Up-Date/Artikel Terbaru

Showing posts with label Efek Obat. Show all posts
Showing posts with label Efek Obat. Show all posts

Drug Eruption (erupsi obat)

DRUG ERUPTION
Obat adalah senyawa atau produk yang digunakan untuk eksplorasi atau mengubah keadaan fisiologik atau patologik dengan tujuan mendatangkan keuntungan bagi si pemakai obat untuk diagnosis, terapi, maupun profilaksis.

Efek samping obat (ESO) adalah reaksi yang bersifat merugikan pemakai obat atau reaksi yang tidak diinginkan,yang timbul pada saat penggunaan obat dengan dosis yang bisa digunakan untuk diagnosis, terapi maupun profilaksis. Setiap obat dapat menyebabkan efek samping, mungkin hanya berbeda dalam kualitas dan kuantitas kejadiannya. Reaksi ESO adalah reaksi yang tidak dapat dicegah tapi dapat diusahakan agar reaksi yang timbul seminimal mungkin. ESO dapat bermanifestasi pada organ-organ dalam, kulit maupun mukosa. ESO yang bermanifestasi pada kulit dan mukosa disebut erupsi obat (drug eruption).

Definisi
Erupsi obat alergik atau allergik drug eruption ialah reaksi alergik pada kulit atau daerah mukokutan yang terjadi sebagai akibat pemberian obat yang biasanya sistemik.

Patogenesis
Reaksi kulit terhadap obat dapat terjadi melalui mekanisme imunologik maupun non imunologik. Reaksi erupsi obat adalah imunologik, hal ini disebabkan adanya hipersensitivitas pada pasien terhadap obat tersebut. Disebabkan oleh berat molekul yang rendah, biasanya obat berperan pada mulanya sebagai antigen yang tidak lengkap atau hapten, obat atau metabolitnya berupa hapten harus berkombinasi dulu dengan protein, misalnya jaringan, serum, atau protein dari membran sel, untuk membentuk kompleks antigen yaitu komplek hapten-protein. Pengecualiannya ialah obat-obat dengan berat molekul yang tinggi yang dapat berfungsi langsung sebagai antigen yang lengkap.

Pembagian reaksi alergik berdasarkan 4 tipe menurut Gells & Comb (1962) yaitu:

1. Tipe I (reaksi anafilaktif)
Pajanan yang berulangkali dapat menyebabkan antigen akan melepaskan histamin, serotinin, bradikinin, heparin, SRSA, dll. Ini semua menyebabkan urtikaria atau yang lebih berat edema angioneurotik. Yang paling bahaya ialah terjadi syok anafilaktik

2. Tipe II (reaksi sitotoksik)
Disini terjadi reaksi penggabungan antara ig G dan ig M dengan antigen yang melekat pada sel. Jika sistem komplemen teraktivasi akan dipacu sejumlah reaksi yang berakhir dengan lisis.

3. Tipe III (tipe komplek imun)
Antibodi bereaksi dengan antigen membentuk komplek antigen antibodi yang kemudian mengendap pada salah satu tempat dalam jaringan tubuh dan menimbulkan reaksi radang. Dengan adanya reaksi komplemen terjadi pelepasan anafilatosin yang merangsang pelepasan berbagai mediator oleh mastosit. Dengan adanya aktivasi komplemen akan terjadi kerusakan jaringan.

4. Tipe IV (reaksi alergik selular tipe lambat)
Reaksi ini melibatkan limfosit T yang tersensitisasi dan bereaksi dengan antigen. Reaksi ini timbul 12-24 jam setelah pajanan terhadap antigen. Terbagi atas reaksi tipe tuberkulin dan reaksi tipe kontak.

Gambaran klinis
Gambaran klinis erupsi obat dapat bermacam-macam, tergantung pada tipe reaksi, Antara lain : morbiliformis, eritem multiforme, eksantem fikstum, erupsi akneiformis, urtikaria, purpura, dermatitis eksfoliativa, nekrosis epidermal toksik, Sindrom Steven-Johnson.

Diagnosis
Dasar diagnosis ialah:
1. Anamnesa mengenai
  • Obat-obat yang didapat
  • Kelainan timbul secara akut dapat juga beberapa hari sesudah masuknya obat.
  • Rasa gatal yang dapat pula disertai demam yang biasanya subfebrik
2. Kelainan kulit
  • Distribusi menyeluruh dan sistemik
  • Bentuk kelainan yang timbul
Bentuk kelainan dapat bermacam macam. Alergi terhadap satu macam obat dapat memberi gambaran klinis yang beraneka ragam. Sebaliknya, gambaran klinis yang sama dapat disebabkan oleh alergi pelbagai obat.

Menurut pengalaman kami di bagian Ilmu Penyakit Kulit Kelamin RSCM/FKUI, obat-obatan yang sering menyebabkan alergi ialah penisillin dan derivatnya ( ampisillin, amoksisilin, kloksasillin), sulfonamid, golongan analgetik dan antipiretik, misalnya asam salisilat, metamizol, metampiron, parasetamol, fenilbutazon, piramidon, dan tetrasiklin.

PENGOBATAN
Sistemik
  • Kortikosteroid
Pada erupsi obat yang berat diberikan Dexamethason intravena. Dosis dewasa bervariasi tergantung pada derajat penyakit, umumnya 4-6 x 5 mg/hari intravena (20-30 mg/hari). Penderita dimonitor setiap hari, bila respon baik, dosis diturunkan perlahan-lahan dan bila telah memungkinkan diganti dengan preparat oral sesuai dengan dosis ekuivalennya.

Bila dipilih Triamsinolon, dosis awal diberikan sebesar 24-36 mg/hari. Bila digunakan Prednison oral dosis awal bervariasi antara 140-210 mg/hari. Pada anak-anak, pemberian awal Dexamethason 1 mg/KgBB/hari intravena selama 3 hari, dilanjutkan dengan 0,2-0,5 mg/KgBB/6 jam secara intravena. Bila respon baik, dosis diturunkan perlahan-lahan dan diganti dengan preparat oral sesuai dosis ekuivalennya.

Pada erupsi obat ringan, bila dipilih Prednison dosis yang digunakan 1 mg/KgBB/hari atau 20-40 mg/hari.
  • Anthistamin
Antihistamin bersifat sedatif dapat juga diberikan jika terdapat gatal, kecuali pada urtikaria, efeknya kurang kalau dibandingkan dengan kortikosteroid.

