Header Ads

LightBlog

Tiga Kata Kunci Bagi Penderita Kanker Payudara

Peduli, berharap dan bertahan merupakan tiga kata kunci bagi pasien kanker payudara dalam menjalani kehidupan. Pasien, keluarga, dokter, relawan dan lingkungan haruslah saling peduli dan mendukung dalam mengatasi penyakit ini agar pasien tetap memiliki harapan atau semangat hidup yang tinggi serta berkomitmen yang kuat untuk patuh menjalani pengobatan dan bertahan hidup.

“Kepedulian terhadap pasien kanker payudara sangat diharapkan, karena sang pasien memang mengalami masa-masa sulit sehubungan dengan penyakitnya,” ungkap dr Samuel J Haryono SpBK(Onk), ahli bedah onkologi Rumah Sakit Kanker (RSK) Dharmais Jakarta pada acara temu pasien kanker payudara yang diselenggarakan RSK Dharmais dan Sanofi Aventis di Jakarta, kemarin.

Kanker payudara mungkin menjadi kata paling menakutkan, tapi penting disadari bahwa suatu diagnosis kanker payudara bukanlah suatu vonis kematian. “Cancer is just a word, not a sentence,” kata Samuel.

Sebab, lanjut Samuel, kanker payudara penyakit yang dapat diobati dan angka harapan hidup kini jauh lebih tinggi ketimbang waktu-waktu sebelumnya. Bahkan, kecacatan akibat operasi sudah dapat dihindari.

Dr Maria Astheria Wijaksono Cert.in PC MPALL, staff palliative care unit RSK Dharmais mengatakan, secara umum terdapat lima fase reaksi emosional penderita ketika diberitahu bahwa penyakit yang dideritanya adalah kanker yang sudah lanjut.

Fase pertama, denial, dimana penderita menyangkal kenyataan, kemudian fase anger, penderita marah terhadap kenyataan yang dihadapinya, yang diikuti oleh fase bargaining atau fase menimbang-nimbang dan depression, penderita diliputi depresi. ”Setelah fase ini berlalu, akhirnya penderita akan sadar dan menerima kenyataan bahwa jalan hidupnya telah berubah,” ungkap Maria.

Menurut Maria, perawatan pasien kanker payudara terutama stadium lanjut dan terminal memerlukan penanganan yang multidisiplin. Kebanyakan pasien kanker bahkan sudah membutuhkan perawatan suportif sejak awal pengobatan. Oleh karena itu penting bagi keluarga, pendamping serta relawan untuk selalu memberikan harapan agar pasien dapat bertahan. ”Yang terpenting adalah agar pasien tetap bersemangat,” tukas Maria.

Kanker payudara saat ini merupakan jenis kanker dengan jumlah kasus terbanyak di dunia sekaligus penyebab kematian terbesar. Data RSK Dharmais pada 5 tahun terakhir mencatat, angka insiden kanker payudara menempati urutan pertama, yaitu sebesar 32%, sementara kanker serviks sebesar 17%.

Angka perkiraan persentase stadium awal adalah 40%, stadium lanjut lokal 30% sedangkan stadium lanjut (metastase) sebesar 30%. Pada stadium awal, biasanya dilakukan operasi BCT/ SNLP yang merupakan preferensi pasien atau mastektomi dan sebagian dilanjutkan dengan kemoterapi neo/adjuvant.

Samuel menjelaskan, pada tingkat lanjut, kanker sudah menyebar atau metastase. Metastase merupakan proses dimana sel kanker dapat melepaskan diri dari tumor utama, masuk ke pembuluh darah, ikut bersirkulasi dalam aliran darah, dan tumbuh di jaringan normal yang jauh dari tumor asalnya. Pada kanker payudara metastasisnya paling umum terjadi pada organ-organ vital, seperti paru-paru, hati, tulang dan bahkan otak.

Dr Asrul Harsal SpPD K-HOM, spesialis penyakit dalam dan konsultan hematologi onkologi medik menerangkan, penatalaksanaan kanker payudara oleh kelompok kerja kanker payudara, terdiri atas banyak dokter yang berperan sesuai dengan keahliannya atau multidisiplin.

Pengobatan dilakukan berdasarkan perjalanan penyakit. Stadium I, II, III A yang dianggap kankernya masih lokal sehingga tindakan operasi merupakan standar pengobatan yang dilakukan oleh dokter ahli bedah dan seringkali radioterapi atau penyinaran ditambahkan setelah operasi untuk melengkapi efek lokal dan dilaksanakan oleh dokter ahli radioterapi, pemberian kemoterapi setelah operasi sering diberikan jika faktor risiko untuk terjadinya kekambuhan cukup besar dan diberikan oleh dokter ahli onkologi medik.

Menurut Asrul, kemoterapi merupakan pemberian obat anti kanker yang bersifat sistemik atau seluruh tubuh memberikan manfaat yang besar pada kanker stadium agak lanjut dan kanker yang sudah menyebar atau metastasis seperti stadium IIIB atau IV.

Pada stadium IIIB terkadang pasca kemoterapi dapat dilanjutkan dengan operasi jika hasil kemoterapi relatif baik dan diikuti oleh radioterapi. Pengobatan sistemik lainnya adalah pengobatan hormonal, pengobatan target dan antiangiogenesis merupakan perkembangan yang relatif baru.

“Keputusan pemberian kemoterapi setelah operasi pada kanker payudara stadium awal dilakukan berdasarkan faktor risiko antara lain ukuran tumor, keterlibatan kelenjar, reseptor hormonal, agresivitas tumor serta menyusupnya sel-sel ke pembuluh darah dan getah bening, dan faktor lainnya,” kata Asrul.

Sehubungan dengan hal tersebut, perlu dipilih kombinasi obat anti kanker (regimen) yang paling tepat untuk memusnahkan kanker yang spesifik. Pilihan ini sering disebut regimen lini pertama (first line chemotherapy) atau obat terpilih.

Proses ini memerlukan penelitian uji klinik yang cermat dan diperlukan sampel yang banyak. Regimen lini kedua diterapkan bila regimen lini pertama, tidak mempan. Pemilihan regimen pertama yang tepat sangat penting karena kondisi pasien pada kemoterapi lini pertama belum tentu sama dengan kondisi saat akan menerima kemoterapi lini kedua.

Salah satu obat kemoterapi, docetaxel yang merupakan golongan taxanes bekerja untuk menghambat proliferasi sel, menghambat angiogenesis. Saat ini docetaxel merupakan salah satu agen kemoterapi yang aktif untuk pasien kanker payudara. (izn)


Sumber: Indonesian Hospital Association


No comments