Header Ads

LightBlog

Dari Prof. Dr. Zubairi Djoerban, SpPD, KHOM,

POleh: Prof. Dr. Zubairi Djoerban
Ketua Div Hematologi Onkologi Medik FKUI-RSCM
Jika seorang wanita menemukan benjolan di tumornya, apa yang terjadi? Pertama-tama tentu akan timbul perasaan khawatir dan selanjutnya disikapi dengan berbeda-beda. Sebagian akan pergi ke dokter untuk memeriksakan benjolannya, sebagian mencoba pengobatan alternatif, sementara sebagian berusaha melupakannya dan tidak melakukan tindakan apa pun.

Setiap benjolan di payudara tentu menimbulkan banyak kekhawatiran, di antaranya kemungkinan adanya kanker, operasi, efek samping radiasi dan kemoterapi, sampai kematian. Sering kali kekhawatiran yang berlebihan menyebabkan pasien menunda untuk berkonsultasi dengan dokter, padahal tidak semua benjolan di payudara adalah kanker, bahkan sebagian besar justru merupakan tumor jinak.

Data dari Jakarta Breast Center, klinik di Jakarta yang mengkhususkan diri untuk penanganan keluhan pada payudara, menunjukkan bahwa dari 2.495 pasien yang datang pada tahun 2001 dan 2002, ternyata 79 persen menderita tumor jinak dan hanya 14 persen yang menderita kanker.

Jika benjolan tersebut memang kanker, maka penundaan konsultasi tersebut dapat menyebabkan kanker berkembang menjadi tahap yang lebih lanjut di mana konsekuensinya adalah kemungkinan sembuh menjadi kecil atau hampir mustahil. Jadi, penundaan konsultasi ke dokter sebenarnya hanya menambah masalah baru yaitu timbulnya kecemasan terus-menerus tanpa kepas- tian serta memperbesar kemungkinan gagalnya pengobatan.

Faktor Risiko
Penyebab kanker payudara sampai saat ini diduga akibat interaksi yang rumit dari banyak faktor seperti faktor genetika, hormonal, dan lingkungan. Beberapa faktor yang meningkatkan risiko kanker payudara adalah usia tua, menarche (pertama kali menstruasi) dini, usia makin tua saat menopause, usia makin tua saat pertama kali melahirkan atau tidak pernah hamil, riwayat keluarga (terutama ibu, saudara perempuan) dengan kanker payudara, riwayat pernah menderita tumor jinak payudara, mengonsumsi obat kontrasepsi hormonal jangka panjang, mengonsumsi alkohol, serta paparan radiasi pada payudara terutama saat periode pembentukan payudara.

Adanya faktor genetika tidak berarti seseorang yang memiliki gen kanker payudara pasti menderita kanker, melainkan hanya memiliki risiko untuk mengidap kanker dan dapat menurunkan gen tersebut. Gen penyebab kanker diturunkan dari orangtua ke anaknya tanpa terkait dengan jenis kelamin.

Sampai saat ini banyak gen penyebab kanker yang belum dapat diidentifikasi. Di antaranya yang sudah dapat diidentifikasi adalah gen BRCA1 dan BRCA2. Diperkirakan bahwa 1 dari 10 wanita akan menderita kanker payudara dan kemungkinan ini akan meningkat sampai dengan 90 persen pada wanita yang memiliki kelainan gen BRCA1 dan/atau BRCA2.

Keluarga yang teridentifikasi memiliki gen tersebut selain kanker payudara juga meningkat risikonya untuk menderita kanker lain seperti ovarium, kolon, dan prostat.

Diagnosis
Untuk mendiagnosis kanker payudara, selain anamnesis mengenai riwayat benjolan dan pemeriksaan fisik oleh dokter, maka dilakukan pula beberapa pemeriksaan penunjang seperti mamografi, USG payudara dan biopsi (pengambilan contoh jaringan tumor), serta jika dicurigai kanker, ditambah pemeriksaan-pemeriksaan untuk melihat apakah sudah ada penyebaran ke organ-organ tubuh lain. Kanker payudara dapat menyebar ke paru, hati, tulang, dan lain-lain.

Stadium kanker payudara ditentukan oleh besar tumor, ada tidaknya penyebaran ke kelenjar getah bening dan organ-organ tubuh lain. Penyebaran ke kelenjar getah bening ketiak yang letaknya dalam sehingga tidak dapat diraba baru dapat diketahui setelah pemeriksaan jaringan kelenjar getah bening tersebut yang diangkat melalui operasi.

