunia akan terserang penyakit mematikan ini setiap tahunnya. Persisnya, jumlah penderita kanker payudara akan bertambah sekitar 7 juta kasus. Survei terakhir menunjukkan, tiap tiga menit ditemukan satu kasus baru kanker payudara dan setiap 11 menit ditemukan seorang wanita meninggal akibat kanker payudara.

Total jenderal, menurut WHO setiap tahun ada 700.000 wanita di seluruh dunia yang meninggal karena penyakit ini. Di Amerika Serikat sekitar 175.000 kasus baru muncul setiap tahun. Sedangkan di daratan Eropa rata-rata muncul 25.000 pasien baru per-tahun. Belum jelas berapa laki-laki dan berapa wanita di antaranya. Ronald Hukom, ahli kanker payudara dari RS Kanker Dharmais, Slipi, Jakarta Barat, menyebutkan banyak laki-laki yang tak luput dari serangan kanker payudara. Menurutnya, satu dari seratus pasien adalah pria. Bahkan serangannya lebih ganas dan sulit disembuhkan. Sepanjang pengetahuannya, tidak ada pasien laki-laki yang mampu bertahan hidup!

Yang mengenaskan, banyak penderita kanker ini terlambat berobat ke dokter, ''Mereka datang ketika kankernya sudah parah, atau sudah mencapai stadium III dan IV,'' ujarnya pada jumpa pers Herceptin yang bergenerik trastuzumab di Hotel Holiday Inn, Dago, Bandung. Itu berarti sel-sel kankernya sudah ganas dan menyebar ke organ-organ tubuh lain. Bila sudah parah, biasanya dokter cuma memberi pengobatan kemoterapi. Harapan hidupnyapun makin pendek.

Sekedar contoh, Ronald memaparkan tentang pasien yang masuk ke RS. Dharmais pada 1993-1996 - sayang ia tak mengantongi data terkini - disebutkan sebanyak 26 pasien atau 19,1% pasien kanker payudara yang datang sudah berada pada stadium III-B di mana sel kankernya sudah menyebar ke organ-organ lain tubuhnya. Dalam kondisi tersebut, ia memperkirakan peluang hidup sampai lima tahun pasien hanya 20%. Mereka cuma bisa bertahan selama tiga tahun tiga bulan. Adapun 24 pasien lainya datang ketika masih dalam taraf stadium II sehingga memiliki peluang bertahan hidup sampai lima tahun sebanyak 82%.

Kondisi ini bertolak belakang dengan pasien-pasien di negara maju. Tingkat kesadarannya tinggi. Begitu mengetahui ada kelainan di payudaranya, mereka langsung memeriksakan diri. Sebanyak 80% kasus pasien kanker yang dibawa ke dokter masih dalam taraf stadium dini. Tidak mengherankan jika harapan hidup merekapun lebih tinggi. Banyak sebab mengapa para wanita Indonesia yang mengidap kanker payudara terlambat berobat. Pada stadium awal, biasanya kanker ini tidak tampak jelas di mata. Apalagi jika benjolannya masih sekitar 2 cm. Tidak akan terlihat jelas. Biasanya mereka baru berobat setelah benjolannya sudah membesar seukuran bola tennis. Itu artinya sudah memasuki stadium III. Penyebab lainnya adalah karena faktor ekonomi. Para pasien ngeri membayangkan biaya pengobatannya yang terbilang tidak sedikit.

Untuk tahap pertama saja pasien harus dijejali biaya operasi pengangkatan tumor yang bisa menghabiskan sampai belasan jutaan rupiah. Setelah itu mereka harus menjalani penyinaran di lokasi sekitar organ yang diangkat. Penyinaran ini biasanya lebih dari 15 kali yang juga tidak kalah deras menguras isi dompet. Bila beum OK, pasien masih harus menjalani kemoterapi. Harga obat kemoterapi ini saja sekali suntik bisa mencapai Rp 2 juta lebih, belum biaya pelayanan dan penanganan medis yang menyertainya. Sedangkan kemoterapi ini harus dilakukan sampai belasan kali. Alasan lain bisa juga karena takut, seperti yang menimpa sebut saja Ibu Ratih - bukan nama sebenarnya.