Topikal
Pengobatan topikal tergantung pada kelainan kulit, apakah kering atau basah, kalau kering seperti pada eritema dan urtikaria dapat diberikan bedak, contohnya bedak salisilat 2% ditambah obat antipruritus misalnya menthol 1/2-1% untuk mengurangi rasa gatal. Kalau keadaan basah seperti dermatitis perlu digunakan kompres larutan asam salisilat 1%. Pada bentuk purpura dan eritema nodosum tidak diperlukan pengobatan topikal. Pada eksantema fikstum, jika kelainan membasah dapat diberikan kompres dan jika kering dapat diberi krim kortikosteroid 1% atau 2½%. Pada eritroderma pada kelainan berupa eritema yang menyeluruh dan skuamasi dapat diberi salep Lanolin 10% yang dioleskan sebagian-sebagian.

Prognosis
Pada dasarnya erupsi kulit karena obat akan menyembuh bila obat penyebab dapat diketahui dan segera disingkirkan. Akan tetapi pada beberapa bentuk misalnya eritroderma dan kelainan-kelainan berupa Sindrom Steven-Johnson, prognosis dapat menjadi buruk tergantung pada luas kulit yang terkena.

FIXED DRUG ERUPTION
Fixed drug eruption (FDE) merupakan salah satu bentuk erupsi kulit. FDE ditandai oleh eritema dan vesikel berbentuk bulat atau lonjong dan biasanya numular. Kemudian meninggalkan bercak hiperpigmentasi yang lama baru hilang, bahkan sering menetap. 

Dari namanya dapat diambil kesimpulan bahwa kelainan akan timbul berkali-kali pada tempat yang sama. FDE dilaporkan terjadi pada pasien paling muda usia 1,5 tahun dan paling tua usia 87 tahun. Usia rata-rata pada 30,4 tahun pada pria dan 31,3 tahun pada wanita.


EPIDEMIOLOGI
Di Amerika Serikat, prevalensi FDE dilaporkan berkisar antara 2-5% untuk pasien rawat inap dan lebih besar dari 1% untuk pasien rawat jalan. FDE didapatkan sebanyak 16-21% dari semua erupsi kulit karena obat. Frekuensi yang sebenarnya mungkin lebih tinggi dari perkiraan saat ini, karena ketersediaan berbagai obat-obatan dan suplemen gizi yang diketahui dapat mendatangkan FDE.

ETIOPATOLOGI
Banyak obat yang dilaporkan dapat menyebabkan FDE. Yang paling sering dilaporkan adalah phenolpthalein, barbiturate, sulfonamide, tetrasiklin, antipiretik pyrazolone dan obat anti inflamasi non steroid. Meskipun mekanisme pasti FDE tidak diketahui, penelitian terbaru menunjukkan sebuah proses sel mediasi yang memulai baik lesi aktif dan tenang. Proses ini mungkin melibatkan antibody dependent cellular cytotoxicity. Efektor CD8+ / sel T memori berperan penting dalam reaktifasi lesi dengan paparan ulang obat yang berkaitan.3

Obat yang diperkirakan sebagai penyebab berfungsi sebagai hapten yang secara khusus mengikat basal keratinosit, yang menyebabkan respons inflamasi. Melalui pembebasan sitokin seperti TNF-?, keratinosit secara lokal meningkatkan ekspresi dari molekul adhesi interseluler-1 (ICAM1). Peningkatan ICAM1 membantu sel T (CD4 dan CD8) bermigrasi ke lokasi lesi.

Sel-sel CD8 yang ini mendukung terjadinya kerusakan jaringan oleh produksi sitokin inflamasi interferon-gamma dan TNF-?. Sel CD8 yang terisolasi dari lesi aktif tampaknya akan mengekspresikan ?E?7, sebuah ligan untuk E-cadherin, yang akan memberikan kontribusi pada kemampuan limfosit untuk melokalisasi ke epidermis. Molekul permukaan sel lain, seperti CLA/alpha4beta1/CD4a, yang mengikat E-selektin/molekul adhesi seluler vaskular-2/ICAM1 membantu untuk lebih menarik sel CD8 ke lokasi.

GEJALA KLINIS
FDE biasanya muncul dalam bentuk soliter, eritematous, atau makula merah kehitaman yang dapat berkembang menjadi plak edematosa, dan bula. FDE umumnya lebih sering muncul di daerah genital dan perianal, meskipun mereka dapat muncul dimana saja pada permukaan kulit. FDE dapat muncul setelah 30 menit sampai 8-16 jam setelah penggunaan obat-obatan. Setelah fase inisiasi akut yang berlangsung beberapa hari sampai beberapa minggu, muncul bercak hiperpigmentasi. Pada keadaan berulang, tidak hanya lesi yang timbul di tempat yang sama tetapi juga muncul lesi baru.

DIAGNOSIS
Diagnosis FDE ditegakkan berdasarkan anamnesis, gambaran klinis yang khas. Anamnesis yang lengkap dan mendalam diperlukan untuk menentukan diagnosis, adanya konsumsi berulang dari obat resep dokter dan obat-obat yang dijual dipasaran penting untuk mendukung diagnosis. Selain itu pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan untuk menunjang diagnosis:

1. Uji provokasi oral merupakan pemeriksaan baku emas untuk memastikan penyebab
Uji ini dikatakan aman dan dapat dipercaya untuk pasien anak. Uji ini bertujuan untuk mencetuskan tanda dan gejala klinis yang lebih ringan dengan pemberian obat dosis kecil biasanya dosis 1/10 dari obat penyebab sudah cukup untuk memprovokasi reaksi dan provokasi biasanya sudah muncul dalam beberapa jam. Karena resiko yang mungkin ditimbulkannya maka uji ini harus dilakukan dibawah pengawasan petugas medis yang terlatih.

2. Uji tempel
Uji tempel dan provokasi oral dapat digunakan untuk membantu mengidentifikasi agen penyebab timbulnya reaksi silang obat. Periode refrakter dilaporkan terjadi pada FDE, sehingga dapat ditunda uji tempel dan provokasi oral. Salah satu penelitian menggunakan waktu 8 minggu setelah lesi sembuh kemudian dilakukan uji tempel, untuk mendapatkan hasil uji positif. Uji tempel harus dilakukan di lokasi lesi, jika tidak, hasilnya negatif palsu. Setelah uji tempel selesai, harus diikuti oleh uji provokasi oral. Uji provokasi oral dianggap satu-satunya cara yang dapat diandalkan untuk mendiagnosis FDE.

CARA UJI TEMPEL
Persiapan
Pastikan bahwa kondisi antigen yang digunakan dalam keadaan layak pakai, perhatikan cara penyimpanan dan tanggal kadaluarsanya. Harus diingat bahwa kortikosteroid dan obat imunosupresan dapat menekan reaksi ini sehingga memberi hasil negatif palsu. Setelah itu dilakukan anamnesis tentang apakah pernah berkontak sebelumnya dengan antigen yang akan digunakan.

Melakukan uji
  1. Tempat untuk melakukan uji tempel biasanya dipunggung. Untuk melakukan uji tempel diperlukan antigen standar buatan pabrik. Tes dilakukan sekurang-kurangnya 1 Minggu setelah pemakaian kortikosteroid sistemik dihentikan (walaupun dikatakan bahwa uji tempel dapat dilakukan pada pemakaian prednison kurang dari 20 mg/ hari atau dosis ekuivalen kortikosteroid lain), sebab dapat menghasilkan reaksi negatif palsu. Pemberian kortikosteroid topikal di punggung dihentikan sekurang-kurangnya 1 Minggu sebelum tes dilaksanakan. Luka bakar sinar matahari (sun burn) yang terjadi 1-2 Minggu sebelum tes dilakukan juga dapat memberi hasil negatif palsu. Sedangkan antihistamin sistemik tidak mempengaruhi hasil tes, kecuali diduga karena urtikaria kontak.
  2. Uji tempel dibuks setelah dua hari, kemudian dibaca; pembacaan kedua dilakukan pada hari ke-3 sampai ke-7 setelah aplikasi.
  3. Penderita dilarang melakukan aktivitas yang menyebabkan uji tempel menjadi longgar ( tidak menempel dengan baik ), karena memberikan hasil negatif palsu. Penderita juga dilarang mandi sekurang-kurangnya dalam 48 jam, dan menjaga agar punggung selalu kering setelah dibuka uji tempelnya sampai pembacaan terakhir selesai.
  4. Uji tempel dengan bahan standar jangan dilakukan terhadap penderita yang mempunyai riwayat tipe urtikaria dadakan (immediate uticarial type), karena dapat menimbulkan urtikaria generalisata bahkan reaksi anafilaksis. Pada penderita semacam ini dilakukan tes dengan prosedur khusus.
Hasil pemeriksaan
Hasil uji dibaca setelah dibiarkan menempel selama 48 jam, uji tempel dilepas. Pembacaan pertama dilakukan 15-30 menit setelah dilepas, agar efek tekanan bahan yang diuji telah menghilang atau minimal. Hasilnya dicatat seperti berikut:

1 = Reaksi lemah (nonvesikular) : eritema,infiltrat,papul (+)
2 = Reaksi kuat : edema atau vesikel (++)
3 = Reaksi sangat kuat (ekstrim) : bula atau ulkus (+++)
4 = Meragukan: hanya makula eritematosa (?)
5 = iritasi: seperti terbakar, pustul, atau purpura (IR)
6 = reaksi negatif (-)
7 = excited skin
8 = tidak dites (NT=not tested)

Pemeriksaan histologi
Pemeriksaan histologis lesi akut menunjukkan dermatitis dengan perubahan vakuolar dan Civatte bodies. Secara keseluruhan mirip dengan pola yang terlihat pada eritema multiforme. Diskeratosis dan nekrotik keratinosit dalam epidermis merupakan gambran yang menonjol (Gambar 6). Pada peristiwa ini, infiltrasi limfositik dapat mengaburkan dermoepidermal junction. Spongiosis, edema dermal, eosinofil, neutrofi kadang-kadang tampak. Inkontinensia pigmen dalam papiler dermis merupakan gambaran khas dan mungkin satu-satunya gambaran yang tampak berupa lesi non inflamasi. Lesi kronis atau tidak aktif menunjukkan akantosis ringan, hiperkeratosis, dan beberapa sel inflamasi.

DIAGNOSIS BANDING 
Eritema multiforme
Eritema multiforme dibagi menjadi 2 tipe yaitu eritema multiforme mayor dan eritema multiforme minor. Pada eritema multiforme mayor lesi kulit tidak melibatkan membran mukosa, sedangkan eritema multiforme minor lesi kulit melibatkan membran mukosa. Ruam kulit muncul secara tiba-tiba. Kebanyakan lesi muncul secara simetris pada permukaan ekstensor ekstremitas (tangan, kaki, siku dan lutut), wajah dan leher, dan lebih sering pada paha, pantat, dan badan.

Lesi khas yang sangat teratur, sirkuler, berupa papul eritematous atau plak yang bertahan selama 1 minggu atau lebih. Walaupun tepinya eritematous dan edematous, pusatnya menjadi keunguan dan gelap, sehingga menimbulkan warna cincin konsentris. Seringkali, pusatnya berubah menjadi purpura, dan/atau nekrotik atau berubah menjadi kumpulan vesikel atau bula yang disebut target khas atau lesi iris.10Makula eritematous atau bula, dengan lesi iris, dapat terjadi pada penggunaan sulfonamide kerja panjang. Lesi biasanya muncul setelah satu atau dua minggu terapi, dan sering disertai demam.

Obat-obatan yang menghasilkan reaksi ini adalah sulfonamid, allopurinol, penisilin, dipenilhidantoin, dan penilbutazon.

Dermatitis Kontak Alergi
Dermatitis kontak Alergi terjadi pada seseorang yang telah mengalami sensitisasi terhadap suatu alergen. Penyebab DKA adalah bahan kimia sederhana dengan berat molekul umumnya rendah (< 1000 dalton). Mekanisme terjadinya kelainan kulit pada DKA adalah mengikuti respon imun yang diperantarai oleh sel (cell-mediated immune respons) atau reaksi imunologik tipe IV,suatu hipersensitivitas tipe lambat.

Kelainan kulit bergantung pada keparahan dermatitis dan lokalisasinya. Pada yang akut dimulai dengan bercak eritematosa yang berbatas jelas kemudian diikuti edema, papulovesikel, vesikel atau bula. Vesikel atau bula dapat pecah menimbulkan erosi dan eksudasi (basah). DKA akut ditempat tertentu, misalnya kelopak kelopak mata, penis, skrotum, eritema dan edema lebih dominan daripada vesikel. Pada yang kronis terlihat kulit kering, berskuama, papul, likenifikasi dan mungkin juga fisur, batasnya tidak jelas.

Obat- obat yang sering mengakibatkan reaksi ini adalah benzokain, bacitracin, balsam peru, niomisin sulfat.

PENGOBATAN
Topikal
Jika lesi basah dapat diberi kompres secara terbuka dengan larutan NaCl 0,9% yang dilakukan 2-3 kali sehari. Jika lesi kering dapat diberi krim hidrokortison 1% atau 2,5%. Lesi hiperpigmentasi tidak perlu diobati karena menghilang dalam jangka waktu yang lama.

Sistemik
Pemberian kortikosteroid biasanya tidak diperlukan. Untuk keluhan rasa gatal pada malam hari yang kadang mengganggu istirahat pasien, maka dapat diberikan antihistamin generasi lama yang mempunyai efek sedasi, contohnya chlorpheniramin Maleat 1×10 mg, diminum malam hari.

Lesi FDE dapat dihentikan secara spontan dengan menghindari obat-obat yang dapat mencetuskan lesi. Obat-obatan tambahan harus digunakan untuk meredakan gejala yang berhubungan dengan kondisi penderita. Secara umum, antihistamin oral (misalnya, Hidroksizin) dan kortikosteroid topikal mungkin sudah cukup. Mungkin diperlukan waktu beberapa bulan untuk menyembuhkan hiperpigmentasi.

PROGNOSIS
Pada dasarnya erupsi kulit karena obat akan sembuh sempurna dengan sendirinya bila obat penyebabnya dapat diketahui dan segera disingkirkan. Pada FDE prognosis sangat baik, meskipun terdapat hiperpigmentasi. Tidak ada kematian akibat FDE yang pernah dilaporkan.

Lihat juga Drug Eruption versi info di sini, atau Fixed Drug Eruption versi Medis di sini.




Kemoterapi, manfaat dan resikonya

Para wanita yang menjalani kemoterapi untuk mengobati kanker payudara mengeluhkan berbagai efek samping yang mereka alami, mulai dari rasa pusing hingga kerontokan rambut.

Penelitian terkini yang diterbitkan oleh Journal of the National Cancer Institute telah mengidentifikasi delapan efek samping serius yang berhubungan dengan kemoterapi.

Demam dan infeksi merupakan penyebab utama seseorang mengunjungi rumah sakit. Efek samping serius yang lain adalah rendahnya jumlah sel darah putih dan keping-keping darah (platelet) serta gangguan elektrolit yang mengakibatkan dehidrasi.

"Para wanita harus waspada akan efek samping negatif yang ditimbulkan oleh kemoterapi, namun di sisi lain juga jangan sampai mereka memutuskan untuk tidak melakukan kemoterapi hanya semata berlandaskan kesimpulan penelitian kami ini", kata Dr. Michael Hassett, ketua tim peneliti yang juga seorang pembina medis di Harvard Medical School.

Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Hassett ini memang bukanlah suatu randomized controlled trial, yaitu suatu jenis investigasi teliti yang diperlukan untuk mengubah pedoman praktek klinik. Akan tetapi beberapa penelitian sejenis yang sedang dilakukan, ditujukan untuk mencari berbagai efek samping yang berhubungan dengan kemoterapi. Sementara itu, upaya perbaikan berkesinambungan telah dilakukan pada penanganan pasien kemoterapi.

"Para dokter telah berusaha keras untuk mencegah beberapa efek samping umum yang ditimbulkan oleh kemoterapi, yaitu rasa mual", kata Dr. Jennifer J. Grigg, seorang guru besar pada jurusan ilmu penyakit dalam yang juga merangkap sebagai ketua Breast Cancer Survivorship Program pada University of Michigan Health System di Ann Arbor.

"Lagi pula dokter juga secara rutin memberikan colony stimulating factors", tambah Dr. Grigg. "Suntikan ini meningkatkan pasokan sel darah putih yang berguna untuk memerangi infeksi, dan metode ini nampaknya dapat menurunkan risiko demam dan infeksi yang lain".

Kemoterapi adalah suatu pengobatan sistemik, yang berarti bahwa kemoterapi bekerja di seluruh bagian tubuh untuk membunuh sel-sel kanker. Kemoterapi dapat dilakukan sebelum dilakukan pembedahan atau radiasi untuk mengecilkan ukuran tumor, dan dapat pula dilakukan setelahnya guna membunuh sisa sel kanker.

Disamping manfaatnya yang sangat efektif melawan cepatnya pertumbuhan sel kanker, kemoterapi juga berpengaruh terhadap sel normal, hal inilah yang menyebabkan terjadinya efek samping. Selain rasa mual dan kerontokan rambut, efek samping lainnya yang umum ditemui adalah rasa penat (lelah), muntah, menurunnya jumlah sel-sel darah, sakit pada mulut dan nyeri. Hal ini dikatakan oleh US National Cancer Institute.

Dr. Hassett dan rekan-rekannya mengadakan penelitian untuk mengetahui jumlah, penyebab, dan biaya yang disebabkan oleh efek samping serius kemoterapi. Mereka mengevaluasi data lebih dari 12.000 wanita berusia 63 tahun ke bawah yang baru didiagnosis menderita kanker payudara. Sejumlah 4.075 orang diantaranya mendapatkan kemoterapi.

Mereka menemukan bahwa pasien kemoterapi berpeluang sebesar 61% untuk menderita sakit yang mengharuskan mereka dirawat inap atau jalan, sedangkan yang tidak mendapat kemoterapi hanya berpeluang sebesar 42%. Pasien kemoterapi juga menambah biaya rata-rata sebesar $1.271 per tahun untuk mengobati efek samping kemoterapi.

Dr. Hassett menyarankan agar mempertimbangkan antara manfaat dan efek samping dari kemoterapi sebelum memutuskan untuk menjalaninya. Diskusi dengan spesialis kanker juga perlu dilakukan.

Cisplatin Dan Dampaknya Pada Kesuburan Wanita

Para peneliti dari Itali mengatakan mereka telah mengenali mekanisme akan kemoterapi yang mana yang dapat membuat seorang wanita kehilangan kesempatannya untuk memperoleh anak.

Yang menggugah rasa ingin tahu, para ilmuwan juga mendapati bahwa obat-obat anti kanker yang lain dapat meniadakan gejala-gejala negatif dari obat kemoterapi, cisplatin.

Penemuan ini, yang didemonstrasikan pada tikus-tikus dan dilaporkan secara online di Nature Medicine, meningkatkan harapan akan adanya jalan untuk melindungi kesuburan seorang wanita saat ia menjalankan pengobatan untuk kanker tetapi, penulis peneliti menekankan, ini masih mungkin sepenuhnya salah.

"Perpanjangan dari penemuan-penemuan ini untuk para pasien dan merancang percobaan-percobaan klinis adalah mungkin untuk membutuhkan perkembangan strategi-strategi pengiriman dari obat-obat yang ditargetkan untuk mencegah setiap potensi campur tangan dengan sistim terapi anti kanker," jelas penulis peneliti Stefania Gonfloni, dari departemen biologi di University of Rome.

"Saya rasa ini gagasan yang hebat. Mereka menemukan sebuah jalan kecil yang dapat digunakan sebagai penanda untuk mendeteksi obat mana yang akan menghasilkan sel-sel mati sebagai akibat dari kemoterapi, dan mereka menemukan sebuah obat yang memberikan efek perbaikan," kata Dr. George Attia, seorang associate professor of reproductive endocrinology and infertility di University of Miami Miller School of Medicine. "Tetapi, ini adalah penelitian ilmiah yang sangat mendasar. Penelitian ini masih awal."

Karena kemoterapi mempengaruhi sel-sel telur dalam indung telur, para wanita biasanya berakhir dengan kegagalan indung telur dan ketidaksuburan sebagai akibat dari pengobatan kanker.

"Kami seringkali menangani para wanita yang berada dalam usia reproduktif, dan terdapat banyak kekhawatiran mengenai pemeliharaan kesuburan sekalipun pada para wanita yang lebih tua, kemo menyebabkan menupause." kata Dr. Igor Astsaturov, seorang assitant professor of medical oncology di Fox Chase Cancer Center di Philadelphia. "Pendekatan standar saat ini adalah mengambil sel-sel telur untuk disimpan dan digunakan di kemudian hari."

Kemoterapi juga dapat menyebabkan cacat genetik pada keturunan. Khususnya, cisplatin, yang diteliti dalam penelitian ini, menyebabkan kerusakan pada jenis-jenis kromosom tertentu. Cisplatin biasanya digunakan dalam mengobati kanker rahim, catat Attia.

Dalam penelitian ini, Gonfloni dan para rekan kerjanya menunjukkan bahwa cisplatin menyebabkan kematian oocytes atau sel-sel kuman pada wanita, yang berasal dari enzim c-Abl, sebuah protein, yang saat bermutasi, juga dapat menyebabkan chronic myeloid leukemia (CML).

Tetapi menargetkan enzim dengan imatinib (Gleevec), sebuah obat yang digunakan untuk mengobati CML, melindungi oocytes dari pengaruh-pengaruh buruk dari cisplatin.

"Hasil-hasil ini meningkatkan kemungkinan dalam melindungi fungsi indung telur selama pengobatan kanker, dengan demikian menjaga kesuburan para wanita yang selamat dari kanker," kata Gonfloni.

Tetapi bagaimana menggunakan satu obat tanpa membahayakan yang lain?

"Pertama, kita harus menunjukkan bahwa imatinib dapat digunakan untuk mencegah keracunan ovarium/indung telur yang disebabkan oleh kemoterapi tanpa campur tangan dengan pengobatan anti-kanker." kata Gonfloni. "Dengan kata lain, kita harus membuktikan bahwa hewan-hewan di laboratorium yang menderita tumor dapat disembuhkan dengan kombinasi pengobatan cisplating dan imatinib, sementara di waktu yang bersamaan, juga menjaga kesuburan," jelasnya.

"Kemudian, untuk setiap implikasi klinik, akan menjadi sangat penting untuk membuktikan efek perlindungan yang sama dari sebuah dosis imtinib tertentu pada oocytes manusia yang dipelihara dan ditantang dengan obat-obat kemoterapi in vitro," tambahnya.

Dan pemeliharaan kesuburan tidak selalu hal yang benar, kata Astsaturov. "Kemoterapi menyebabkan menupause bagi beberapa penderita kanker yang tergantung pada beberapa hormon. Ini merupakan efek yang menguntungkan karena ini menghilangkan stimulan-stimulan untuk sel-sel kanker. Menupause adalah kontribusi untuk sembuh," katanya. "Hal ini masih diperdebatkan apakah kita seharusnya memelihara fungsi menstruasi bagaimanapun juga."


Dari MedicalEra

Efek samping kemoterapi

KOMPAS.com — Pada usia paruh baya, Reni harus bergelut dengan penyakit kanker yang menggerogoti paru-paru. Meski memiliki keinginan kuat untuk sembuh, ia diliputi rasa takut menghadapi ancaman kematian dan rasa sakit saat menjalani kemoterapi.

"Begitu dinyatakan menderita kanker, ibaratnya satu kaki kita sudah berada di kuburan," kata Reni. Setelah mengalami kecelakaan pesawat, ketabahannya kembali diuji ketika ia dinyatakan menderita kanker paru-paru sehingga harus menjalani operasi pengangkatan tumor. Agar sel kanker tak menyebar, ia harus menjalani serangkaian kemoterapi. Pertama kali kemoterapi ia mengeluh meriang dan tubuh serasa dicacah-cacah. 

