Header Ads

LightBlog

Tentang Ekstrak Strawberry Organik

Oleh: Sri Widiastuti

Studi terbaru menunjukkan bahwa ekstrak strawberry organik dapat lebih efektif mencegah perkembangbiakan sel kanker dibandingkan dengan ekstrak strawberry konvensional.

Para peneliti Ilmu Pertanian, Universitas Swedia dan Universitas Lund membandingkan lima ekstrak strawberry organik dengan ekstrak strawberry konvensional untuk mengetahui kemampuannya menahan perkembangbiakan sel kanker usus dan payudara manusia. Hasilnya, mereka menemukan ekstrak strawberry organik lebih efektif dalam mencegah perkembangbiakan dua jenis sel kanker itu daripada strawberry konvensional.

Ekstrak strawberry organik mengurangi perkembangbiakan sel pada dosis antara 0,025 hingga 0,5 persen dari berat kering ekstrak volume pembiakan sel. Pada konsentrat tertinggi, ekstrak organik dapat mencegah perkembangbiakan sel kanker usus (HT29) hingga 60 persen dan sel kanker payudara (MCF-7) hingga 53,1 persen. Nilai itu setara dengan ekstrak strawberry konvensional 49,7 persen untuk sel kanker usus dan 37,9 persen untuk sel kanker payudara. Perbedaan yang signifikan dalam statistik.

Ekstrak yang paling efektif untuk mencegah perkembangbiakan sel mengandung 48 persen lebih askorbat dan lima kali lebih dehydroaskorbat. Vitamin C adalah askorbat ditambah dehydroaskorbat. Strawberry organik juga mengandung zat antioksidan dan askorbat yang relatif lebih tinggi dibandingkan dehydroaskorbat.

Kompos sebagai suplemen tanah juga dapat menambah jumlah bahan antioksidan dalam strawberry. Ekstrak strawberry yang kaya vitamin C dan antioksidan, tercampur dengan mitogen aktif protein kinase (MAPK) menandakan aliran pembelahan sel, transformasi dan perkembangbiakan sel kanker.

Manfaat strawberry organik juga ditemukan pada buah lainnya. Buah plums kuning organik ditemukan kaya asam phenol ketika tumbuh secara alami di lahan rumput atau sekitar clover (tanaman genus Trifolium) dibandingkan buah plums yang tumbuh secara konvensional. Plums dan ekstrak clover menyebabkan apoptosis (kematian sel) dan mengurangi kemungkinan hidup sel kanker pada hati manusia.

Mengurangi bahaya pestisida
Para peneliti Sekolah Kesehatan Masyarakat Rollins, Universitas Emory, Atlanta dan Lembaga Lingkungan dan Ilmu Kesehatan, Universitas Washington, Seattle, Washington di Amerika Serikat mengkaji pola makan bayi dan anak-anak melalui urin, sebelum dan sesudah perubahan pola makan mereka, dari konsumsi konvensional ke produk organik dan kemudian kembali ke konvensionl.

Hasilnya menunjukkan bahwa metabolisme organofosfat malathion dan chlorpyrifos mereka menurun pada tingkatan yang tidak terdeteksi setelah pola makannya berubah organik dan tetap tidak terdeteksi hingga mereka mengubah kembali pola makannya ke konvensional. Ini memperkuat kesimpulan awal bahwa anak-anak lebih terpapar organofosfat pestisida melalui pola makan mereka.

Anak-anak bukan satu-satunya yang terpapar pestisida. Di Denmark, pada tahun 1999, studi tentang kualitas sperma dan air mani manusia dikaitkan dengan pola makan organik atau konvensional menemukan bahwa kelompok laki-laki yang mengkonsumsi produk organik dapat mengurangi paparan pestisida.

Para peneliti menyimpulkan bahwa pestisida pada makanan tidak menimbulkan lemahnya kualitas air mani, namun kelompok laki-laki yang tidak mengkonsumsi makanan organik memiliki jumlah sperma bermorfologi normal lebih rendah, dimana secara umum dapat mempengaruhi hasil kehamilan. Sperma yang tidak normal juga mengindikasikan kerusakan DNA.

Selengkapnya dalam: Siaran Pers ISIS

No comments