Header Ads

LightBlog

PGV-O Hambat Sel Kanker Payudara

Kanker payudara adalah penyakit mematikan nomor dua setelah kanker leher rahim.Berbagai upaya dilakukan untuk melawan penyakit itu. Kini terapi radiasi dan sitostatika punya kemungkinan menghambat penyebaran kanker.
Kanker payudara dan kanker leher rahim adalah jenis kanker yang frekuensi kejadiannya paling tinggi di antara kanker-kanker jenis lain yang menyerang wanita. Di Indonesia jumlah penderita kanker payudara menduduki peringkat ke dua setelah kanker mulut rahim.

Kanker payudara menjadi penyebab utama kematian pada wanita di berbagai belahan dunia. Karena itu perlu upaya keras untuk melawan kanker dengan cara menghambat dam mematikan pertumbuhan selnya secara selektif, disertai usaha meminimalkan efek samping.

Pembentukan kanker itu melalui empat tahap. Pada tahap inisiasi, terjadi perusakan DNA atau mutasi, yang mengatur penggandaan sel oleh senyawa penyebab kanker (karsinogen). Selanjutnya, terjadi peningkatan penggandaan sel yang abnormal akibat proses inisiasi. Fase ini dinamakan tahap promosi.

Munculnya sel-sel kanker ganas yang diikuti dengan perubahan genetik yang nyata menandai perkembangan tahap progresi. Pada tahap metatasis (stadium empat), sel kanker melakukan ekspansi ke jaringan lain melalui pembuluh darah atau pembuluh limfe. Sel ekspansif itu akan membentuk tumor sekunder di jaringn yang ditulari.

Sambil menyerang sel-sel normal disekitarnya, kanker juga memproduksi racun dam nelepas sel-sel kanker dari induknya yang pecah. Racun dan sel-sel kanker ini akan menyebar bersama aliran darah. Karena itu, kerap ditemukan juga kanker yang tumbuh di tempat lain sebagai hasil metastasisnya. Pada kanker yang parah, sering terjadi pendarahan.

Obat spesifik untuk menghentikan perkembangan sel kanker belum juga ditemukan. Saat ini upaya pencegahan terus diusahakan dengan terapi radiasi dan sitostatika.

Beranjak dari pemikiran itu, Dr Edy Meiyanto Msi Apt, peneliti dari CCRC (Cancer Chemoprevention Research Centre), melakukan penelitian untuk mendapatkan struktur yang lebih stabil dengan aktivitas yang lebih baik dari kurkumin dalam menghambat pertumbuhan sel kanker payudara (sel T47D).

“Pengembangan penelitian yang dilakukan CCRC terfokus untuk memodifikasi struktur molekul kurkumin untuk mendapatkan aktivitas farmakologi yang lebih baik,”jelas Edy, yang sekarang menjabat wakil dekan 1 Fakultas Farmasi UGM.

Untuk memantapkan hasil penelitian yang dilakukan medio 2006 ini, September 2006 lalu dilakukan pula simposium internasional yang membahas tentang pengaruh modifikasi kurkumin, yang salah satu analognya adalah hasil penelitan ini, yaitu Pentagamavunon-0 atau 2,5-bis (4’-hydroxy-3’-methoxy-benzylidene)-cyclopentanon (PGV-0).

Dalam melakukan penelitian ini, Edy tidak sendirian. Supardjan AM MS Apt, peneliti yang juga dosen farmasi UGM, berperan dalam menyitesis dan eludasi struktur kurkumin sehingga didapatkan analog baru yang memiliki struktur lebih stabil, yaitu PGV-0.

Picu Apopotosis Sel kanker
Awal penelitian ini menggunakan uji sitotoksisitas dengan metode MTT. Yakni, suspensi sel dalam medium dimasukkan ke dalam plate 96 dan diinkubasi selama 24 jam pada inkubator karbon dioksida (CO2). Di akhir inkubasi, medium pada masing-masing sumuran dibuang dan dicuci dengan sejenis larutan tertentu. Kemudian, plate diinkubasi pada suhu 37 derajat celcius. Sel hidup akan bereaksi dengan MTT membentuk warna ungu formazan.