Berkat dukungan keluarga, ia bersemangat menjalani kemoterapi untuk kedua kali meski mengaku masih ngeri. Efek samping karena kemoterapi juga dialami ibu dari Dina. Menurut Dina, saat ini ibunya yang menderita kanker ovarium menjalani kemoterapi kedelapan kali. Saat dikemoterapi untuk keempat hingga keenam kali, ibunya perlu ditransfusi 10 kantong darah. Pada kemoterapi ketujuh, ibunya butuh 40 kantong darah. Sejumlah penderita kanker lain juga mengalami sejumlah efek samping kemoterapi, antara lain tangan dan kaki hitam, mengelupas, diare, dan mual-muntah.
  • Ancaman kematian
Ancaman kematian dan penurunan kualitas hidup membayangi jutaan penderita kanker. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan, tahun 2005 sekitar 7,6 juta orang meninggal akibat kanker. Ini berarti 13 persen dari total jumlah kematian di dunia. Diperkirakan, 9 juta orang akan meninggal karena kanker pada tahun 2015. Selama ini kematian akibat kanker lebih banyak dari jumlah kematian karena tuberkulosis, HIV, dan malaria. ”Lebih dari 70 persen kematian akibat kanker terjadi di negara berpenghasilan rendah atau menengah,” kata dr Noorwati Sutandyo dari Divisi Hematologi-Onkologi Medik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Kanker Dharmais. Semua orang bisa terserang kanker, lebih-lebih usia di atas 40 tahun. Data 10 kanker terbanyak di RS Kanker Dharmais tahun 2007 adalah dari 1.348 jumlah kasus, 32,4 persen di antaranya kanker payudara, dan 18,8 persen kanker serviks. Beberapa faktor penyebab kanker adalah genetik, diet, kegemukan, rokok, paparan bahan kimia, hormon, radiasi dan sinar ultraviolet, virus, serta sistem imunitas.
  • Bermacam kemoterapi
Ada beberapa cara pemberian kemoterapi. Jika berfungsi membunuh sel kanker secara sistemik, obat diberikan melalui injeksi dan oral. Kemoterapi yang regional berfokus pada organ yang terkena kanker diberikan bersama dengan obat. Terapi ini bisa berperan kuratif atau menyembuhkan. Kemoterapi dapat jadi pengendali kanker dengan mencegah penyebaran, memperlambat perkembangan, membunuh sel kanker yang menyebar, dan mengurangi ukuran tumor. Fungsi lain adalah paliatif atau mengurangi gejala kanker, terutama nyeri. Beberapa jenis kemoterapi, antara lain, kemoterapi primer, kemoterapi adjuvan atau tambahan—diberikan setelah operasi atau radiasi untuk membunuh sel kanker, dan kemoterapi neoadjuvan yang diberikan sebelum operasi atau radiasi untuk mengecilkan ukuran tumor. 

”Kemoterapi dapat diberikan sebagai terapi tunggal atau kombinasi dengan terapi lain, seperti pembedahan, radioterapi, dan terapi biologik,” kata Noorwati. Terapi ini bisa mengendalikan kanker cukup lama, seperti penderita kanker ovarium, limfoma non-Hodgkin, kanker darah kronis yang merusak tulang (multiple myeloma), dan kanker endometrium. Selain itu, kemoterapi bermanfaat untuk paliatif atau dapat mengurangi gejala pada kanker nasofaring, kanker prostat, kanker endometrium, kanker leher dan kepala, serta kanker paru stadium lanjut. ”Manfaat kemoterapi juga tergantung jenis kanker,” ujarnya. 

Dengan kemoterapi, obat tak hanya membunuh sel kanker, tetapi sel normal yang membelah cepat seperti sel kanker, yaitu sel saluran cerna, sel kulit, sel rambut, dan sel sperma. ”Efek samping bersifat sementara,” kata Noorwati. Beberapa efek samping lain adalah rambut rontok, sariawan, fibrosis paru, mual-muntah, diare, nyeri otot toksik ke jantung, reaksi lokal, bahkan bisa gagal ginjal, dan menekan produksi darah. Untuk itu, penderita dianjurkan makan dan minum sedikit tetapi sering; minum tiap muntah; serta hindari makanan berbau, berminyak, berlemak, pedas, terlalu manis, panas, dan beraroma sitrus. Penderita dianjurkan mengonsumsi makanan dingin dan kering, minum teh beraroma jahe, akupunktur, relaksasi otot, terapi musik, memakai pakaian longgar, dan tidak berbaring seusai makan. Menimbang besarnya manfaat kemoterapi, efek samping yang muncul karena terapi ini diharapkan tidak mematahkan semangat para pasien untuk berjuang melawan kanker. Apalagi, sebagian besar efek samping bersifat sementara dan bisa diatasi dengan berbagai cara. 

Sumber: KOMPAS | Evy Rachmawati | 23 Juli 2009  
Artikel Terkait:

Bisphosphonate dan pengeroposan tulang pada terapi endokrin

Menurut sebuah multicenter dengan percobaan acaknya “pada Para Pasien premenopausal dengan tahap awal penderita kanker payudara mengambil terapi endokrin, kepadatan mineral tulang yang slalu stabil dengan bisphosphonate dan memperbaikinya dari waktu ke waktu”.

Para pasien diberikan asam zoledronic (Zometa) selama kombinasi terapi endokrin tidak terjadi perubahan yang signifikan pada tulang belakang atau kepadatan tulang trochanter dalam tiga tahun, Michael Gnant, M.D., dari the University of Vienna bersama rekan-rekannya melaporkan berita ini pada Lancet Oncology. Dalam lima tahun baru kepadatan tulang pada kedua tempatnya telah diperbaiki secara signifikan.

Secara kontrasnya, para pasien yang menerima terapi endokrin tanpa asam zoledronic kehilangan 11.3% pada tingkat kepadatan tulang belakang dan pinggang dan 7.3% pada kepadatan tulang trochanter setelah tiga tahun. Kepadatan tulang meningkat tetapi tidak memulihkan pada tingkat dasarnya selama dua tahun tambahan dalam tindak lanjutnya.

Meskipun mendapat hasil yang baik dengan asam zoledronic, para peneliti menerangkan bahwa efeknya pada tulang dalam jangka panjang dari terapi endokrin belum jelas.

Mereka mengatakan, “dalam lima tahun tindak lajut, hal ini tidaklah mungkin untuk menilai apakah para wanita ini pada akhirnya akan memperoleh kembali kepadatan mineral tulangnya, atau apakah setiap perbaikan kepadatan mineral tulangnya akan cukup mencegah retak-retak dimasa depannya”, “karena kekuatan tulang dan oleh karena itu keretakan sangat resisten, hal ini ditentukan oleh kedua kepadatan mineral tulang dan struktur mineral tulang, dengan efek jangka panjang yang tidak di kenal dari terapi endokrin pada tulang microarchitecture yang menjadi sangat penting”.