Umumnya pengobatan kanker payudara terbagi menjadi dua golongan besar, pertama, pengobatan untuk kanker tahap awal, kedua, pengobatan untuk kanker tahap lanjut dan kambuh. Saat ini pengobatan terhadap kanker payudara meliputi operasi, radioterapi, kemoterapi, terapi hormonal dan terapi biologi. Jika kanker masih dalam stadium dini, maka operasi dapat dilakukan.

Operasi dengan cara Breast Conserving Therapy (BCT), pengangkatan seluruh jaringan kanker dan sedikit jaringan payudara di sekitarnya dilanjutkan dengan radiasi, telah sering dilakukan dengan hasil yang sama dengan operasi pengangkatan seluruh payudara. Tetapi BCT hanya dapat dilakukan pada pasien dengan ukuran tumor yang kecil atau tumor yang ukurannya dikecilkan dengan pengobatan awal (radioterapi dan/atau kemoterapi) sehingga menjadi layak untuk dioperasi.

Radioterapi dan/atau kemoterapi merupakan pilihan pengobatan untuk kanker tahap lanjut. Berkat kemajuan penelitan kanker payudara, saat ini pengobatan untuk kanker payudara tahap lanjut telah menunjukkan bahwa angka ketahanan hidup meningkat dan angka kematian menurun. Kemoterapi juga dapat dilakukan pada pasien kanker tahap awal untuk mengurangi kemungkinan terjadinya penyebaran sel-sel kanker yang pada awalnya tidak terdeteksi.

Efek samping kemoterapi yang seringkali ditakutkan oleh pasien telah semakin berkurang dengan ditemukannya obat-obat baru yang memiliki efek spesifik terhadap sel kanker sehingga efek sampingnya terhadap sel-sel normal menjadi berkurang. Selain itu telah tersedia pula obat-obat untuk mengatasi efek samping yang terjadi, misalnya obat penekan rasa mual dan muntah serta obat untuk meningkatkan jumlah leukosit.

Sejak awal tahun 1960-an, sewaktu reseptor estrogen pertama kali ditemukan, diketahui bahwa kanker payudara yang mempunyai reseptor estrogen atau reseptor progesteron memberikan hasil yang baik dengan terapi hormonal yang secara umum bekerja untuk menekan efek estrogen terhadap sel tumor.

Deteksi Dini
Hasil pengobatan sangat ditentukan oleh stadium penyakit saat pertama kali didiagnosis. Oleh karena itu upaya deteksi dini terhadap kanker payudara amatlah penting. Dengan deteksi dini diharapkan penyakit telah terdiagnosis pada tahap awal sehingga kemungkinan sembuh total menjadi besar. Pemeriksaan benjolan menggunakan cara 'Sadari' (periksa payudara sendiri) dapat dilakukan sendiri setiap bulan. Sebaiknya pemeriksaan dilakukan setelah menstruasi selesai. Caranya adalah dengan bercermin dan memperhatikan apakah ada kelainan pada payudara. Kemudian kedua lengan diletakkan di atas kepala dan perhatikan kembali kedua payudara.

Selanjutnya bungkukkan badan 90 derajat, lalu periksa lagi. Berbaringlah di tempat tidur. Letakkan tangan kiri di belakang kepala, kemudian letakkan sebuah bantal di bawah bahu kiri. Rabalah payudara kiri dengan jari-jari tangan kanan. Periksalah apakah ada benjolan di situ. Kemudian periksa juga apakah ada benjolan atau pembengkakan pada ketiak kiri. Lakukan sebaliknya untuk payudara dan ketiak kanan.

Mamografi, tindakan pemeriksaan payudara dengan sinar X, sangat dianjurkan dilakukan oleh wanita di atas 40 tahun. Walaupun payudara terpapar dengan radiasi, manfaatnya terbukti lebih tinggi dibandingkan risikonya. Jika hasilnya negatif, waktu pemeriksaan mamografi ulangan akan ditentukan oleh dokter dengan memperhatikan faktor-faktor risiko yang dimiliki pasien.

Wanita yang memiliki anggota keluarga sedarah yang menderita kanker payudara, apalagi bila jumlahnya lebih dari 1, mempunyai risiko tinggi untuk terkena kanker payudara. Apalagi jika pada pemeriksaan genetik ditemukan kelainan gen BRCA 1 atau 2. *

Sumber: SUARA PEMBARUAN

1 comment: