Header Ads

LightBlog

Depkes Luncurkan Biaya Operasional Kesehatan

JAKARTA – Depkes mengintensifkan pelayanan kesehatan. Itu diwujudkan lewat program baru, yaitu biaya operasional kesehatan (BOK). Nanti, 8.500 puskesmas mendapat suntikan dana. Sebanyak 300 puskesmas yang menjadi pilot project BOK akan menerima masing-masing Rp 100 juta per tahun. Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih menyatakan program BOK tersebut bakal diluncurkan. Puskesmas yang menjadi pilot project, antara lain, berlokasi di Sulawesi, Jawa, Bali, Kalimantan, Papua, NTT, dan Maluku. ”Jika pilot project ini berhasil, kami akan memperluas ke puskesmas lain,” ujarnya saat evaluasi program 100 hari di Depkes kemarin (8/1). Endang menjelaskan, berdasar studi oleh Depkes, biaya puskesmas setiap tahun mencapai Rp400 juta. Sekitar 30 persen di antaranya digunakan untuk biaya operasional. ”Yang 30 persen itu kami perkirakan Rp100 juta. Karena itu, yang kami kucurkan sebesar itu,” kata alumnus Harvad School of Public Health, AS, tersebut.

Dana itu, kata dia, bakal dipakai menangani angka kematian bayi dan ibu, masalah gizi buruk dan gizi kurang, operasional posyandu, imunisasi, serta biaya operasional lain. ”Yang pasti tidak dipakai untuk pembayaran gaji,” tegasnya. Dengan BOK tersebut, kata Endang, peran puskesmas, terutama yang menjadi pilot project, diharapkan bisa lebih optimal. Misalnya, menekan angka kematian ibu dan bayi. Saat ini, angka kematian bayi (AKB) di Indonesia mencapai 34 bayi per 1.000 kelahiran hidup. Angka kematian ibu (AKI) mencapai 228 orang per 100 ribu kelahiran hidup. Pada 2015, Depkes memiliki target menurunkan AKB menjadi 23 per 1.000 kelahiran hidup dan AKI menjadi 102 per 100 ribu kelahiran hidup. Dana BOK bisa dipakai membuat berbagai program pendekatan kepada ibu. ”Tingginya angka kematian bayi bergantung pada peran ibu. Karena itu, ibu harus diberi berbagai pemahaman,” ungkapnya.

Dana tersebut bisa dipakai untuk pengadaan makanan tambahan bayi dan makanan pendamping ASI. Jadi, bayi terhindar dari kekurangan gizi. Kini, persentase gizi kurang di Indonesia berkisar 18,4 persen. Sebelum menjalankan BOK, terang Endang, fokus Depkes saat ini adalah menuntaskan empat isu utama program 100 hari. Pertama, peningkatan pembiayaan kesehatan dengan memberi jaminan kesehatan pada masyarakat. Sasarannya adalah warga miskin penghuni lapas, panti sosial, serta korban bencana lewat skema jamkesmas. Kedua, peningkatan kesehatan masyarakat. Ketiga, pengendalian penyakit dan penanggulangan masalah kesehatan karena bencana. Yang terakhir, peningkatan ketersediaan, pemerataan, maupun kualitas tenaga kesehatan, terutama di daerah terpencil, tertinggal, dan perbatasan. ”Empat program utama 100 hari itu hampir selesai. Kami optimistis bisa kelar tepat waktu akhir bulan ini,” ungkapnya. (kit/dwi)

Sumber: Pontianak Post


No comments