Proses selanjutnya, dilakukan uji pengamatan kinetika proliferasi sel. Proliferasi sel merupakan fungsi dari program daur ulang sel. Metode tersebut dikerjakan dengan cara yang sama pada uji sitotoksisitas dengan konsentrasi perlakuan berbeda pada jam ke 6, 12, 24, 48, dan 72.

Kedua uji dalam riset ini menggunakan metode untuk mengetahui potensi PGV-0 sebagai senyawa anti proliferasi terhadap sel kanker payudara. MTT diabsorsi ke dalam sel hidup dan dipecah melalui reaksi reduksi oleh enzim reduktase.

Selain itu, dalam penelitian ini didapatkan data mengenai proliferasi sel yang menunjukkan bahwa PGV-0 maupun kurkumin dapat menghambat atau menurunkan sifat proliferatif sel kanker payudara. Namun, pada konsentrasi tertentu, induksi kurkumin ternyata tidak menimbulkan pengaruh pada tingkat perubahan sel hidup.

Itu juga menunjukkan bahwa PGV-0 memiliki efek yang lebih kuat untuk menghambat proliferasi sel kanker payudara dibandingkan dengan krkumin.

Kelebihan lain PGV-0 adalah strukturnya. Dengan struktur yang lebih datar dari pada kurkumin, memungkinkan PGV-0 memiliki aktivitas yang lebih baik. PGV-0 juga mampu menghambat daur sel yang berakibat pula pada pemacuan apoptosis (program bunuh diri) sel-sel kanker payudara.

PGV-0 dan juga kukumin memiliki fungsi yang sama, yaitu bertuas menghalangi pertumbuhan pembuluh darah baru. Zat itu mampu bertindak sebagai imunomodulator atau imunostimulator, atau mampu meningkatkan jumlah limfosit, meningkatkan pembunuh kanker, dan meningkatkan antibodi spesifik.

Hambat Pada Fase Tertentu
Berdasar uji sitotoksisitas dan pengamatan profil pertumbuhan sel membuktikan bahwa potensi sitotoksik dan penghambatan ploliferasi terhadap sel kanker payudara, senyawa PGV-0, lebih baik dibandingkan kurkumin.

Daya hambat pertumbuhan tersebut terjadi karena senyawa itu menyebabkan kematian sel atau menghambat program cell cycleprogresion (perkembangan sel) menjadi cell cycle arrest.PGV-0 dapat memacu kematian sel melalui apoptosis atau membuat cell cycle arrest sebagaimana kurkumin yang telah diujikan ke beberapa sel kanker.

Analisis inkorporasi BrdU membuktikan PGV-0 mampu menghambat sel memasuki fase S lebih kuat dibanding kurkumin. Hambatan itu dapat terjadi pada fase G1 (Gap1) ataupun fase S (fase sintesis dan replikasi DNA)

Kanker Payudara Bermula Dari Sel Abnormal
Kapankah kanker payudara mulai bersemai? Ketika ada pertumbuhan yang tidak normal pada sel-sel di kelenjar payudara atau saluran kelenjar. Juga, dapat berasal dari jaringan penunjang payudara.

Kanker akan muncul bila DNA sel normal mengalami kerusakan sehingga menyebabkan mutasi genetik. Kalau tidak segera dikoreksi, perbanyakan sel yang DNA-nya rusak tersebut berpotensi menghasilkan sel kanker. Padahal perbanyakan sel dimaksudkan untuk memulihkan sel-sel yang aus atau rusak.

Jika kerusakan DNA sel normal tidak juga dicegah oleh senyawa atau vitamin dan mineral yang bersifat anti oksidan atau bila sudah terlanjur terbentuk sel-sel kanker, harus segera dilakukan penekanan terhadap pertumbuhan sel kanker tersebut.

Untuk menghambat metastasis (penyebaran) sel kanker, harus diketahui cara sel tersebut menyebar. Ada dua cara sel kanker bermetastasis, yaitu melalui angiogenesis (pembentukan pembuluh darah baru) dan penghancuran kolagen yang merupakan kerangka sel normal.