Ketika didiagnosis bahwa payudara kanannya kena kanker pada tahun 1983, warga Depok, Jawa Barat, ini cuma berani melakukan mastektomi (angkat payudara) saja. Tapi ia takut menjalani proses penyinaran dan kemoterapi. ''Ibu saya lebih suka melakukan tusuk jarum di sebuah klinik di Rawamangun,'' kata putrinya Ajeng - juga bukan nama asli.

Selama belasan tahun kankernya memang berjhasil ''ditidurkan'' oleh perawatan akupunktur yang rutin dijalaninya. Namun, setelah sang ahli akupunktur meninggal dunia dan tak bisa dilanjutkan oleh penggantinya, Ibu Ratih mulai panik. Ia mencoba berbagai macam pengobatan alternatif, termasuk reiki. Iapun rajin mengonsumsi kunir yang konon bisa membasmi sel-sel tumor dan tetap bertahan menolak pengobatan modern.

Kemudian datang peristiwa tak menguntungkan: rumahnya kemalingan. Puluhan gram emas simpanannya ikut ludes diboyong maling. Apesnya, hal itu terjadi justru tak lama setelah ia pensiun dari jabatannya sebagai kepala sekolah di salahsatu SMP di Jakarta Selatan. ''Sejak itu, benjolan mulai tumbuh di payudara kirinya,'' kata Ajeng. “Tubuhnya kini kurus dan nafsu makannya hilang. Jalan pun musti dipapah. Jiwanya mulai goyah dan sangat mudah tersinggung. Jika saya tak berkunjung setiap akhir pekan, ia akan marah besar!'' kata Ajeng sedih.

Ketakutan menjalani terapi modern memang beralasan. Penyinaran radiasi mempunyai efek samping merusak sel-sel normal di daerah yang disinari. Penderitapun akan merasakan mual hebat selama pengobatan. Begitu pula dengan kemoterapi. Akibat negatifnya bisa membuat lemas, pusing berkepanjangan, muntah-muntah, sariawan, rambut rontok dan masih banyak lagi.

Karena kemoterapi bekerja dengan lebih dulu menekan sistem kekebalan tubuh penderita, maka banyak pasien yang justru menjadi rentan terhadap berbagai penyakit lain. Oleh karenanya pengawasan ketat dari dokter menjadi sangat penting. Maka wajarlah apabila banyak pasien yang berusaha menghindari terapi menyakitkan ini.

Mereka mulai melirik terapi yang lebih aman dan berefek samping ringan, seperti terapi antibodi atau terapi gen. Pabrik farmasipun mulai ramai-ramai memburu obat baru, baik membeli hak paten penelitian yang sudah jadi ataupun mengembangkan riset sendiri. Perburuan itu makin kencang menyusul habisnya hak paten sejumlah obat.

Sebut saja Nolvadex, obat kanker payudara tamoxifen produksi Astra Zeneca Plc, London, Inggris, sudah berakhir sejak Februari tahun lalu. Begitu pula obat kanker payudara dan ovarium carboplatin buatan Bristol Myers-Squibb, Amerika Serikat. Juga akan habis masa hak patennya tahun ini.

Pabrik obat Indonesia tak ketinggalan ikut berburu. Dexa Medica, misalnya, malah sudah menjalin kerja sama dengan Reddy's Laboratories, Hyderabad India. Kerja sama tadi ditandatangani 1 Juli tahun lalu di Jakarta. Ferry Sutikno, Managing Director Dexa Medica Group, mengatakan bahwa pihaknya akan membuat tujuh macam obat kanker, di antaranya kanker payudara, kolon, paru-paru, dan prostat.

''Mudah-mudahan tahun ini sudah bisa diproduksi, tentunya setelah izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan, keluar!'' katanya kepada beberapa orang wartawan. Bila sudah berproduksi, Ferry memperkirakan ongkos pengobatan yang semula Rp 40 juta bisa ditekan sampai menjadi sekitar jadi Rp 5 juta. Bila benar demikian, tentu tidak hanya lebih murah, tetapi harus lebih manjur.

Sumber: Aries Kelana, Amalia K. Mala, Nurul Fitriyah (Surabaya) dan Gatra Online


Info Farmasi/Obat Kanker