Penemuan ini datang dari sebuah penelitian tulang pada sekitar 1800 pasien dengan percobaan secara acak untuk mengevaluasi kombinasi dari terapi endokrin dengan adjuvant pada para pasien premenopausal dengan tahap awal kanker payudara. Para pasien diacak dalam tiga tahun dalam perawatannya dengan goserelin plus anastrozole (Aromasin) atau tamoxifen. Para pasien dalam kedua kelompoknya lebih lanjutnya diacak untuk asam zoledronic atau tidak ada terapi tambahan. Sekitar 404 pasien dalam studi ini telah di desain untuk menilai efek jangka panjang dari terapi endokrin pada kepadatan mineral tulang.

Para peneliti mencatat Bagaimana kepadatan tulang pasien itu akan berubah setelah menghentikan terapi adjuvant bukan menghilangkan sama sekali.

Tindak lanjut dalam percobaan dilanjutkan untuk penambahan selama dua tahun setelah terapi selesai. Dr. Gnant pada awalnya melaporkan hasil-hasil dari penelitian mengenai tulang pada akhir tahun lalu yaitu tentang asam Zoledronic dapat mencegah keretakan tulang selama terapi endokrin.
Penemuan meluas pada studi yang lain yang terbaru menunjukan asam zoledronic mencegah keretakan tulang pada wanita premenopausal yang menerima chemoterapi adjuvantuntuk tahap awal kanker payudara.

Baca juga Tanya Dokter: Terapi Hormon Pada Kanker Payudara

Diduga, pil kontrasepsi picu kanker payudara

Para ilmuwan berharap suatu hari nanti perempuan dengan mudah dapat mencegah dirinya terkena kanker payudara hanya dengan meminum obat, terlebih kini ada dugaan bahwa pil kontrasepsi dan terapi hormon ternyata dapat memicu timbulnya penyakit tersebut.

Pada penelitian sebelumnya, dikemukakan, hormon progestin yang biasa digunakan dalam terapi hormon (HRT) dan pil kontrasepsi ternyata terkait dengan perkembangan kanker payudara. Kini, sekelompok ilmuwan malah mengklaim protein yang berperan dalam metabolisme tulang mungkin memiliki peran dalam pengobatan kanker payudara. Ketika orang memiliki terlalu banyak protein, atau RANKL, ia akan berisiko mengalami osteoporosis.

Dalam penelitian yang digelar Institut Biologi Molekular di Akademi Ilmu Pengetahuan Austria di Vienna bekerja sama dengan Universitas College London mendemonstrasikan bahwa progestin memicu protein RANKL pada sel-sel di payudara tikus.

Namun, dalam sebuah penelitian terpisah yang digelar peneliti AS dan diketuai William Dougall, para peneliti malah menemukan bahwa mengobati tikus dengan inhibitor RANKL mengurangi peran progestin yang yang memicu kanker payudara. Kedua penelitian di atas telah dimuat pada jurnal Nature, edisi Oktober 2010.

Para peneliti mengemukakan penelitian lebih lanjut memang diperlukan, tapi mereka berharap uji klinis dapat dilakukan guna menganalisis efek RANKL bila digunakan pada pengobatan kanker payudara. Prof Penninger mengatakan, "Sepuluh tahun yang lalu, kami memformulakan hipotesis bahwa RANKL mungkin memiliki peran dalam kanker payurada dan kami pun membutuhkan waktu yang lama hingga akhirnya tercetus hasil penelitian ini." (Pri/OL-06)

[Sumber: Media Indonesia]

Kombinasi Tamoxifen dan Seroxat sebabkan kematian

PEREMPUAN yang menggunakan obat antidepresi Seroxat pada saat yang bersamaan dengan obat yang digunakan untuk menghentikan kambuhnya kanker payudara berisiko lebih besar meninggal akibat kanker tersebut. Peneliti telah menemukan bahwa Seroxat bisa berinteraksi dengan tamoxifen, yang diresepkan terhadap pasien yang selamat dari kanker payudara (breast cancer survivor) selama lima tahun berkelanjutan.

Temuan ini mempunyai implikasi besar karena banyak dari perempuan ini juga menderita depresi. Sekitar satu dari empat pasien menderita depresi. Akan tetapi, jenis antidepresi lainnya tidak mempunyai efek yang sama.

Ganggu efektifitas tamoxifen
Dalam studi ini, peneliti dari Sunnybrook Health Sciences Centre dan University of Toronto di Canada mempelajari 2.430 perempuan berusia 66 atau lebih. Semua partisipan menjalani pengobatan antara 1993 dan 2005. Semua partisipan menggunakan tamoxifen dan satu dari lima partisipan menggunakan antidepresi, termasuk Seroxat, yang paling umum diresepkan.

Selama dua tahun ke depan, 374 pasien meninggal akibat kanker payudara. Analisis menunjukkan bahwa mereka yang menggunakan Seroxat berisiko lebih besar meninggal akibat kanker payudara dan berisiko sedikit lebih besar meninggal akibat penyebab lain, dibandingkan perempuan yang tidak menggunakan obat tersebut.

Peneliti menemukan, jika pasien menggunakan Seroxat selama 25 persen dari total waktu mereka menggunakan tamoxifen, risiko mereka meninggal akibat kanker payudara meningkat sebesar 24 persen.

Saat Seroxat dikonsumsi selama 50 persen dari total waktu penggunakan tamoxifen, risiko kematian meningkat sebebasr 54 persen dan saat dikonsumsi selama 75 persen dari waktu total penggunaan tamoxifen risiko kematian meningkat sebesar 91 persen.

"Kesimpulannya, temuan kami mengindikasikan bahwa pilihan antidepresi sangat mempengaruhi kemampuan bertahan perempuan yang menggunakan tamoxifen untuk kanker payudara," terang peneliti, seperti dikutip situs dailymail.com.

Akan tetapi, peneliti menekankan bahwa perempuan sebaiknya tidak berhenti menggunakan tamoxifen. Selain itu, peneliti juga menyatakan bahwa studi mereka tidak mengindikasikan bahwa Seroxat menyebabkan atau mempengaruhi kanker payudara. "Studi ini hanya menunjukkan bahwa Seroxat mengganggu efektifitas tamoxifen."