Dengan demikian, metastasis akan dapat dihambat bila angiogenesis dapat dicegah, sementara kolagen yang rusak bisa diperbaiki oleh tubuh dengan memanfaatkan makanan tertentu.

Untuk angiogenesis, sel kanker melepaskan growth factors. Produksi growth factors ternyata dapat dihambat oleh kurkumin yang dikandung dalam kunyit, temulawak, kunir putih, dan PGV-0 sebagai analog.

Gejala yang Harus Diwaspadai
Tetapi, yang perlu diperhatikan ialah pertumbuhan kanker jenis itu sering tak disadari. Terjadinya mutasi gen akibat sel-sel abnormal tersebut dipicu oleh suatu bahan asing yang masuk kedalam tubuh, seperti pengawet makanan, vetsin, radioaktif, oksidan, ataupun zat korsinogenetik yang dihasilkan tubuh secara alamiah.

Bersama aliran darah dan aliran getah bening, sel-sel kanker dan racun-racun yang dihasilkannya dapat menyebar ke seluruh tubuh kita seperti tulang, paru-paru dan lever.

Karena itu, awalnya pada penderita kanker payudara ditemuan benjolan diketiak atau benjolan kelenjar getah bening lain. Bahkan, muncul pula kanker pada lever dan paru-paru sebagai metastasinya.

Sangat dianjurkan mendeteksi dengan cara sarari atau pemeriksaan payudara sendiri untuk mengantisipasi kanker payudara itu. Terlebih, kanker tersebut sering ditemukan pada stadium lanjut. Sasari merupakan cara paling sederhana dan mudah dilakukan, tetapi mempunyai arti penting untuk deteksi dini kanker payudara.

Sadari untuk Deteksi Dini
Bagaimana mencegah kanker payudara? Peneliti kanker pada Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi jakarta Dr Susi Endrini MSc mengatakan, periksalah payudara, hindari makanan berlemak, serta konsumsi buah dan sayur yang kaya antioksidan. Bagaimana proses dan penyebab tumbuhnya sel kanker payudara?

Secara medis, sel kanker payudara tumbuh lewat tiga tahap. Pertama, inisiasi atau pencetusan. Kedua, promosi. Sel kanker melakukan penggandaan menyebar. Tahap ketiga, yang membahayakan, adalah fase progresif. Ketika itu, sel sudah menyerang organ laimelalui pembuluh darah. Faktor-faktor pencetus tumbuhnya sel kanker, antara lain, bahan kimia, makanan, dan virus. Bisa juga faktor genetik dan radiasi.

Bagaimana pengobatannya?
Ada beberap pilihan. Bisa dengan penyinaran. Bila sel kanker sudah masuk stadium 3 atau 4, tumor diangkat melalui pembedahan. Pilihan lain pengobatannya adalah kemoterapi, memasukkan obat-obatan. Bisa juga dilakukan kombinasi pilihan tadi.

Apa pendapat Anda tentang penggunaan PGV-0 yang merupakan analog kurkumin sebagai obat kanker payudara?

Penelitian tentang penghambatan sel kanker melalui Pentagamavunon (PGV-0) sebagai analog kurkumin(bahan aktif temu lawak) sangat potensial untuk lebih dikembangkan lagi. Terbukti dalam penelitian itu, PGV-0 mampu menghambat sel T47D yang merupakan sel kanker payudara.

Apakah PGV-0 bisa menyembuhkan dan meminimalkan efek samping?
Meminimalkan efek samping tergantung pada reaksi terhadap sel normal tubuh penderita. Yang pasti, biasanya, penderita kenker akan mengalami gugurnya rambut seperti dalam pengobatan kemoterapi.

Bagaimana pencegahan terhadap penyakit itu? Untuk pencegahan, secara dini bisa dilakukan “sadari” (periksa diri sendiri) atau “sarari” (periksa payudara sendiri). Hal ini bisa dilakukan setiap habis mandi. Lalu, hindari mengonsumsi makanan berlemak. Dianjurkan makan buah dan sayuran yang mengandung antioksidan.


No comments