Header Ads

LightBlog

Trastuzumab Atasi Kanker Payudara

Kanker payudara termasuk 'pembunuh' terbesar setelah penyakit jantung. Kanker payudara juga dikenal menjadi penyebab utama kematian pada perempuan. Berbagai penelitian kerap dilakukan untuk mencari teknologi pengobatan terbaik guna mengatasi penyakit mematikan ini. Kabar terakhir, penderita kanker payudara kini memiliki alternatif baru untuk terapi selain kemoterapi. Terapi baru itu adalah trastuzumab, yaitu terapi kanker yang langsung membidik gen penyebab kanker payudara.

”Selama ini, salahsatu hal utama yang harus dilalui penderita kanker dalam proses pengobatan adalah dengan kemoterapi. Sayangnya, kemoterapi memiliki beberapa kelemahan, misalnya obat-obatan yang digunakan dalam kemoterapi selama ini tidak hanya memusnahkan sel kanker saja, tapi juga sel dan jaringan normal pasien. 'Sehingga bisa menimbulkan efek samping yang tidak menyenangkan seperti rambut rontok, sariawan, diare, dan kelainan darah,'' ungkap Dr Dradjat R Suardi SpB-Onk FICS, di acara ilmiah Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia (Peraboi) dalam simposium bertema A Focus on Targeted Therapies for Breast Cancer di Bandung, beberapa waktu lalu. Dalam acara itu terapi trastuzumab yang merupakan produk bioteknologi ini resmi diluncurkan.

Tak sembarang pasien kanker bisa mengikuti terapi ini. ''Prasyarat pengobatan trastuzumab adalah tes HER2. Bila ditemukan HER2-positif, pasien dapat diobati dengan trastuzumab,'' jelas Dr Bethy Hernowo Sp PA(K) PhD, salah satu pembicara di simposium tersebut.

HER2 adalah akronim dari human epidermal growth factor receptor 2, yaitu reseptor faktor pertumbuhan manusia. HER2 adalah protein yang ditemukan dalam jumlah yang sangat banyak pada permukaan sel kanker payudara.

Peran HER2 adalah sebagai antena yang menerima sinyal untuk berbiaknya sel kanker dengan cepat dan mematikan. Oleh karena itu setiap pasien kanker payudara selain diperiksa rutin reseptor estrogen dan progesteron, juga sangat dianjurkan untuk diperiksa HER-2.

Menurut Dr Bethy cara pemeriksaan HER-2/neu dapat dilakukan dengan dua cara yaitu Fluorescence In Situ Hybridization (FISH) dan pemeriksaan Immunohistokimia (IHC). Pemeriksaan FISH dilakukan dengan menggunakan fluorescencelabelled DNA probe untuk HER-2 pada kromosom 17 dan CEP 17-chromosome enumeration probe untuk kromosom 17. Sehingga akan dievaluasi rasio antara sinyal orange (genHer-2) dan sinyal hijau (centromer 17). Sedangkan pemeriksaan IHC menggunakan monoklonal antibodi komersil anti HER-2/neu dengan prinsip ikatan antibodi yang diberi warna. Pengerjaan IHC lebih mudah dan lebih murah dari pada pengerjaan FISH dan sudah menjadi standar untuk HER2.

Waktu yang dibutuhkan hanya lima jam sehingga hasilnya dapat diberikan pada klinisi dalam satu sampai dua hari (bila tidak perlu di ulang). Di Indonesia, pemeriksaan IHC sudah dapat dilakukan di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta.

Untuk sediaan jaringan tumor pada IHC dilakukan dengan mengambil jaringan segar, jaringan dengan fiksasi formalin, dan jaringan di dalam parafin (blok parafin). Bila jarak kirim dekat, jaringan dalam formalin dimasukkan ke dalam wadah untuk dikirim. Namun bila jarak kirim jauh, jaringan dalam formalin atau blik parafin dikirim melalui paket pos. ''Kegunaan pemeriksaan HER2 adalah untuk prognostik bagi penderita baru dan pemilihan terapi yang spesifik endoktrin terapi, kemoterapi regimen spesifik, dan trastuzumab terapi,'' ungkap Dr Bethy.

Cara kerja trastuzumab Trastuzumab yang diproduksi PT Roche Indonesia memiliki beberapa fungsi, yaitu memblokir pertumbuhan sel tumor, mensinyal immun dan bekerja bersama kemoterapi. Herceptin dan kemoterapi bekerja dalam cara yang berbeda, tetapi bila bersamaan akan bekerja sinergis.

Saat ini trastuzumab diberikan pada penderita dengan karsinoma mammae lanjut (metastase) dan menunjukkan overekspresi HER2 protein, walaupun juga diberikan pada karsinoma stadium awal.

Pada percobaan klinis terhadap 235 pasien yang mendapat terapi itrastuzumab bersama kemoterapi tampak pertumbuhan tumor melambat dan mengecil sampai 50%. Dari 222 wanita yang mengikuti terapi ini, sebanyak 14 persen mengalami pengecilan tumor dan pada 3% wanita tumornya hilang. Respon ini terjadi dalam enam bulan sampai 18 bulan setelah terapi berakhir. Rata-rata waktu hidup 25 bulan pada terapi ini dibanding 20 bulan pada wanita tanpa trastuzumab.

Dengan hasil yang demikian positif diharapkan terapi ini bisa membantu penderita kanker payudara yang merupakan penyebab utama kematian pada wanita. Menurut data WHO, delapan sampai sembilan persen wanita akan mengalami kanker dalam hidupnya. Diperkirakan 1,2 juta wanita di dunia menderita kanker payudara. Setelah menjalani perawatan, sekitar 50 persen pasien berlanjut ke kanker payudara stadium akhir dengan angka hidup 18 sampai 30 bulan.

Walaupun belum ada data yang pasti di Indonesia mengenai berapa banyak wanita Indonesia yang menderita kanker payudara, namun data dapat dilihat pada kasus yang tercatat di rumah sakit. Salahsatunya di Rumah sakit Hasan Sadikin yang mencatat sebanyak 90 sampai 100 kasus kanker payudara per tahun.

''Pengambilan data sangat sulit dilakukan karena berbagai faktor, antara lain karena masyarakat kita kebanyakan adalah masyarakat urban yang selalu berpindah sehingga sulit melakukan pendataan'' ujar Dr Dradjat.

Dr Bethy mengharapkan pemeriksaan HER2 lebih disosialisasikan melalui klinisi, onkolog, dan patolog tentang kepentingan dan kaitannya dengan terapi trustuzumab. ''Mudah-mudahan hal ini akan terwujud dengan kerjasama yang baik antara dokter dan farmasi sehingga penderita akan mendapat pengelolaan yang optimal,'' harapnya.

Sumber: www.republika.co.id


2 comments:

  1. Mimi banyak juga dokter termasuk saya yang enggan memekai obat ini. Mahal. 18 juta sekali pakai dan diulang tiap 3 minggu. Berat mulut menganjurkannya. Wassalam.

    * Originally posted on: Kamis, Desember 11, 2008

    ReplyDelete
  2. dok,
    BETUL memang mahal - bahkan sangat mahal bagi saya sendiri. Kemoterapi yang saya jalani menggunakan kombinasi (24x) Herceptin + Taksol selama 6 bulan pertama setelah menjalani MRM.

    Itu masih belum bicara soal other "mandatory" treatments seperti radiasi, medication etc.

    * Originally posted on: Kamis, Desember 11, 2008

    ReplyDelete