"Saat diperlukan resep tamoxifen dan antidepresi, ada baiknya memilih antidepresi yang tidak mempengaruhi metabolisme tamoxifen," terang salah satu peneliti Dr David Juurlink. Juru bicara GlaxoSmithKline (GSK), yang memproduksi Seroxat, menyatakan bahwa perusahaan tersebut sudah menyadari hubungan tersebut dan telah memperbarui peringatan di label Seroxat pada 2008. "Mengikuti publikasi penelitian baru ini, GSK akan meriview tambahan data ini dan akan bekerja sama dengan pembuat kebijakan untuk menentukan langkah selanjutnya." (OL-08)


Sumber: MEDIA INDONESIA

Baca juga laporan msnbc.com tentang issue yang hampir sama di sini.


Efek samping kemoterapi

Pada usia paruh baya, Reni harus bergelut dengan penyakit kanker yang menggerogoti paru-paru. Meski memiliki keinginan kuat untuk sembuh, ia diliputi rasa takut menghadapi ancaman kematian dan rasa sakit saat menjalani kemoterapi.

"Begitu dinyatakan menderita kanker, ibaratnya satu kaki kita sudah berada di kuburan," kata Reni. Setelah mengalami kecelakaan pesawat, ketabahannya kembali diuji ketika ia dinyatakan menderita kanker paru-paru sehingga harus menjalani operasi pengangkatan tumor.

Agar sel kanker tak menyebar, ia harus menjalani serangkaian kemoterapi. Pertama kali kemoterapi ia mengeluh meriang dan tubuh serasa dicacah-cacah. Berkat dukungan keluarga, ia bersemangat menjalani kemoterapi untuk kedua kali meski mengaku masih ngeri.

Efek samping karena kemoterapi juga dialami ibu dari Dina. Menurut Dina, saat ini ibunya yang menderita kanker ovarium menjalani kemoterapi kedelapan kali. Saat dikemoterapi untuk keempat hingga keenam kali, ibunya perlu ditransfusi 10 kantong darah. Pada kemoterapi ketujuh, ibunya butuh 40 kantong darah.

Sejumlah penderita kanker lain juga mengalami sejumlah efek samping kemoterapi, antara lain tangan dan kaki hitam, mengelupas, diare, dan mual-muntah.

Ancaman kematian
Ancaman kematian dan penurunan kualitas hidup membayangi jutaan penderita kanker. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan, tahun 2005 sekitar 7,6 juta orang meninggal akibat kanker. Ini berarti 13 persen dari total jumlah kematian di dunia. Diperkirakan, 9 juta orang akan meninggal karena kanker pada tahun 2015.

Selama ini kematian akibat kanker lebih banyak dari jumlah kematian karena tuberkulosis, HIV, dan malaria. ”Lebih dari 70 persen kematian akibat kanker terjadi di negara berpenghasilan rendah atau menengah,” kata dr Noorwati Sutandyo dari Divisi Hematologi-Onkologi Medik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Kanker Dharmais.

Semua orang bisa terserang kanker, lebih-lebih usia di atas 40 tahun. Data 10 kanker terbanyak di RS Kanker Dharmais tahun 2007 adalah dari 1.348 jumlah kasus, 32,4 persen di antaranya kanker payudara, dan 18,8 persen kanker serviks.

Beberapa faktor penyebab kanker adalah genetik, diet, kegemukan, rokok, paparan bahan kimia, hormon, radiasi dan sinar ultraviolet, virus, serta sistem imunitas.

Bermacam kemoterapi
Ada beberapa cara pemberian kemoterapi. Jika berfungsi membunuh sel kanker secara sistemik, obat diberikan melalui injeksi dan oral. Kemoterapi yang regional berfokus pada organ yang terkena kanker diberikan bersama dengan obat.

Terapi ini bisa berperan kuratif atau menyembuhkan. Kemoterapi dapat jadi pengendali kanker dengan mencegah penyebaran, memperlambat perkembangan, membunuh sel kanker yang menyebar, dan mengurangi ukuran tumor. Fungsi lain adalah paliatif atau mengurangi gejala kanker, terutama nyeri.

Beberapa jenis kemoterapi, antara lain, kemoterapi primer, kemoterapi adjuvan atau tambahan—diberikan setelah operasi atau radiasi untuk membunuh sel kanker, dan kemoterapi neoadjuvan yang diberikan sebelum operasi atau radiasi untuk mengecilkan ukuran tumor. ”Kemoterapi dapat diberikan sebagai terapi tunggal atau kombinasi dengan terapi lain, seperti pembedahan, radioterapi, dan terapi biologik,” kata Noorwati.

Terapi ini bisa mengendalikan kanker cukup lama, seperti penderita kanker ovarium, limfoma non-Hodgkin, kanker darah kronis yang merusak tulang (multiple myeloma), dan kanker endometrium.

Selain itu, kemoterapi bermanfaat untuk paliatif atau dapat mengurangi gejala pada kanker nasofaring, kanker prostat, kanker endometrium, kanker leher dan kepala, serta kanker paru stadium lanjut. ”Manfaat kemoterapi juga tergantung jenis kanker,” ujarnya.

Dengan kemoterapi, obat tak hanya membunuh sel kanker, tetapi sel normal yang membelah cepat seperti sel kanker, yaitu sel saluran cerna, sel kulit, sel rambut, dan sel sperma.

”Efek samping bersifat sementara,” kata Noorwati. Beberapa efek samping lain adalah rambut rontok, sariawan, fibrosis paru, mual-muntah, diare, nyeri otot toksik ke jantung, reaksi lokal, bahkan bisa gagal ginjal, dan menekan produksi darah.

Untuk itu, penderita dianjurkan makan dan minum sedikit tetapi sering; minum tiap muntah; serta hindari makanan berbau, berminyak, berlemak, pedas, terlalu manis, panas, dan beraroma sitrus. Penderita dianjurkan mengonsumsi makanan dingin dan kering, minum teh beraroma jahe, akupunktur, relaksasi otot, terapi musik, memakai pakaian longgar, dan tidak berbaring seusai makan.

Menimbang besarnya manfaat kemoterapi, efek samping yang muncul karena terapi ini diharapkan tidak mematahkan semangat para pasien untuk berjuang melawan kanker. Apalagi, sebagian besar efek samping bersifat sementara dan bisa diatasi dengan berbagai cara.

Sumber: KOMPAS Online

Info Farmasi/Obat Kanker