Header Ads

LightBlog

Hindari Stress Dan Perbanyak Konsumsi Sayuran

Meski penyebab kanker payudara belum diketahui pasti, tapi sejumlah faktor risiko sudah dikemukakan oleh para dokter, sehingga upaya antisipasi bisa dilakukan jauh-jauh hari. Kalau pun sel kanker sudah muncul, setidaknya penanganan atau pengelolaan terhadap faktor-faktor risiko bisa menghambat penyebaran sel tersebut. Salah satu faktor risiko tersebut adalah stres atau goncangan jiwa.

Dr Sutjipto, Sp.B.Onk dari RS Kanker Dharmais, Jakarta menceritakan bahwa ada salah satu pasiennya yang menderita kanker payudara akibat stres yang diderita. ” Benar-benar stres dan tidak ada penyebab lainnya. Ia sama sekali tidak punya kelainan genetik atau sanak saudara yang menderita kanker payudara,” ujar Sutjipto. Menurut Sutjipto, kondisi kanker pasien tersebut berada pada stadium 2, artinya kemungkinan sembuh atau rentang harapan hidupnya masih cukup panjang. Namun stres terus-menerus yang dialami membuatnya bertahan hidup hanya sampai tahun ke-2.

Karena itu, stres tidak bisa dianggap enteng. Penanganan terhadap stres mesti dilakukan sesegera mungkin, baik untuk mencegah maupun terapi bagi penderita kanker. Faktor risiko lainnya adalah menstruasi pada usia dini (usia 11 tahun ke bawah). Penelusuran ilmiah menunjukkan angka kejadian kanker payudara akan lebih tinggi pada orang yang mengalami menstruasi pada usia 11 tahun ke bawah dibandingkan mereka yang mengalaminya pada usia 13 tahun. Sementara menopause yang terlambat maupun belum menikah atau belum melahirkan juga merupakan faktor risiko. Konsumsi alkohol, merokok, paparan sinar radioaktif, dan konsumsi obat yang mengandung hormon estrogen dalam jangka panjang adalah sejumlah faktor risiko juga. Faktor lainnya adalah keturunan. Seseorang yang memiliki anggota keluarga terkena kanker payudara, maka ia memiliki risiko yang sama. Mutasi gen BRCA1 dan BRCA2 mempunyai kaitan erat dengan risiko kanker payudara, ovarium atau keduanya, sebesar 50-85 persen. Karena itu, Sutjipto menganjurkan jika ada anggota keluarga yang terkena kanker payudara maka anggota keluarga lainnya mesti melakukan pemeriksaan dengan mamografi.

Menurut Penatalaksanaan Kanker Payudara Terkini terbitan RS kanker Dharmais, perempuan dengan risiko standar bisa melakukan mamografi pada usia 40 tahun ke atas. Namun perempuan dengan risiko tinggi, khususnya dengan mutasi BRCA1 dan BRCA2, mamografi sebaiknya dimulai pada usia 25 tahun. Atau pada usia 5 tahun lebih muda dari anggota keluarga termuda yang mempunyai riwayat kanker payudara. Misalnya, jika sang kakak menderita kanker pada usia 26 tahun, maka adiknya dengan mutasi BRCA1 atau BRCA2 dianjurkan memulai pemeriksaan mamografi pada usia 21 tahun. Sutjipto mengatakan tidak ada cara yang pasti untuk menangkal atau menyembuhkan kanker. ” Nggak ada yang mencegah secara absolut,” ujarnya. Namun pola hidup sehat dan menghindari stres adalah salah satu sarana untuk menghambat penyebaran sel kanker dan memperpanjang usia harapan hidup. ” Banyak konsumsi sayuran dan vitamin C, hilangkan stres, hindari rokok dan jangan terlalu gemuk,” jelas Sutjipto.

Sejumlah penelitian menunjukkan konsumsi buah-buahan dan sayuran bisa menurunkan risiko kanker payudara. Pasalnya, makanan dari tumbuhan kaya dengan nutrien antioksidan yang mencegah kerusakan sel-sel yang bisa menyebabkan kanker. Usahakan untuk mengonsumsi paling sedikit 5 porsi buah-buahan atau sayuran per hari.

Penelitian lain menunjukkan lemak tak jenuh tunggal seperti minyak zaitun bisa melindungi kita dari kanker payudara, sedangkan lemak jenuh seperti terdapat di dalam daging dan mentega bisa meningkatkan risiko. Ini dikatakan oleh David J. Hunter, M.D., Direktur Harvard Center for Cancer Prevention di Boston. Para ahli yang mengamati kebiasaan makan pasien kanker payudara dan perempuan yang sehat juga menemukan perempuan yang mengonsumsi steak well done (sangat matang) berisiko 4 kali lebih tinggi terkena penyakit ini dibandingkan yang lebih suka steak medium, begitu menurut sebuah penelitian tahun 1998 yang dimuat di Journal of the National Cancer Institute. Penelitian tahun 1997 yang diterbitkan jurnal kedokteran Inggris, The Lancet juga menemukan konsumsi kedelai yang banyak mengandung senyawa phytoestrogen akan menurunkan risiko kanker payudara.

Jadi siapa bilang kanker payudara adalah akhir segalanya? Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menikmati hidup lebih panjang. Satu terapi penting lainnya, lupakanlah bahwa Anda adalah seorang penderita kanker payudara karena semakin Anda memikirkannya maka semakin berat derita yang dirasakan dan semakin lemah fisik Anda. Jadi kenapa mesti tenggelam dalam kesedihan ketika masih banyak kegembiraan lain yang menunggu keterlibatan Anda. (san)

Sumber: Sinar Harapan


No comments